You are currently browsing the category archive for the ‘Tambo’ category.

Penyerbuan Dewang Parakrama

Dari pihak dalam negeri, ketidaksenangan terhadap pemerintahan Maharaja Dewana dan Raja Bagewang, ditimbulkan oleh Dewang Palokamo Pamowano (Dewang Parakrama Parmawana) atau Dewang Parakrama. Pangeran ini seorang dari Wangsa Malayupura yang tinggal di Darmasyraya. Jika di Pagaruyung para Pangeran (Puto-Puto) dan raja-raja dari Wangsa Melayupura telah menjadi pemeluk agama Islam yang taat sejak Daulat Yang Dipertuan Maharaja Sakti I, maka Dewang Parakrama masih menganut agama Budha Mahayana dari Tarikat Tantrayana. Sebagian keterangan tradisi mengatakan bahwa sebenarnya Pangeran ini tidak memeluk agama alias Pagan. Pangeran ini dari pihak kakek dan neneknya (dari belahan ayah maupun belahan ibu) sudah berada di kawasan sekitar Ulu Tebo. Kakeknya (ayah dari ayahandanya) menjadi Raja Ulu Tebo yang kemudian diganti ayahandanya. Untuk selanjutnya Dewang Parakrama menggantikan.

Dewang Parakrama tidak pernah bersetia kepada Raja Ranah Sekelawi sebagai atasan yang ditunjuk Pagaruyung. Sebaliknya raja ini juga tidak menyatakan diri di bawah Raja Tebo yang merupakan wilayah bawahan Raja Jambi. Raja ini menyatakan dirinya sebagai raja merdeka, dan berdaulat sendiri. Untuk menunjukkan kemerdekaan dan kedaulatannya, raja ini memaklumkan dirinya sebagai Maharaja Swarnabhumi yang sah dengan menduduki Siguntur di Darmasyraya. Hal itu di mungkinkan karena sebelumnya dengan diam-diam Raja Pamowano (Dewang Parakarma) mengadakan perjanjian persaudaraan dengan Portugis, orang Rupik Sipa tokah dari Tanah Alang Buwana. Portugis berhasil merebut Malaka 1511 M, dan ini dijadikan sebagai batu loncatan untuk kemudian dengan memperalat kaki tangannya (Raja Pamowano) menguasai Sumatera, dengan mencoba merebut Pagaruyung. Emas berbungkal diserahkan/dijual raja ini kepada orang Rupik sebagai imbalannya.

Dengan demikian semua kawasan Darmasyraya (Tiga Laras) dapat ditundukkannya. Dari Darmasyraya, Dewang Parakrama memasuki kawasan Jambi. Pasukan Jambi memeberikan perlawanan. Pertempuran dahsyat dengan pasukan Jambi berlangsung dengan hebatnya di Tebo. Pasukan Jambi kewalahan, kemudian mundur dan kawasan kuala sungai Tembesi yang direbut oleh Dewang Parakrama. Tetapi kemudian kembali balik menyerang Tebo. Pasukan Dewang Parakrama dapat di pukul mundur ke hulu sungai Tembesi. Namun kawasan hulu Tembesi bahkan bebe rapa kawasan di Kerinci dapat direbutnya. Untuk selanjutnya Dewang Parakrama kembali ke Darmasyraya, dan dari sini sebuah pasukan besar disiapkan. Dengan pasukan besar ini Dewang Parakrama memasuki Luak Tanah Datar. Read the rest of this entry »

Asal Muasal Suku Menurut Tambo

Menurut pendapat yang paling umum dan bersumberkan kepada Tambo, pada awalnya di Minangkabau hanya ada empat suku saja yaitu Koto, Piliang, Bodi dan Caniago. Keempat suku mengelompok menjadi dua kelarasan yaitu Lareh Koto Piliang yang dipimpin Datuak Katumanggungan dan Lareh Bodi Caniago yang dipimpin oleh Datuak Perpatiah Nan Sabatang. Selanjutnya suku-suku asal ini membelah berulang kali hingga mencapai jumlah ratusan suku yang ada sekarang ini. Dapat ditebak, suku yang empat ini adalah penghuni kawasan lereng Gunung Marapi atau Nagari Pariangan. Konsep ini sesuai dengan tujuan penulisan tambo yaitu untuk menyatukan pandangan orang Minang tentang asal-usulnya.

Namun informasi dari tambo ini tidak menyebutkan:

  • Darimana asal usul suku yang empat ini
  • Darimana asal usul 4 suku lain yang ada di Nagari Pariangan (Pisang, Malayu, Dalimo Panjang dan Dalimo Singkek)
  • Jika Nagari Pariangan adalah nagari pertama, mengapa tidak ada Suku Bodi dan Suku Caniago di dalamnya. Apakah suku yang berdua ini datang belakangan? Tentu ini akan menabrak konsepsi awal bahwa Bodi dan Caniago termasuk empat suku pertama.
  • Asal muasal suku besar lain seperti Jambak, Tanjuang, Sikumbang dan Mandahiliang. Karena mereka bukanlah pecahan dari Koto, Piliang, Bodi atau Caniago.
  • Suku-suku apa saja yang menjadi warga nagari-nagari yang menganut Lareh Nan Panjang.

Sebuah sumber memiliki pendapat yang berbeda dari keterangan di atas. Menurut Buku Sejarah Kebudayaan Minangkabau, suku asal Minangkabau adalah Suku Malayu, yang terpecah menjadi 4 kelompok dan masing-masingnya mengalami pemekaran, yaitu:

  • Malayu IV Paruik (Malayu, Kampai, Bendang, Salayan)
  • Malayu V Kampuang (Kutianyia, Pitopang, Jambak, Salo, Banuampu)
  • Malayu VI Niniak (Bodi, Caniago, Sumpadang, Mandailiang, Sungai Napa dan Sumagek)
  • Malayu IX Induak (Koto, Piliang, Guci, Payobada, Tanjung, Sikumbang, Simabua, Sipisang, Pagacancang)

Suku Malayu juga ditemukan sebagai suku para raja yang berkuasa di Pagaruyung, Ampek Angkek, Alam Surambi Sungai Pagu, Air Bangis dan Inderapura.

Suku Sebagai Representasi Klan Pendatang

Pada hakikatnya suku pada masa awal terbentuknya adalah representasi dari klan-klan yang membentuk masyarakat Minangkabau. Sebagaimana yang kita ketahui, Minangkabau pada masa awal pembentukan masyarakatnya adalah wilayah yang terbuka untuk didiami pelbagai bangsa sebagai konsekuensi letaknya yang dekat dengan jalur perdagangan internasional. Pantai Barat Sumatera (Barus), Selat Malaka dan daerah aliran sungai-sungai besar seperti Rokan, Siak, Kampar, Inderagiri dan Batanghari adalah pintu masuk utama berbagai bangsa pendatang sejak zaman megalitikum sampai periode berkembangnya kerajaan-kerajaan di Pesisir Timur Sumatera. Kaum pendatang ini segera menghuni kawasan Luhak Nan Tigo yang dalam Tambo disebut sebagai wilayah inti Minangkabau.

Persebaran Kaum Non-Pariangan di Luhak Nan Tigo

Meskipun tambo-tambo yang beredar dalam berbagai versi itu sepakat bahwa daerah pertama yang dihuni nenek moyang orang Minangkabau adalah Nagari Pariangan yang terletak di lereng sebelah selatan Gunung Marapi, namun ada informasi yang luput dari “teorema penyatuan silsilah” yaitu soal penduduk yang telah terlebih dahulu menghuni Luhak Agam dan Luhak Limopuluah Koto. Read the rest of this entry »

Harimau Campa Dalam Tambo

Harimau Campa adalah nama seorang tokoh yang disebut-sebut di dalam Tambo Alam Minangkabau. Bersama-sama Kucing Siam, Kambing Hutan dan Anjing Mualim, mereka berempat adalah para pengiring Ninik Sri Maharaja Diraja dan rombongan. Mereka semua adalah para pendekar yang di kemudian hari menjadi orang-orang pertama pendiri cikal bakal Silek Minang. Mereka juga dipercaya sebagai leluhur orang-orang di Luhak Nan Tigo.

Harimau Campa menjadi leluhur orang Luhak Agam, Kucing Siam menjadi leluhur orang Canduang Lasi Tuo, Kambing Hutan menjadi leluhur orang luhak Limopuluah sedangkan Anjing Mualim berkelana di sepanjang Bukit Barisan. Luhak Tanah Datar sendiri dipenuhi oleh anak keturunan Ninik Sri Maharaja Diraja. Setidaknya begitulah menurut Tambo Alam Minangkabau. Soal keturunan ini kemudian diabadikan dalam warna bendera Luhak Nan Tigo yang kemudian kita kenal sebagai marawa.

Kalau kita perhatikan nama-nama tokoh diatas, ada hal menarik yang tersirat darinya, khususnya Harimau Campa. Bernama Harimau Campa, tentulah berasal dari Negeri Champa. Logikanya tentu negeri ini telah ada dan masyhur sebelum nenek moyang orang Minangkabau mendarat di Sumatera.

Sekilas Negeri Champa

Dari catatan sejarah Cina, Kerajaan Champa berdiri pada tahun 192 M yang pada masa itu disebut Lin Yi. Pada tahun 543 Champa menyerang Dai Viet (Bangsa Vietnam) di Utara, namun gagal. Kerajaan Champa mencapai puncak kegemilangannya pada abad ketujuh hingga abad kesepuluh Masehi, untuk kemudian menurun karena perpecahan dalam negeri dan serangan-serangan yang agresif dari Bangsa Khmer, Bangsa Vietnam dan Bangsa Cina.

Jika saja Harimau Campa dalam tambo ini hidup pada masa awal kejayaan Kerajaan Champa tentulah kita bisa berasumsi bahwa kedatangan nenek moyang orang Minangkabau haruslah setelah tahun 192 M, atau diperkirakan sekitar tahun 400-500 M.

Kucing Siam Dalam Tambo

Namun ada hal yang mengganggu jika logika yang sama diterapkan pada tokoh Kucing Siam yang berasal dari Siam. Istilah Siam sendiri baru populer setelah berdirinya Kerajaan Sukhothai (1238 M) dan Kerajaan Ayutthaya (1351 M) sebagai cikal bakal Kerajaan Siam. Episode sejarah ini tentu paralel dengan periode Dharmasraya dan Malayapura di Sumatera. Pada saat ini tentu Champa sudah mulai menurun pengaruhnya walaupun masih bisa disebut jaya, karena pada tahun 1471 M, Bangsa Vietnam memulai invasinya terhadap Champa. Jadi kalau ditarik sebuah kompromi maka tahun kedatangan nenek moyang orang Minangkabau haruslah setelah 1238 M. Kecuali kita menemukan data bahwa istilah Siam sudah populer pada abad ketujuh Masehi, pada saat awal kejayaan Kerajaan Champa.

Tafsiran Lain Mengenai Harimau Campa

Akan tetapi sesuai hakikat Tambo, bahwa tujuan penulisannya adalah untuk menyatukan pandangan orang Minangkabau mengenai sejarah dan asal-usul mereka, maka bisa saja pengarang Tambo memasukkan nama kedua tokoh ini (dan tokoh-tokoh lain) untuk mewakili kelompok-kelompok masyarakat yang membentuk Minangkabau yang terdiri dari bermacam-macam daerah asal. Dari Hikayat Suku Jambak kita juga menemukan cerita ini, dimana Suku Jambak mengaku sebagai suku yang datang kemudian, seketurunan dengan Suku Sikumbang. Read the rest of this entry »

Migrasi nenek moyang orang Minangkabau menurut Tambo masih meninggalkan sebuah pertanyaan besar sampai saat ini, yaitu soal pelayaran yang berakhir di puncak Gunung Marapi. Meski secara logika tidak dapat diterima namun banyak juga yang tertarik untuk mengetahui alasan dipilihnya cerita ini oleh pengarang tambo pertama kali sebagai konstitusi untuk menyatukan pandangan keturunannya mengenai sejarah dan asal-usul mereka.

 

Geografi Pulau Sumatera Pada Abad ke-6 Masehi

Tentu kita tidak perlu menanyakan seperti apakah gerangan keadaan Pulau Sumatera pada saat nenek moyang orang Minangkabau yang diceritakan di dalam tambo itu menapaki pulau ini untuk pertama kalinya. Yang pasti tidak akan banyak berubah seperti kondisi sekarang ini. Memang ada temuan arkeologi dalam penelitian tentang Kerajaan Sriwijaya yang mengatakan Kota Palembang pada dahulunya itu terletak di pinggir pantai, begitu pula halnya dengan Muara Tebo di Jambi. Menurut penelitian ini pada kisaran abad keenam dan kesembilan Masehi, rawa-rawa dan lahan gambut yang mendominasi pantai timur Sumatera saat ini belum ada, dan banyak kota-kota di tepi sungai besar seperti Batanghari dan Musi dulunya berada di pinggir pantai atau muara sungai, walaupun saat ini bisa berjarak puluhan kilometer dari muara sungai yang sama.

Namun satu hal yang pasti, tidak akan mungkin gunung-gunung api dan kawasan bukit barisan bertemu dengan lautan, kecuali kaki-kaki bukit barisan di selatan Kota Padang dan seputaran Kota Painan sekarang. Bahkan pada zaman es pun yang terjadi adalah sebaliknya, lautan di Nusantara ini justru lebih rendah permukaannya daripada kondisi saat ini, sehingga Sumatera, Malaya, Jawa dan Kalimantan bersatu dalam daratan Dangkalan Sahul. Bahkan pulau-pulau perisai di barat Sumatera seperti Siberut dan Nias pun menyatu dengan Sumatera pada periode ini. Jadi jelas secara sejarah geologi, cerita dalam tambo ini tertolak.

Namun bagaimana menjelaskan soal lautan ini? Di luar soal pendaratan kapal di puncak Gunung Marapi, masih ada beberapa soal yang menentang kondisi geografis ini, di antaranya:

  • Dipakainya istilah teluk dan tanjung di dataran tinggi Luhak Nan Tigo
  • Dipakainya istilah darek (daratan) untuk merujuk daerag dataran tinggi Luhak Nan Tigo
  • Dipakainya istilah berlayar dalam menjelajahi dan menemukan daerah-daerah baru di sekitar Gunung Marapi, bahkan disebutkan gunung-gunung dan perbukitan lain di sekitar kawasan ini menyembul dari dalam laut. Kisah-kisah ini sangat banyak kita temukan dalam beberapa versi Tambo Alam Minangkabau dan Tambo Alam Kerinci. Selain itu Tombo Lubuk Jambi juga memuat istilah bumi bersentak naik, laut bersentak turun.

Berlayar di Daratan Menurut Tambo

Berikut beberapa kutipan tambo:

Setelah bulat mupakat, mendakilah ninik Sri Maharaja Diraja ke puncak gunung merapi hendak melihat dimana tanah yang baik dan subur akan tempat memindahkan orang orang itu. Setibanya beliau dipuncak gunung merapi, memandanglah beliau kesegala arah. Pandang jauh dilayangkan pandangan dekat di tukikkan. Kelihatan oleh beliau setumpuk tanah tanah gosong yang ditumbuhi rimba di baruh gunung kearah selatan yang kelihatannya tanahnya berpasir. Gosong gosong itu adalah puncak puncak bukit yang tersembur dari permukaan laut waktu itu. Setelah itu beliau kembali turun, dan bersama sama dengan Cateri Bilang Pandai beliau pergi melihat tanah itudengan berlayar. Pelayaran beliau itu hanya menepi gunung merapi saja dan akhirnya beliau sampai ditepi pantai, lalu berlabuh dan langsung memeriksa tanah tadi.(Tambo Alam Minangkabau)

  Read the rest of this entry »

Mnrut carito dari ughang tuo2 Tapan, ninik moyang ughang Tapan brasa dr darek Pagaruyuang, Luhak Tanah Data . . .

Menurut cerita dari orang tua-tua di Tapan, nenek moyang orang Tapan berasal dari “darek” yaitu Pagaruyung, Luhak Tanah Datar –maksudnya suatu daerah daerah di Tanah Datar sekarang, hanya untuk menyebut sebuah nama makanya disebut Pagaruyuang saja karena di zamannya Pagaruyung sebuah nagari yang terkenal hingga berbagai daerah rantau tapi daerah asal sesungguhnya belum tentu Pagaruyung. Besar kemungkinan nagari Tapan sudah ada sebelum Pagaruyung menjadi sebuah kerajaan (abad 15)

Bisa jadi asal usul penduduk Tapan terdiri dari beberapa suku bangsa yang datang ke daerah Tapan sekarang. Tidak tertutup kemungkinan sebagian dari mereka berasal dari Palembang (bukit Siguntang) dan Bengkulu. Begitupula bisa jadi nenek moyang mereka adalah orang Rupit yg menjadi penduduk Muara Rupit, Palembang sekarang.

Adu 2 rombongan ughang yg partamoa tibu di Tapan, daghi daerah yg samu tp jalur babeda . . .

Ada dua rombongan yang pertama tiba di Tapan, dari daerah yang sama tapi jalur yang berbeda

Rmbngan yg partamoa dpimpin Dt. Sangguno Dirajo & Smanggun Dirajo (Mlayu Kcik) tibu di Tapan daghi ‘Bukit Barisan’ (lewat pegunungan) di kapuang Binjai yg kini daerah yg bnamu Talang Balaghik, konon ughang ka yg ngagih namu Tapan dr kta Tpan, Tepan yg artinyo Elok, racak, gagah, cocok utk buek tpek tingga, kta tu diambik dr kta pmmpin rmngan yg wktu ninguk dr dteh gunuang (Bukit Pila, perbatasan Tapan-Kerinci) “Yu Tpan daerah sika ah”. Read the rest of this entry »

Secara geneologis, penduduk yang sekarang ini mendiami Nagari Punggasan khususnya dan daerah Kab. Pesisir Selatan bagian selatan kecuali Indopuro umumnya berasal dari Alam Surambi Sungai Pagu di Kab. Solok. Arus perpindahan penduduk tersebut dilakukan menembus bukit barisan dan menurun di hamparan dataran luas yang berbatas dengan pantai barat Sumatera Barat bagian selatan yang dulunya dikenal dengan sebutan Pasisia Banda Sapuluah.

Menurut cerita yang berkembang ditengah-tengah masyarakat, bahwa yang menemukan dan mempelopori perpindahan penduduk dari Alam Surambi sungai Pagu ke Nagari Punggasan adalah “Inyiak Dubalang Pak Labah”. Beliau adalah seorang Dubalang / Keamanan dalam salah satu suku di Alam Surambi Sungai Pagu yang suka berpetualang mencari daerah-daerah baru.

Berdasarkan kesepakatan rapat Ninik Mamak Alam Surambi Sungai Pagu, dikirimlah rombongan untuk meninjau wilayah temuan Dubalang Pak Labah. Sesampai di bukit Sikai perjalanan tim peninjau diteruskan kearah hilir melalui bukit Kayu Arang, tempat yang ditandai oleh Dubalang Pak Labah dengan membakar sebatang kayu. Ketika malam datang, rombongan beristirahat di bawah sebatang kayu lagan kecil dan daerah tempat beristirahat tersebut kemudian diberi nama “Lagan Ketek” . Kesokan harinya perjalanan dilanjutkan dan bertemu dengan sebatang kayu lagan yang besar. Daerah tersebut kemudian dinamakan “Lagan Gadang”. Rombongan meneruskan perjalanan sampai kesebuah padang yang banyak ditumbuhi oleh kayu dikek. Dari situ mereka melihat juga sebatang pohon embacang, sehingga kedua tempat tersebut dinamai “Kampung Padang Dikek” dan “Kampung Ambacang”. Perpindahan penduduk dari Alam Surambi Sungai Pagu, terbagi atas dua rombongan besar, dimana rombongan pertama berangkat lebih dulu. Read the rest of this entry »

Suku yang pertama menempati Cupak adalah Suku Malayu dan Suku Sikumbang yang datang dari Luhak Tanah Datar. Awalnya mereka bermukim di Sawah XIV, di selatan nagari Koto Baru sekarang. Dari Sawah XIV mereka terus menyebar ke Sawah Laweh dan Air Angek Gadang. Terus berlanjut hingga Tanjung Limau Purut. Disinilah akhirnya mereka mendirikan kerajaan Tanjung Limau Purut. Raja mereka bergelar Tuanku Rajo Disambah, kalau tidak salah gelar ini sama dengan gelar raja di Sungai Pagu.

Kerajaan ini sezaman dengan kerajaan Pariangan, di Padang Panjang. Yang diangkat sebagai raja adalah dari suku Malayu. Mungkin karena mereka mayoritas diantara suku-suku yang ada.

Seorang raja didampingi oleh pembesar yang jumlahnya empat orang yang disebut sebagai Gadang nan Barampek (pembesar yang berempat) yaitu :

  1. Rajo Tuo (Malayu)
  2. Rajo Bandaro
  3. Rajo Bagindo (Malayu)
  4. Rajo Padang (Sikumbang).

  Read the rest of this entry »

Kecamatan  Sapuluah Koto Singkarak


Nagari Sumani

Orang  Sumani menceritakan bahwa asal usul nama Sumani adalah dari kata “sumua (si) ani:. Si ani ada salah seorang diantara leluhur mereka. Dalam cerita mereka juga ada kisah pembangkangan 13 orang ninik mamak. Tapi anehnya yang mengusir 13 ninik mamak itu adalah 2 tokoh pendiri Adat Minangkabau sendiri (Datuak Katumanggungan dan Datuak Parpatiah Nan Sabatang). Apa mungkin? Tidak disebutkan kapan pengusiran itu terjadi. Suku2 yang mendiami Sumani: Koto, Malayu, Guci, Mandaliko, Sumagek dan Balai Mansiang.

Nagari Saniang Baka

Ada leluhur namanya si saniang. Setelah penatakan si saniang melakukan pembakaran kayu2 yang telah mengering. Asapnya mengepul ke angkasa dan terlihat oleh orang di daerah perbukitan spt paninjauan. Maka dikatakan orang bhw si saniang sudah membakar. Maka akrablah terdengar si saniang mambaka disingkat menjadi saniang baka. Penatakan dalam rangka membentuk taratak. 8 orang tokoh yang turun ke negeri ini berasal dari pariangan padang panjang. Suku yang mendiami : Koto, Piliang, Sikumbang, Sumpadang (Supadang?), Balai Mansiang, Dan Sumagek.

 

Nagari Singkarak

Menurut cerita dulu Singkarak mempunyai seorang raja yang dijuluki sebagai Raja Singkarak. Sebagian mengatakan bhw nama singkarak berasal dari baban jawi nan baserak dikarenakan gerobaknya rusak. Tapi menurut saya ini sangat jauh panggang dari api. 3 orang leluhur mereka datang dari Nagari Aripan, 3 orang lagi dari Cinangkik dan Sumpur (keduanya mungkin di Tanah Datar). Kemudian datang 7 orang lagi. Awalnya 13 leluhur dan kaumnya itu menetap di Koto Tuo. Kemudian turun ke singkarak. Singkarak terdiri dari 5 dusun : Gajah, Dalimo, Lapau Pulau, Tampunik, Lembang, Alam Indah dan Alam Permai.

Suku yang mendiami : Piliang (Sani, Batu Karang, Guguak), Tanjuang, Tanjuang Sumpadang (Jadi Sumpadang malakok ke Suku Tanjuang), Tanjuang Batingkah (ada2 saja?).

Nagari Tanjuang Alai

Menurut cerita Tanjuang Alai artinya tanjuang aa-lai (tanjuang apa lagi) setelah banyak tanjuang sebelumnya ampalu, bingkuang, balik, dan sibarundu. Daerah yang mula2 didiami adalah Kapalo Koto—daerah pesantren Habibi.

  Read the rest of this entry »

Pendahuluan

Tulisan ini merupakan Tambo perbilangan uraian adat monografi Nagari Bayang yang diuraikan dalam Kerapatan Adat Bayang Nan Tujuah Koto dan Kerapatan Adat Koto Nan Salapan

Nagari Bayang Nan Tujuah Koto dan Nagari Koto Nan Salapan

Pada tanggal 18 sampai 25 Mei 1915 telah bersidang kerapatan adat Nagari Bayang Nan Tujuh Koto dan Nagari Koto Nan Salapan, yang dipimpin oleh Pucuk Bulek Urek Tunggang nagari itu. Kedua kerapatan ini adalah atas perintah kepala pemerintah di painan, Asisten Residen Kepala Demang Painan, Si Musa Ibrahim yang disampaikan pada Asisten Demang Bayang, Sutan Tahar Baharuddin dan Kepala Tarumun, Gulai Datuk Maharajo Sutan, bekas guru pensiunan yang berasal dari Kinari dan diterima oleh pimpinan kerapatan adat Bayang Nan Tujuh Koto, Datuk Setia, penghulu pucuk bulek urek tunggang Bayang Nan Tujuh Koto dan kepala pimpinan kerapatan adat Koto Nan Salapan, Datuk Bagindo Sutan Basa, ganti penghulu Pucuk Bulek Urek Tunggang atau rajo di pulut-pulut dan kedua kerapatan ini dihadiri oleh anggota-anggota kerapatan dan orang tua-tua serta penghulu-penghulu yang tertua dan orang yang punya pangkat sepanjang adat, turunannya orang empat jenis dalam Nagari Bayang Nan Tujuh Koto dan Koto Nan Salapan. Turut hadir Demang Painan dan Asisten Demang Bayang dan guru-guru tarumun Datuk Maharajo Sutan.

Kedua kerapatan ini dimulai pada jam yang telah ditentukan untuk membicarakan kabarnya perintah :

  1. Sidang pertama diadakan pada tanggal 18 sampai 20 mei 1915 di balai panjang Koto Berapak di bawah beringin nan tigo batang. Sidang ini dihadiri oleh anggota kerapatan adat bayang nan tujuh koto sampai ke kapak rembai dan kandungannya, sampai ke amban (ambun) puruik yang dipimpin oleh datuk setia. Membicarakan tentang adapt monografi Bayang Nan Tujuah Koto sampai ke kapak rembai dan kandungannya
  2. Sidang kedua diadakan pada tanggal 20 sampai 22 mei 1915 di Pulut-pulut bertempat di persinggahan, di pulut-pulut sampai ke taratak nan tigo dan koto nan tigo, dipimpin oleh datuk bagindo sutan basa, rajo di Pulut-pulut.

Sesudah kerapatan ini dibicarakan lebih lanjut dan menyelidiki serta meneliti secara mendalam dan menelusuri lebih jauh maka kedua persidangan ini (menghasilkan) keputusan dengan pendapat bersama sebagai berikut :

Keterangan

Sebagaimana keterangan yang diperdapat yang dikumpulkan dalam kedua persidangan ini menurut sepanjang waris yang dijawat, pusaka nan ditolong dari ninik mereka yang terdahulu dari penduduknya dan orang yang berpangkat sepanjang adapt, berasal dari nagari Kubuang Tigo Baleh atau koto nan tigo di darek yaitu :

  1. Kinari
  2. Muaro Paneh
  3. Koto Anau

Mula Ninik Turun ke Bayang

Menurut sepanjang waris nan dijawat pusaka yang ditolong, dari ninik mereka yang terdahulu atau kata yang diterima dari orang tua dan penghulu-penghulu yang tertua di nagari Bayang Nan Tujuah Koto ini, sejarahnya adalah sebagai berikut : Read the rest of this entry »

Nama Mande Rubiah dan Bundo kanduang menjadi panutan bagi sebagian besar masyarakat Minang, mande Rubiah atau Bundo Kanduang menjadi teladan dalam bersikap dan bertingkah laku dalam kehidupan sehari-hari. Istilah mande berasal dari sebuah profil seorang ibu yang ramah, pengasih, penyayang (sifat rabb yang menjadi rububiyah).

Bundo Kanduang dalam Kaba Cindua Mato

Mande Rubiah dan Bundo Kanduang sebenarnya adalah dua nama untuk satu orang. Bundo Kanduang adalah nama ketika berada di Pagaruyung, sedangkan Mande Rubiah merupakan nama setelah kembali kekampung asal, yaitu Lunang (hulu Indopuro). Maka perlu kita meninjau kembali kutipan dari Teks Hikayat Tuanku Nan Muda Pagaruyung, yang dikenal dengan kaba Cindua Mato, sebuah cerita klasik bernuansa sejarah kerajaan Pagaruyung di dalam Alam Minangkabau beberapa abad yang lalu.

Ketika sutan Rumandung yang bergelar Dang Tuangku, masih berumur 5 tahun dan Cindua Mato berumur 4 tahun 2 bulan, Basa Ampek Balai mengadakan pertemuan besar dibukit gombak, pada pertemuan ini, secara bulat dimufakati untuk mengangkat Romandung sebagai pemimpin Anjung Rajo Alam. Karena Romandung masih kecil maka dimufakati pula untuk mengangkat Kambang Daro Marani sebagai pelaksana tugas sehari-hari dari pimpinan Anjung Rajo Alam dengan gelar penghormatan Bundo Kanduang.

Masa ini pula dikenal dengan masa kejayaan kerajaan Pagaruyung, karena masyarakatnya hidup dengan makmur dan damai. Islampun telah menjadi panutan bagi masyarakat kalangan dalam istana.

Suatu hari di istana Pagaruyung, Setelah Dang Tuangku menginjak usia dewasa, Bundo Kandung memberi petuah tentang seluk-beluk pemerintahan, hukum, undang-undang, adat istiadat, serta pandangan hidup sebagai orang Minangkabau kepada Dang Tuanku, putra tunggalnya. Saat ini pula Dang Tuangku diangkat sepenuh untuk duduk di singasana menjadi pimpinan Anjung Rajo Alam yang bergelar Tuangku Syah Alam. Oleh Bundo Kandung, Dang Tuanku kemudian diperintahkan menghadiri gelanggang yang diadakan oleh Datuk Bandaro di Sungai Tarab dengan membawa serta Cindua Mato, anak Kambang Bandoari, untuk ditunangkan dengan Puti Lenggo Geni, putri Datuk Bandaro. Read the rest of this entry »

Translate to

Masukkan email anda dan klik Berlangganan.
Anda akan dikirimi email untuk setiap artikel yang tayang.

Join 142 other followers

Categories

Visitor Location

Marawa

Blog Stats

  • 708,673 hits
%d bloggers like this: