You are currently browsing the category archive for the ‘Interpretasi’ category.

Setelah sebelumnya menemukan kemiripan antara motif ukiran Minangkabau dengan motif ukiran kuno Gandhara dan ukiran Yunani kuno, saya melanjutkan penelusuran ke Negeri Champa. Dan persis seperti dugaan saya, dari peninggalan-peninggalan sejarah Bangsa Champa saya lagi-lagi menemukan keterkaitan dengan Minangkabau yaitu dalam bentuk kemiripan ukiran yang dipahat di dinding candi-candi di Champa terutama di komplek percandian My Son, dengan ukiran yang bisa kita temukan di dinding Rumah Gadang. Cara mereka mengukir pun sama dengan yang dilakukan seniman ukir Minangkabau, yaitu dengan memotong ukiran-ukiran tersebut dalam bentuk batu bata yang terpisah untuk kemudian disatukan. Persis seperti sambungan papan-papan ukiran di Rumah Gadang. Uniknya lagi, ukiran-ukiran atau pahatan-pahatan yang ditemukan pada peninggalan Bangsa Champa ini juga merupakan bentuk turunan dari ukiran Yunani Kuno dan Gandhara. Dari sini kita bisa melihat perjalanan sejarah ukiran tersebut, mulai dari Yunani kemudian ke Gandhara, berlanjut ke Negeri Champa dan pada akhirnya ditemukan di Minangkabau, di pedalaman Sumatera.

Pahatan di Candi Myson

Jadi sampai saat ini saya sudah menginventarisir 4 keterkaitan antara Negeri Champa dengan Minangkabau, yaitu:

  • Sistem Konfederasi Kota yang mirip dengan Nagari di Minangkabau atau Mini Republik di Yunani Kuno dan Gandhara.
  • Sistem Matrilineal yang masih diamalkan oleh masyarakat Minangkabau sampai saat ini.
  • Simbol Harimau Campa yang juga menjadi simbol budaya pada masyarakat Champa
  • Motif Ukiran dan Pahatan yang mirip dengan Ukiran Minangkabau.

Belum termasuk soal Hikayat Suku Jambak yang memang belum jelas sumbernya dan kesamaan nama Kerajaan Inderapura dengan nama ibukota Champa di puncak kejayaannya.

Motif Kuciang Lalok jo Saik Galamai

Jika kita membuang unsur siku-siku saik galamai dalam motif ukiran di bawah, maka akan ditemukan kemiripan unsur dengan pahatan pada candi myson yang ada di Champa. Unsur bunga segi empat ini disebut bungo cino dalam ukiran Minangkabau.

Potongan Ukiran di Myson

Motif Kuciang Lalok jo Saik Galamai

Saik Galamai

Ukia ragam kuciang lalok

Salo manyalo saik galamai

Latak di pucuak dindiang hari

Disingok di ujuang paran

Parannyo ulua mangulampai

Asanyo di Gudam Balai janggo

Di dalam Koto Pagaruyuang

Ukiran Rajo Tigo Selo

Read the rest of this entry »

Banyak yang menilai kurangnya bukti sejarah dalam bentuk prasasti dan naskah, khususnya yang dibuat sebelum abad ke-19 adalah sebuah permasalahan serius dalam menelusuri sejarah Minangkabau. Namun beberapa bait pantun di bawah ini mungkin bisa menjadi anak kunci yang akan membuka kotak pandora yang bernama Minangkabau tersebut.

Baburu babi ka batu balang

Mandapek buluah jo rotan

Guru mati kitab lah hilang

Sasek ka sia ditanyokan

 

Nan sakapa alah diambiak urang

Nan sapinjik tingga diawak

Walau dibalun sabalun kuku

Jikok dikambang saleba alam

Walau sagadang bijo labu

Bumi jo langik ado didalam

 

Sabarih bapantang lupo

Satitiak bapantang hilang

Sungguahpun habih coreang di batu

Di limbago talukih juo

Latiak-latiak tabang ka pinang

Singgah manyasok bungo rayo

Aia satitiak dalam pinang

Sinan bamain ikan rayo

Warisan Budaya Tak Benda

Dan memang pada kenyataannya, para pemangku dan ahli-ahli adat di Minangkabau tidak merisaukan ketiadaan prasasti dan naskah-naskah ini. Naskah-naskah hanya populer di kalangan agama, tersebar pada surau-surau di pelosok Alam Minangkabau. Kalangan adat sendiri baru mulai akrab dengan naskah dan penulisan pasca masuknya Belanda ke Minangkabau semasa Perang Paderi. Sedikit demi sedikit tambo, pantun dan mamangan adat mulai disalin dalam aksara Arab Melayu, dimana sebelumnya hanya diwariskan dalam tradisi lisan.Tambo Alam Minangkabau yang ditulis oleh Datuak Sangguno Diradjo merupakan salah satu tonggak sejarah dimulainya era tulisan untuk hal-hal yang selama ini menjadi warisan budaya tak benda masyarakat Minangkabau.

Seperti yang tersirat dalam bait-bait pantun di atas. Para penyusun Adat Minangkabau sepertinya memang dengan sengaja mewariskan sejarah, aturan adat, filosofi dan budaya dalam bentuk warisan tak benda. Mayoritas ditransfer dalam bentuk pantun-pantun adat yang sarat dengan kiasan dan simbol dimana untuk benar-benar memahaminya butuh waktu dan perenungan dan juga butuh guru dan latihan.

Selain warisan tak benda yang berupa pantun-pantun yang menyimpan esensi dan kristalisasi adat Minangkabau, ada juga hal yang kasat mata namun tetap menyimpan simbol-simbol yang bagaikan tulisan hieroglyph di dinding piramida. Diantaranya adalah Ukiran Minangkabau dan Carano.

Dalam rangkaian tulisan yang ditulis oleh Emral Djamal Dt. Rajo Mudo, diterangkan bahwa dalam Carano itu tersimpan esensi adat Minangkabau. Ternyata isi carano, seperti sirih pinang, dan lainnya itu mengandung makna simbolik yang harus dipahami secara tasurek, tasirek, tasuruak dalam pengertian mandata, mandaki, manurun, dan malereang. Read the rest of this entry »

Benarkah Kerajaan Pagaruyung adalah pewaris dari Kerajaan Malayapura? Benarkah Kerajaan Malayapura berintegrasi dengan sistem aristokrasi Koto Piliang dalam lembaga Rajo Tigo Selo?

Sepeninggal Adityawarman yang wafat pada 1375, belum ditemukan bukti yang memadai untuk mengetahui siapa pengganti dari Adityawarman. Terdapat ”bagian yang hilang“ dalam penulisan sejarah Kerajaan Pagaruyung. Bagian tersebut berada di antara masa pemerintahan Adityawarman (1347-1376) dan masa pemerintahan Sultan Alif Khalifatullah (Sultan pertama yang memeluk agama Islam) yang naik tahta sekitar tahun 1560 M. Sedikit informasi yang berhasil ditemukan, menyatakan bahwa ada kemungkinan pengganti Adityawarman adalah Ananggawarman yang merupakan putera dari Adityawarman (M.D. Mansoer et.al., 1970:64-65). Nama ini muncul dan dipahat dalam Prasasti Saruaso II. Ananggawarman inilah yang ditahbiskan pada 1376 untuk menduduki posisi raja menggantikan ayahnya, Adityawarman yang telah  meninggal (M.D. Mansoer et.al., 1970:64-65).

Namun tiba-tiba muncul pengkaitan ini dalam Tambo Pagaruyung yang diterbitkan tahun 1970. Tambo ini memuat silsilah sebagai berikut:

  1. Raja Adityawarman
  2. Raja Ananggawarman
  3. Raja Vijayawarman
  4. Daulat Yang DiPertuan Sultan Bakilap Alam Sultan Alif 1 Yamtuan Raja Bagewang
  5. Daulat Yang DiPertuan Sultan Siput Aladin
  6. Daulat Yang DiPertuan Sultan Ahmad Syah Yamtuan Raja Barandangan
  7. Daulat Yang DiPertuan Sultan Alif ll Yamtuan Khalif
  8. Daulat Yang DiPertuan Sultan Bagagar Alamsyah Yamtuan Raja Lembang Alam.
  9. Daulat Yang DiPertuan Sultan Alam Muningsyah l Yamtuan Raja Bawang.
  10. Daulat Yang DiPertuan Malenggang Alam Yamtuan Rajo Naro.
  11. Daulat Yang DiPertuan Sultan Alam Muningsyah ll Yang DiPertuan Sultan Abdul Fatah Yamtuan Sultan Abdul Jalil l.
  12. Daulat Yang DiPertuan Sultan Tangkal Alam Bagagarsyah Yamtuan Hitam.
  13. Daulat Yang DiPertuan Sultan Abdul Jalil ll Yang DiPertuan Garang Yang DiPertuan Sultan Abdul Jalil.
  14. Daulat Yang DiPertuan Puti Reno Sumpu Yang DiPertuan Berbulu Lidah.

Limbago Rajo Nan Tigo Selo, Basa Ampek Balai dan Langgam Nan Tujuah adalah warisan dari Lareh Koto Piliang, ciptaan Datuak Katumanggungan. Sedangkan Malayapura yang didirikan Adityawarman adalah penerus dari Dharmasraya yang sama sekali tidak terkait dengan sistem aristokrasi Koto Piliang. Read the rest of this entry »

Harimau Campa Dalam Tambo

Harimau Campa adalah nama seorang tokoh yang disebut-sebut di dalam Tambo Alam Minangkabau. Bersama-sama Kucing Siam, Kambing Hutan dan Anjing Mualim, mereka berempat adalah para pengiring Ninik Sri Maharaja Diraja dan rombongan. Mereka semua adalah para pendekar yang di kemudian hari menjadi orang-orang pertama pendiri cikal bakal Silek Minang. Mereka juga dipercaya sebagai leluhur orang-orang di Luhak Nan Tigo.

Harimau Campa menjadi leluhur orang Luhak Agam, Kucing Siam menjadi leluhur orang Canduang Lasi Tuo, Kambing Hutan menjadi leluhur orang luhak Limopuluah sedangkan Anjing Mualim berkelana di sepanjang Bukit Barisan. Luhak Tanah Datar sendiri dipenuhi oleh anak keturunan Ninik Sri Maharaja Diraja. Setidaknya begitulah menurut Tambo Alam Minangkabau. Soal keturunan ini kemudian diabadikan dalam warna bendera Luhak Nan Tigo yang kemudian kita kenal sebagai marawa.

Kalau kita perhatikan nama-nama tokoh diatas, ada hal menarik yang tersirat darinya, khususnya Harimau Campa. Bernama Harimau Campa, tentulah berasal dari Negeri Champa. Logikanya tentu negeri ini telah ada dan masyhur sebelum nenek moyang orang Minangkabau mendarat di Sumatera.

Sekilas Negeri Champa

Dari catatan sejarah Cina, Kerajaan Champa berdiri pada tahun 192 M yang pada masa itu disebut Lin Yi. Pada tahun 543 Champa menyerang Dai Viet (Bangsa Vietnam) di Utara, namun gagal. Kerajaan Champa mencapai puncak kegemilangannya pada abad ketujuh hingga abad kesepuluh Masehi, untuk kemudian menurun karena perpecahan dalam negeri dan serangan-serangan yang agresif dari Bangsa Khmer, Bangsa Vietnam dan Bangsa Cina.

Jika saja Harimau Campa dalam tambo ini hidup pada masa awal kejayaan Kerajaan Champa tentulah kita bisa berasumsi bahwa kedatangan nenek moyang orang Minangkabau haruslah setelah tahun 192 M, atau diperkirakan sekitar tahun 400-500 M.

Kucing Siam Dalam Tambo

Namun ada hal yang mengganggu jika logika yang sama diterapkan pada tokoh Kucing Siam yang berasal dari Siam. Istilah Siam sendiri baru populer setelah berdirinya Kerajaan Sukhothai (1238 M) dan Kerajaan Ayutthaya (1351 M) sebagai cikal bakal Kerajaan Siam. Episode sejarah ini tentu paralel dengan periode Dharmasraya dan Malayapura di Sumatera. Pada saat ini tentu Champa sudah mulai menurun pengaruhnya walaupun masih bisa disebut jaya, karena pada tahun 1471 M, Bangsa Vietnam memulai invasinya terhadap Champa. Jadi kalau ditarik sebuah kompromi maka tahun kedatangan nenek moyang orang Minangkabau haruslah setelah 1238 M. Kecuali kita menemukan data bahwa istilah Siam sudah populer pada abad ketujuh Masehi, pada saat awal kejayaan Kerajaan Champa.

Tafsiran Lain Mengenai Harimau Campa

Akan tetapi sesuai hakikat Tambo, bahwa tujuan penulisannya adalah untuk menyatukan pandangan orang Minangkabau mengenai sejarah dan asal-usul mereka, maka bisa saja pengarang Tambo memasukkan nama kedua tokoh ini (dan tokoh-tokoh lain) untuk mewakili kelompok-kelompok masyarakat yang membentuk Minangkabau yang terdiri dari bermacam-macam daerah asal. Dari Hikayat Suku Jambak kita juga menemukan cerita ini, dimana Suku Jambak mengaku sebagai suku yang datang kemudian, seketurunan dengan Suku Sikumbang. Read the rest of this entry »

Tambo dalam arti yang sebenarnya adalah cerita sejarah negeri Minangkabau. Tambo-tambo lama Minangkabau didapati hampir di tiap-tiap nagari di Minangkabau yang ditulis dengan tangan dan memakai aksara Arab. Tambo-tambo tersebut sangat dimuliakan orang, bahkan adakalanya dipandang sebagai pusaka keramat. Sehingga yang memegangnya adalah kepala suku atau orang yang akan mengantikan kepala suku itu. Tidak sembarang orang yang boleh membaca, bahkan untuk membacanya harus didahului upacara khusus.

  Lukisan Marapi dilihat dari Danau Singkarak

Beberapa Saduran Naskah Tambo

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dr. Edwar Djamaris, tambo-tambo yang banyak itu ditulis dalam bahasa Melayu berbentuk prosa. Naskah Tambo Minangkabau ini sebagian besar ditulis dengan huruf Arab-Melayu, dan sebagian kecil ditulis dengan huruf latin. Naskah Tambo Minangkabau yang berhasil diketemukan sebanyak 47 naskah, masing-masing tersimpan di museum Nasional Jakarta sebanyak 10 naskah, di perpustakaan Universitas Leiden sebanyak 31 naskah, di perpustakaan KITLV Leiden Belanda sebanyak 3 naskah, di perpustakaan SOAS Universitas London 1 naskah, dan di perpustakaan RAS London 2 naskah.

Ada delapan saduran cerita Tambo Minangkabau yaitu:

Tujuan Penulisan Tambo

Secara umum dapat dikemukakan bahwa fungsi utama cerita Tambo Minangkabau adalah untuk menyatukan pandangan orang Minangkabau terhadap asal usul nenek moyang, adat, dan negeri Minangkabau. Hal ini dimaksudkan untuk mempersatukan masyarakat Minangkabau dalam satu kesatuan. Mereka merasa bersatu karena seketurununan, seadat dan senegeri.

A.A Navis seorang Budayawan Minang mengatakan Kisah tambo yang dipusakai turun-menurun secara lisan oleh orang Minangkabau hanya mengisahkan waktu dan peristiwa secara samar-samar, campur baur, bahkan ditambahi dengan bumbu yang kedongeng-dongengan. Adalah wajar bila kisah tambo itu mengandung berbagai versi karena tambo itu yang diceritakan oleh pencerita sesuai dengan keperluan atau kehendak pendengarnya.

Subjektivitas dan Falsafah Minang Dalam Penulisan Tambo

Terlepas dari kesamaran objektivitas historis dari Tambo tersebut namun Tambo berisikan pandangan orang Minang terhadap dirinya sendiri. Sebagaimana dikatakan oleh Navis, peristiwa sejarah yang berabad-abad lamanya dialami suku bangsa Minangkabau dengan getir tampaknya tidaklah melenyapkan falsafah kebudayaan mereka. Mungkin kegetiran itu yang menjadikan mereka sebagai suku bangsa yang ulet serta berwatak khas. Mungkin kegetiran itu yang menjadi motivasi mereka untuk menghapus sejarah masa silam dengan menciptakan tambo yang kedongeng-dongengan, disamping alasan kehendak falsafah mereka sendiri yang tidak sesuai dengan dengan falsafah kerajaan yang menguasainya. Mungkin kegetiran hidup dibawah raja-raja asing yang saling berebut tahta dengan cara yang onar itu telah lebih memperkuat keyakinan suku bangsa itu akan rasa persamaan dan kebersamaan sesamanya dengan memperkukuh sikap untuk mempertahankan ajaran falsafah mereka yang kemudian mereka namakan adat. Read the rest of this entry »

  • 327 SM     : akhir penaklukan Iskandar Zulkarnain ke Dunia Timur
  • 322 SM     : berdirinya Mauryan Empire (Buddha, Ashoka)
  • 300 SM     : berdirinya Chola Empire di India Selatan, runtuh tahun 1279
  • 264 SM     : Perang Kalingga, Mauryan (Ashoka) menggempur Kalingga
  • 260 SM     : mulainya pengembangan agama Buddha secara besar-besaran s/d 218 SM
  • 256 SM     : berdirinya Greco Bactrian Kingdom di Gandhara
  • 200 SM     : berdirinya Indo-Scythian Kingdom (Aryan), runtuh pada 400
  • 180 SM     : berdirinya Indo-Greeks Kingdom di Gandhara
  • 162 SM     : Greco Bactrian Kingdom diinvasi oleh suku Yue Zhi dari Tibet
  • 125 SM     : akhir kejayaan Greco Bactrian Kingdom
  • 10            : akhir kejayaan Indo-Greeks Kingdom
  • 30           : berdirinya Kerajaan Kushan (Yue Zhi), runtuh tahun 375
  • 183          : akhir kejayaan Mauryan Empire
  • 280                    : berdiri Gupta Empire, Chandragupta I (gelar Maharaja Dhiraja) naik tahta
  • 320                    : Samudragupta naik tahta
  • 345  : Samudragupta mengalahkan Hastivarman, Hastivarman hijrah ke Nusantara (Prasasti Allahabad)
  • 600  : akhir kejayaan Gupta Empire
  • 645  : Kerajaan Malayu (Minanga) mengirim utusan ke Cina (catatan Wang Pu)
  • 671  : I tsing mengunjungi Sriwijaya dalam perjalanan ke India, ia kemudian singgah pula di Malayu yang disebutkan berada di khatulistiwa (hulu Kampar)
  • 682  : Dapunta Hyang berangkat dari Minanga dgn membawa lebih 20.000 tentara (Prasasti Kedukan Bukit)
  • 685  : I tsing pulang dari India, singgah di Malayu yg telah ditaklukkan Sriwijaya
  • 686  : Sriwijaya menaklukkan Bangka, Belitung dan Lampung (Prasasti Kota Kapur)
  • 718  : Sriwijaya mengirim surat dan hadiah kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Dinasti Umayyah di Baghdad.
  • 724  : Sriwijaya mengirimkan hadiah pula kepada Kaisar Cina dari Dinasti Tang.
  • 990  : Catatan Dinasti Song menyebut Sriwijaya dengan San-fo-tsi.
  • 997  : Sriwijaya diserang oleh Raja Dharmawangsa dari Kerajaan Medang Kamulan (Prasasti Hujung Langit)
  • 1025  : Sriwijaya diserang oleh Rajendra Chola I dari Kerajaan Chola, India Selatan. Wangsa Syailendra ditaklukkan.
  • 1030  : Rajendra Chola I berkunjung juga ke Malayu yang istananya terletak di hulu Batanghari di pedalaman yang tanahnya agak tinggi. Ibukota Malayu terletak di atas bukit dan dilindungi oleh benteng-benteng (Prasasti Tanjore, ditulis Rajendra Chola I). Malayu sendiri berarti bukit dalam bahasa Sansekerta.
  • 1030        : Kunjungan Abu Raihan Muhammad ibn Ahmad Al-Biruni, ahli geografi dari Persia, Malayu disebut negeri penghasil emas yang terletak di khatulistiwa
  • 1082        : Catatan Cina menyebutkan ada utusan dari Chen Pi (Jambi), bawahan San-fo-tsi dan utusan Pa Lin Fong (Palembang) datang ke Cina. Utusan Palembang masih keluarga Rajendra Chola. Pada saat ini San-fo-tsi merujuk ke Malayu, bukan Sriwijaya lagi.
  • 1183        : Srimat Trailokyaraja Maulibhusana Warmadewa jadi raja di Dharmasraya, dengan wilayah kekuasaan sampai Thailand Selatan (Prasasti Grahi, Thailand).
  • 1225        : Wilayah Malayu (San-fo-tsi) memiliki 15 daerah bawahan (naskah Zhao Rugua)
  • 1275        : Ekspedisi Pamalayu I, Raja Singhasari yaitu Kertanegara mengirim Mahesa Anabrang ke Dharmasraya.
  • 1286        : Ekspedisi Pamalayu II, Kertanegara menghadiahkan arca Amoghapasa kepada Raja Dharmasraya yaitu Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa (Prasasti Padang Roco)
  • 1293        : Dara Jingga dan Dara Petak, dua putri Dharmasraya dikirimkan ke Singhasari
  • 1316        : Akarendrawarman (paman dari Adityawarman) naik tahta di Dharmasraya menggantikan Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa, kakek Adityawarman (Prasasti Saruaso). Prasasti Saruaso ini menggunakan 2 aksara yaitu dalam aksara Malayu Kuno dan aksara Nagari (India Selatan). Pada masa ini di daerah tersebut telah bermukim masyarakat asal India Selatan selama 300 tahun. Read the rest of this entry »

Gelapnya tabir sejarah Minangkabau pra Adityawarman barangkali dapat diungkap sedikit dengan melakukan uji radio karbon pada situs bersejarah yang diklaim dibuat pada masa-masa awal berdirinya masyarakat Minangkabau.

Setelah berakhirnya perang dunia kedua, profesor Willard Libby pakar kimia dari Universitas Chicago, AS mengembangkan pengukuran umur menggunakan unsur radiokarbon. Tahun 1960, penemuan Libby untuk menetapkan umur benda temuan arkeologi dengan pengukuran unsur radiokarbon, mendapat penghargaan Nobel untuk bidang kimia. Pada prinsipnya Libby mengamati sifat dasar alam, yakni semua tanaman dan binatang di muka Bumi pada prinsipnya tersusun dari unsur karbon. Selama masahidupnya, tanaman menyerap karbondioksida melalui proses fotosintesa. Binatang dan manusia memakan tanaman, ataupun binatang lainnya. Terjadilah rantai makanan, yang merupakan sistem transfer unsur karbon. Dalam kadar amat kecil, sebagian unsur karbon di Bumi bersifat radioaktif atau disebut radiokarbon. Struktur atom pada radiokarbon atau disebut Karbon 14 tidak stabil. Seperti pada unsur radioaktif lainnya, Karbon 14 ini juga meluruh. Pada tahun 1940-an para pakar ilmu pengetahuan berhasil mengetahui waktu paruh radiokarbon tsb, yakni 5.568 tahun. Dengan begitu, semua benda organik yang mengandung unsur radiokarbon dapat dilacak umurnya, asalkan tidak lebih tua dari 70.000 tahun. Sebab pada umur 70.000 tahun, seluruh unsur radiokarbonnya sudah habis meluruh.

Batu Batikam, sebuah monumen batu yang terpajang kokoh di Jorong Dusun Tuo, Nagari Lima Kaum, Kabupaten Tanah Datar. Batu Batikam termasuk salah satu lokasi cagar budaya yang berada dalam pengawasan Kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sumbar, Riau dan Jambi yang ber­kantor di Pagaruyung . Secara lahiriah benda cagar budaya ini merupakan sebuah bungkahan batuan (andesit), berbentuk hampir segi tiga berukuran 55 x 20 x 45 sen­timeter.

Komplek Batu Batikam menurut tambo adat menye­butkan, bahwa di sanalah nagari pertama terbentuk sesudah Pariangan sebagai Nagari Tuo, dibangun oleh Cati Bilang Pandai dengan anaknya Datuak Parpatiaah nan Sa­batang, berikut dengan empat Koto lainnya yaitu Balai Labuah, Balai Batu, Kubu Rajo dan Kampai Piliang, kelima Koto ini hingga se­karang disebut sebagai Lima Kaum.

Batu Batikam ini berlobang akibat ditikam oleh Datuak Parpatiah nan Sabatang sebagai pertanda Sumpah Satiah (setia) pengukuhan perdamaian, untuk mengakhiri perselisihan paham dalam hal pemakaian sistim pemerintahan adat Koto Pi­liang yang dicetuskan oleh Datuak Katumanggungan dengan sistim pemerintahan Budi Caniago yang dipimpin oleh Datuak Parpatiah nan Sabatang.

Juga dituturkan, Datuak Katumanggungan juga meni­kam sebuah batu dengan keris­nya, ditempatkan di Sungai Tarab VIII Batu (Bungo Sa­tangkai-Bulakan Sungai Kayu Batarok) sebagai pusat pe­me­rin­tahan Koto Piliang dengan pucuk adatnya Datuak Bandaro Putiah.

Selain Batu Batikam masih ada situs “purba” seperti Balai Nan Saruang dan Balai Nan Panjang. Lebih luas lagi Uji Radio Karbon C-14 tentu bisa diterapkan juga pada bangunan-bangunan di Nagari Pariangan dan Nagari Sungai Tarab yang di dalam tambo disebutkan sebagai nagari-nagari tertua.

Jika kita merujuk pada tambo, Datuak Katumanggungan disebut sebagai anak atau cucu dari Ninik Sri Maharajo Dirajo. Maka dengan ditemukannya umur Batu Batikam yang merupakan karya cipta dari kedua datuak, maka dapat diperkirakan dengan eksak kapan sebenarnya cerita pendaratan di puncak Gunung Marapi itu terjadi.  Paling lama adalah sekitar 200 tahun sebelumnya.

Jika pengujian ini benar-benar ada yang mau melakukannya (dan sudah tentu akan banyak yang menentang dengan alasan kesakralan) dan jika ditemukan angka sekitar tahun 500 M sebagai saat batu tersebut ditikam. Maka ada sedikit fakta menarik yang datang 200 tahun sebelumnya, yaitu pada tahun 345 M.

Dalam prasasti Allahabad (345 M) India, “Kerajaan Samudragupta telah mengalahkan Raja Hastiwarman dari keluarga Calakayana dan mengalahkan Raja Wisnugopa dari keluarga Pallawa”.  Pada tahun 270 saka (348 Masehi) seorang Maharsi dari keluarga Calakayana hijrah ke pulau-pulau sebelah selatan India bersama para pengikutnya yang terdiri dari penggiring, tentara, dan penduduknya melarikan diri dari musuhnya Samudragupta.

Mungkinkah Raja Hastiwarman ini adalah Ninik Sri Maharaja Diraja? Bisa saja. Tapi jangan pula buru-buru tertawa dengan cerita mendarat di Gunung Marapi ini. Kita semua tentu faham bahwa faktanya Gunung Marapi ini tidak pernah ada di tepi laut, hanya Gunung Krakatau saja di barat Nusantara ini yang muncul dari dalam laut. Bahkan justru pada masa dahulu itu, laut lebih rendah dari masa sekarang (terutama pada zaman es dimana Sumatera, Jawa dan Kalimantan bersatu dalam Anak Benua Dangkalan Sunda).

Kaum yang datang dari India tersebut adalah penganut Hindu. Dalam konsepsi Hindu ada yang dinamakan Gunung Meru tempat tinggal para dewa (hyang). Gunung Meru ini terletak di tengah 7 lautan di benua Jambu Dwipa. Ketika mereka eksodus dari India, mereka akan merekonstruksi kembali tempat-tempat tersebut untuk tujuan keagamaan. Gunung Meru dalam konsepsi ini juga terletak di antara 6 gunung (3 di utara dan 3 di selatan).

Gunung Marapi di tengah Pulau Sumatera adalah kandidat kuat sebagai Gunung Meru yang baru (bahkan nama Marapi berkemungkinan diturunkan dari kata Meru dalam Bahasa Sansekerta). Karena itulah mereka berbondong-bondong mendekati Gunung Marapi untuk memuja para dewa, dan sangat lazim jika nama nagari yang mereka dirikan adalah Pariangan atau Par Hyangan (tempat dewa-dewa). Beberapa saat kemudian mereka pun mendirikan Kerajaan Jambu Dwipa (Jambu Lipo) untuk memperkuat konsepsi keagamaan tersebut.

Jadi tantangan kita selanjutnya adalah menginventarisasi nama-nama tempat atau gelar yang ada di Minangkabau yang diturunkan dari Bahasa Sansekerta. Dari sini kita baru bisa mencari-cari berita dari India atau tempat lain yang kira-kira memberi petunjuk selanjutnya.

Sumber:

http://www.minangforum.com/Thread-BATU-BATIKAM-TETAP-DIMINATI

http://www.kelas-mikrokontrol.com/jurnal/iptek/bagian-2/metode-pelacak-umur-radiokarbon.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Meru

Dalam tulisan sebelumnya yang berjudul Warisan Ukiran dari Gandhara, saya telah menyajikan sebuah hipotesa tentang keterkaitan antara kebudayaan hellenisme yang berkembang di Gandhara pada sekitar awal abad Masehi dengan kebudayaan yang berkembang di Minangkabau. Objek yang menjadi aspek penelitian saya diantaranya adalah kesamaan antara motif ukiran Minangkabau dengan motif ukiran bergaya hellas yang berkembang di Gandhara. Selain itu sistem pemerintahan yang berlaku di Minangkabau juga memiliki kemiripan dengan sistem ketatanegaraan Yunani kuno, yaitu berbentuk konfederasi nagari yang mirip dengan polis-polis.

Penemuan-penemuan tersebut membawa saya lebih lanjut untuk menelusuri kemiripan-kemiripan ini, utamanya tentang motif ukiran Minangkabau. Saya menelusuri informasi tentang motif-motif ukiran Yunani kuno dan menemukan satu jenis motif dengan kemiripan hampir 80% dengan motif Siriah Gadang yang ada dalam khazanah motif ukiran Minangkabau. Berikut adalah perbandingan kedua motif ukiran:

ancient-greek-architectur-7(a) Ancient Greek Carving (Honeysuckle Carving)

Siriah Gadang(b) Motif ukiran Minangkabau : Siriah Gadang

Siriah gadang siriah balingka
Kuniang sacoreng diatehnyo
Baaleh batadah tampan
Hulu adat kapalo baso
Pangka kato hulu bicaro
Panyingkok peti bunian
Pambukak biliak nan dalam

Susunan dari Pariangan
Buatan Parpatiah Nan Sabatang

Tidan nan turun dari ateh
Balingka jo mufakat balingka jo limbago
Jadi pusako alam nangko Read the rest of this entry »

Kepercayaan tentang asal usul yang berakar jauh dari Pulau Sumatera ternyata tidak hanya di dominasi oleh masyarakat Minangkabau.  Setidaknya ada 6 suku bangsa lain yang mengaku berasal dari daerah yang jauh di luar Pulau Sumatera, yaitu masyarakat Kuantan di Inderagiri Riau, masyarakat Kerinci, etnis Karo (khususnya Marga Sembiring), masyarakat Barus di pantai barat Sumatera Utara, etnis Pakpak dan etnis Mandailing di Sumatera Utara.

Masyarakat Kuantan Lubuk Jambi

Masyarakat Kuantan dan masyarakat Kerinci bahkan mewarisi mitos yang sama atau mirip dengan masyarakat Minangkabau, yang diturunkan masing-masing dalam Tambo Lubuk Jambi dan Tambo Alam Kerinci. Kedua tambo mempertautkan asal-usul masyarakatnya dengan kebesaran nama Iskandar Zulkarnain, sama seperti yang tercantum dalam Tambo Alam Minangkabau. Yang berbeda adalah pada fasal siapa pendiri kebudayaan dan pencipta aturan adat untuk masing-masing masyarakat.

Masyarakat Kuantan percaya bahwa putra Iskandar Zulkarnain yaitu Maharaja Diraja sesampainya di Pulau Emas Sumatera,  mendarat di Bukit Bakar di hulu Inderagiri yaitu di pinggir Batang Kuantan lalu mendirikan Kerajaan Kandis dengan istana bernama Istana Dhamna. Menurut orang Lubuk Kuantan, tokoh legendaris masyarakat Minangkabau yaitu Datuk Perpatih Nan Sabatang dan Datuk Katumanggungan hanyalah patih dan pangeran tumenggung dari Kerajaan Koto Alang, sebuah kerajaan sempalan di bagian hulu Batang Kuantan yang akhirnya diserang oleh Kerajaan Kandis yang lebih besar. Patih dan Tumenggung ini lari ke Gunung Marapi sedangkan rajanya lari ke Jambi yaitu ke muara Batanghari.

Dalam versi masyarakat Minangkabau, Maharaja Diraja mendarat langsung di puncak Gunung Marapi setelah mengarungi lautan cukup lama. Maharaja Diraja kemudian mendirikan nagari tertua di Minangkabau yaitu nagari Pariangan di lereng sebelah selatan Gunung Marapi.

Masyarakat Kerinci

Setali tiga uang, masyarakat Kerinci juga mengaku bertautan kepada Maharaja Diraja, bedanya mereka sepakat dengan cerita soal “turun dari puncak gunung Marapi”. Masyarakat Kerinci hanya membuat cabang cerita sendiri dengan menyebutkan bahwa nenek moyangnya yaitu Indarbayang, berlayar langsung dari Gunung Marapi ke Gunung Kerinci, namun karena medan yang berat kapal yang membawanya akhirnya berlabuh di Gunung Jelatang. Tokoh Datuk Perpatih Nan Sebatang juga dikenal dalam Tambo Alam Kerinci. Sebagai catatan, sebenarnya wilayah Kerinci ini sudah memiliki peradaban yang sangat tua yang dikembangkan oleh masyarakat Proto Melayu dengan kebudayaan megalitikumnya. Kerinci merupakan salah satu dari empat daerah di Sumatera yang telah mengenal aksara. Aksara yang berkembang di Kerinci dinamakan Aksara Incung. Tiga wilayah lain yang memiliki aksara di Sumatera adalah Batak, Rejang dan Lampung.

Imigran Imigran dari India

Hasil penelitian saya yang saya tuangkan dalam sebuah hipotesa menemukan bahwa Kebudayaan Minangkabau memiliki pertalian dengan Kebudayaan Hellenisme yang berkembang di India setelah penaklukan daerah lembah Sungai Indus oleh Alexander Agung. Salah satu jejak yang menguatkan pendapat saya itu adalah ditemukannya kemiripan nyaris 90% dari salah satu motif ukiran Minangkabau dengan salah satu motif ukiran yang berkembang di wilayah Gandhara. Motif berbentuk gulungan daun anggur ini merupakan motif yang sudah ada sejak zaman Yunani kuno. Selain itu nama-nama nenek moyang orang Minangkabau dalam Tambo juga identik dengan nama-nama khas India. Contohnya adalah Maharaja Diraja, Indra Jelita dan Cateri Bilang Pandai. Read the rest of this entry »

Lumuik Hanyuik adalah salah satu motif ukiran Minangkabau yang diturunkan dari motif  Gandara Scrolls, sebuah warisan budaya yang telah ikut mencatat perjalanan sejarah masyarakat Minangkabau. Dalam khazanah kebudayaan Minangkabau, sebuah motif ukiran bukan hanya sebuah hasil budaya berkesenian yang tanpa makna. Ada sebuah filosofi di balik hasil karya itu, ada latar belakang sejarah yang disimpan didalamnya.

lumut hanyut

Motif ukiran Lumuik Hanyuik

Syair berikut ini menggambarkan latar filosofi dari motif Lumuik Hanyuik :


Aka lapuak gagangnyo lapuak
Hiduik nan indak mamiliah tampek
Asa lai lambah, inyo lah tumbuah
Dalam aia bagagang juo

Aia hilia lumuik pun hilia
Walau tasalek di ruang batu
Baguba babondong-bondong
Aia bapasang lumuik bapiuah
Namun hiduik bapantang mati

Baitu untuangnyo lumuik
Indak mancari tampek diam
Hanyo manompang jo aia hilia
Indak mamiliah tampek tumbuah
Asa kasampai ka muaro
Usah cameh badan kahanyuik

Baguru kito kalumuik
Alam takambang jadi guru
Lahianyo lumuik nan disabuik
Bathinnyo Adat Minangkabau

Dilariak di papan tapi
Ukiran rumah nan di lua
Gambaran adat hiasan alam
Pusako salamonyo

Demikianlah, sebuah motif ukiran dengan gamblang menceritakan perjalanan sejarah orang-orang yang mendirikan Kebudayaan Minangkabau. Entah darimana mereka datang, entah sudah berapa daerah yang mereka lalui, entah sudah berapa lautan yang mereka seberangi dan entah sudah berapa pegunungan yang mereka daki.

Filosofi motif  ini telah menjelaskan tentang fenomena merantau yang sangat legendaris di kalangan orang Minangkabau bahkan lebih jauh lagi sebelum istilah Minangkabau itu ada. Filosofi motif ini secara nyata merekam aktifitas-aktifitas diaspora yang terjadi ratusan bahkan ribuan tahun lalu. Ia mengisyaratkan episode-episode sejarah yang panjang yang penuh dengan perjuangan dan cerita-cerita eksodus, cerita-cerita penaklukan, cerita-cerita penyingkiran, cerita-cerita petualangan dan cerita-cerita pembangunan peradaban. Episode-episode ini sejatinya banyak dan berulang-ulang dalam suatu kurun waktu yang panjang. Namun pada hakikatnya ia kembali mengulangi dan merepetisi pola-pola yang sama, yaitu : datang, berkembang, jaya, berkuasa kemudian ditaklukkan, berperang, lari, bertualang dan sekali lagi mengulangi cerita yang sama di daerah baru.

Pola-pola ini selalu berulang sejak zaman hellenisme yang dikenang dengan mitos keturunan Iskandar Zulkarnain itu sampai dengan peristiwa PRRI yang memilukan itu. Pola-pola ini selalu berulang melintasi dimensi ruang yang melewati India, Champa, daerah aliran sungai besar di Riau dan Jambi, Luhak Nan Tigo, Rantau Pesisir, kembali lagi ke daerah aliran sungai tempat asal tadi (namun kali ini menyebutnya sebagai rantau karena telah ditaklukkan kembali), menyebar pula ke sepanjang pantai barat Sumatera dan Semenanjung Malaya dan terus sampai ke ujung-ujung dunia. Pola yang sama telah melintasi waktu yang teramat panjang dari abad ke-3 SM sampai saat ini.

Begitulah orang Minangkabau sejak zaman dahulu kala, kurang lebih seperti lumut (ganggang) sungai yang hanyut. Akarnya lapuk gagangnya lapuk (terlepas dari akar sejarah kegemilangan), hidup tidak memilih tempat, air hilir lumut pun hilir (mengikuti peradaban yang berkembang pada masanya). Lahirnya lumut yang disebut, batinnya Adat Minangkabau.

Sumber:

http://zulfikri.orgfree.com/ukiran06.html

Translate to

Masukkan email anda dan klik Berlangganan.
Anda akan dikirimi email untuk setiap artikel yang tayang.

Join 142 other followers

Categories

Visitor Location

Marawa

Blog Stats

  • 708,673 hits
%d bloggers like this: