You are currently browsing the category archive for the ‘Penelitian’ category.

Setelah sebelumnya menemukan kemiripan antara motif ukiran Minangkabau dengan motif ukiran kuno Gandhara dan ukiran Yunani kuno, saya melanjutkan penelusuran ke Negeri Champa. Dan persis seperti dugaan saya, dari peninggalan-peninggalan sejarah Bangsa Champa saya lagi-lagi menemukan keterkaitan dengan Minangkabau yaitu dalam bentuk kemiripan ukiran yang dipahat di dinding candi-candi di Champa terutama di komplek percandian My Son, dengan ukiran yang bisa kita temukan di dinding Rumah Gadang. Cara mereka mengukir pun sama dengan yang dilakukan seniman ukir Minangkabau, yaitu dengan memotong ukiran-ukiran tersebut dalam bentuk batu bata yang terpisah untuk kemudian disatukan. Persis seperti sambungan papan-papan ukiran di Rumah Gadang. Uniknya lagi, ukiran-ukiran atau pahatan-pahatan yang ditemukan pada peninggalan Bangsa Champa ini juga merupakan bentuk turunan dari ukiran Yunani Kuno dan Gandhara. Dari sini kita bisa melihat perjalanan sejarah ukiran tersebut, mulai dari Yunani kemudian ke Gandhara, berlanjut ke Negeri Champa dan pada akhirnya ditemukan di Minangkabau, di pedalaman Sumatera.

Pahatan di Candi Myson

Jadi sampai saat ini saya sudah menginventarisir 4 keterkaitan antara Negeri Champa dengan Minangkabau, yaitu:

  • Sistem Konfederasi Kota yang mirip dengan Nagari di Minangkabau atau Mini Republik di Yunani Kuno dan Gandhara.
  • Sistem Matrilineal yang masih diamalkan oleh masyarakat Minangkabau sampai saat ini.
  • Simbol Harimau Campa yang juga menjadi simbol budaya pada masyarakat Champa
  • Motif Ukiran dan Pahatan yang mirip dengan Ukiran Minangkabau.

Belum termasuk soal Hikayat Suku Jambak yang memang belum jelas sumbernya dan kesamaan nama Kerajaan Inderapura dengan nama ibukota Champa di puncak kejayaannya.

Motif Kuciang Lalok jo Saik Galamai

Jika kita membuang unsur siku-siku saik galamai dalam motif ukiran di bawah, maka akan ditemukan kemiripan unsur dengan pahatan pada candi myson yang ada di Champa. Unsur bunga segi empat ini disebut bungo cino dalam ukiran Minangkabau.

Potongan Ukiran di Myson

Motif Kuciang Lalok jo Saik Galamai

Saik Galamai

Ukia ragam kuciang lalok

Salo manyalo saik galamai

Latak di pucuak dindiang hari

Disingok di ujuang paran

Parannyo ulua mangulampai

Asanyo di Gudam Balai janggo

Di dalam Koto Pagaruyuang

Ukiran Rajo Tigo Selo

Read the rest of this entry »

Advertisements

Asal Muasal Suku Menurut Tambo

Menurut pendapat yang paling umum dan bersumberkan kepada Tambo, pada awalnya di Minangkabau hanya ada empat suku saja yaitu Koto, Piliang, Bodi dan Caniago. Keempat suku mengelompok menjadi dua kelarasan yaitu Lareh Koto Piliang yang dipimpin Datuak Katumanggungan dan Lareh Bodi Caniago yang dipimpin oleh Datuak Perpatiah Nan Sabatang. Selanjutnya suku-suku asal ini membelah berulang kali hingga mencapai jumlah ratusan suku yang ada sekarang ini. Dapat ditebak, suku yang empat ini adalah penghuni kawasan lereng Gunung Marapi atau Nagari Pariangan. Konsep ini sesuai dengan tujuan penulisan tambo yaitu untuk menyatukan pandangan orang Minang tentang asal-usulnya.

Namun informasi dari tambo ini tidak menyebutkan:

  • Darimana asal usul suku yang empat ini
  • Darimana asal usul 4 suku lain yang ada di Nagari Pariangan (Pisang, Malayu, Dalimo Panjang dan Dalimo Singkek)
  • Jika Nagari Pariangan adalah nagari pertama, mengapa tidak ada Suku Bodi dan Suku Caniago di dalamnya. Apakah suku yang berdua ini datang belakangan? Tentu ini akan menabrak konsepsi awal bahwa Bodi dan Caniago termasuk empat suku pertama.
  • Asal muasal suku besar lain seperti Jambak, Tanjuang, Sikumbang dan Mandahiliang. Karena mereka bukanlah pecahan dari Koto, Piliang, Bodi atau Caniago.
  • Suku-suku apa saja yang menjadi warga nagari-nagari yang menganut Lareh Nan Panjang.

Sebuah sumber memiliki pendapat yang berbeda dari keterangan di atas. Menurut Buku Sejarah Kebudayaan Minangkabau, suku asal Minangkabau adalah Suku Malayu, yang terpecah menjadi 4 kelompok dan masing-masingnya mengalami pemekaran, yaitu:

  • Malayu IV Paruik (Malayu, Kampai, Bendang, Salayan)
  • Malayu V Kampuang (Kutianyia, Pitopang, Jambak, Salo, Banuampu)
  • Malayu VI Niniak (Bodi, Caniago, Sumpadang, Mandailiang, Sungai Napa dan Sumagek)
  • Malayu IX Induak (Koto, Piliang, Guci, Payobada, Tanjung, Sikumbang, Simabua, Sipisang, Pagacancang)

Suku Malayu juga ditemukan sebagai suku para raja yang berkuasa di Pagaruyung, Ampek Angkek, Alam Surambi Sungai Pagu, Air Bangis dan Inderapura.

Suku Sebagai Representasi Klan Pendatang

Pada hakikatnya suku pada masa awal terbentuknya adalah representasi dari klan-klan yang membentuk masyarakat Minangkabau. Sebagaimana yang kita ketahui, Minangkabau pada masa awal pembentukan masyarakatnya adalah wilayah yang terbuka untuk didiami pelbagai bangsa sebagai konsekuensi letaknya yang dekat dengan jalur perdagangan internasional. Pantai Barat Sumatera (Barus), Selat Malaka dan daerah aliran sungai-sungai besar seperti Rokan, Siak, Kampar, Inderagiri dan Batanghari adalah pintu masuk utama berbagai bangsa pendatang sejak zaman megalitikum sampai periode berkembangnya kerajaan-kerajaan di Pesisir Timur Sumatera. Kaum pendatang ini segera menghuni kawasan Luhak Nan Tigo yang dalam Tambo disebut sebagai wilayah inti Minangkabau.

Persebaran Kaum Non-Pariangan di Luhak Nan Tigo

Meskipun tambo-tambo yang beredar dalam berbagai versi itu sepakat bahwa daerah pertama yang dihuni nenek moyang orang Minangkabau adalah Nagari Pariangan yang terletak di lereng sebelah selatan Gunung Marapi, namun ada informasi yang luput dari “teorema penyatuan silsilah” yaitu soal penduduk yang telah terlebih dahulu menghuni Luhak Agam dan Luhak Limopuluah Koto. Read the rest of this entry »

Migrasi nenek moyang orang Minangkabau menurut Tambo masih meninggalkan sebuah pertanyaan besar sampai saat ini, yaitu soal pelayaran yang berakhir di puncak Gunung Marapi. Meski secara logika tidak dapat diterima namun banyak juga yang tertarik untuk mengetahui alasan dipilihnya cerita ini oleh pengarang tambo pertama kali sebagai konstitusi untuk menyatukan pandangan keturunannya mengenai sejarah dan asal-usul mereka.

 

Geografi Pulau Sumatera Pada Abad ke-6 Masehi

Tentu kita tidak perlu menanyakan seperti apakah gerangan keadaan Pulau Sumatera pada saat nenek moyang orang Minangkabau yang diceritakan di dalam tambo itu menapaki pulau ini untuk pertama kalinya. Yang pasti tidak akan banyak berubah seperti kondisi sekarang ini. Memang ada temuan arkeologi dalam penelitian tentang Kerajaan Sriwijaya yang mengatakan Kota Palembang pada dahulunya itu terletak di pinggir pantai, begitu pula halnya dengan Muara Tebo di Jambi. Menurut penelitian ini pada kisaran abad keenam dan kesembilan Masehi, rawa-rawa dan lahan gambut yang mendominasi pantai timur Sumatera saat ini belum ada, dan banyak kota-kota di tepi sungai besar seperti Batanghari dan Musi dulunya berada di pinggir pantai atau muara sungai, walaupun saat ini bisa berjarak puluhan kilometer dari muara sungai yang sama.

Namun satu hal yang pasti, tidak akan mungkin gunung-gunung api dan kawasan bukit barisan bertemu dengan lautan, kecuali kaki-kaki bukit barisan di selatan Kota Padang dan seputaran Kota Painan sekarang. Bahkan pada zaman es pun yang terjadi adalah sebaliknya, lautan di Nusantara ini justru lebih rendah permukaannya daripada kondisi saat ini, sehingga Sumatera, Malaya, Jawa dan Kalimantan bersatu dalam daratan Dangkalan Sahul. Bahkan pulau-pulau perisai di barat Sumatera seperti Siberut dan Nias pun menyatu dengan Sumatera pada periode ini. Jadi jelas secara sejarah geologi, cerita dalam tambo ini tertolak.

Namun bagaimana menjelaskan soal lautan ini? Di luar soal pendaratan kapal di puncak Gunung Marapi, masih ada beberapa soal yang menentang kondisi geografis ini, di antaranya:

  • Dipakainya istilah teluk dan tanjung di dataran tinggi Luhak Nan Tigo
  • Dipakainya istilah darek (daratan) untuk merujuk daerag dataran tinggi Luhak Nan Tigo
  • Dipakainya istilah berlayar dalam menjelajahi dan menemukan daerah-daerah baru di sekitar Gunung Marapi, bahkan disebutkan gunung-gunung dan perbukitan lain di sekitar kawasan ini menyembul dari dalam laut. Kisah-kisah ini sangat banyak kita temukan dalam beberapa versi Tambo Alam Minangkabau dan Tambo Alam Kerinci. Selain itu Tombo Lubuk Jambi juga memuat istilah bumi bersentak naik, laut bersentak turun.

Berlayar di Daratan Menurut Tambo

Berikut beberapa kutipan tambo:

Setelah bulat mupakat, mendakilah ninik Sri Maharaja Diraja ke puncak gunung merapi hendak melihat dimana tanah yang baik dan subur akan tempat memindahkan orang orang itu. Setibanya beliau dipuncak gunung merapi, memandanglah beliau kesegala arah. Pandang jauh dilayangkan pandangan dekat di tukikkan. Kelihatan oleh beliau setumpuk tanah tanah gosong yang ditumbuhi rimba di baruh gunung kearah selatan yang kelihatannya tanahnya berpasir. Gosong gosong itu adalah puncak puncak bukit yang tersembur dari permukaan laut waktu itu. Setelah itu beliau kembali turun, dan bersama sama dengan Cateri Bilang Pandai beliau pergi melihat tanah itudengan berlayar. Pelayaran beliau itu hanya menepi gunung merapi saja dan akhirnya beliau sampai ditepi pantai, lalu berlabuh dan langsung memeriksa tanah tadi.(Tambo Alam Minangkabau)

  Read the rest of this entry »

Pendahuluan

Di dalam makalahnya Periodisasi Sejarah Minangkabau yang disampaikan pada Seminar Sejarah dan Kebudayaan Minangkabau pada bulan Agustus 1970, Amrin Imran mengemukakan bahwa keadaan sesungguhnya mengenai Kerajaan Minangkabau atau Pagaruyung masih tetap merupakan tabir yang tak dapat ditembus. Hal ini, menurut Imran, disebabkan bahan-bahan mengenai sejarah Minangkabau masih jauh dari lengkap.

Pada tahun 2002, makalah Amrin tersebut, bersama sebelas kertas kerja lainnya untuk seminar yang sama, dengan diberi kata pengantar oleh H. Kamardi Rais Dt. P. Simulie dan catatan pengantar oleh Dr. Mestika Zed, M.A., kemudian diterbitkan dalam bentuk bunga rampai dengan judul Menelusuri Sejarah Minangkabau oleh Yayasan Citra Budaya Indonesia dan LKAAM Sumatra Barat.

Berhubungan erat dengan bahan (sumber) tentang sejarah Minangkabau sebagai yang dimaksudkan oleh Amrin Imran, agaknya catatan pengantar Mestika Zed untuk buku itu patut disimak. Dalam catatan tersebut, Mestika Zed bahkan mengemukakan sejak kapan orang Minangkabau menulis sejarah mereka, tidak tersedia jawaban. Salah satu alasan, seperti yang juga sering dikemukakan oleh banyak orang, tulis Mestika, orang Minangkabau tidak mempunyai aksara tersendiri. Baru setelah Islam masuk ke Minangkabau pada abad ke-16 lah orang Minangkabau menuliskan kabar dalam aksara Jawi, atau aksara Arab Melayu, yaitu aksara asal Persia yang digunakan untuk menuliskan bahasa Melayu dan atau bahasa Minangkabau.

Tentang masa mulainya aksara Jawi digunakan orang di Minangkabau ini pun tampaknya masih dapat diperdebatkan. Sebab, sejauh yang dapat diketahui, naskah-naskah kuno (manuskrip) Minangkabau tertua, belum ada yang lebih awal dari awal abad ke-19 (Yusuf, 1994), yaitu setelah kertas Eropa, Belanda khususnya, digunakan orang di Minangkabau.

Tidak adanya sumber tertulis yang dibuat oleh orang Minangkabau, bukan berarti bahwa orang Minangkabau tidak merekam sejarah mereka. Sebab, seperti yang juga ditulis oleh Yusuf (1994), dan Mestika Zed (2002), teks-teks kuno yang hingga saat ini masih dapat ditemukan di dalam masyarakat Minangkabau, terutamanya adalah teks lisan, yaitu teks yang aslinya misalnya masih ada pada Tukang Kaba, Tukang Selawat, Tukang Hikayat, Tukang Dendang, dan para pemangku adat dalam bentuk ingatan. Read the rest of this entry »

Rupanya tim perumus pengusulan Sultan Alam Bagagarsyah (SAB) menjadi pahlawan nasional telah membentuk tim kecil untuk penyusunan “narasi buku tentang Sultan Alam Bagagarsyah” (Padang Ekspres, 22-4-2008). Agar tidak terjadi pengulangan-pengulangan, tentu ada baiknya tim merujuk tulisan-tulisan yang ditulis orang mengenai SAB, misalnya tulisan Jafri Datuak Bandaro Lubuak Sati terbitan Sanggar Budaya Minangkabau-Negeri Sembilan, Padang (2002), artikel Sultan Serdang, Tuanku Luckman Sinar Basarshah-II, “Sejarah Sultan Alam Bagagar Shah dalam Kemelut Perang Paderi” (Waspada, 6-4-2008).

Dengan demikian tim dapat lebih berkonsentrasi kepada pencarian kepustakaan, terutama sumber pertama tentang SAB. Misalnya, apakah nama akhir SAB ditulis “Bagagarsyah” (satu kata) atau “Bagagar Shah”(seperti ditulis Tuanku Luckman Sinar). Apakah ada sketsa dirinya dibuat pelukis Belanda atau ada keterangan naratif mengenai fisiknya yang memungkinkan kita membuat sketsa wajahnya (supaya jangan sampai salah seperti yang pernah terjadi pada Pahlawan Nasional Raja Ali Haji dari Riau [Aswandi Syahri, Batam Pos, November 2004]).

Pengusulan SAB menjadi pahlawan nasional patut disambut positif. Jika Pemerintah nanti menyetujuinya, itu mungkin dapat jadi paubek hati orang Minangkabau. Gelar itu tentu dapat dijadikan semacam simbol abadi pemersatu kembali Minangkabau yang pernah tercabik Perang Paderi sekaligus siratan kepada generasi Minangkabau kini dan akan datang untuk tidak lagi mencari (-cari) ketidakcocokan antara adat Minangkabau dan Islam.

Namun, dalam mewujudkan cita-cita pengangkatan SAB menjadi pahlawan nasional, kita tentu harus cermat dan tetap berpegang pada prinsip ingek sabalun kanai, kulimek sabalun abih. Artinya, harus dikumpulkan bukti sebanyak mungkin mengenai riwayat hidup, kepribadian, dan perjuangan SAB serta posisi sosial-politiknya selama Perang Paderi sampai dibuang ke Batavia dan wafat di sana pada 1849. Agar di belakang hari tidak muncul kritikan negatif mengenai status kepahlawanan SAB, seperti yang baru-baru ini ditujukan kepada Tuanku Imam Bonjol. Read the rest of this entry »

Dunia Melayu, Nusantara termasuk di dalamnya Malaysia, Thailand, Filipina dan lainnya, merupakan wilayah yang kuat menganut Islam atas i’tikad Ahlis Sunnah wal Jam’ah dengan Mazhab Syafi’i serta ber-Tasawwuf lewat kearifan Tarikat-tarikat Sufi. Hal ini telah menjadi kenyataan sejak berabad-abad ketika Islam masuk ke daerah ini. begitu pulalah Minangkabau. Ranah Minang pernah menjadi pusat keislaman yang kuat menganut amal sunni dalam akidah, mazhab syafi’i dalam Syari’at dan Tarikat Sufi dalam Tasawuf. Hal ini diperkuat oleh temuan manuskrip-manuskrip tua yang umurnya telah berabad-abad, yangmana kajian-kajian fiqih yang terdapat dalam lembaran-lembaran lama itu berdasarkan mazhab Syafi’i, kajian Tauhid berdasarkan Ahlussunnah dan kajian Tasawuf menurut jalur al-Ghazali dan al-Junaid. Berikut, Tambo-tambo lama yang ditulis tangan Arab Melayu, yang sangat kental dengan nuansa Islam, itupun tidak terbertik satu fragmentpun yang dinisbahkan kepada ajaran selain Sunni. Tidak ditemui satupun bukti yang meyakinkan bahwa Minangkabau dahulunya pernah didonimasi ajaran lain, seumpama Syi’ah atau Mu’tazilah.

Bagaimana dengan adanya Syi’ah yang dilontarkan oleh segelintir Sejarawan kemudian? Dalam Sejarah Minangkabau yang ditulis oleh MD. Mansur, dkk, menyebutkan bahwa Minangkabau pernah dihuni oleh Syi’ah, dipimpin oleh orang Syi’ah pula, rentang waktunya ialah lk. 1000-1350. Namun, jika diteliti keterangan buku itu, maka tak sulit mengemukakan bahwa keterangan ini bersumber dari Mangaraja Onggang Parlindungan dalam buku-nya yang kontroversia “Tuanku Rao”, sebab sebelum Parlindungan tak ada satupun buku atau catatan Belanda yang menegaskan hal tersebut. Dan menurut para ahli, disertai dengan seminar “Islam di Minangkabau” 23-26 Juli 1969 di Padang, menyimpulkan bahwa buku “Tuanku Rao” tidak lagi layak sebagai sumber sejarah, sebab kebanyakan isinya merupakan hal-hal baru yang tidak pernah ditemui dalam referensi lain, adapula yang tak masuk akal, ada lagi yang berseberangan dengan fakta. Hal ini telah dikupas dengan jeli oleh Hamka dalam “Antara Fakta dan Khayal”-nya. Sehingga seketika itu jatuh harga buku itu, dari dielu-elukan, hingga dinyatakan “tamat” riwayatnya. Bantahan Hamka mengenai buku itu dikokohkan oleh Seminar Tuanku Rao di Lubuk Sikaping, Pasaman, tahun 2008, yang dihadiri oleh Dr. Bachtiar Chamsah (Mensos RI), Ismail Hasan (Penasehat MUI Pusat), Drs. Syarnir Aboe Nain (Lembaga Kajian Gerakan Paderi), Haedar Nashir (PP Muhammadiyah), Prof. Gusti Asnan (Guru Besar Sejarah Unand), Dr. Saafroeddin Bahar (Dosen UGM), Dr. Ichwan Azhari (Pusat Studi Sejarah Universitas Negeri Medan), Prof. Mestika Zed (Guru Besar Sejarah UNP) dan tak ketinggalan Prof. Taufik Abdullah (LIPI), yang mana salah satu rumusan dari seminar tersebut bahwa buku “Tuanku Rao” dan buku yang senada tidak dapat dijadikan sumber sejarah. Namun, Sedjarah Minangkabau telah menjadi bacaan wajib ketika hendak mengkaji Sejarah Minang kemudian hari, sehingga Sirajuddin Abbas-pun bersikeras bahwa Syi’ah memang ada di Minangkabau. Begitulah halnya. Read the rest of this entry »

Tambo dalam arti yang sebenarnya adalah cerita sejarah negeri Minangkabau. Tambo-tambo lama Minangkabau didapati hampir di tiap-tiap nagari di Minangkabau yang ditulis dengan tangan dan memakai aksara Arab. Tambo-tambo tersebut sangat dimuliakan orang, bahkan adakalanya dipandang sebagai pusaka keramat. Sehingga yang memegangnya adalah kepala suku atau orang yang akan mengantikan kepala suku itu. Tidak sembarang orang yang boleh membaca, bahkan untuk membacanya harus didahului upacara khusus.

  Lukisan Marapi dilihat dari Danau Singkarak

Beberapa Saduran Naskah Tambo

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dr. Edwar Djamaris, tambo-tambo yang banyak itu ditulis dalam bahasa Melayu berbentuk prosa. Naskah Tambo Minangkabau ini sebagian besar ditulis dengan huruf Arab-Melayu, dan sebagian kecil ditulis dengan huruf latin. Naskah Tambo Minangkabau yang berhasil diketemukan sebanyak 47 naskah, masing-masing tersimpan di museum Nasional Jakarta sebanyak 10 naskah, di perpustakaan Universitas Leiden sebanyak 31 naskah, di perpustakaan KITLV Leiden Belanda sebanyak 3 naskah, di perpustakaan SOAS Universitas London 1 naskah, dan di perpustakaan RAS London 2 naskah.

Ada delapan saduran cerita Tambo Minangkabau yaitu:

Tujuan Penulisan Tambo

Secara umum dapat dikemukakan bahwa fungsi utama cerita Tambo Minangkabau adalah untuk menyatukan pandangan orang Minangkabau terhadap asal usul nenek moyang, adat, dan negeri Minangkabau. Hal ini dimaksudkan untuk mempersatukan masyarakat Minangkabau dalam satu kesatuan. Mereka merasa bersatu karena seketurununan, seadat dan senegeri.

A.A Navis seorang Budayawan Minang mengatakan Kisah tambo yang dipusakai turun-menurun secara lisan oleh orang Minangkabau hanya mengisahkan waktu dan peristiwa secara samar-samar, campur baur, bahkan ditambahi dengan bumbu yang kedongeng-dongengan. Adalah wajar bila kisah tambo itu mengandung berbagai versi karena tambo itu yang diceritakan oleh pencerita sesuai dengan keperluan atau kehendak pendengarnya.

Subjektivitas dan Falsafah Minang Dalam Penulisan Tambo

Terlepas dari kesamaran objektivitas historis dari Tambo tersebut namun Tambo berisikan pandangan orang Minang terhadap dirinya sendiri. Sebagaimana dikatakan oleh Navis, peristiwa sejarah yang berabad-abad lamanya dialami suku bangsa Minangkabau dengan getir tampaknya tidaklah melenyapkan falsafah kebudayaan mereka. Mungkin kegetiran itu yang menjadikan mereka sebagai suku bangsa yang ulet serta berwatak khas. Mungkin kegetiran itu yang menjadi motivasi mereka untuk menghapus sejarah masa silam dengan menciptakan tambo yang kedongeng-dongengan, disamping alasan kehendak falsafah mereka sendiri yang tidak sesuai dengan dengan falsafah kerajaan yang menguasainya. Mungkin kegetiran hidup dibawah raja-raja asing yang saling berebut tahta dengan cara yang onar itu telah lebih memperkuat keyakinan suku bangsa itu akan rasa persamaan dan kebersamaan sesamanya dengan memperkukuh sikap untuk mempertahankan ajaran falsafah mereka yang kemudian mereka namakan adat. Read the rest of this entry »

  • 327 SM     : akhir penaklukan Iskandar Zulkarnain ke Dunia Timur
  • 322 SM     : berdirinya Mauryan Empire (Buddha, Ashoka)
  • 300 SM     : berdirinya Chola Empire di India Selatan, runtuh tahun 1279
  • 264 SM     : Perang Kalingga, Mauryan (Ashoka) menggempur Kalingga
  • 260 SM     : mulainya pengembangan agama Buddha secara besar-besaran s/d 218 SM
  • 256 SM     : berdirinya Greco Bactrian Kingdom di Gandhara
  • 200 SM     : berdirinya Indo-Scythian Kingdom (Aryan), runtuh pada 400
  • 180 SM     : berdirinya Indo-Greeks Kingdom di Gandhara
  • 162 SM     : Greco Bactrian Kingdom diinvasi oleh suku Yue Zhi dari Tibet
  • 125 SM     : akhir kejayaan Greco Bactrian Kingdom
  • 10            : akhir kejayaan Indo-Greeks Kingdom
  • 30           : berdirinya Kerajaan Kushan (Yue Zhi), runtuh tahun 375
  • 183          : akhir kejayaan Mauryan Empire
  • 280                    : berdiri Gupta Empire, Chandragupta I (gelar Maharaja Dhiraja) naik tahta
  • 320                    : Samudragupta naik tahta
  • 345  : Samudragupta mengalahkan Hastivarman, Hastivarman hijrah ke Nusantara (Prasasti Allahabad)
  • 600  : akhir kejayaan Gupta Empire
  • 645  : Kerajaan Malayu (Minanga) mengirim utusan ke Cina (catatan Wang Pu)
  • 671  : I tsing mengunjungi Sriwijaya dalam perjalanan ke India, ia kemudian singgah pula di Malayu yang disebutkan berada di khatulistiwa (hulu Kampar)
  • 682  : Dapunta Hyang berangkat dari Minanga dgn membawa lebih 20.000 tentara (Prasasti Kedukan Bukit)
  • 685  : I tsing pulang dari India, singgah di Malayu yg telah ditaklukkan Sriwijaya
  • 686  : Sriwijaya menaklukkan Bangka, Belitung dan Lampung (Prasasti Kota Kapur)
  • 718  : Sriwijaya mengirim surat dan hadiah kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Dinasti Umayyah di Baghdad.
  • 724  : Sriwijaya mengirimkan hadiah pula kepada Kaisar Cina dari Dinasti Tang.
  • 990  : Catatan Dinasti Song menyebut Sriwijaya dengan San-fo-tsi.
  • 997  : Sriwijaya diserang oleh Raja Dharmawangsa dari Kerajaan Medang Kamulan (Prasasti Hujung Langit)
  • 1025  : Sriwijaya diserang oleh Rajendra Chola I dari Kerajaan Chola, India Selatan. Wangsa Syailendra ditaklukkan.
  • 1030  : Rajendra Chola I berkunjung juga ke Malayu yang istananya terletak di hulu Batanghari di pedalaman yang tanahnya agak tinggi. Ibukota Malayu terletak di atas bukit dan dilindungi oleh benteng-benteng (Prasasti Tanjore, ditulis Rajendra Chola I). Malayu sendiri berarti bukit dalam bahasa Sansekerta.
  • 1030        : Kunjungan Abu Raihan Muhammad ibn Ahmad Al-Biruni, ahli geografi dari Persia, Malayu disebut negeri penghasil emas yang terletak di khatulistiwa
  • 1082        : Catatan Cina menyebutkan ada utusan dari Chen Pi (Jambi), bawahan San-fo-tsi dan utusan Pa Lin Fong (Palembang) datang ke Cina. Utusan Palembang masih keluarga Rajendra Chola. Pada saat ini San-fo-tsi merujuk ke Malayu, bukan Sriwijaya lagi.
  • 1183        : Srimat Trailokyaraja Maulibhusana Warmadewa jadi raja di Dharmasraya, dengan wilayah kekuasaan sampai Thailand Selatan (Prasasti Grahi, Thailand).
  • 1225        : Wilayah Malayu (San-fo-tsi) memiliki 15 daerah bawahan (naskah Zhao Rugua)
  • 1275        : Ekspedisi Pamalayu I, Raja Singhasari yaitu Kertanegara mengirim Mahesa Anabrang ke Dharmasraya.
  • 1286        : Ekspedisi Pamalayu II, Kertanegara menghadiahkan arca Amoghapasa kepada Raja Dharmasraya yaitu Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa (Prasasti Padang Roco)
  • 1293        : Dara Jingga dan Dara Petak, dua putri Dharmasraya dikirimkan ke Singhasari
  • 1316        : Akarendrawarman (paman dari Adityawarman) naik tahta di Dharmasraya menggantikan Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa, kakek Adityawarman (Prasasti Saruaso). Prasasti Saruaso ini menggunakan 2 aksara yaitu dalam aksara Malayu Kuno dan aksara Nagari (India Selatan). Pada masa ini di daerah tersebut telah bermukim masyarakat asal India Selatan selama 300 tahun. Read the rest of this entry »

Penyebaran ide gerakan Paderi ke kawasan pantai barat Sumatra sejak 1820-an menyebabkan “disharmonisasi” kehidupan agama di desa-desa tertentu di Rantau Pariaman. Dalam rencana ini, pengaruh ide gerakan Paderi di Rantau Pariaman cuba ditelusuri melalui biografi Syeikh Daud Sunur, seorang ulama yang berasal dari Rantau Pariaman.

Sejak awal keulamaannya, paham keagamaan Syeikh Daud sudah berseberangan dengan ordo Ulakan yang ortodoks. Syeikh Daud telah mengarang dua buah syair yang terkenal: Syair Mekah dan Madinah atau Syair Rukun Haji (SRH) dan Syair Sunur (SSn). Kedua-dua buah syair ini memberi banyak maklumat tentang perjalanan hidup dan pemikiran keagamaan ulama ini. Dalam SRH, Syeikh Daud mengkritik kaum ulama yang konservatif ordo Ulakan. Syair ini menjadi populer di kalangan kaum pembaharu di Darek, lebihlebih lagi pada bahagian kedua abad ke-19 setelah berkembangnya tarekat Naqsyabandiyah di Minangkabau (Bruinessen 1992: 102). Daripadanya, mereka memperoleh landasan tekstual dan sokongan moral untuk menyerang “Agama Ulakan”. SSn yang diperkatakan dalam rencana ini merakamkan penderitaan jiwa Syeikh Daud, seorang ulama yang banyak menanggung derita jiwa dalam memperjuangkan ide dan keyakinannya.

Dalam SRH, tercermin sikapnya yang menentang taklidisme dalam beragama. Jika SRH adalah reaksi Syeikh Daud kerana kalah berdebat dengan Tuanku Syeikh Lubuk Ipuh, maka SSn adalah rakaman dari efek psikologis yang dideritainya akibat kekalahan itu. Berbeza dengan autobiografi klasik yang lain dari Minangkabau tentang kejayaan, misalnya kisah hidup Nakhoda Muda (Drewes 1961) atau Muhammad Saleh Datuk Orang Kaya Besar, SSn lebih banyak mengisahkan kegagalan Syeikh Daud. Berbeza dengan kebanyakan ulama yang terkenal kerana banyak pengikut dan pahlawan kerana memimpin gerakan melawan penjajah, Syeikh Daud menjadi terkenal kerana cerita “kekalahannya”. Sudah lama diketahui bahwa kajian historis mengenai konflik agama di Minangkabau memberi penekanan pada wilayah Darek. Bagaimana persisnya dinamika hubungan keagamaan antara wilayah rantau barat (khususnya Rantau Pariaman) dengan Darek pada periode Perang Paderi masih belum jelas. Read the rest of this entry »

Dalam tulisan sebelumnya yang berjudul Warisan Ukiran dari Gandhara, saya telah menyajikan sebuah hipotesa tentang keterkaitan antara kebudayaan hellenisme yang berkembang di Gandhara pada sekitar awal abad Masehi dengan kebudayaan yang berkembang di Minangkabau. Objek yang menjadi aspek penelitian saya diantaranya adalah kesamaan antara motif ukiran Minangkabau dengan motif ukiran bergaya hellas yang berkembang di Gandhara. Selain itu sistem pemerintahan yang berlaku di Minangkabau juga memiliki kemiripan dengan sistem ketatanegaraan Yunani kuno, yaitu berbentuk konfederasi nagari yang mirip dengan polis-polis.

Penemuan-penemuan tersebut membawa saya lebih lanjut untuk menelusuri kemiripan-kemiripan ini, utamanya tentang motif ukiran Minangkabau. Saya menelusuri informasi tentang motif-motif ukiran Yunani kuno dan menemukan satu jenis motif dengan kemiripan hampir 80% dengan motif Siriah Gadang yang ada dalam khazanah motif ukiran Minangkabau. Berikut adalah perbandingan kedua motif ukiran:

ancient-greek-architectur-7(a) Ancient Greek Carving (Honeysuckle Carving)

Siriah Gadang(b) Motif ukiran Minangkabau : Siriah Gadang

Siriah gadang siriah balingka
Kuniang sacoreng diatehnyo
Baaleh batadah tampan
Hulu adat kapalo baso
Pangka kato hulu bicaro
Panyingkok peti bunian
Pambukak biliak nan dalam

Susunan dari Pariangan
Buatan Parpatiah Nan Sabatang

Tidan nan turun dari ateh
Balingka jo mufakat balingka jo limbago
Jadi pusako alam nangko Read the rest of this entry »

Translate to

Masukkan email anda dan klik Berlangganan.
Anda akan dikirimi email untuk setiap artikel yang tayang.

Join 141 other followers

Categories

Visitor Location

Marawa

Blog Stats

  • 746,342 hits
%d bloggers like this: