You are currently browsing the category archive for the ‘Kaba’ category.

Sekitar abad ke 15 -16 (antara 1450 – 1550), berkuasalah di Pagaruyung seorang raja bergelar Tuanku Alam Sati (saya lupa nama kecilnya). Raja adalah sulung dari 4 bersaudara, 2 laki laki dan 2 perempuan. Di Istana masih ada ibunda raja (Bundo Kanduang) duduk sebagai penasihat.

Satu ketika permaisuri wafat dan raja dirundung duka berkepanjangan. Khawatir negara tidak terurus raja meletakkan jabatan, dan adik laki-lakinya yang bernama Sutan Indo Naro yang memegang jabatan Raja di Inderapura dipanggil pulang ke Pagaruyung, naik nobat menjadi Raja Alam Minangkabau dengan gelar Tuanku Alam Sati. Raja yang lama kemudian mengembara melintasi luhak dan rantau diiringi 4 dubalang, kali ini beliau bergelar Tuanku Rajo Tuo. Masih dihormati sepanjang adat namun tidak berkuasa lagi.

Lama berkelana Tuanku Rajo Tuo menemukan tambatan hati baru di Nagari Guguak, Kubuang Tigo Baleh. Sang istri memiliki wajah yang mirip dengan permaisuri yang telah meninggal. Tuanku Rajo Tuo kemudian diberi tanah dan berdiam di kampung kecil dalam Nagari Guguak yang bernama Sungai Nyalo.

Nagari Guguak bertetangga dengan Nagari Padang Duobaleh, yang dipimpin oleh raja lalim (Raja Angek Garang), raja yang berasal dari kalangan penyamun dan menghidupi nagari tersebut dengan hasil samun, judi dan adu ayam. Keberadaan 3 orang anak Tuanku Rajo Tuo dipandang sebagai potensi bahaya yang akan mengganggu kekuasaanya kelak. Maka dirancanglah suatu fitnah dengan mengirimkan wabah penyakit ke Nagari Guguak yang menyebabkan ternak, tanaman dan masyarakat menderita. Obatnya hanya satu, darah dari ketiga anak Tuanku Rajo Tuo.

Hasil rapat para basa di Nagari Guguak menyepakati untuk menuruti solusi dukun kroni Raja Angek Garang. Ketiga anak Tuanku Rajo Tuo yaitu Rondok Dindin, Murai Batu dan Bonsu Pinang Sibaribuik dibawa ke hutan oleh dubalang untuk disembelih. Namun dubalang asal Pagaruyung ini sedari awal sudah curiga akan konspirasi ini, mereka menukar darah ketiga pangeran ini dengan darah rusa, kijang dan kambing hutan untuk dibawa pulang. Tiga orang adik beradik dilepas dalam hutan, mencari nasib sendiri-sendiri.

Rondok Dindin (9 tahun), Murai Batu (7 tahun) dan Bonsu Pinang Sibaribuik (5 tahun) bertahan hidup dari berburu hewan kecil. Malang bagi mereka yang mereka makan adalah seekor ayam birugo, ayam keramat milik Gaek Gunuang Salasiah yang bersemayam di hutan. Konsekuensinya, siapa yang makan kepala nantinya akan menjadi raja, yang makan sayap menjadi hulubalang dan yang makan bagian ekor akan menjadi budak. Setidaknya demikianlah kata Gaek Gunuang Salasiah.

Singkat cerita mereka menempuh takdirnya masing-masing. Rondok Dindin menjadi raja di Palinggam Jati (Padang Selatan), Murai Batu menjadi hulubalang di Aceh, dan Pinang Sibaribuik diperjualbelikan sebagai budak sampai di Malaka.

Pinang Sibaribuik kemudian dimerdekakan oleh seorang syahbandar di Malaka dan menjadi pegawainya. Namun karena fitnah anak buah saudagar yang dulu memilikinya sebagai budak , maka ia dipenjara dengan tuduhan menghamili tunangannya sendiri, sehingga syahbandar dapat malu. Dalam penjara dia bertemu putra mahkota dari Raja Bajak Laut. Dengan bantuannya Pinang Sibaribuik melarikan diri dan memulai karir sebagai bajak laut. Lama menjadi bajak laut hingga punya armada sendiri, Sibaribuik dilenakan oleh istri barunya sehingga hasil bajakan berkurang. Raja bajak laut murka dan menitahkan hukum bunuh untuk Sibaribuik. Sibaribuik akhirnya dibuang ke lautan di perairan Champa.

Ia selamat dan terdampar di pesisir Champa. Diselamatkan oleh Gaek Jakun, adik seperguruan Gaek Gunuang Salasiah di Kubuang Tigo Baleh. Tiga tahun bersama Gaek Jakun ia menemukan jati dirinya yang sebelumnya dia tidak tahu. Gaek juga menurunkan segala ilmu dan kesaktian yang dimilikinya. Pada akhirnya Gaek mengutusnya membantu perjuangan rakyat Bayan Toran dan Parik Paritanun, dua dari lima nagari di Champa yang tersisa pasca penaklukan orang Kencu (Dai Viet, di Vietnam Utara). Read the rest of this entry »

Tambo dalam arti yang sebenarnya adalah cerita sejarah negeri Minangkabau. Tambo-tambo lama Minangkabau didapati hampir di tiap-tiap nagari di Minangkabau yang ditulis dengan tangan dan memakai aksara Arab. Tambo-tambo tersebut sangat dimuliakan orang, bahkan adakalanya dipandang sebagai pusaka keramat. Sehingga yang memegangnya adalah kepala suku atau orang yang akan mengantikan kepala suku itu. Tidak sembarang orang yang boleh membaca, bahkan untuk membacanya harus didahului upacara khusus.

  Lukisan Marapi dilihat dari Danau Singkarak

Beberapa Saduran Naskah Tambo

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dr. Edwar Djamaris, tambo-tambo yang banyak itu ditulis dalam bahasa Melayu berbentuk prosa. Naskah Tambo Minangkabau ini sebagian besar ditulis dengan huruf Arab-Melayu, dan sebagian kecil ditulis dengan huruf latin. Naskah Tambo Minangkabau yang berhasil diketemukan sebanyak 47 naskah, masing-masing tersimpan di museum Nasional Jakarta sebanyak 10 naskah, di perpustakaan Universitas Leiden sebanyak 31 naskah, di perpustakaan KITLV Leiden Belanda sebanyak 3 naskah, di perpustakaan SOAS Universitas London 1 naskah, dan di perpustakaan RAS London 2 naskah.

Ada delapan saduran cerita Tambo Minangkabau yaitu:

Tujuan Penulisan Tambo

Secara umum dapat dikemukakan bahwa fungsi utama cerita Tambo Minangkabau adalah untuk menyatukan pandangan orang Minangkabau terhadap asal usul nenek moyang, adat, dan negeri Minangkabau. Hal ini dimaksudkan untuk mempersatukan masyarakat Minangkabau dalam satu kesatuan. Mereka merasa bersatu karena seketurununan, seadat dan senegeri.

A.A Navis seorang Budayawan Minang mengatakan Kisah tambo yang dipusakai turun-menurun secara lisan oleh orang Minangkabau hanya mengisahkan waktu dan peristiwa secara samar-samar, campur baur, bahkan ditambahi dengan bumbu yang kedongeng-dongengan. Adalah wajar bila kisah tambo itu mengandung berbagai versi karena tambo itu yang diceritakan oleh pencerita sesuai dengan keperluan atau kehendak pendengarnya.

Subjektivitas dan Falsafah Minang Dalam Penulisan Tambo

Terlepas dari kesamaran objektivitas historis dari Tambo tersebut namun Tambo berisikan pandangan orang Minang terhadap dirinya sendiri. Sebagaimana dikatakan oleh Navis, peristiwa sejarah yang berabad-abad lamanya dialami suku bangsa Minangkabau dengan getir tampaknya tidaklah melenyapkan falsafah kebudayaan mereka. Mungkin kegetiran itu yang menjadikan mereka sebagai suku bangsa yang ulet serta berwatak khas. Mungkin kegetiran itu yang menjadi motivasi mereka untuk menghapus sejarah masa silam dengan menciptakan tambo yang kedongeng-dongengan, disamping alasan kehendak falsafah mereka sendiri yang tidak sesuai dengan dengan falsafah kerajaan yang menguasainya. Mungkin kegetiran hidup dibawah raja-raja asing yang saling berebut tahta dengan cara yang onar itu telah lebih memperkuat keyakinan suku bangsa itu akan rasa persamaan dan kebersamaan sesamanya dengan memperkukuh sikap untuk mempertahankan ajaran falsafah mereka yang kemudian mereka namakan adat. Read the rest of this entry »

Pengantar

Kaba Sutan Pangaduan disebut juga Kaba Malin Dewa Nan Gombang Patuanan. Salah satu dari 4 Kaba Tareh yang tergolong Tareh Runuik. Tareh Runuik merupakan tareh lanjutan yang lebih rinci, dibandingkan dengan Tareh Kudian, karena itu Tareh Runuik kemudian berkembang demikian luasnya dalam berbagai variasi kaba menjadi “cerita sejarah” yang sudah melegenda sampai saat ini. Yang disebut Tareh Runuik adalah:

  1. Kaba Cindua Mato
  2. Kaba Bongsu Pinang Sibaribuik
  3. Kaba Anggun Nan Tongga
  4. Kaba Malin Dewa Nan Gombang Patuanan (Kaba Sutan Pangaduan)

Kaba Malin Dewa Nan Gombang Patuanan versi Minangkabau yang pada zamannya sangat populer di Pariaman dan Pesisir Selatan, tidak lagi banyak yang mengenalnya, demikian juga para Tukang Rabab tidak lagi menguasai jalan ceritanya, kecuali ada pada kalangan peminat dan peneliti tertentu saja. Seperti budayawan Chairul Harun (alm) pernah membukukannya, tetapi tidak lengkap, dan Syamsuddin Udin “Kaba Gombang Patuanan : Tradisi Lisan Minangkabau, 1991.

Tokoh Tokoh Utama

  • Sutan Pangaduan, titik sentral cerita, seorang anak raja yang ibunya ditawan
  • Sutan Lembak Tuah, saudara satu ayah Sutan Pangaduan, berlainan ibu
  • Puti Sari Makah, saudara satu ayah Sutan Pangaduan, ibunya keturunan Arab
  • Rajo Unggeh Layang, raja yang menculik ibu Sutan Pangaduan
  • Puti Andam Dewi, ibunda Sutan Pangaduan yang dalam tawanan

Jalan Cerita

Kampung Dalam sepeninggal Raja

Sutan Pangaduan adalah seorang Putra Mahkota dari Raja yang berkuasa di Kampung Dalam, Pariaman. Dia memiliki 2 saudara tiri lain ibu yaitu Sutan Lembak Tuah yang ibunya seorang rakyat biasa dan Puti Sari Makah yang ibunya adalah seorang keturunan Arab. Ibunda Sutan Pangaduan sendiri adalah seorang bangsawan yang bernama Puti Andam Dewi.

Sutan Lembak Tuah lebih tua daripada Sutan Pangaduan, namun dalam hal ilmu kebatinan, kesaktian dan kebijaksanaan, Sutan Pangaduan jauh lebih unggul.

Ketika Sutan Pangaduan masih kecil, ayahnya pergi bersemayam ke Gunung Ledang. Pada saat itu ibundanya Puti Andam Dewi diculik dan ditawan oleh Rajo Unggeh Layang di sebuah bukit. Puti Andam Dewi ditawan karena menolak diperistri oleh Rajo Unggeh Layang. Rajo Unggeh Layang sendiri berkuasa di negeri Taluak Singalai Tabang Papan. Sejak saat itu, Sutan Pangaduan dipelihara dan dibesarkan oleh nenek dan kakak sepupunya (dari pihak ibu) yang seorang pendekar di Kuala Pantai Cermin. Read the rest of this entry »

Pengantar

Kaba Gadih Basanai adalah kaba yang berasal dari Pesisir Selatan dengan setting cerita di daerah Salido. Salido adalah sebuah pantai yang indah di Bandar Sepuluh, pesisir barat Sumatera. Berikut jalan cerita selengkapnya:

Jalan Cerita

Semenjak ibunya mati, tinggallah Gadih Basanai seorang diri di rumah yang besar. Tiada seorangpun mendekat-dekat ke situ yang dapat jadi kawannya dan menghilangkan kesunyian. Apa lagi dia terhitung orang berbangsa, takut orang biasa akan mendekati dia.

Sebab itu iapun dibawa pindah oleh mamaknya ke rumah isterinya di Salido. Di sanalah dia tinggal dengan mentuanya (isteri mamaknya itu) yang berbudi. Anaknya ada pula seorang lelaki, bernama Syamsudin. Kerana itu anaknya yang seorang telah jadi berdua.

Kian tahun kian besarlah Basanai, menjadi semangat rumah yang besar, permainan mata mamak dan mentua; cantik lagi jelita. Menurut adat kampong, bilamana bunga telah mulai kembang, mendekatlah kumbang hendak menyeri manisannya.

Demi setelah cukup usianya 16 tahun bertimpa cerana datang, pinangan anak sutan-sutan, orang berbangsa dalam negeri, meminta supaya Basanai suka dijadikan teman hidup. Tetapi mamaknya belum hendak menerima “kata orang,” sebab belum ada yang dapat dipandang duduk sama rendah, tegak sama tinggi dengan Basanai. Enam kali cerana datang, enam orang bujang berganti, semuanya tertolak saja. Jarang sutan akan jodohnya, jarang puteri akan tandingnya.

Tetapi lain daripada segala permintaan orang lain, ada seorang yang telah menanamkan cinta di dalam hatinya terhadap Basanai, cinta yang membukakan pengharapan di zaman yang akan datang. Cinta yang selalu tidak memperbezakan darjat. Orang itu ialah Syamsudin sendiri. Adapun Basanai tidaklah tahu bahawa saudara sepupunya itu menaruh cinta kepada dia, lain dari cinta saudara lelaki kepada saudara perempuan, kerana sejak dari kecil mereka makan sepinggan, minum semangkuk, sama di bawah naungan langit hijau, sama mandi di sebuah pancuran.

Bilamana perasaan cinta telah bersemai, tidaklah ada makhluk yang sanggup menghalanginya, sebab cinta ialah perasaan hati yang merdeka dan bebas. Sebab itu bercintalah Syamsudin sendirinya, tidak seorang pun manusia yang tahu, dan dia pun tidak berniat hendak memberitau kepada orang lain, hatta kepada ibu dan bapanya. Kerana menurut adat yang lazim di Minangkabau pada masa itu, bangsa ayah tidaklah sama dengan anak. Hanya bangsa mamak yang sama dengan bangsa kemamakkan. Sisa-sisa adat lama itupun masih ada sampai sekarang. Jadi adalah Basanai sebangsa dengan ayah Syamsudin, dan Syamsudin sebangsa dengan ibunya sendiri. Ayahnya orang jemputan, ibunya orang di bawah, “diukur tegak sama tinggi, tapi tentang bangsa dia kurang” Read the rest of this entry »

Pengertian Kaba Tareh

Kaba Tareh adalah esensi kabar atau sari berita tentang asal usul, silsilah, dan sejarah Alam Minangkabau masa lalu, yang disampaikan secara lisan oleh “ahli tutur”-nya. Kaba Tareh merupakan “sako nan disako-i” oleh seseorang yang memangku jabatan “raja” atau “penghulu adat” di Alam Minangkabau pada zamannya. Diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi dari zaman ke zaman, sampai sekarang. Kaba Tareh diterima sebagai Kaba Pusako Minangkabau.

Minangkabau mewarisi Kaba Pusako yang disebut Kaba Tareh. Kosa kata kaba berasal dari kata Arab khabar yang artinya berita, dan tareh berasal dari kata tarikh yang artinya tahap-tahap perjalanan tahun. Tetapi tareh dalam pengertian asli Minangkabau ialah “esensi”, “sari pati” atau seperti bagian “isi” dari suatu batang pohon kayu, misalnya tareh jua, tareh jilatang yakni bagian dalam atau isi batang yang keras dari pohon kayu Juar atau pohon Jelatang. Dalam Tambo Minangkabau disebutkan balai adat bertiang tareh jilatang. Artinya bangunan balai adat itu didirikan dengan menggunakan tonggak tareh jilatang.
Kedua kosa kata ini digabung menjadi khabar tarikh yang oleh nenek moyang Minangkabau diucapkan menjadi kaba tareh, artinya sari berita tentang asal usul, silsilah dan peristiwa sejarah yang terjadi pada tarikh tarikh atau periode zaman tertentu. Kaba Tareh tersebut juga mengisyaratkan sifat kaba yang kuat, yakni sari berita tentang peristiwa-peristiwa sejarah yang penting, untuk diambil hikmahnya dan digunakan sebagai tonggak atau batang silsilah dan sejarah, sebagai penegak bangunan budaya dalam kehidupan generasi Alam Minangkabau dari zaman ke zaman.

Pewarisan Kaba Tareh

Kaba Tareh ini menjadi “sako nan disako-i” di setiap korong kampuang sa-Alam Minangkabau, karena itu disebut sebgai “Sako Korong Jo Kampuang”. “Sako” adalah sebuah nilai warisan Budaya Alam Minangkabau dan dikategorikan sebagai Kaba Pusako, artinya kabar berita tentang asal-usul, silsilah dan sejarah yang dipusakai turun temurun.

Berita Sejarah dalam Kaba Tareh

Oleh karena Kaba Tareh tersebut sebagian besar adalah “berita sejarah” yang disampaikan secara tutur, turun temurun dari generasi ke generasi oleh “ahli tutur” yang disebut “Tukang Kaba” (ahli berita), maka Kaba Tareh ini merupakan karya sastra tradisi lisan yang secara teknis disampaikan dengan berbagai cara dalam berbagai kesempatan, berbentuk tutur pidato, tutur syair, pantun, gurindam atau prosa berirama dendang, diiringi alat musik seperti biola, adok, atau rabana oleh Tukang Kaba.
Cerita (sari berita) Sejarah yang dikemas dalam Kaba Tareh masa-lalu sebagai Kaba Pusako, sebenarnya merupakan induk sastra tradisi Minangkabau, ditinggalkan sebagai warisan budaya yang memiliki karakter dan corak pengungkapan khas dan spesifik.

Klasifikasi Kaba Tareh

Kaba Pusako Minangkabau secara tradisi, telah diklasifikasikan dalam tingkatan dan jenisnya yang terdiri dari empat tingkatan yakni :

pertama Tareh Batang
kedua Tareh Daulu
ketiga Tareh Kudian
keempat Tareh Runuik

Tareh Batang terdiri dari :

  1. Kaba Datuak Dingalau
  2. Kaba Sariputi
  3. Kaba Ruhun Jani
  4. Kaba Datuak Cati

Tareh Daulu terdiri dari :

  1. Kaba Parapatieh
  2. Kaba Indojalito
  3. Kaba Talago Undang
  4. Kaba Taruih Mato

Tareh Kudian terdiri dari :

  1. Kaba Bukik Siguntang-guntang
  2. Kaba Ameh Urai
  3. Kaba Batang Hari
  4. Kaba Indang Bumi

Tareh Runuik terdiri dari :

  1. Kaba Cindua Mato
  2. Kaba Bongsu Pinang Sibaribuik
  3. Kaba Anggun Nan Tongga
  4. Kaba Malin Dewa Nan Gombang Patuanan (Kaba Sutan Pangaduan)

Read the rest of this entry »

Kaba Anggun Nan Tongga adalah sebuah cerita atau kaba yang populer di lingkungan masyarakat Minangkabau. Di daerah-daerah berbahasa Melayu cerita ini dikenal dengan nama Hikayat Anggun Cik Tunggal.

Kaba ini bercerita tentang petualangan dan kisah cinta antara Anggun Nan Tongga dan kekasihnya Gondan Gondoriah. Anggun Nan Tongga berlayar meninggalkan kampung halamannya di Kampung Dalam, Pariaman. Ia hendak mencari tiga orang pamannya yang lama tidak kembali dari merantau. Sewaktu hendak berangkat Gondan Gondoriah meminta agar Nan Tongga membawa pulang 120 buah benda dan hewan langka dan ajaib.

Meskipun pada awalnya dikisahkan secara lisan beberapa versi kaba ini sudah dicatat dan dibukukan. Salah satunya yang digubah Ambas Mahkota, diterbitkan pertama kali tahun 1960 di Bukittinggi.

Jalan Cerita

Di jorong Kampung Dalam, Pariaman hiduplah seorang pemuda bernama Anggun Nan Tongga, yang juga dipanggil Magek Jabang dan bergelar Magek Durahman. Ibunya Ganto Sani wafat tak lama setelah melahirkan Nan Tongga, sedangkan ayahnya pergi bertarak ke Gunung Ledang.Ia diasuh saudara perempuan ibunya yang bernama Suto Suri. Sejak kecil Nan Tongga sudah dijodohkan dengan Putri Gondan Gondoriah, anak mamaknya. Anggun Nan Tongga tumbuh menjadi pemuda tampan dan cerdas. Ia mahir berkuda, silat, dan pandai mengaji Quran serta dalam ilmu agamanya.

Pada suatu hari terdengar kabar bahwa di Sungai Garinggiang Nangkodoh Baha membuka gelanggang untuk mencari suami bagi adiknya, Intan Korong. Nan Tongga minta izin pada Mandeh Suto Suri untuk ikut serta. Pada awalnya Mandeh Suto Suri tidak setuju, karena Nan Tongga sudah bertunangan dengan Gondan Gondoriah. namun akhirnya ia mengalah.

Di gelanggang Nan Tongga berhasil mengalahkan Nangkodo Baha pada tiap permainan: menyabung ayam, menembak maupun catur. Berang dan malu karena kekalahannya Nangkodoh Baha mengejek Nan Tongga karena membiarkan ketiga mamaknya ditawan bajak laut di pulau Binuang Sati. Mendengar kabar ini Nan Tongga pulang dengan hati sedih.

Nan Tongga bertekad untuk merantau mencari mamak-mamaknya: Mangkudun Sati, Nangkodoh Rajo dan Katik Intan. Sebelum pergi ia minta izin pada Mandeh Suto Suri dan tunangannya Puti Gondan Gondoriah. Gondoriah meminta Nan Tongga membawakannya benda-benda dan hewan-hewan langka sebanyak 120 buah. Beberapa di antaranya adalah seekor burung nuri yang bisa berbicara, beruk yang pandai bermain kecapi, kain cindai yang ‘tak basah oleh air, berjambul suto kuning, dikembang selebar alam, dilipat sebesar kuku, disimpan dalam telur burung’.

Nan Tongga berangkat berlayar dengan kapal bernama Dandang Panjang, ditemani pembantu setianya Bujang Salamat. Read the rest of this entry »

Kaba Cindua Mato adalah cerita rakyat, berbentuk kaba, dari Minangkabau. Kaba ini mengisahkan petualangan tokoh utamanya, Cindua Mato, dalam membela kebenaran. Kaba Cindua Mato menggambarkan keadaan ideal Kerajaan Pagaruyung menurut pandangan orang Minangkabau.

Edisi cetak tertua kaba ini adalah yang dicatat oleh van der Toorn, Tjindur Mato, Minangkabausch-Maleische Legende. Edisi ini hanya memuat sepertiga saja dari manuskrip asli yang tebalnya 500 halaman. Pada 1904 Datuk Garang menerbitkan edisi lengkap kaba ini di Semenanjung Malaya, dalam aksara Jawi. Edisi ini mirip dengan versi van der Toorn.

Edisi Datuk Garang didasarkan pada manuskrip milik keluarga seorang Tuanku Laras di daerah Minangkabau timur.

Tokoh Tokoh Utama

  • Bundo Kanduang adalah ratu asli, yang diciptakan bersamaan dengan alam ini. Ia merupakan ibu dari Raja Alam, Dang Tuanku, yang dilahirkannya setelah ia meminum air kelapa gading.
  • Dang Tuanku adalah Raja Pagaruyung, putra Bundo Kanduang. Dia ditunangkan dengan Puti Bungsu, sepupunya, anak dari pamannya Rajo Mudo, yang berkuasa di Sikalawi.
  • Cindua Mato seperti Dang Tuanku terlahir setelah ibunya, Kembang Bendahari, meminum air kelapa gading. Karena itu dia juga dapat dipandang sebagai saudara Dang Tuanku.
  • Imbang Jayo adalah raja Sungai Ngiang, rantau Minangkabau sebelah Timur. Dia berusaha merebut Puti Bungsu, yang sudah ditunangkan dengan Dang Tuanku, dengan menyebarkan desas-desus bahwa raja Pagaruyung tersebut menderita penyakit.
  • Tiang Bungkuak adalah ayah Imbang Jayo yang sakti dan kebal. Namun pada akhirnya Cindua Mato menemukan kelemahannya.

Jalan Cerita

Pada zaman dahulu kala hiduplah seorang ratu bernama Bundo Kanduang, yang konon diciptakan bersamaan dengan alam semesta ini (samo tajadi jo alamko). Dia adalah timpalan Raja Rum, Raja Tiongkok dan Raja dari Laut. Suatu hari Bundo Kanduang menyuruh Kembang Bendahari, seorang dayangnya yang setia, untuk membangunkan putranya Dang Tuanku, yang sedang tidur di anjungan istana. Kembang Bendahari menolak, karena Dang Tuanku adalah Raja Alam, orang yang sakti. Bundo Kanduang lalu membangunkan sendiri Dang Tuanku, dan berkata bahwa Bendahara sedang mengadakan gelanggang di nagarinya Sungai Tarab, untuk memilih suami buat putrinya. Karena gelanggang tersebut akan dikunjungi banyak pangeran, marah dan sutan, dan putra-putra orang-orang terpandang, Dang Tuanku dan Cindua Mato seharusnya ikut serta di dalamnya. Bundo Kanduang memerintahkan Dang Tuanku untuk menanyakan apakah Bendahara akan menerima Cindua Mato sebagai suami dari putrinya, Puti Lenggo Geni. Setelah menerima pengajaran tentang adat Minangkabau dari Bundo Kanduang, Dang Tuanku, Cindua Mato dan para pengiringnya berangkat ke Sungai Tarab.

Di Sungai Tarab mereka disambut oleh Bendahara. Dang Tuanku bertanya apakah Bendahara bersedia menerima Cindua Mato yang “bodoh dan miskin” sebagai menantunya. Sebenarnya Cindua Mato adalah calon menantu ideal, dan karena itu lamaran tersebut diterima. Dang Tuanku kemudian berbincang-bincang dengan Bendahara, yang merupakan ahli adat di dalam Basa Ampek Balai, membahas adat Minangkabau dan apakah telah terjadi perubahan dari adat nenek moyang. Menurut Bendahara prinsip-prinsip yang diwariskan dari perumus adat Datuk Ketemanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sebatang tetap tak berubah.

Sementara itu Cindua Mato mendengar pergunjingan di pasar bahwa Puti Bungsu, tunangan Dang Tuanku, akan dinikahkan dengan Imbang Jayo, Raja Sungai Ngiang, sebuah negeri di rantau timur Minangkabau. Read the rest of this entry »

Translate to

Masukkan email anda dan klik Berlangganan.
Anda akan dikirimi email untuk setiap artikel yang tayang.

Join 142 other followers

Categories

Visitor Location

Marawa

Blog Stats

  • 717,914 hits
%d bloggers like this: