You are currently browsing the category archive for the ‘Prasasti’ category.

Tambo dalam arti yang sebenarnya adalah cerita sejarah negeri Minangkabau. Tambo-tambo lama Minangkabau didapati hampir di tiap-tiap nagari di Minangkabau yang ditulis dengan tangan dan memakai aksara Arab. Tambo-tambo tersebut sangat dimuliakan orang, bahkan adakalanya dipandang sebagai pusaka keramat. Sehingga yang memegangnya adalah kepala suku atau orang yang akan mengantikan kepala suku itu. Tidak sembarang orang yang boleh membaca, bahkan untuk membacanya harus didahului upacara khusus.

  Lukisan Marapi dilihat dari Danau Singkarak

Beberapa Saduran Naskah Tambo

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dr. Edwar Djamaris, tambo-tambo yang banyak itu ditulis dalam bahasa Melayu berbentuk prosa. Naskah Tambo Minangkabau ini sebagian besar ditulis dengan huruf Arab-Melayu, dan sebagian kecil ditulis dengan huruf latin. Naskah Tambo Minangkabau yang berhasil diketemukan sebanyak 47 naskah, masing-masing tersimpan di museum Nasional Jakarta sebanyak 10 naskah, di perpustakaan Universitas Leiden sebanyak 31 naskah, di perpustakaan KITLV Leiden Belanda sebanyak 3 naskah, di perpustakaan SOAS Universitas London 1 naskah, dan di perpustakaan RAS London 2 naskah.

Ada delapan saduran cerita Tambo Minangkabau yaitu:

Tujuan Penulisan Tambo

Secara umum dapat dikemukakan bahwa fungsi utama cerita Tambo Minangkabau adalah untuk menyatukan pandangan orang Minangkabau terhadap asal usul nenek moyang, adat, dan negeri Minangkabau. Hal ini dimaksudkan untuk mempersatukan masyarakat Minangkabau dalam satu kesatuan. Mereka merasa bersatu karena seketurununan, seadat dan senegeri.

A.A Navis seorang Budayawan Minang mengatakan Kisah tambo yang dipusakai turun-menurun secara lisan oleh orang Minangkabau hanya mengisahkan waktu dan peristiwa secara samar-samar, campur baur, bahkan ditambahi dengan bumbu yang kedongeng-dongengan. Adalah wajar bila kisah tambo itu mengandung berbagai versi karena tambo itu yang diceritakan oleh pencerita sesuai dengan keperluan atau kehendak pendengarnya.

Subjektivitas dan Falsafah Minang Dalam Penulisan Tambo

Terlepas dari kesamaran objektivitas historis dari Tambo tersebut namun Tambo berisikan pandangan orang Minang terhadap dirinya sendiri. Sebagaimana dikatakan oleh Navis, peristiwa sejarah yang berabad-abad lamanya dialami suku bangsa Minangkabau dengan getir tampaknya tidaklah melenyapkan falsafah kebudayaan mereka. Mungkin kegetiran itu yang menjadikan mereka sebagai suku bangsa yang ulet serta berwatak khas. Mungkin kegetiran itu yang menjadi motivasi mereka untuk menghapus sejarah masa silam dengan menciptakan tambo yang kedongeng-dongengan, disamping alasan kehendak falsafah mereka sendiri yang tidak sesuai dengan dengan falsafah kerajaan yang menguasainya. Mungkin kegetiran hidup dibawah raja-raja asing yang saling berebut tahta dengan cara yang onar itu telah lebih memperkuat keyakinan suku bangsa itu akan rasa persamaan dan kebersamaan sesamanya dengan memperkukuh sikap untuk mempertahankan ajaran falsafah mereka yang kemudian mereka namakan adat. Read the rest of this entry »

  • 327 SM     : akhir penaklukan Iskandar Zulkarnain ke Dunia Timur
  • 322 SM     : berdirinya Mauryan Empire (Buddha, Ashoka)
  • 300 SM     : berdirinya Chola Empire di India Selatan, runtuh tahun 1279
  • 264 SM     : Perang Kalingga, Mauryan (Ashoka) menggempur Kalingga
  • 260 SM     : mulainya pengembangan agama Buddha secara besar-besaran s/d 218 SM
  • 256 SM     : berdirinya Greco Bactrian Kingdom di Gandhara
  • 200 SM     : berdirinya Indo-Scythian Kingdom (Aryan), runtuh pada 400
  • 180 SM     : berdirinya Indo-Greeks Kingdom di Gandhara
  • 162 SM     : Greco Bactrian Kingdom diinvasi oleh suku Yue Zhi dari Tibet
  • 125 SM     : akhir kejayaan Greco Bactrian Kingdom
  • 10            : akhir kejayaan Indo-Greeks Kingdom
  • 30           : berdirinya Kerajaan Kushan (Yue Zhi), runtuh tahun 375
  • 183          : akhir kejayaan Mauryan Empire
  • 280                    : berdiri Gupta Empire, Chandragupta I (gelar Maharaja Dhiraja) naik tahta
  • 320                    : Samudragupta naik tahta
  • 345  : Samudragupta mengalahkan Hastivarman, Hastivarman hijrah ke Nusantara (Prasasti Allahabad)
  • 600  : akhir kejayaan Gupta Empire
  • 645  : Kerajaan Malayu (Minanga) mengirim utusan ke Cina (catatan Wang Pu)
  • 671  : I tsing mengunjungi Sriwijaya dalam perjalanan ke India, ia kemudian singgah pula di Malayu yang disebutkan berada di khatulistiwa (hulu Kampar)
  • 682  : Dapunta Hyang berangkat dari Minanga dgn membawa lebih 20.000 tentara (Prasasti Kedukan Bukit)
  • 685  : I tsing pulang dari India, singgah di Malayu yg telah ditaklukkan Sriwijaya
  • 686  : Sriwijaya menaklukkan Bangka, Belitung dan Lampung (Prasasti Kota Kapur)
  • 718  : Sriwijaya mengirim surat dan hadiah kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Dinasti Umayyah di Baghdad.
  • 724  : Sriwijaya mengirimkan hadiah pula kepada Kaisar Cina dari Dinasti Tang.
  • 990  : Catatan Dinasti Song menyebut Sriwijaya dengan San-fo-tsi.
  • 997  : Sriwijaya diserang oleh Raja Dharmawangsa dari Kerajaan Medang Kamulan (Prasasti Hujung Langit)
  • 1025  : Sriwijaya diserang oleh Rajendra Chola I dari Kerajaan Chola, India Selatan. Wangsa Syailendra ditaklukkan.
  • 1030  : Rajendra Chola I berkunjung juga ke Malayu yang istananya terletak di hulu Batanghari di pedalaman yang tanahnya agak tinggi. Ibukota Malayu terletak di atas bukit dan dilindungi oleh benteng-benteng (Prasasti Tanjore, ditulis Rajendra Chola I). Malayu sendiri berarti bukit dalam bahasa Sansekerta.
  • 1030        : Kunjungan Abu Raihan Muhammad ibn Ahmad Al-Biruni, ahli geografi dari Persia, Malayu disebut negeri penghasil emas yang terletak di khatulistiwa
  • 1082        : Catatan Cina menyebutkan ada utusan dari Chen Pi (Jambi), bawahan San-fo-tsi dan utusan Pa Lin Fong (Palembang) datang ke Cina. Utusan Palembang masih keluarga Rajendra Chola. Pada saat ini San-fo-tsi merujuk ke Malayu, bukan Sriwijaya lagi.
  • 1183        : Srimat Trailokyaraja Maulibhusana Warmadewa jadi raja di Dharmasraya, dengan wilayah kekuasaan sampai Thailand Selatan (Prasasti Grahi, Thailand).
  • 1225        : Wilayah Malayu (San-fo-tsi) memiliki 15 daerah bawahan (naskah Zhao Rugua)
  • 1275        : Ekspedisi Pamalayu I, Raja Singhasari yaitu Kertanegara mengirim Mahesa Anabrang ke Dharmasraya.
  • 1286        : Ekspedisi Pamalayu II, Kertanegara menghadiahkan arca Amoghapasa kepada Raja Dharmasraya yaitu Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa (Prasasti Padang Roco)
  • 1293        : Dara Jingga dan Dara Petak, dua putri Dharmasraya dikirimkan ke Singhasari
  • 1316        : Akarendrawarman (paman dari Adityawarman) naik tahta di Dharmasraya menggantikan Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa, kakek Adityawarman (Prasasti Saruaso). Prasasti Saruaso ini menggunakan 2 aksara yaitu dalam aksara Malayu Kuno dan aksara Nagari (India Selatan). Pada masa ini di daerah tersebut telah bermukim masyarakat asal India Selatan selama 300 tahun. Read the rest of this entry »

Gelapnya tabir sejarah Minangkabau pra Adityawarman barangkali dapat diungkap sedikit dengan melakukan uji radio karbon pada situs bersejarah yang diklaim dibuat pada masa-masa awal berdirinya masyarakat Minangkabau.

Setelah berakhirnya perang dunia kedua, profesor Willard Libby pakar kimia dari Universitas Chicago, AS mengembangkan pengukuran umur menggunakan unsur radiokarbon. Tahun 1960, penemuan Libby untuk menetapkan umur benda temuan arkeologi dengan pengukuran unsur radiokarbon, mendapat penghargaan Nobel untuk bidang kimia. Pada prinsipnya Libby mengamati sifat dasar alam, yakni semua tanaman dan binatang di muka Bumi pada prinsipnya tersusun dari unsur karbon. Selama masahidupnya, tanaman menyerap karbondioksida melalui proses fotosintesa. Binatang dan manusia memakan tanaman, ataupun binatang lainnya. Terjadilah rantai makanan, yang merupakan sistem transfer unsur karbon. Dalam kadar amat kecil, sebagian unsur karbon di Bumi bersifat radioaktif atau disebut radiokarbon. Struktur atom pada radiokarbon atau disebut Karbon 14 tidak stabil. Seperti pada unsur radioaktif lainnya, Karbon 14 ini juga meluruh. Pada tahun 1940-an para pakar ilmu pengetahuan berhasil mengetahui waktu paruh radiokarbon tsb, yakni 5.568 tahun. Dengan begitu, semua benda organik yang mengandung unsur radiokarbon dapat dilacak umurnya, asalkan tidak lebih tua dari 70.000 tahun. Sebab pada umur 70.000 tahun, seluruh unsur radiokarbonnya sudah habis meluruh.

Batu Batikam, sebuah monumen batu yang terpajang kokoh di Jorong Dusun Tuo, Nagari Lima Kaum, Kabupaten Tanah Datar. Batu Batikam termasuk salah satu lokasi cagar budaya yang berada dalam pengawasan Kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sumbar, Riau dan Jambi yang ber­kantor di Pagaruyung . Secara lahiriah benda cagar budaya ini merupakan sebuah bungkahan batuan (andesit), berbentuk hampir segi tiga berukuran 55 x 20 x 45 sen­timeter.

Komplek Batu Batikam menurut tambo adat menye­butkan, bahwa di sanalah nagari pertama terbentuk sesudah Pariangan sebagai Nagari Tuo, dibangun oleh Cati Bilang Pandai dengan anaknya Datuak Parpatiaah nan Sa­batang, berikut dengan empat Koto lainnya yaitu Balai Labuah, Balai Batu, Kubu Rajo dan Kampai Piliang, kelima Koto ini hingga se­karang disebut sebagai Lima Kaum.

Batu Batikam ini berlobang akibat ditikam oleh Datuak Parpatiah nan Sabatang sebagai pertanda Sumpah Satiah (setia) pengukuhan perdamaian, untuk mengakhiri perselisihan paham dalam hal pemakaian sistim pemerintahan adat Koto Pi­liang yang dicetuskan oleh Datuak Katumanggungan dengan sistim pemerintahan Budi Caniago yang dipimpin oleh Datuak Parpatiah nan Sabatang.

Juga dituturkan, Datuak Katumanggungan juga meni­kam sebuah batu dengan keris­nya, ditempatkan di Sungai Tarab VIII Batu (Bungo Sa­tangkai-Bulakan Sungai Kayu Batarok) sebagai pusat pe­me­rin­tahan Koto Piliang dengan pucuk adatnya Datuak Bandaro Putiah.

Selain Batu Batikam masih ada situs “purba” seperti Balai Nan Saruang dan Balai Nan Panjang. Lebih luas lagi Uji Radio Karbon C-14 tentu bisa diterapkan juga pada bangunan-bangunan di Nagari Pariangan dan Nagari Sungai Tarab yang di dalam tambo disebutkan sebagai nagari-nagari tertua.

Jika kita merujuk pada tambo, Datuak Katumanggungan disebut sebagai anak atau cucu dari Ninik Sri Maharajo Dirajo. Maka dengan ditemukannya umur Batu Batikam yang merupakan karya cipta dari kedua datuak, maka dapat diperkirakan dengan eksak kapan sebenarnya cerita pendaratan di puncak Gunung Marapi itu terjadi.  Paling lama adalah sekitar 200 tahun sebelumnya.

Jika pengujian ini benar-benar ada yang mau melakukannya (dan sudah tentu akan banyak yang menentang dengan alasan kesakralan) dan jika ditemukan angka sekitar tahun 500 M sebagai saat batu tersebut ditikam. Maka ada sedikit fakta menarik yang datang 200 tahun sebelumnya, yaitu pada tahun 345 M.

Dalam prasasti Allahabad (345 M) India, “Kerajaan Samudragupta telah mengalahkan Raja Hastiwarman dari keluarga Calakayana dan mengalahkan Raja Wisnugopa dari keluarga Pallawa”.  Pada tahun 270 saka (348 Masehi) seorang Maharsi dari keluarga Calakayana hijrah ke pulau-pulau sebelah selatan India bersama para pengikutnya yang terdiri dari penggiring, tentara, dan penduduknya melarikan diri dari musuhnya Samudragupta.

Mungkinkah Raja Hastiwarman ini adalah Ninik Sri Maharaja Diraja? Bisa saja. Tapi jangan pula buru-buru tertawa dengan cerita mendarat di Gunung Marapi ini. Kita semua tentu faham bahwa faktanya Gunung Marapi ini tidak pernah ada di tepi laut, hanya Gunung Krakatau saja di barat Nusantara ini yang muncul dari dalam laut. Bahkan justru pada masa dahulu itu, laut lebih rendah dari masa sekarang (terutama pada zaman es dimana Sumatera, Jawa dan Kalimantan bersatu dalam Anak Benua Dangkalan Sunda).

Kaum yang datang dari India tersebut adalah penganut Hindu. Dalam konsepsi Hindu ada yang dinamakan Gunung Meru tempat tinggal para dewa (hyang). Gunung Meru ini terletak di tengah 7 lautan di benua Jambu Dwipa. Ketika mereka eksodus dari India, mereka akan merekonstruksi kembali tempat-tempat tersebut untuk tujuan keagamaan. Gunung Meru dalam konsepsi ini juga terletak di antara 6 gunung (3 di utara dan 3 di selatan).

Gunung Marapi di tengah Pulau Sumatera adalah kandidat kuat sebagai Gunung Meru yang baru (bahkan nama Marapi berkemungkinan diturunkan dari kata Meru dalam Bahasa Sansekerta). Karena itulah mereka berbondong-bondong mendekati Gunung Marapi untuk memuja para dewa, dan sangat lazim jika nama nagari yang mereka dirikan adalah Pariangan atau Par Hyangan (tempat dewa-dewa). Beberapa saat kemudian mereka pun mendirikan Kerajaan Jambu Dwipa (Jambu Lipo) untuk memperkuat konsepsi keagamaan tersebut.

Jadi tantangan kita selanjutnya adalah menginventarisasi nama-nama tempat atau gelar yang ada di Minangkabau yang diturunkan dari Bahasa Sansekerta. Dari sini kita baru bisa mencari-cari berita dari India atau tempat lain yang kira-kira memberi petunjuk selanjutnya.

Sumber:

http://www.minangforum.com/Thread-BATU-BATIKAM-TETAP-DIMINATI

http://www.kelas-mikrokontrol.com/jurnal/iptek/bagian-2/metode-pelacak-umur-radiokarbon.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Meru

ImageULI Kozok, doktor filologi asal Jerman, telah mengejutkan dunia penelitian bahasa dan sejarah kuno Indonesia. Lewat temuan sebuah naskah Malayu kuno di Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi yang ia lihat pertama kali di tangan penduduk pada 2002, ia membantah sejumlah pendapat yang telah menjadi pengetahuan umum selama ini. Pendapat pertama, selama ini orang beranggapan naskah Malayu hanya ada setelah era Islam dan tidak ada tradisi naskah Malayu pra-Islam. Artinya, dunia tulis-baca orang Malayu diidentikkan dengan masuknya agama Islam di nusantara yang dimulai pada abad ke-14.

“Naskah Undang-Undang Tanjung Tanah” yang ditemukan Kozok merupakan naskah pertama yang menggunakan aksara Pasca-Palawa dan memiliki kata-kata tanpa ada satupun serapan ‘berbau’ Islam.

Berdasar uji radio karbon di Wellington, Inggris naskah ini diperkirakan dibuat pada zaman Kerajaan Adityawarman di Suruaso (Tanah Datar, Sumatera Barat) antara 1345 hingga 1377. Naskah ini dibuat di Kerajaan Dharmasraya yang waktu itu berada di bawah Kerajaan Malayu yang berpusat di Suruaso. Karena itu Kozok mengumumkan naskah tersebut sebagai naskah Malayu tertua di dunia yang pernah ditemukan.

“Ada pakar sastra dan aksara menganggap tidak ada tradisi naskah Malayu sebelum kedatangan Islam, ada yang beranggapan Islam yang membawa tradisi itu ke Indonesia, dengan ditemukannya naskah ini teori itu runtuh,” kata Kozok yang bertemu Padangkini.com di Siguntur, Kabupaten Dharmasraya pengujung Desember 2007.

Aksara Sumatera Kuno

Pendapat kedua, seperti halnya Jawa, Sumatera sebenarnya juga memiliki aksara sendiri yang merupakan turunan dari aksara Palawa dari India Selatan atau aksara Pasca-Palawa. Selama ini aksara di sejumlah prasasti di Sumatera, seperti sejumlah prasasti-prasasti Adityawarman, disebut para ahli sebagai aksara Jawa-Kuno.


Padahal, menurut Kozok, aksara itu berbeda. Seperti halnya di Jawa, di Sumatera juga berkembang aksara Pasca-Palawa dengan modifikasi sendiri dan berbeda dengan di jawa yang juga bisa disebut Aksara Sumatera-Kuno.


Prasasti-prasasti peninggalan Adityawarman di Sumatera Barat, menurutnya, sebenarnya aksara Pasca-Palawa Sumatera-Kuno, termasuk yang digunakan pada Naskah Undang-Undang Tanjung Tanah dengan perbedaan satu-dua huruf. Namun selama ini prasasti-prasasti itu disebut ahli yang umumnya berasal dari Jawa sebagai aksara Jawa-Kuno.

“Mereka punya persepsi bahwa Sumatera itu masih primitif dan orang Jawa yang membawa peradaban, begitulah gambaran secara kasar yang ada dibenak mereka, karena mereka peneliti Jawa, sehingga ketika mereka datang ke Sumatera dan melihat aksaranya, menganggap aksara Sumatera pasti berasal dari Jawa, nah sekarang kita tahu bahwa kemungkinan aksara itu duluan ada di Sumatera daripada di Jawa,” katanya.


Pendapat ketiga, kerajaan Malayu tua pada zaman Adityawarman telah memiliki undang-undang tertulis yang detail. Undang-undang ini dikirimkan kepada raja-raja di bawahnya. Selama ini belum pernah ada hasil penelitian yang menyebutkan Kerajaan Malayu Kuno memiliki undang-undang tertulis.


Pendapat keempat, dengan ditemukannya “Naskah Undang-Undang Tanjung Tanah” selangkah lagi terkuak informasi mengenai Kerajaan Dharmasraya, Adityawarman, dan Kerajaan Malayu yang beribukota di Suruaso (Tanah Datar). Naskah tersebut menyebutkan Read the rest of this entry »

Situs Kerajaan Koto Alang ini telah sangat lama terlupakan. Hanya beberapa Tokoh adat yang tetap menjaganya. Walau dijaga, tetap saja tak lepas dari tangan jahil yang suka memperjual belikan Benda Cagar Budaya (BCB) yang terdapat di lokasi Situs Kerajaan Koto Alang ini. Pemerintah setempat nyaris tidak mengetahui keberadaannya (atau pura-pura tidak tahu). Hati terasa perih ketika Situs Kerajaan Koto Alang terabaikan begitu saja. Maka saya mencoba menelusurinya. Sobat netter mau tau cerita petualangan saya menelusuri Situs Kerajaan Koto Alang ini? Silakan lanjutkan baca cerita selengkapnya.

Penelusuran di Dusun Botuang

Saya menelusurinya bersama seorang teman dari Koran Kampus “Bahana Mahasiswa” Universitas Riau. Dari Pekanbaru menempuh perjalanan darat menuju Kota Taluk Kuantan ibu kota Kabupaten Kuantan Singingi (Kab. Kuansing), pada minggu ketiga dan hari ketiga di bulan Oktober 2008, ujan rintik-rintik menemani perjalanan kami. Tujuannya adalah Kecamatan Kuantan Mudik, disitulah terdapat Dusun Botuang di Desa Sangau.

Untuk mencapai Dusun Botuang ini dibutuhkan waktu sekitar setengah jam dari pusat Kota Taluk Kuantan, Situs Kerajaan Koto Alang itu berada disini, dinamakan Padang Candi karena diduga kuat disitu terdapat sebuah candi yang telah sangat lama tebenam. Untuk sampai kelokasi Padang Candi ini kami melewati sebuah sungai kecil bernama Sungai Salo dan dilintasi dengan jembatan gantung yang terbuat dari kayu, bagi orang yang tidak terbiasa melewatinya akan merasa gamang karena sewaktu dilewati ia bergoyang-goyang.

Kerajaan Koto AlangDusun Botuang ini banyak menyimpan Benda Cagar Budaya (BCB) yang sering ditemukan penduduk setempat secara tak sengaja, sewaktu menggali tanah untuk berkebun dan atau hanya sekedar menata halaman rumah, seperti perhiasan yang terbuat dari emas: cincin, kalung, gelang, juga jarum penjahit dan mata kail. Menurut cerita penduduk setempat, Herlita menceritakan awal temuan ini, ketika salah seorang penduduk bermimpi didatangi orang tak dikenal untuk menggali sebuah guci yang berisikan perhiasan, setelah digali ditempat yang ditunjukkan orang tak dikenal dalam mimpim itu. Namun sayang guci itu kembali membenamkan diri, karena “Sewaktu bermimpi guci itu minta didarahi dengan darah Kambing Hitam, karena sulit didapat diganti dengan darah Anjing Hitam, makanya dia kembali tenggelam kedalam tanah,” terang Herlita.
Read the rest of this entry »

Nenek moyang bangsa Indonesia diduga kuat oleh para Arkeolog adalah ras Austronesia. Ras ini mendarat di Kepulauan Nusantara, dan memulai peradaban neolitik. Bukti arkeologi menunjukkan bahwa budaya neolitik dimulai sekitar 5000 tahun lalu di kepulauan Nusantara. Bersamaan dengan budaya baru ini bukti antropologi menunjukkan muncul juga manusia dengan ciri fisik Mongoloid. Populasi Mongoloid ini menyebar di kawasan Nusantara sekitar 5000 sampai 3000 tahun lalu dengan membawa bahasa Austronesia dan teknologi pertanian.

Di Nusantara saat ini paling tidak terdapat 50 populasi etnik Mongoloid yang mendiaminya. Budaya dan bahasa mereka tergolong dalam satu keluarga atau filum bahasa, yaitu bahasa-bahasa Austronesia yang menunjukkan mereka berasal dari satu nenek moyang. Lalu dari manakah populasi Austronesia ini berasal dan daerah manakah pertama kalinya mereka huni di Nusantara ini? Sebuah pertanyaan yang belum terjawab oleh riset sejarah selama ini. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah pengkajian dan analisis yang komprehensif tentang bukti sejarah yang ada dan menelusuri hubungan historis suatu daerah dengan daerah lainnya. Metode yang digunakan adalah mengumpulkan cerita/tombo yang ada di masyarakat dan penelusuran fakta yang mendukung tombo tersebut.

Kerajaan tertua di Pulau Jawa berdasarkan bukti arkeologis adalah kerajaan Salakanegara dibangun abad ke-2 Masehi yang terletak di Pantai Teluk Lada, Pandeglang Banten. Diduga kuat mereka berimigrasi dari Sumatra. Sedangkan Kerajaan tertua di Sumatra adalah kerajaan Melayu Jambi (Chu-po), yaitu Koying (abad 2 M), Tupo (abad ke 3 M), dan Kuntala/Kantoli (abad ke 5 M). Menurut cerita/tombo adat Lubuk Jambi yang diwarisi dari leluhur mengatakan bahwa disinilah lubuk (asal) orang Jambi, oleh karena itu daerah ini bernama Lubuk Jambi. Dalam tombo juga disebutkan di daerah ini terdapat sebuah istana kerajaan Kandis yang sudah lama hilang. Istana itu dinamakan istana Dhamna, berada di puncak bukit yang dikelilingi oleh sungai yang jernih. Penelusuran peninggalan kerajaan ini telah dilakukan selama 7 bulan (September 2008-April 2009), dan telah menemukan lokasi, artefak, dan puing-puing  yang diduga kuat sebagai peninggalan Kandis dengan ciri-ciri lokasi mirip dengan sketsa Plato (347 SM) tentang Atlantis. Namun penemuan ini perlu dilakukan penelitian arkeologis lebih lanjut. Read the rest of this entry »

Kerajaan Pagaruyung didirikan oleh seorang peranakan MinangkabauMajapahit yang bernama Adityawarman, pada tahun 1347. Adityawarman adalah putra dari Mahesa Anabrang, panglima perang Kerajaan Sriwijaya, dan Dara Jingga, putri dari kerajaan Dharmasraya. Ia sebelumnya pernah bersama-sama Mahapatih Gajah Mada berperang menaklukkan Bali dan Palembang.

Sebelum kerajaan ini berdiri, sebenarnya masyarakat di wilayah Minangkabau sudah memiliki sistem politik semacam konfederasi, yang merupakan lembaga musyawarah dari berbagai Nagari dan Luhak. Dilihat dari kontinuitas sejarah, Kerajaan Pagaruyung merupakan semacam perubahan sistem administrasi semata bagi masyarakat setempat (Suku Minang).

Adityawarman pada awalnya bertahta sebagai raja bawahan (uparaja) dari Majapahit dan menundukkan daerah-daerah penting di Sumatera, seperti Kuntu dan Kampar yang merupakan penghasil lada. Namun dari berita Tiongkok diketahui Pagaruyung mengirim utusan ke Tiongkok seperempat abad kemudian. Agaknya Adityawarman berusaha melepaskan diri dari Majapahit.

Kemungkinan Majapahit mengirimkan kembali ekspedisi untuk menumpas Adityawarman. Legenda-legenda Minangkabau mencatat pertempuran dahsyat dengan tentara Jawa di daerah Padang Sibusuk. Konon daerah tersebut dinamakan demikian karena banyaknya mayat yang bergelimpangan di sana. Menurut legenda tersebut tentara Jawa berhasil dikalahkan.

Pengaruh Hindu

Pengaruh Hindu di Pagaruyung berkembang kira-kira pada abad ke-13 dan ke-14, yaitu pada masa pengiriman Ekspedisi Pamalayu oleh Kertanagara, dan pada masa pemerintahan Adityawarman dan putranya Ananggawarman. Kekuasaan mereka diperkirakan cukup kuat mendominasi Pagaruyung dan wilayah Sumatera bagian tengah lainnya. Pada prasasti di arca Amoghapasa bertarikh tahun 1347 Masehi (Sastri 1949) yang ditemukan di Padang Roco, hulu sungai Batang Hari, terdapat puji-pujian kepada raja Sri Udayadityavarma, yang sangat mungkin adalah Adityawarman.

Walaupun demikian, keturunan Adityawarman dan Ananggawarman selanjutnya agaknya bukanlah raja-raja yang kuat. Pemerintahan kemudian digantikan oleh orang Minangkabau sendiri yaitu Rajo Tigo Selo, yang dibantu oleh Basa Ampat Balai. Daerah-daerah Siak, Kampar dan Indragiri kemudian lepas dan ditaklukkan oleh Kesultanan Malaka dan Kesultanan Aceh [2], dan kemudian menjadi negara-negara merdeka.

Pengaruh Islam

Pengaruh Islam di Pagaruyung berkembang kira-kira pada abad ke-16, yaitu melalui para musafir dan guru agama yang singgah atau datang dari Aceh dan Malaka. Salah satu murid ulama Aceh yang terkenal Syaikh Abdurrauf Singkil (Tengku Syiah Kuala), yaitu Syaikh Burhanuddin Ulakan, adalah ulama yang dianggap pertama-tama menyebarkan agama Islam di Pagaruyung. Pada abad ke-17, Kerajaan Pagaruyung akhirnya berubah menjadi kesultanan Islam. Raja Islam yang pertama dalam tambo adat Minangkabau disebutkan bernama Sultan Alif.

Dengan masuknya agama Islam, maka aturan adat yang bertentangan dengan ajaran agama Islam mulai dihilangkan dan hal-hal yang pokok dalam adat diganti dengan aturan agama Islam. Papatah adat Minangkabau yang terkenal: “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah” Read the rest of this entry »

Jauh sebelum tarikh Masehi ketika orang-orang di benua Eropa masih terkebelakang, di daratan Asia telah terdapat masyarakat dengan peradaban tinggi seperti Macedonia, Mesir Kuno, Parsi, Arab, India, Mongolia dan Cina, termasuk disebuah dataran subur Asia Muka di kawasan Campha, Kocin, Peghu, Annam dan kawasan Khasi dan Munda disebelah Tenggara anak benua India yang merupakan kantong2 pemukiman yang kelak dengan berbagai motivasi dan faktor penyebab telah melakukan exodus kearah Selatan yang selanjutnya melalui proses yang sangat panjang dan sulit telah menyebar dikepulauan Nusantara dan pulau2 lain yang diapit oleh dua Samudra Hindia dan Pasifik yang kelak menjadi cikal bakal nenek moyang bangsa serumpun.

Yang selanjutnya melalui proses yang panjang dan berliku perpindahan lokal terus berlangsung hingga ditemukan tanah idaman yang dapat dianggap subur dan menjanjikan untuk kehidupan yang lebih baik dan layak

Bagi orang-orang zaman dulu, puncak gunung yang tinggi, indah dan nyaman diyakini sebagai tempat yang suci sebagaimana puncak gunung Mahameru salah satu puncak pegunungan Himalaya di anak Benua Asia, karena puncak gunung yang sedemikian itu dianggap lebih dekat ke Nirwana tempat bersemayam Sang Hyiang Tunggal bersama para Dewata lainnya

Tidak heran bila puncak yang indah seperti Bukit Siguntang dan Merapi menjadi tanah idaman tujuan akhir dari sebuah pencarian panjang.

Menurut catatan, puncak Merapi yang dianggap suci ini pernah didiami oleh Dapunta Hyang beserta pengikutnya sekitar 250 tahun sebelum masehi

Rombongan ini telah melalui sebuah perjalanan yang melelahkan memudiki sungai Kampar untuk mewujudkan sebuah tempat suci yang identik dengan kampung halaman yang ditinggalkan dan selanjutnya berakhir dipuncak Merapi yang mereka yakini sebagai sebuah tempat yang indah dan lebih dekat ke Nirwana tempat Para Hyang dan Dewa-Dewi.

Ber-abad2 lamanya puncak dan lereng Merapi menjadi pusat pemujaan Sang Hyiang Tunggal hingga abad ke 5 oleh sang penguasa diutus Sri-Jayanaga (603 M) turun gunung melewati Sungai Dareh Pulau Punjung untuk menyebar luaskan ajaran dan pengaruh himgga akhirnya sampai kedaerah Shan Fuo Thsie (Tembesi – Muara Tembesi) Read the rest of this entry »

Pendapat-pendapat mengenai nama Minangkabau saat ini sangat banyak sekali. Pendapat-pendapat yang dikemukakan berasal dari orang-orang yang memiliki ilmu di bidang sejarah. Ada yang bersumber dari orang-orang yang sekedar pendapat tanpa argumentasi yang kuat, artinya tanpa didukung oleh nilai-nilai sejarah dan akibanya juga kurang didukung oleh masyarakat. Pendapat yang bersumber dari tambo pada umumnya didukung oleh masyarakat Minangkabau.

Dari keterangan-keterangan yang dikumpulkan ada dikemukakan sebagai berikut:

1. Prof. DR. RM. NG. Poerbacaraka:
Pendapatnya dikemukakan dalam sebuah karangan yang berjudul “Riwayat Indonesia” dalam tulisannya mengenai nama Minangkabau dikaitkan dengan prasasti yang terdapat di palembang yaitu Prasasti Kedukan Bukit. Prasasti ini memuat sepuluh baris kalimat yang berangka tahun 605 (saka) atau 683 masehi. Batu bertulis ini telah diterjemahkannya ke dalam bahasa indonesia sebagai berikut:

Selamat tahun saka telah berjalan 605 tanggal ii
Paro terang bulan waisyakka yang dipertuan yang naik di
Perahu mengambil perjalanan suci. Pada tanggal 7 paro terang,
Bulan jyestha Yang Dipertuan Hyang berangkat dari Minanga
Tamwan membawa bala (tentara) dua puluh ribu dengan peti
Dua ratus sepuluh dua banyaknya tulisan
Dua ratus berjalan diperahu dengan jalan (darat) seribu
Tiga ratus sepuluh dua banyaknya. Datang di Matayap
Bersuka cita pada tanggal lima bulan…
Dengan mudah dan senang membuat kota…
Syri-wijaya (dari sebab dapat) menang (karena) perjalanan suci, (yang menyebabkan kemakmuran)

Kesimpulan dari isi prasasti ini adalah Yang Dipertuan Hyang berangkat kari Minanga Tamwan naik perahu membawa bala tentara. Sebagian melalui jalan darat. Read the rest of this entry »

Dharmasraya, titik tengah pulau Sumatera dalam catatan sejarah, adalah peradaban yang dibangun kerajaan-kerajaan kecil sepanjang Batanghari. Peradaban yang juga berhubungan erat dengan peradaban sepanjang aliran Siak, Indragiri, Kampar, di Melayu sana.

Saya melakukan perjalanan menemukan jejak peradaban yang dulu pernah ada sepanjang tepiannya, dan kini mungkin telah tenggelam dalam alir sejarah yang tak bisa ditebak, seperti arus Batanghari yang keruh dari hulu.

Lima jam lebih perjalanan ke Dharmasraya, dalam cuaca Maret yang tak menentu. Mobil berpenumpang tiga orang yang saya tumpangi begitu lincah menikung, menyalip mobil-mobil besar, mengelak lobang-lobang besar, menanjak dan menurun. Saya tinggalkan kota Padang yang tenggelam dalam temaram yang resah mengeja terang.

Setelah saya diturunkan, mobil itu melesat kembali meninggalkan saya yang sendirian. Rumah-rumah kaku dalam cahaya 5 watt. Dalam gelap, aspal jalan menguapkan sisa hujan. Musim hujan memang masih berlangsung dalam bulan itu.

Tak berapa lama kemudian, seorang teman datang dengan sepeda motor menjemput. Saya telah mengirim pesan singkat beberapa saat sebelumnya. Dini hari membuat kami begitu gagap untuk berucap. Saya dibawa untuk beristirahat di rumahnya yang tak jauh dari tempat saya turun.

“Sudah, besok pagi saja. Telah menjelang subuh, istirahatlah dulu. Wajahmu agak pucat!” tutur ibu teman saya yang setengah mengantuk, menyambut saya yang bertamu dini hari.
Setelah istirahat, perjalanan saya lanjutkan. Sepuluh kilo dari Koto Baru, saya melihat sungai lebar yang keruh. Sungai yang memiliki panjang 485 km ini berhulu di pedalaman Minangkabau dan bermuara di pesisir timur. Dalam lintasan sejarah, kiri dan kanan tepiannya pernah menjadi tempat berdiri beberapa kerajaan dalam rentang abad ke-7 sampai ke-15. Kerajaan-kerajaan yang pernah memiliki peran kuat di tanah Andalas yang kini seakan (ter-di)lupakan.

Kerajaan Padang Laweh

Untuk sampai di (sisa) kerajaan ini, saya dan teman saya harus naik playang (perahu menggunakan mesin tempel). Mesin playang berdengung seketika dihidupkan. Playang yang membawa kami melaju, membelah Batanghari, menyisir di antara riak dan gelombang Batanghari yang keruh. “Banyak orang mendulang emas dari hulu, jadi sampai kiamat pun Batang Hari ini tak akan jernih,” kata pemilik playang itu dengan menceracau dan cekikikan. Read the rest of this entry »

Translate to

Masukkan email anda dan klik Berlangganan.
Anda akan dikirimi email untuk setiap artikel yang tayang.

Join 142 other followers

Categories

Visitor Location

Marawa

Blog Stats

  • 717,914 hits
%d bloggers like this: