You are currently browsing the category archive for the ‘Mitos’ category.

Data Buku

  • Judul Buku     : Tambo Alam Minangkabau
  • Pengarang     : H Datoek Toeh ( Koto Gadang, Payakumbuh)
  • Editor           : A Damhoeri
  • Penerbit        : Pustaka Indonesia, Bukittinggi
  • Tahun Terbit  : 1930-an (?), Telah dicetak 13 kali

Ringkasan Isi Tambo

Iskandar Zulkarnain  (1) dari  nagari Ruhum  mewasiatkan kepada tiga putranya untuk  berangkat menuju ke Timur. Setelah IZ wafat ketiga putra tsb  :

  • Sultan Maharaja Alif
  • Sultan Maharaja Depang
  • Sultan Maharaja Diraja

Berangkat menuju pulau Langkapuri. Dekat pulau Sailan timbul niat jahat dari  SM Alif dan SM Depang, keduanya memaksa untuk memiliki Mahkota Sanggahana (2),  ketika berebut , mahkota jatuh kelaut.  Seekor naga membelit / menjaga mahkota tsb. Cateri Bilang Pandai (3) menciptakan duplikat mahkota dengan meneropong  dan menggunakan cermin untuk melihatnya. Mahkota jadi, persis seperti aslinya. Mahkota  sudah tukang dibunuh  (4) sehingga tak bisa ditiru lagi. SM Depang terus kebenua Cina, SM Alif kembali kenegeri Rum.

SM Diraja terus ke Tenggara  menuju pulau Jawa Alkibri. Diantara pengiringnya terdapat seekor anjing Muklim, kucing Siam, kambing hutan, harimau. Kapal diutujukan ke puncak Merapi.  Ketika mendarat dipuncak gunung itu, kapal kandas.

Raja  memerintahkan perbaikan dengan sayembara : Barang siapa yang sanggup memperbaiki, akan dikawinkan dengan anaknya nanti. Kebetulan pengiring dengan nama-nama binatang itulah yang sanggup memperbaikinya. Baginda beroleh lima puteri, setelah dewasa empat diantaranya dikawinkan dengan empat ahli yang sudah memperbaiki kapal.

Dalam pada itu laut sudah menyentak surut, terjadilah daratan yang luas di kaki  gng Merapi. Dengan  kekuasaan Tuhan datanglah awan putih empat jurai. Sejurai merunduk ke luhak Agam, sejurai ke luhak Tanah Datar, sejurai keluhak Lima Puluh Kota, sejurai  ke Candung Lasi. Yang turun ke Tanah Datar ialah putera Yang  Dipertuan Sendiri. Daulat   yang pertama ialah daulat kepada Lakandibida. Itulah kemudian yang ditempati oleh Ninik mamak yang berdua Ketemanggungan dan Perpatih Nan Sebatang.

Sebelum  Dtk Ketemanggungan (DK) dan Dtk Perpatih (DP) lahir, negeri-negeri  dikuasai Dt Marajo Basa di Padang Panjang, Dt Bandaro Kayo di Pariangan Padang Panjang. Yang Dipertuan (YD) (6) memerintahkan Cateri Bilang Pandai (CBP) (7) untuk mendirikan balai rapat  ” Balai Balerong Panjang “.  YD  juga menyuruh CBP  untuk mencari tanah-tanah baru untuk kediaman rakyat.

Lalu raja itu turun ke Bumi Setangkai dengan tujuh perempuan dan kemudian delapn permpuan bersama sekelompok laki-laki.. Mereka mendiami bumi yang bernama Bunga Setangkai.  YD kembali ke Periangan Pd Panjang. YD kawin dengan Puteri Indah Jelita (PIJ), memperoleh anak laki-laki : anak tertua ini bergelar Dtk Ketemanggungan atau Sutan Maharaja Besar. Read the rest of this entry »

Advertisements

Tambo dalam arti yang sebenarnya adalah cerita sejarah negeri Minangkabau. Tambo-tambo lama Minangkabau didapati hampir di tiap-tiap nagari di Minangkabau yang ditulis dengan tangan dan memakai aksara Arab. Tambo-tambo tersebut sangat dimuliakan orang, bahkan adakalanya dipandang sebagai pusaka keramat. Sehingga yang memegangnya adalah kepala suku atau orang yang akan mengantikan kepala suku itu. Tidak sembarang orang yang boleh membaca, bahkan untuk membacanya harus didahului upacara khusus.

  Lukisan Marapi dilihat dari Danau Singkarak

Beberapa Saduran Naskah Tambo

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dr. Edwar Djamaris, tambo-tambo yang banyak itu ditulis dalam bahasa Melayu berbentuk prosa. Naskah Tambo Minangkabau ini sebagian besar ditulis dengan huruf Arab-Melayu, dan sebagian kecil ditulis dengan huruf latin. Naskah Tambo Minangkabau yang berhasil diketemukan sebanyak 47 naskah, masing-masing tersimpan di museum Nasional Jakarta sebanyak 10 naskah, di perpustakaan Universitas Leiden sebanyak 31 naskah, di perpustakaan KITLV Leiden Belanda sebanyak 3 naskah, di perpustakaan SOAS Universitas London 1 naskah, dan di perpustakaan RAS London 2 naskah.

Ada delapan saduran cerita Tambo Minangkabau yaitu:

Tujuan Penulisan Tambo

Secara umum dapat dikemukakan bahwa fungsi utama cerita Tambo Minangkabau adalah untuk menyatukan pandangan orang Minangkabau terhadap asal usul nenek moyang, adat, dan negeri Minangkabau. Hal ini dimaksudkan untuk mempersatukan masyarakat Minangkabau dalam satu kesatuan. Mereka merasa bersatu karena seketurununan, seadat dan senegeri.

A.A Navis seorang Budayawan Minang mengatakan Kisah tambo yang dipusakai turun-menurun secara lisan oleh orang Minangkabau hanya mengisahkan waktu dan peristiwa secara samar-samar, campur baur, bahkan ditambahi dengan bumbu yang kedongeng-dongengan. Adalah wajar bila kisah tambo itu mengandung berbagai versi karena tambo itu yang diceritakan oleh pencerita sesuai dengan keperluan atau kehendak pendengarnya.

Subjektivitas dan Falsafah Minang Dalam Penulisan Tambo

Terlepas dari kesamaran objektivitas historis dari Tambo tersebut namun Tambo berisikan pandangan orang Minang terhadap dirinya sendiri. Sebagaimana dikatakan oleh Navis, peristiwa sejarah yang berabad-abad lamanya dialami suku bangsa Minangkabau dengan getir tampaknya tidaklah melenyapkan falsafah kebudayaan mereka. Mungkin kegetiran itu yang menjadikan mereka sebagai suku bangsa yang ulet serta berwatak khas. Mungkin kegetiran itu yang menjadi motivasi mereka untuk menghapus sejarah masa silam dengan menciptakan tambo yang kedongeng-dongengan, disamping alasan kehendak falsafah mereka sendiri yang tidak sesuai dengan dengan falsafah kerajaan yang menguasainya. Mungkin kegetiran hidup dibawah raja-raja asing yang saling berebut tahta dengan cara yang onar itu telah lebih memperkuat keyakinan suku bangsa itu akan rasa persamaan dan kebersamaan sesamanya dengan memperkukuh sikap untuk mempertahankan ajaran falsafah mereka yang kemudian mereka namakan adat. Read the rest of this entry »

Sumber dalam Istana Pagaruyung (Tambo Pagaruyung) memiliki sebuah keyakinan bahwa asal muasal Kerajaan Pagaruyung adalah berbentuk penggabungan atau fusi dari 3 keturunan (3 kerajaan) yang sudah ada sebelumnya. Ketiga kerajaan itu adalah:

  • Dinasti Kerajaan Gunung Marapi (Keturunan Ninik Sri Maharaja Diraja)
  • Dinasti Kerajaan Dharmasraya (Wangsa Mauli) di hulu Batanghari
  • Dinasti Kerajaan Sriwijaya (Wangsa Syailendra) yang menyingkir setelah ditaklukkan raja Rajendra dari Chola Mandala

Ketiga asal keturunan itu direpresentasikan dalam pemerintahan Rajo Tigo Selo:

  • Rajo Adat dipegang oleh Dinasti Gunung Marapi, berkedudukan di Buo, bersemayam di Istana Ateh Ujuang di Balai Janggo
  • Rajo Ibadat dipegang oleh Dinasti Sriwijaya, berkedudukan di Swarnapura (Sumpur Kudus), bersemayam di Istana Ikua Rumpuik di Kampuang Tangah
  • Rajo Alam dipegang oleh Dinasti Dharmasraya, berkedudukan di Pagaruyung, bersemayam Istana Balai Rabaa di Gudam

Ketiga raja memelihara persatuan dengan saling mengawinkan keturunannya satu sama lain. Rajo Tigo Selo merupakan sebuah institusi tertinggi yang disebut Limbago Rajo. Di bawahnya terdapat dewan menteri yang disebut Basa Ampek Balai.

Tentang ketiga dinasti diatas marilah kita ringkaskan sedikit:

Dinasti Gunung Marapi

Dinasti Gunung Marapi adalah keturunan yang paling gamblang diceritakan dalam Tambo Alam Minangkabau. Dinasti ini diawali dengan berlabuhnya rombongan Ninik Sri Maharaja Diraja di puncak Gunung Marapi. Rombongan terdiri dari:

  • Sri Maharaja Diraja, Datuk Suri Diraja (sepupu Sri Maharaja Diraja), Indra Jelita (istri Sri Maharaja Diraja), Indra Jati bergelar Cati Bilang Pandai (cendikiawan)
  • Para pengawal/pendekar yaitu Harimau Champa, Kucing Siam, Kambing Hutan dan Anjing Mualim
  • 16 pasang suami istri (diantaranya adalah tukang yang memperbaiki perahu)

Menurut tambo, rombongan ini berlabuh di sebuah tempat bernama Labuhan Sitambago (Sirangkak dan Badangkang) yaitu masih kawasan puncak Gunung Marapi yang gersang. Mereka kemudian turun sedikit ke pinggang gunung dimana mereka menemukan sebuah pohon besar yang akarnya mencengkram batu besar, sehingga berbentuk seperti orang yang bersila. Tempat ini dinamakan Galundi Nan Baselo, Read the rest of this entry »

1. Maharaja yang Bermahkota

Dikatakan pula oleh Tambo, bahwa dalam pelayaran putera-putera Raja Iskandar Zulkarnain tiga bersaudara, dekat pulau Sailan mahkota emas mereka jatuh ke dalam laut. Sekalian orang pandai selam telah diperintahkan untuk mengambilnya. Tetapi tidak berhasil, karena mahkota itu dipalut oleh ular bidai di dasar laut. Cati Bilang Pandai memanggil seorang pandai mas. Tukang mas itu diperintahkannya untuk membuat sebuah mahkota yang serupa. Setelah mahkota itu selesai dengan pertolongan sebuah alat yang mereka namakan “camin taruih” untuk dapat menirunya dengan sempurna. Setelah selesai tukang yang membuatnya pun dibunuh, agar rahasia tidak terbongkar dan jangan dapat ditiru lagi.

Waktu Sri Maharaja Diraja terbangun, mahkota itu diambilnya dan dikenakannya diatas kepalanya. Ketika pangeran yang berdua lagi terbangun bukan main sakit hati mereka melihat mahkota itu sudah dikuasai oleh si bungsu. Maka terjadilah pertengkaran, sehingga akhirnya mereka terpisah.

Sri Maharaja Alif meneruskan pelayarannya ke Barat. Ia mendarat di Tanah Rum. Sri Maharaja Dipang membelok ke Timur, memerintah negeri Cina dan menaklukkan negeri Jepang.

2. Galundi Nan Baselo

Sri Maharaja Diraja turun sedikit ke bawah dari puncak Gunung Merapi membuat tempat di Galundi Nan Baselo. Lebih ke baruh lagi belum dapat ditempuh karena lembah-lembah masih digenangi air, dan kaki bukit ditutupi oleh hutan rimba raya yang lebat. Mula-mula dibuatlah beberapa buah taratak. Kemudian diangsur-angsur membuka tanah untuk dijadikan huma dan ladang. Teratak-teratak itu makin lama makin ramai, lalu tumbuh menjadi dusun, dan Galundi Nan Baselo menjadi ramai.

Sri Maharaja Diraja menyuruh membuat sumur untuk masing-masing isterinya mengambil air. Ada sumur yang dibuat ditempat yang banyak agam tumbuh dan pada tempat yang ditumbuhi kumbuh, sejenis tumbuh-tumbuhan untuk membuat tikar, karung, kembut dsb. Ada pula ditempat yang agak datar. Ditengah-tengah daerah itu mengalir sebuah sungai bernama Batang Bengkawas. Karena sungai itulah lembah Batang Bengkawas menjadi subur sekali.

Beratus-ratus tahun kemudian setelah Sri Maharaja Diraja wafat, bertebaranlah anak cucunya kemana-mana, berombongan mencari tanah-tanah baru untuk dibuka, karena air telah menyusut pula. Dalam tambo dikatakan “Tatkalo bumi barambuang naiak, aia basintak turun”.

Keturunan Sri Maharaja Diraja dengan “si Harimau Campa” yang bersumur ditumbuhi agam berangkat ke dataran tinggi yang kemudian bernama “Luhak Agam” (luhak = sumur). Disana mereka membuka tanah-tanah baru. Huma dan teruka-teruka baru dikerjakan dengan sekuat tenaga. Bandar-bandar untuk mengairi sawah-sawah dikerjakan dengan sebaik-baiknya.

Keturunan “Kambing Hutan” membuka tanah-tanah baru pula di daerah-daerah Gunung Sago, yang kemudian diberi nama “Luhak 50 Koto” (Payakumbuh) dari luhak yang banyak ditumbuhi kumbuh.

Keturunan “Anjing yang Mualim” ke Kubang Tigo Baleh (Solok), keturunan “Kucing Siam” ke Candung-Lasi dan anak-anak raja beserta keturunannya dari si Anak Raja bermukim tetap di Luhak Tanah Datar. Lalu mulailah pembangunan semesta membabat hutan belukar, membuka tanah, mencencang melateh, meneruka, membuat ladang, mendirikan teratak, membangun dusun, koto dan kampung.

3. Kedatangan Sang Sapurba

Tersebutlah kisah seorang raja bernama Sang Sapurba. Di dalam tambo dikatakan “datanglah ruso dari lauik”. Kabarnya dia sangat kaya bergelar Raja Natan Sang Sita Sangkala dari tanah Hindu. Dia mempunyai mahkota emas yang berumbai-umbai dihiasai dengan mutiara, bertatahkan permata berkilauan dan ratna mutu manikam.

Mula-mula ia datang dari tanah Hindu. Ia mendarat di Bukit Siguntang Maha Meru dekat Palembang. Disana dia jadi menantu raja Lebar Daun. Dari perkawinannya di Palembang itu dia memperoleh empat orang anak, dua laki-laki yaitu Sang Nila Utama, Sang Maniaka; dua perempuan yaitu Cendera Dewi dan Bilal Daun. Read the rest of this entry »

Danau Maninjau adalah sebuah danau vulkanik yang terletak di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatra Barat, Indonesia. Danau dengan luas sekitar 99,5 km2 dengan kedalaman mencapai 495 meter ini merupakan danau terluas kesebelas di Indonesia, dan terluas kedua di Sumatra Barat. Menurut cerita, Danau Maninjau pada awalnya merupakan gunung berapi yang di puncaknya terdapat sebuah kawah yang luas. Oleh karena ulah manusia, gunung berapi itu meletus dan membentuk sebuah danau yang luas. Apa gerangan yang menyebabkan gunung berapi itu meletus dan berubah menjadi danau? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita Asal Usul Danau Maninjau berikut ini!

Alkisah, di sebuah daerah di Sumatra Barat ada sebuah gunung berapi yang amat tinggi bernama Gunung Tinjau. Di puncaknya terdapat sebuah kawah yang luas, dan di kakinya terdapat beberapa perkampungan. Penduduknya hidup makmur dan sejahtera, karena mereka sangat rajin bertani. Di samping itu, tanah yang ada di sekitar Gunung Tinjau amat subur, karena sering mendapat pupuk alami berupa abu gunung.

Di salah satu perkampungan di kaki Gunung Tinjau itu tinggal sepuluh orang bersaudara yang terdiri dari sembilan lelaki dan seorang perempuan. Penduduk sekitar biasa memanggil mereka Bujang Sembilan. Kesepuluh orang bersaudara tersebut adalah Kukuban, Kudun, Bayua, Malintang, Galapuang, Balok, Batang, Bayang, dan lelaki termuda bernama Kaciak. Sementara adik mereka yang paling bungsu adalah seorang perempuan bernama Siti Rasani, akrab dipanggil Sani. Kedua orangtua mereka sudah lama meninggal, sehingga Kukuban sebagai anak sulung menjadi kepala rumah tangga. Semua keputusan ada di tangannya.

Kesepuluh bersaudara tersebut tinggal di sebuah rumah peninggalan kedua orangtua mereka. Untuk memenuhi kebutuhannya, mereka menggarap lahan pertanian yang cukup luas warisan kedua orangtua mereka. Mereka sangat terampil bertani, karena mereka rajin membantu ayah dan ibunya ketika keduanya masih hidup. Di samping itu, mereka juga dibimbing oleh paman mereka yang bernama Datuk Limbatang, yang akrab mereka panggil Engku.

Datuk Limbatang adalah seorang mamak di kampung itu dan mempunyai seorang putra yang bernama Giran. Sebagai mamak, Datuk Limbatang memiliki tanggungjawab besar untuk mendidik dan memerhatikan kehidupan warganya, termasuk kesepuluh orang kemenakannya tersebut. Untuk itu, setiap dua hari sekali, ia berkunjung ke rumah Kukuban bersaudara untuk Read the rest of this entry »

Serangan Hantu Topan Kalahkan Raja Sitambago

Alkisah, lebih kurang tahun 1600 Masehi, ada sebuah kerajaan kecil yang diperintah oleh seorang Raja yang memerintah dengan adil dan bijaksana, rakyatnya hidup rukun dan damai.

Kerajaan kecil tersebut bernama Kerajaan Sitambago, sesuai dengan nama rajanya Sitambago. Daerah kekuasaannya di sebelah utara berbatas dengan nagari Kolok, di sebelah Timur berbatasan dengan Bukit Buar / Koto Tujuh, di sebelah selatan berbatas dengan nagari Pamuatan dan di sebelah barat berbatas dengan nagari Silungkang dan nagari Kubang.

Kerajaan Sitambago mempunyai pasukan tentara yang kuat dan terlatih. Pusat kerajaan Sitambago berada di sebuah lembah yang dilalui oleh sebuah sungai yang mengalir dari Lunto, pusat kerajaan Sitambago tersebut diperkirakan berada di tengah kota Sawahlunto sekarang. Sudah menjadi adat waktu itu, nagari-nagari dan kerajaan-kerajaan berambisi memperluas wilayahnya masing-masing, memperkuat pasukannya dan menyiapkan persenjataan yang cukup seperti tombak, galah, keris, parang, panah baipuh (panah beracun) dan lain-lain, senjata tersebut digunakan untuk menyerang wilayah lain atau untuk mempertahankan diri apabila diserang.

Di Silungkang / Padang Sibusuk, pasukan Gajah Tongga Koto Piliang disamping mempunyai senjata tombak, keris, galah, parang dan panah juga punya senjata yang tidak punyai oleh daerah lain, yaitu senjata api SETENGGA, senjata api standar Angkatan Perang Portugis. Orang Portugis yang ingin membeli emas murni ke Palangki harus melalui Buluah Kasok (Padang Sibusuk sekarang) dan berhadapan dengan Pasukan Gajah Tongga Koto Piliang terlebih dahulu, entah dengan cara apa, senjata api SETENGGA lengkap dengan peluruhnya berpindah tangan ke Pasukan Gajah Tongga Koto Piliang.

Guna memperluas wilayah, diadakanlah perundingan antara Pemuka Nagari Silungkang / Padang Sibusuk dengan pemuka Nagari Kubang untuk menyerang kerajaan Sitambago, maka didapatlah kesepakatan untuk menyerang kerajaan Sitambago tersebut, penyerangan dipimpin oleh Panglima Paligan Alam. Strategi penyerangan diatur dengan sistim atau pola pengepungan, dimana tentara Silungkang / Padang Sibusuk mengepung dari daerah Kubang Sirakuk dan tentara Kubang dari jurusan Batu Tajam dan dataran tinggi Lubuak Simalukuik, dengan sistim atau pola pengepungan tersebut akan membuat tentara Sitambago tidak dapat bergerak dengan leluasa. Read the rest of this entry »

Nenek moyang bangsa Indonesia diduga kuat oleh para Arkeolog adalah ras Austronesia. Ras ini mendarat di Kepulauan Nusantara, dan memulai peradaban neolitik. Bukti arkeologi menunjukkan bahwa budaya neolitik dimulai sekitar 5000 tahun lalu di kepulauan Nusantara. Bersamaan dengan budaya baru ini bukti antropologi menunjukkan muncul juga manusia dengan ciri fisik Mongoloid. Populasi Mongoloid ini menyebar di kawasan Nusantara sekitar 5000 sampai 3000 tahun lalu dengan membawa bahasa Austronesia dan teknologi pertanian.

Di Nusantara saat ini paling tidak terdapat 50 populasi etnik Mongoloid yang mendiaminya. Budaya dan bahasa mereka tergolong dalam satu keluarga atau filum bahasa, yaitu bahasa-bahasa Austronesia yang menunjukkan mereka berasal dari satu nenek moyang. Lalu dari manakah populasi Austronesia ini berasal dan daerah manakah pertama kalinya mereka huni di Nusantara ini? Sebuah pertanyaan yang belum terjawab oleh riset sejarah selama ini. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah pengkajian dan analisis yang komprehensif tentang bukti sejarah yang ada dan menelusuri hubungan historis suatu daerah dengan daerah lainnya. Metode yang digunakan adalah mengumpulkan cerita/tombo yang ada di masyarakat dan penelusuran fakta yang mendukung tombo tersebut.

Kerajaan tertua di Pulau Jawa berdasarkan bukti arkeologis adalah kerajaan Salakanegara dibangun abad ke-2 Masehi yang terletak di Pantai Teluk Lada, Pandeglang Banten. Diduga kuat mereka berimigrasi dari Sumatra. Sedangkan Kerajaan tertua di Sumatra adalah kerajaan Melayu Jambi (Chu-po), yaitu Koying (abad 2 M), Tupo (abad ke 3 M), dan Kuntala/Kantoli (abad ke 5 M). Menurut cerita/tombo adat Lubuk Jambi yang diwarisi dari leluhur mengatakan bahwa disinilah lubuk (asal) orang Jambi, oleh karena itu daerah ini bernama Lubuk Jambi. Dalam tombo juga disebutkan di daerah ini terdapat sebuah istana kerajaan Kandis yang sudah lama hilang. Istana itu dinamakan istana Dhamna, berada di puncak bukit yang dikelilingi oleh sungai yang jernih. Penelusuran peninggalan kerajaan ini telah dilakukan selama 7 bulan (September 2008-April 2009), dan telah menemukan lokasi, artefak, dan puing-puing  yang diduga kuat sebagai peninggalan Kandis dengan ciri-ciri lokasi mirip dengan sketsa Plato (347 SM) tentang Atlantis. Namun penemuan ini perlu dilakukan penelitian arkeologis lebih lanjut. Read the rest of this entry »

Perahu yang mengantarkan rombongan Sultan Suri Maharajo Dirajo, akhirnya mendarat di pulau Perca, tepatnya di puncak Gunung Merapi. Kapal ini bermuatan enam belas lelaki dan perempuan, ditambah empat orang lainnya yang masing-masing bernama Kho Cin (Kucing Siam), Can Pa (Harimau Campo), Khan Bin (Kambing Hutan), dan Ahan Jin (Anjing Mualim). Kemudian Sri Maharajo Dirajo dan rombongan turun ke darat. Sementara itu air lautpun beranjak surut.

Selang berapa lama kemudian rombongan Maharajo Dirajo turun ke sebuah tempat yang disebut Labuhan si Tambago, sekitar dua kilo meter dari Nagari Pariangan ke arah puncak Merapi. Di tempat inilah untuk pertama kalinya rombongan itu meneruka sawah yang disebut sawah satampang baniah. Padi inilah yang kemudian menyebar ke seluruh Minangkabau.

Seperti disebutkan Soeardi Idris dalam buku Nagari Sungai Tarab – Salapan Batua, di perkampungan Labuhan si Tambago itu tumbuh pula sepohon galundi. Uratnya tidak mencekam tanah, melainkan memeluk sebuah batu besar seakan-akan orang bersila. Gelundi itulah yang kemudian disebut Galundi Nan Baselo.

Lambat laun penduduk makin bertambah juga, maka sebagian di antaranya pindah membuat perkampungan di daerah baru yang bernama Guguak Ampang. Perkembangan selanjutnya mereka memperluas daerah permukiman.
Tambo alam Minangkabau kembali mengisyaratkan cerita. Suatu ketika, dari Guguak Ampang berbondong-bondonglah orang mengejar seekor rusa bertanduk emas. Orang-orang susah sekali menangkap rusa bertuah itu. Akhirnya mereka memeberitahu Suri Maharajo Dirajo tentang keberadaan seekor rusa tadi. Kemudian Maharajo Dirajo, menyarankan supaya rusa itu tak perlu dikejar, tetapi buatkan saja perangkap atau pasang saja jerat dimana ia sering lewat mencari makan.
Akhirnya, rusa itupun terjerat di sebuah kampung. Kabar pun tersiar ke seluruh pelosok, maka ramai-ramailah orang bauruang atau berkumpul ke tempat baru itu. Dinamailah tempat itu paurungan. Suasana riang gembira meliputi wajah masyarakat. Kemudian disepakatilah mengubah nama Pauruangan menjadi pariangan atau tempat orang beriang hati.
Abdul Hamid menjelaskan, bahwa makna yang tersirat dalam bahasa Tambo yang menyebut rusa bertanduk emas itu, artinya adalah seorang laki-laki Bangsawan dari daerah lain, mencoba memasuki Nagari Pariangan yang baru saja dibuat. Kedatangan bangsawan ini diterima sebagai salah seorang sumando oleh Sultan Suri Maharajo Dirajao, setelah mengwainkannya dengan salah seorang perempuan Nagari Pariangan.

Tujuh Suku dalam Nagari Pariangan

Sampai kini Nagari Pariangan dianggap sebagai nagari pertama orang Minangkabau. Terletak dipinggir jalan antara Padangpanjang dan Batusangkar. Sejak dibuat menjadi sebuah nagari, Pariangan mempunyai tujuh suku, yaitu; Koto, Piliang, Pisang, Malayu, Dalimo Panjang, Dalimo Singkek Piliang Laweh dan Sikumbang.
Akan tetapi khusus pesukuan Sikumbang, hanya tinggal tapak perumahannya saja di Pariangan hingga sekarang ini. Sebab, ketika Datuk Pamuncak Alam Sati diutus oleh Bandaro Kayo menjadi Tuan Gadang di Batipuah, seluruh kaum pesukuan Sikumbang yang ada di Pariangan turut serta mengikuti penghulu pucuk mereka. Read the rest of this entry »

Salido komunitas masyarakatnya pernah (abad ke-17) berbentuk masyarakat kecil multi-nasional antara orang Belanda, Belgia, Jerman, Malagasi, maupun negro dari Afrika Selatan. Bahkan pada pertengahan alaf (milinium/ ribuan tahun) pertama dalam cerita rakyat di lidah tellerhistory (tukang cerita), ada masyarakat Cina, Hindustan, Malaka dan Sri Lanka, ketika itu Salido merupakan kerajaan makmur, penuh dengan lumbung tidak saja padi tetapi emas laksana bukit yang berhimpit-himpit.

Suatu hal yang menarik bangsa asing datang dan tinggal di Salido di antaranya disebabkan karena Salido pernah bertabur emas dan perak itu, kemudian di daerah ini terdapat tambang emas terbesar di pantai selatan Sumatera bahkan tambang tertua di Sumatera. Orang-orang asing itu boleh dikatakan “demam Salido”. Secara antropologis Rusli Amran (1981:298) menekankan, kalau ada orang Salido dan Painan yang raut mukanya mau pun ukuran badannya tidak mirip pribumi mungkin itu peninggalan “demam Salido”. Karena dulu banyak orang asing di daerah ini, demam emas Salido.  Salido sesuai dengan maknanya gerbang, diceritakan ketika itu dirasakan betul Salido sebagai gerbang dunia, lewat jalur selatan perairan Samudra Indonesia.

Belanda melalui pucuk pimpinan VOC di Amsterdam sangat harap produk emas Salido. Harapan tergantung banyak pada pencari emas di bebepa lokasi tambang di Salido. Pencari emas itu tidak hanya penduduk asli, tetapi bermacam jenis orang, ada yang berbadan besar, berewok mukanya, bermata biru, berbahasa aneh. Dipastikan mereka datang dari berbagai negara seperti Jerman, Belanda sendiri, Begia dll. Rakyat pun menyerahkan pengolahan lahan tambang emas pada Belanda misalnya kepada Inspektur Pits tanpa paksaan, tahun 1670. Desember tahun ini, dikirim ke Salido ahli tambang (meester bergwerker) bernama Friedrick Fisher didampingi 9 orang pembantu. Dipersiapkan segala sarana pertambangan serta buruh yang dibutuhkan. Dalam proses penambangan terlalu banyak buruh yang mati didera penyakit, namun penambangan tidak boleh berhenti. Buruh dari mana saja didatangkan, asal mau bekerja akan digaji besar. Disediakan tangsi dan sardadu menjaga keamanan tambang tetapi kematian buruh semakin banyak. Dari Bataavia didatangkan orang Portugis untuk membantu keamanan tambang. Sudah empat tahun (1674) bekerja menambang emas hasilnya mengecewakan meskipun ahli tambangnya didatangkan dari Eropa.

Dari pengalaman Belanda lebih untung membeli dari rakyat dibanding menambang sendiri, bahkan hasil tambang rakyat kualitas emasnya pun tinggi. Karenanya Batavia mengusulkan kegiatan pertambangan dihentikan. Ahli tambang boleh pulang. Penambangan kembali diserahkan kepada rakyat. Namun para pemimpin 17 VOC di Amsterdam ngotot, karena keserakahannya kembali memerintahkan penambangan dilanjutkan.
Ahli tambang kembali dikirim dari Eropa. Memang benar-benar demam emas. Ide gila muncul, tidak dengan cara menambang emas langsung, tetapi mengangkut tanah yang berisi emas dari Salido ke Eropa. Kapal-kapal Belanda sibuk mengangkut tanah untuk ditambang di Eropa. Namun hasilnya tetap menyedihkan. Tidak putus asa, buruh didatangkan lagi dari Malagasi, Timor, Nias, Negro Afrika Selatan Read the rest of this entry »

Kaba Cindua Mato adalah cerita rakyat, berbentuk kaba, dari Minangkabau. Kaba ini mengisahkan petualangan tokoh utamanya, Cindua Mato, dalam membela kebenaran. Kaba Cindua Mato menggambarkan keadaan ideal Kerajaan Pagaruyung menurut pandangan orang Minangkabau.

Edisi cetak tertua kaba ini adalah yang dicatat oleh van der Toorn, Tjindur Mato, Minangkabausch-Maleische Legende. Edisi ini hanya memuat sepertiga saja dari manuskrip asli yang tebalnya 500 halaman. Pada 1904 Datuk Garang menerbitkan edisi lengkap kaba ini di Semenanjung Malaya, dalam aksara Jawi. Edisi ini mirip dengan versi van der Toorn.

Edisi Datuk Garang didasarkan pada manuskrip milik keluarga seorang Tuanku Laras di daerah Minangkabau timur.

Tokoh Tokoh Utama

  • Bundo Kanduang adalah ratu asli, yang diciptakan bersamaan dengan alam ini. Ia merupakan ibu dari Raja Alam, Dang Tuanku, yang dilahirkannya setelah ia meminum air kelapa gading.
  • Dang Tuanku adalah Raja Pagaruyung, putra Bundo Kanduang. Dia ditunangkan dengan Puti Bungsu, sepupunya, anak dari pamannya Rajo Mudo, yang berkuasa di Sikalawi.
  • Cindua Mato seperti Dang Tuanku terlahir setelah ibunya, Kembang Bendahari, meminum air kelapa gading. Karena itu dia juga dapat dipandang sebagai saudara Dang Tuanku.
  • Imbang Jayo adalah raja Sungai Ngiang, rantau Minangkabau sebelah Timur. Dia berusaha merebut Puti Bungsu, yang sudah ditunangkan dengan Dang Tuanku, dengan menyebarkan desas-desus bahwa raja Pagaruyung tersebut menderita penyakit.
  • Tiang Bungkuak adalah ayah Imbang Jayo yang sakti dan kebal. Namun pada akhirnya Cindua Mato menemukan kelemahannya.

Jalan Cerita

Pada zaman dahulu kala hiduplah seorang ratu bernama Bundo Kanduang, yang konon diciptakan bersamaan dengan alam semesta ini (samo tajadi jo alamko). Dia adalah timpalan Raja Rum, Raja Tiongkok dan Raja dari Laut. Suatu hari Bundo Kanduang menyuruh Kembang Bendahari, seorang dayangnya yang setia, untuk membangunkan putranya Dang Tuanku, yang sedang tidur di anjungan istana. Kembang Bendahari menolak, karena Dang Tuanku adalah Raja Alam, orang yang sakti. Bundo Kanduang lalu membangunkan sendiri Dang Tuanku, dan berkata bahwa Bendahara sedang mengadakan gelanggang di nagarinya Sungai Tarab, untuk memilih suami buat putrinya. Karena gelanggang tersebut akan dikunjungi banyak pangeran, marah dan sutan, dan putra-putra orang-orang terpandang, Dang Tuanku dan Cindua Mato seharusnya ikut serta di dalamnya. Bundo Kanduang memerintahkan Dang Tuanku untuk menanyakan apakah Bendahara akan menerima Cindua Mato sebagai suami dari putrinya, Puti Lenggo Geni. Setelah menerima pengajaran tentang adat Minangkabau dari Bundo Kanduang, Dang Tuanku, Cindua Mato dan para pengiringnya berangkat ke Sungai Tarab.

Di Sungai Tarab mereka disambut oleh Bendahara. Dang Tuanku bertanya apakah Bendahara bersedia menerima Cindua Mato yang “bodoh dan miskin” sebagai menantunya. Sebenarnya Cindua Mato adalah calon menantu ideal, dan karena itu lamaran tersebut diterima. Dang Tuanku kemudian berbincang-bincang dengan Bendahara, yang merupakan ahli adat di dalam Basa Ampek Balai, membahas adat Minangkabau dan apakah telah terjadi perubahan dari adat nenek moyang. Menurut Bendahara prinsip-prinsip yang diwariskan dari perumus adat Datuk Ketemanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sebatang tetap tak berubah.

Sementara itu Cindua Mato mendengar pergunjingan di pasar bahwa Puti Bungsu, tunangan Dang Tuanku, akan dinikahkan dengan Imbang Jayo, Raja Sungai Ngiang, sebuah negeri di rantau timur Minangkabau. Read the rest of this entry »

Translate to

Masukkan email anda dan klik Berlangganan.
Anda akan dikirimi email untuk setiap artikel yang tayang.

Join 141 other followers

Categories

Visitor Location

Marawa

Blog Stats

  • 732,406 hits
%d bloggers like this: