You are currently browsing the category archive for the ‘Kerajaan’ category.

Direktori ini berbentuk excel file yang memuat nama-nama raja dari Datuak Sri Maharaja Diraja dan Tuanku Rajo Tianso. Untuk sementara sampai saat ini (240 Nama)  baru di lingkungan keluarga Inti yaitu Raja Alam, Raja Adat dan Raja Ibadat serta perangkat seperti Panitahan Sungai Tarab.

Sara menggunakan cukup mudah, cukup dengan melakukan sort pada :

  • Position : untuk mengetahui urutan yang menjabat jabatan tertentu
  • Grand Father untuk melihat cucu dari seseorang
  • Mom of Mother untuk melihat cucu matrilineal dari seseorang
  • dst

Sehingga tools ini bisa digunakan untuk melacak garis keturunan untuk jalur Patrilineal dan Matrilineal sekaligus. Level digunakakan untuk mengurutkan keturunan, berhubung data tahun belum lengkap.

Sumber data dari geni.com, blog, penuturan langsung dll.

File ini boleh di download dan ditambahkan daftarnya, misalnya untuk kerabat di Kerajaan Sapiah Balahan atau keluarga yg belum tercatat. Usahakan mencari dulu nama-nama yang digunakan sebagai Name, Father, Mother, GF, Uncle dsb di Kolom Name. Jika tidak ada baru masukkan data baru.

Untuk melacak keturunan viewnya adalah sebagai berikut :

Semoga berguna ….

Silahkan di download di sini :

Ranji Alam V4

Cuplikan Data untuk Posisi Raja Alam :

101S Sri Maharaja   Diraja Sang Sapurba   (?) ; Tramberi Tribuana
102K Datuak Katumanggungan Sutan Paduko Basa;   Sultan Al-Malikul Akbar
102S Adityawarman Tuan Saruaso
103K Ananggawarman Raja Baramah
104K Dewang Pandan   Putowano Tuanku Maharajo Sati   I
105K Puti Panjang Rambuik   II Bundo Kanduang
106K Dewang Banang Raiwano Dang Tuanku ; Dewang   Pandak Salasiah Banang Raiwano
107K Dewang Sari Deowano Tuanku Maharajo Sati   II; ada kudeta oleh Dewang Palokamo
108K Dewang Sari Megowano YDP Sri Rajo Maharajo
109K Dewang Pandan Banang   Sutowano
110K Sultan Alif 1 YDP Bagewang I ;   Sultan Bakilap Alam
111K Sultan Syaiful Aladin
111K YDP Rajo Gamuyang I
112K YDP Manguyang
112K Sultan Ahmadsyah Raja Barandangan
113K Sultan Alif 2
114K Rajo Bagagarsyah Alam
114K YDP Rajo Bagewang
115K Sultan Bagagar   Alamsyah Raja Lembang Alam
115K YDP Rajo Gamuyang
116K Sultan Alam   Muningsyah YDP Bawang
116K Rajo Naro I YDP Malenggang Alam
117K YDP Patah Sultan Alam   Muningsyah II
118K Sultan Alam   Bagagarsyah Sultan Tangkal Alam   Bagagarsyah; YDP Hitam

Penyerbuan Dewang Parakrama

Dari pihak dalam negeri, ketidaksenangan terhadap pemerintahan Maharaja Dewana dan Raja Bagewang, ditimbulkan oleh Dewang Palokamo Pamowano (Dewang Parakrama Parmawana) atau Dewang Parakrama. Pangeran ini seorang dari Wangsa Malayupura yang tinggal di Darmasyraya. Jika di Pagaruyung para Pangeran (Puto-Puto) dan raja-raja dari Wangsa Melayupura telah menjadi pemeluk agama Islam yang taat sejak Daulat Yang Dipertuan Maharaja Sakti I, maka Dewang Parakrama masih menganut agama Budha Mahayana dari Tarikat Tantrayana. Sebagian keterangan tradisi mengatakan bahwa sebenarnya Pangeran ini tidak memeluk agama alias Pagan. Pangeran ini dari pihak kakek dan neneknya (dari belahan ayah maupun belahan ibu) sudah berada di kawasan sekitar Ulu Tebo. Kakeknya (ayah dari ayahandanya) menjadi Raja Ulu Tebo yang kemudian diganti ayahandanya. Untuk selanjutnya Dewang Parakrama menggantikan.

Dewang Parakrama tidak pernah bersetia kepada Raja Ranah Sekelawi sebagai atasan yang ditunjuk Pagaruyung. Sebaliknya raja ini juga tidak menyatakan diri di bawah Raja Tebo yang merupakan wilayah bawahan Raja Jambi. Raja ini menyatakan dirinya sebagai raja merdeka, dan berdaulat sendiri. Untuk menunjukkan kemerdekaan dan kedaulatannya, raja ini memaklumkan dirinya sebagai Maharaja Swarnabhumi yang sah dengan menduduki Siguntur di Darmasyraya. Hal itu di mungkinkan karena sebelumnya dengan diam-diam Raja Pamowano (Dewang Parakarma) mengadakan perjanjian persaudaraan dengan Portugis, orang Rupik Sipa tokah dari Tanah Alang Buwana. Portugis berhasil merebut Malaka 1511 M, dan ini dijadikan sebagai batu loncatan untuk kemudian dengan memperalat kaki tangannya (Raja Pamowano) menguasai Sumatera, dengan mencoba merebut Pagaruyung. Emas berbungkal diserahkan/dijual raja ini kepada orang Rupik sebagai imbalannya.

Dengan demikian semua kawasan Darmasyraya (Tiga Laras) dapat ditundukkannya. Dari Darmasyraya, Dewang Parakrama memasuki kawasan Jambi. Pasukan Jambi memeberikan perlawanan. Pertempuran dahsyat dengan pasukan Jambi berlangsung dengan hebatnya di Tebo. Pasukan Jambi kewalahan, kemudian mundur dan kawasan kuala sungai Tembesi yang direbut oleh Dewang Parakrama. Tetapi kemudian kembali balik menyerang Tebo. Pasukan Dewang Parakrama dapat di pukul mundur ke hulu sungai Tembesi. Namun kawasan hulu Tembesi bahkan bebe rapa kawasan di Kerinci dapat direbutnya. Untuk selanjutnya Dewang Parakrama kembali ke Darmasyraya, dan dari sini sebuah pasukan besar disiapkan. Dengan pasukan besar ini Dewang Parakrama memasuki Luak Tanah Datar. Read the rest of this entry »

Pada kurun waktu berikutnya seperti ditulis Rusli Amran, (Padang Riwayatmu Dulu), masyarakat Bayang dan sekitarnya diserang Portugis. Bangsa Portugis mendarat di pantai Salido (waktu itu merupakan sebuah desa pantai bagian dari negeri Bayang) pada tahun 1516, sekitar lima tahun setelah Malaka diduduki Portugis pada bulan Agustus 1511 (sementara Padang dimasuki Portugis pada th 1561).

Mula-mula orang Rupik Portugis yang mengganas di Pesisir menjalin hubungan akrab / mengadakan kontrak politik dengan seorang yang mengaku “ahli waris” kerajaan Minangkabau. Dengan bantuan Portugis yang berkedudukan di Malaka “ahli waris” itu berhasil merebut Pagaruyung dan mengangkat dirinya sebagai Raja Minangkabau. Pada saat itulah datang pemimpin Portugis yang merebut Malaka ke Pagaruyung, dengan dikawal banyak pasukan yang tidak lain adalah perompak-perompak bayaran Portugis sendiri.

Pimpinan antek-antek Portugis itu adalah Dewang Palokamo Pamowano dari sehiliran Batang Hari yang merebut takhta dari Dewang Sari Deowano, Raja Alam Minangkabau. Untuk menguasai Minangkabau Portugis mengerahkan para perompak bajak laut yang digajinya, dan budak-budak yang ditawannya dari berbagai bangsa, baik dari bangsa Eropid, Affrika, Keling India, sampai kepada bangsa sendiri yang digajinya. Sementara tentara Portugis itu sendiri tidak seberapa jumlahnya.

Inilah yang kemudian dicatat dalam kias Tambo Alam Sungai Pagu sebagai Sitatok Sita rahan, Si Anja, si Paihan yang hidup dalam gua-gua. Mereka adalah orang bayaran Rupik yang naik dari hilir Batang Hari dengan target sebagian menuju pusat Minangkabau, menguasai Paga ruyung dan sebagian lagi merampas wilayah pantai Pesisir Barat Sumatera Barat.

Karena banyaknya yang menyerang secara mendadak maka dengan mudah Pagaruyung dapat dikuasai. Namun raja itu tidak lama berkuasa, lebih kurang selama 10 tahun kemudian tumbang, dan raja yang dahulu kembali menaiki takhta. Raja yang kembali bertakhta ini ayah kandung Dewang Sari Megowano. Baginda menolak kerjasama dengan orang Rupik. Oleh karenanya orang Rupik semakin mengganas di Pesisir.

Kisah Putri Aceh dan Rumah Gadang Yang Hilang

Adalah Baginda Dewang Sari Deowano yang mempunyai permaisuri Tuan Puti Rani Dewi (ibu kandung Dewang Sari Megowano) mengambil putri dari Aceh sebagai istrinya yang kedua. Baginda ini dalam pesta pernikahan di Aceh, banyak memberi hadiah kepada pembesar dan masyarakat di Aceh. Karena harta benda yang dibawa sudah habis, dipinjamlah mas kawin yang sudah diserahkan kepada sang istri yakni Putri Kemala (Tuan Puti Gumalo). Karena emas kawin itu sudah diserahkan kepada Baitul Mal Kesultanan Aceh, maka kepada Baitul Mal itulah dilakukan peminjaman. Raja berjanji akan membayar begitu sampai di Pagaruyung. Tetapi apa, dan bagaimana pelaksanaannya ?

Baginda mungkin karena lupa, tak kunjung membayarnya. Ketika Putri Kumalo (Guma lo) menyerahkan surat tagihannya dari Baitul Mal, raja merasa tersinggung. Terjadi perteng karan, yang mengakibatkan diceraikannya Putri Keumala oleh Baginda. Sang Putri meninggal kan istana dan pergi ke Luak Agam. Di Koto Gadang (Luak Agam) Sang Putri tinggal dengan be berapa orang pengiringnya dan mengajar wanita-wanita disini menyulam menerawang. Sultan Aceh amat marah. Lantas utusan di kirim menjeput Putri Keumala. Setelah putri itu sampai di ibu kota Kerajaan Aceh, pasukan Aceh pun bergerak dan menguasai Bandar Muar dan Pariaman. Di Bandar Muar ditempatkan seorang “Teuku” sebagai Khalifah Sulthan, atau pengganti atau wakil Sultan. Sejak waktu itu Bandar Muar dikenal dengan nama Bandar Kha lifah. Namun lebih populer dengan nama “Kampuang Teuku” dan bagi penduduk disebut “kam puang Tiku”. Itulah asal-usul nama “Tiku”.

Dari sini dikerahkan pasukan untuk merebut ibu kota Pagaruyung. Namun cepat dicegah oleh Pamuncak Alam Kerajaan Minangkabau Dewang Ranggowano (anak dari Raja Dewang Ramowano dengan Puti Reno Salendang Cayo). Dewang Ranggowano juga menjadi Raja Sungai Tarab dengan gelar Datuak Bandaharo Putieh yang sekaligus juga menjadi Pucuek Bulek Urek Tunggang Kelarasan Koto Piliang. Read the rest of this entry »

Menurut Tambo Alam Sungai Pagu, yang dimaksud dengan negeri Alam Surambi Sungai Pagu adalah Dua Rantau-nya. Pertama, Rantau Si Kija Batang Gumanti Sungai Abu Batang Hari, merupakan cancang latiah Niniak Nan Kurang Aso Anam Puluah (59). Kedua, Banda Nan Sapuluah cancang latiah niniak nan kurang aso anam puluah, turun dari Sungai Pagu terus jalan dari Kambang,  wilayah ninik nan kurang aso anam puluah, kalang hulunya Salido, tumpuannyo Air Haji. Maksudnya batasnya dari Salido sebelah utara dan sampai Air Haji yang berbatasan dengan Indrapura di Selatan.

 Secara Adat daerah ini merupakan cancang latiah ninik nan kurang aso anam puluah, dimana penduduknya adalah anak kemenakan sapiah balahan : jajak nan tatukiak, unjut nan tabantang,  sarawan tali pukek,  jauah ka tangah manjadi wilayah ninik nan kurang aso anam puluah. Dipakai gelar pusako di Sungai Pagu oleh segala sapiah balahan di Bandar Nan Sapuluah itu. Dengan demikian apabila hendak mengetahui siapa sapiah balahannya, sepanjang adat maka ketahui sajalah gelar pusako adat yang dipakainya.

Tetapi jauh sebelumnya, menurut tutur orang tua tua tidaklah demikian. Karena sejak ber mukimnya Urang Darek di Pesisir sampai permulaan abad ke 16 M daerah yang dikenal sekarang sebagai bagian dari Kabupaten Pesisir Selatan, adalah sebuah jajaran kawasan yang sama yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Orang-tua tua dari darek Minangkabau menyebut penduduk kawasan itu sebagai Urang Baruah. Kosakata baruah  artinya hilir, ke hilir berarti ke baruah. Negeri-negeri sepanjang jalur Pesisir Selatan mulai dari batas kota Padang, yakni dari Sibingkeh Tarusan, Bayang, Salido, Painan, Batang Kapeh, Surantih, Kambang, Amping Parak, Balai Selasa, Air Haji, Indrapura, Tapan, Lunang, Silaut dan Muko-Muko disebut baruah. Pai ka Baruah, berarti pergi ke Rantau Hilir yang sekarang bernama Pesisir Selatan. Urang Baruah berarti orang / penduduk asli  Pesisir Selatan sekarang.

Tetapi dalam sejarah tradisi (historiografi tradisional), arti baruah juga  merujuk kepada kawasan yang disebut sebagai Nagari-nagari Sahiliran Batang Barus, (nama asli Batang Air Tarusan adalah Batang Barus) yakni nagari-nagari Koto Sabaleh Tarusan sekarang. Dari Teluk Kabung sampai ke batas Indrapura (sampai Muko-Muko) disebut “Koto Sabaleh – Banda Sapuluah”. “Koto Sabaleh Tarusan”, merupakan wilayah Rantau Kubuang Tigo Baleh (Guguak) , dan “Banda Sapuluah” merupakan wilayah Rantau Sungai Pagu. Antara Koto Sabaleh dengan Banda Sapuluah sebenarnya ada kawasan yang berdiri sendiri yang disebut “Bayang Nan Tujuah Koto Salapan”, juga merupakan wilayah Rantau Kubung Tigo Baleh, yakni dari Koto Nan Tigo : Kinari, Koto Anau, dan Muaro Paneh.

Dalam perjalanan sejarahnya kemudian sebagian nagari Bayang dilepaskan menjadi nagari penyangga, yakni Salido yang dahulunya bernama Kualo Bungo Pasang, merupakan pertemuan dua rantau, yaitu Rantau Kubuang Tigo Baleh dengan Rantau Sungai Pagu. Raja pertama Salido adalah dari Sungai Pagu. Atas kesepakatan bersama antara Raja /Sultan Indrapura, Raja / Penghulu-Penghulu Bayang dan Raja Tarusan, sesuai dengan situasi dan kondisi politik masa itu, Salido diserahkan kepada Kompeni Belanda sementara rajanya tetap dari Sungai Pagu. Sejak itu Salido disebut “Selidah Persuarangan”

 Jauh sebelum itu, ada delapan bandar dari Banda Sapuluah merupakan wilayah dua raja, masing-masing Raja Taluak Sinyalai Tambang Papan dengan kedudukan raja di Kualo Sungai Nyalo. Ditambah satu perkampungan di  hulu sungai, yakni Galanggang Kasai. Hingga menjadi sebelas. Sedangkan yang sepuluh berada di tepi pantai. Kesepuluh bandar di pelabuhan itu dari selatan ke utara adalah :

1.      Kualo Bungo Pasang,

2.      Taluak Tampuruang Pinang Balirik,

3.      Taluak Sinyalai Tambang Papan,

4.      Kualo Sungai Nyalo,

5.      Taluak Maracu Indo,

6.      Kualo Indocito,

7.      Kualo Banda Nyiua Condong,

8.      Pulau Mayang Manggi,

9.      Taluak Jambu Aia, dan

10.  Labuahan Cino.

Keseluruhannya terbentang dari Salido sampai Teluk Kabung sekarang. Dua Bandar masing-masing Kualo Bungo Pasang dan Taluak Tampuruang Pinang Balirik merupakan kera jaan tersendiri. Dan kesepuluhnya merupakan “koto” menjadi sebelas dengan Galanggang Kasai yang terletak di bagian hulu Sungai Batang Barus.

Galanggang Kasai merupakan kedudukan kedua dari Rajo Mudo, satu dari tiga raja yang bersemayam di Rawang Hitam pinggang Gunung Selasih (gunung Talang) kira-kira permulaan abad ke 12 M. Kesepuluh Bandar bersama Galanggang Kasai merupakan Koto Sabaleh yang utuh.  Tetapi itu hanya dulu,  sampai pada abad ke 16 M Koto Sebelas merupakan kawasan yang sama (tidak termasuk Kualo Bungo Pasang dan Pinang Balirik) terdiri dari :

1.      Taratak

2.      Sungai Lundang

3.      Siguntur

4.      Barung Barung Balantai

5.      Koto Pulai

6.      Dusun jo Duku

7.      Nanggalo

8.      Batuhampar

9.      Kapuah Sungai Talang

10.  Sungai Sungai Pinang.

Perubahan ini terjadi lagi pada tahun 1854. Dalam perjalanan sejarah pembentukan nagari di Tarusan, kemudian pada tahun 1915 muncul kenagarian, yakni :

1.      Siguntur

2.      Barung-barung Balantai

3.      Duku termasuk Dusun

4.      Batuhampar

5.      Nanggalo

6.      Kapuah Sungai Talang

7.      Ampang Pulai dan

8.      Sungai Pinang.

Banda Sapuluah Rantau Sungai Pagu 

Urang Darek yang datang dari Sungai Pagu mendirikan sepuluh bandar pula di tepi pantai. Ketika Banda Sapuluah di utara tenggelam, maka sepuluh bandar di selatan inilah yang masyhur dengan nama Banda Sapuluah. Jajaran Banda Sapuluah inilah kemudian merupakan kawasan Rantau Sungai Pagu, bahkan Read the rest of this entry »

Benarkah Kerajaan Pagaruyung adalah pewaris dari Kerajaan Malayapura? Benarkah Kerajaan Malayapura berintegrasi dengan sistem aristokrasi Koto Piliang dalam lembaga Rajo Tigo Selo?

Sepeninggal Adityawarman yang wafat pada 1375, belum ditemukan bukti yang memadai untuk mengetahui siapa pengganti dari Adityawarman. Terdapat ”bagian yang hilang“ dalam penulisan sejarah Kerajaan Pagaruyung. Bagian tersebut berada di antara masa pemerintahan Adityawarman (1347-1376) dan masa pemerintahan Sultan Alif Khalifatullah (Sultan pertama yang memeluk agama Islam) yang naik tahta sekitar tahun 1560 M. Sedikit informasi yang berhasil ditemukan, menyatakan bahwa ada kemungkinan pengganti Adityawarman adalah Ananggawarman yang merupakan putera dari Adityawarman (M.D. Mansoer et.al., 1970:64-65). Nama ini muncul dan dipahat dalam Prasasti Saruaso II. Ananggawarman inilah yang ditahbiskan pada 1376 untuk menduduki posisi raja menggantikan ayahnya, Adityawarman yang telah  meninggal (M.D. Mansoer et.al., 1970:64-65).

Namun tiba-tiba muncul pengkaitan ini dalam Tambo Pagaruyung yang diterbitkan tahun 1970. Tambo ini memuat silsilah sebagai berikut:

  1. Raja Adityawarman
  2. Raja Ananggawarman
  3. Raja Vijayawarman
  4. Daulat Yang DiPertuan Sultan Bakilap Alam Sultan Alif 1 Yamtuan Raja Bagewang
  5. Daulat Yang DiPertuan Sultan Siput Aladin
  6. Daulat Yang DiPertuan Sultan Ahmad Syah Yamtuan Raja Barandangan
  7. Daulat Yang DiPertuan Sultan Alif ll Yamtuan Khalif
  8. Daulat Yang DiPertuan Sultan Bagagar Alamsyah Yamtuan Raja Lembang Alam.
  9. Daulat Yang DiPertuan Sultan Alam Muningsyah l Yamtuan Raja Bawang.
  10. Daulat Yang DiPertuan Malenggang Alam Yamtuan Rajo Naro.
  11. Daulat Yang DiPertuan Sultan Alam Muningsyah ll Yang DiPertuan Sultan Abdul Fatah Yamtuan Sultan Abdul Jalil l.
  12. Daulat Yang DiPertuan Sultan Tangkal Alam Bagagarsyah Yamtuan Hitam.
  13. Daulat Yang DiPertuan Sultan Abdul Jalil ll Yang DiPertuan Garang Yang DiPertuan Sultan Abdul Jalil.
  14. Daulat Yang DiPertuan Puti Reno Sumpu Yang DiPertuan Berbulu Lidah.

Limbago Rajo Nan Tigo Selo, Basa Ampek Balai dan Langgam Nan Tujuah adalah warisan dari Lareh Koto Piliang, ciptaan Datuak Katumanggungan. Sedangkan Malayapura yang didirikan Adityawarman adalah penerus dari Dharmasraya yang sama sekali tidak terkait dengan sistem aristokrasi Koto Piliang. Read the rest of this entry »

Urang Campa adalah sebutan bagi komunitas Campa dalam bahasa mereka sendiri. Sedangkan di Malaysia mereka disebut sebagai Melayu Champa. Pada awalnya mereka adalah penganut Hindu Shiwa dan kemudian beralih ke Islam sejak abad ke 13, sezaman dengan perkembangan Islam di Nusantara. Asal muasal orang Champa menurut penelitian adalah masyarakat Melayu-Polinesia yang mendiami Kepulauan Nusantara pada abad sebelum Masehi.

Sepanjang sejarahnya yang selama 1.5 Millennium (192 M – 1832 M), bangsa ini telah menempuh kejayaan dan kehancuran. Dan sekarang bisa dikatakan punah, karena sudah tidak memiliki tanah air lagi dan anak cucunya yang sekira 500,000 an orang tersebar di delapan negara (Kamboja, Vietnam, Malaysia, Indonesia, USA, Thailand, Laos dan Perancis).

Kaitan Dengan Minangkabau

 

Dari Awal Sampai Puncak Kejayaan

Catatan sejarah Cina mencatat kemunculan Kerajaan Champa pada tahun 192 M, yang pada saat itu mereka sebut sebagai Lin Yi. Sejatinya Champa adalah sebentuk Konfederasi Kota yang terdiri dari:

  • Inderapura (ibukota Champa dari 875 M -1000 M)
  • Amaravati
  • Vijaya (ibukota Champa dari 1000 M – 1471 M)
  • Kauthara, dan
  • Panduranga

Beberapa ahli sejarah berpendapat, kebudayaan Champa setidaknya dipengaruhi oleh unsur-unsur Cina, India, Khmer dan Jawa. Pada masa pra 1471 M, Hindu Shiwa adalah agama resmi negara, dan Sansekerta adalah tulisan resmi yang diwujudkan dalam prasasti-prasasti dan maklumat negara. Walaupun beraksara Sansekerta, bahasa yang digunakan tidak melulu Sansekerta, karena banyak ditemukan prasasti dengan dua bahasa, yaitu Sansekerta dan Champa. Agama Buddha Mahayana pernah juga menjadi agama resmi negara pada masa pemerintahan Raja Indrawarman II pada tahun 875 M. Saat itu ibukota berada di Inderapura.

Bangsa Champa adalah bangsa pedagang yang pada masa kejayaannya menguasai jalur perdagangan sutera dan rempah-rempah antara Cina, Nusantara, India dan Persia. Umumnya mereka adalah pedagang perantara.

Bangsa Khmer secara tradisional adalah pesaing Bangsa Champa, walaupun demikian kedua kerajaan ternyata saling mempengaruhi dan keluarga bangsawannya sering pula kawin mawin. Champa juga menjalin hubungan yang cukup dekat dengan dinasti raja-raja yang berkuasa di Nusantara, seperti Sriwijaya dan Majapahit. Dalam salah satu keterangan disebut Kertanegara, Raja Majapahit memperistri Putri Champa.

Bangsa Champa juga tersebar sampai ke Acheh dan Minangkabau. Bahkan bahasa Champa mempengaruhi Bahasa Aceh yang dituturkan di Pesisir Utara dan Pesisir Timur Aceh. Bangsa Champa juga merupakan bangsa yang menganut adat matrilineal, sama seperti yang diamalkan orang Minangkabau saat ini. Read the rest of this entry »

Pendahuluan

Di dalam makalahnya Periodisasi Sejarah Minangkabau yang disampaikan pada Seminar Sejarah dan Kebudayaan Minangkabau pada bulan Agustus 1970, Amrin Imran mengemukakan bahwa keadaan sesungguhnya mengenai Kerajaan Minangkabau atau Pagaruyung masih tetap merupakan tabir yang tak dapat ditembus. Hal ini, menurut Imran, disebabkan bahan-bahan mengenai sejarah Minangkabau masih jauh dari lengkap.

Pada tahun 2002, makalah Amrin tersebut, bersama sebelas kertas kerja lainnya untuk seminar yang sama, dengan diberi kata pengantar oleh H. Kamardi Rais Dt. P. Simulie dan catatan pengantar oleh Dr. Mestika Zed, M.A., kemudian diterbitkan dalam bentuk bunga rampai dengan judul Menelusuri Sejarah Minangkabau oleh Yayasan Citra Budaya Indonesia dan LKAAM Sumatra Barat.

Berhubungan erat dengan bahan (sumber) tentang sejarah Minangkabau sebagai yang dimaksudkan oleh Amrin Imran, agaknya catatan pengantar Mestika Zed untuk buku itu patut disimak. Dalam catatan tersebut, Mestika Zed bahkan mengemukakan sejak kapan orang Minangkabau menulis sejarah mereka, tidak tersedia jawaban. Salah satu alasan, seperti yang juga sering dikemukakan oleh banyak orang, tulis Mestika, orang Minangkabau tidak mempunyai aksara tersendiri. Baru setelah Islam masuk ke Minangkabau pada abad ke-16 lah orang Minangkabau menuliskan kabar dalam aksara Jawi, atau aksara Arab Melayu, yaitu aksara asal Persia yang digunakan untuk menuliskan bahasa Melayu dan atau bahasa Minangkabau.

Tentang masa mulainya aksara Jawi digunakan orang di Minangkabau ini pun tampaknya masih dapat diperdebatkan. Sebab, sejauh yang dapat diketahui, naskah-naskah kuno (manuskrip) Minangkabau tertua, belum ada yang lebih awal dari awal abad ke-19 (Yusuf, 1994), yaitu setelah kertas Eropa, Belanda khususnya, digunakan orang di Minangkabau.

Tidak adanya sumber tertulis yang dibuat oleh orang Minangkabau, bukan berarti bahwa orang Minangkabau tidak merekam sejarah mereka. Sebab, seperti yang juga ditulis oleh Yusuf (1994), dan Mestika Zed (2002), teks-teks kuno yang hingga saat ini masih dapat ditemukan di dalam masyarakat Minangkabau, terutamanya adalah teks lisan, yaitu teks yang aslinya misalnya masih ada pada Tukang Kaba, Tukang Selawat, Tukang Hikayat, Tukang Dendang, dan para pemangku adat dalam bentuk ingatan. Read the rest of this entry »

Rupanya tim perumus pengusulan Sultan Alam Bagagarsyah (SAB) menjadi pahlawan nasional telah membentuk tim kecil untuk penyusunan “narasi buku tentang Sultan Alam Bagagarsyah” (Padang Ekspres, 22-4-2008). Agar tidak terjadi pengulangan-pengulangan, tentu ada baiknya tim merujuk tulisan-tulisan yang ditulis orang mengenai SAB, misalnya tulisan Jafri Datuak Bandaro Lubuak Sati terbitan Sanggar Budaya Minangkabau-Negeri Sembilan, Padang (2002), artikel Sultan Serdang, Tuanku Luckman Sinar Basarshah-II, “Sejarah Sultan Alam Bagagar Shah dalam Kemelut Perang Paderi” (Waspada, 6-4-2008).

Dengan demikian tim dapat lebih berkonsentrasi kepada pencarian kepustakaan, terutama sumber pertama tentang SAB. Misalnya, apakah nama akhir SAB ditulis “Bagagarsyah” (satu kata) atau “Bagagar Shah”(seperti ditulis Tuanku Luckman Sinar). Apakah ada sketsa dirinya dibuat pelukis Belanda atau ada keterangan naratif mengenai fisiknya yang memungkinkan kita membuat sketsa wajahnya (supaya jangan sampai salah seperti yang pernah terjadi pada Pahlawan Nasional Raja Ali Haji dari Riau [Aswandi Syahri, Batam Pos, November 2004]).

Pengusulan SAB menjadi pahlawan nasional patut disambut positif. Jika Pemerintah nanti menyetujuinya, itu mungkin dapat jadi paubek hati orang Minangkabau. Gelar itu tentu dapat dijadikan semacam simbol abadi pemersatu kembali Minangkabau yang pernah tercabik Perang Paderi sekaligus siratan kepada generasi Minangkabau kini dan akan datang untuk tidak lagi mencari (-cari) ketidakcocokan antara adat Minangkabau dan Islam.

Namun, dalam mewujudkan cita-cita pengangkatan SAB menjadi pahlawan nasional, kita tentu harus cermat dan tetap berpegang pada prinsip ingek sabalun kanai, kulimek sabalun abih. Artinya, harus dikumpulkan bukti sebanyak mungkin mengenai riwayat hidup, kepribadian, dan perjuangan SAB serta posisi sosial-politiknya selama Perang Paderi sampai dibuang ke Batavia dan wafat di sana pada 1849. Agar di belakang hari tidak muncul kritikan negatif mengenai status kepahlawanan SAB, seperti yang baru-baru ini ditujukan kepada Tuanku Imam Bonjol. Read the rest of this entry »

Tambo dalam arti yang sebenarnya adalah cerita sejarah negeri Minangkabau. Tambo-tambo lama Minangkabau didapati hampir di tiap-tiap nagari di Minangkabau yang ditulis dengan tangan dan memakai aksara Arab. Tambo-tambo tersebut sangat dimuliakan orang, bahkan adakalanya dipandang sebagai pusaka keramat. Sehingga yang memegangnya adalah kepala suku atau orang yang akan mengantikan kepala suku itu. Tidak sembarang orang yang boleh membaca, bahkan untuk membacanya harus didahului upacara khusus.

  Lukisan Marapi dilihat dari Danau Singkarak

Beberapa Saduran Naskah Tambo

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dr. Edwar Djamaris, tambo-tambo yang banyak itu ditulis dalam bahasa Melayu berbentuk prosa. Naskah Tambo Minangkabau ini sebagian besar ditulis dengan huruf Arab-Melayu, dan sebagian kecil ditulis dengan huruf latin. Naskah Tambo Minangkabau yang berhasil diketemukan sebanyak 47 naskah, masing-masing tersimpan di museum Nasional Jakarta sebanyak 10 naskah, di perpustakaan Universitas Leiden sebanyak 31 naskah, di perpustakaan KITLV Leiden Belanda sebanyak 3 naskah, di perpustakaan SOAS Universitas London 1 naskah, dan di perpustakaan RAS London 2 naskah.

Ada delapan saduran cerita Tambo Minangkabau yaitu:

Tujuan Penulisan Tambo

Secara umum dapat dikemukakan bahwa fungsi utama cerita Tambo Minangkabau adalah untuk menyatukan pandangan orang Minangkabau terhadap asal usul nenek moyang, adat, dan negeri Minangkabau. Hal ini dimaksudkan untuk mempersatukan masyarakat Minangkabau dalam satu kesatuan. Mereka merasa bersatu karena seketurununan, seadat dan senegeri.

A.A Navis seorang Budayawan Minang mengatakan Kisah tambo yang dipusakai turun-menurun secara lisan oleh orang Minangkabau hanya mengisahkan waktu dan peristiwa secara samar-samar, campur baur, bahkan ditambahi dengan bumbu yang kedongeng-dongengan. Adalah wajar bila kisah tambo itu mengandung berbagai versi karena tambo itu yang diceritakan oleh pencerita sesuai dengan keperluan atau kehendak pendengarnya.

Subjektivitas dan Falsafah Minang Dalam Penulisan Tambo

Terlepas dari kesamaran objektivitas historis dari Tambo tersebut namun Tambo berisikan pandangan orang Minang terhadap dirinya sendiri. Sebagaimana dikatakan oleh Navis, peristiwa sejarah yang berabad-abad lamanya dialami suku bangsa Minangkabau dengan getir tampaknya tidaklah melenyapkan falsafah kebudayaan mereka. Mungkin kegetiran itu yang menjadikan mereka sebagai suku bangsa yang ulet serta berwatak khas. Mungkin kegetiran itu yang menjadi motivasi mereka untuk menghapus sejarah masa silam dengan menciptakan tambo yang kedongeng-dongengan, disamping alasan kehendak falsafah mereka sendiri yang tidak sesuai dengan dengan falsafah kerajaan yang menguasainya. Mungkin kegetiran hidup dibawah raja-raja asing yang saling berebut tahta dengan cara yang onar itu telah lebih memperkuat keyakinan suku bangsa itu akan rasa persamaan dan kebersamaan sesamanya dengan memperkukuh sikap untuk mempertahankan ajaran falsafah mereka yang kemudian mereka namakan adat. Read the rest of this entry »

Salah satu periode kegelapan dalam Lintasan Sejarah Sumatera adalah masa antara abad pertama sampai abad kelima Masehi. Catatan sejarah dari Cina pertama kali muncul pada tahun 645 M dimana Kerajaan Malayu (Minanga) mengirim utusan ke Cina (catatan Wang Pu). Pada rentang tahun 1 M – 644 M praktis tidak ada catatan Cina yang menyebut daerah sekitar Sumatera.

Meskipun demikian ada catatan-catatan tentang daerah di laut selatan (Kepulauan Nusantara) yang mengirim utusannya ke Cina pada rentang 441 M – 563 M. Daerah yang disebut itu adalah Kerajaan Koying dan Kerajaan Kantoli.

Diluar catatan sejarah ada pula dua kerajaan yang disebut-sebut pernah ada di Sumatera sebelum tahun 500 M yaitu Kerajaan Kandis yang beribukota di Istana Dhamna dan Kerajaan Koto Alang. Sumber cerita tentang kedua kerajaan itu adalah Tombo Lubuk Jambi. Untuk sementara kita tinggalkan pembahasan yang sifatnya ahistoris dan legendaris dan fokus pada dua kerajaan pertama yaitu Kerajaan Koying dan Kerajaan Kantoli.

Kerajaan Koying

Keberadaan Kerajaan Koying diidentifikasi berdasarkan catatan yang dibuat oleh K’ang-tai dan Wan-chen dari Dinasti Wu (229-280) tentang adanya negeri Koying. Tentang negeri ini juga dimuat dalam Ensiklopedia T’ung-tien yang ditulis oleh Tu-yu (375-412) dan disalin oleh Ma-tu-an-lin dalam ensiklopedia Wen-hsien-t’ung-k’ao (Wolters 1967: 51).

Diterangkan bahwa di Kerajaan Koying terdapat gunung api da kedudukannya 5.000 li di timur Chu-po (Jambi ?). Di utara Koying ada gunung api dan di sebelah selatannya ada sebuah teluk bernama Wen. Dalam teluk itu ada pulau bernama P’u-lei atau Pulau. Penduduk yang mendiami pulau itu semuanya telanjang bulat, lelaki maupun perempuan, dengan kulit berwarna hitam kelam, giginya putih-putih dan matanya merah. Mereka melakukan dagang tukar menukar barang atau barter dengan para penumpang kapal yang mau berlabuh di Koying seperti ayam dan babi serta buah-buahan yang mereka tukarkan dengan berbagai benda logam. Melihat warna kulitnya kemungkinan besar penduduk P’u-lei itu termasuk dalam rumpun Proto-Negrito atau Melayu Tua yang sebelumnya menghuni daratan Sumatera. Read the rest of this entry »

Translate to

Masukkan email anda dan klik Berlangganan.
Anda akan dikirimi email untuk setiap artikel yang tayang.

Join 142 other followers

Categories

Visitor Location

Marawa

Blog Stats

  • 717,914 hits
%d bloggers like this: