You are currently browsing the monthly archive for January 2012.

Pada kurun waktu berikutnya seperti ditulis Rusli Amran, (Padang Riwayatmu Dulu), masyarakat Bayang dan sekitarnya diserang Portugis. Bangsa Portugis mendarat di pantai Salido (waktu itu merupakan sebuah desa pantai bagian dari negeri Bayang) pada tahun 1516, sekitar lima tahun setelah Malaka diduduki Portugis pada bulan Agustus 1511 (sementara Padang dimasuki Portugis pada th 1561).

Mula-mula orang Rupik Portugis yang mengganas di Pesisir menjalin hubungan akrab / mengadakan kontrak politik dengan seorang yang mengaku “ahli waris” kerajaan Minangkabau. Dengan bantuan Portugis yang berkedudukan di Malaka “ahli waris” itu berhasil merebut Pagaruyung dan mengangkat dirinya sebagai Raja Minangkabau. Pada saat itulah datang pemimpin Portugis yang merebut Malaka ke Pagaruyung, dengan dikawal banyak pasukan yang tidak lain adalah perompak-perompak bayaran Portugis sendiri.

Pimpinan antek-antek Portugis itu adalah Dewang Palokamo Pamowano dari sehiliran Batang Hari yang merebut takhta dari Dewang Sari Deowano, Raja Alam Minangkabau. Untuk menguasai Minangkabau Portugis mengerahkan para perompak bajak laut yang digajinya, dan budak-budak yang ditawannya dari berbagai bangsa, baik dari bangsa Eropid, Affrika, Keling India, sampai kepada bangsa sendiri yang digajinya. Sementara tentara Portugis itu sendiri tidak seberapa jumlahnya.

Inilah yang kemudian dicatat dalam kias Tambo Alam Sungai Pagu sebagai Sitatok Sita rahan, Si Anja, si Paihan yang hidup dalam gua-gua. Mereka adalah orang bayaran Rupik yang naik dari hilir Batang Hari dengan target sebagian menuju pusat Minangkabau, menguasai Paga ruyung dan sebagian lagi merampas wilayah pantai Pesisir Barat Sumatera Barat.

Karena banyaknya yang menyerang secara mendadak maka dengan mudah Pagaruyung dapat dikuasai. Namun raja itu tidak lama berkuasa, lebih kurang selama 10 tahun kemudian tumbang, dan raja yang dahulu kembali menaiki takhta. Raja yang kembali bertakhta ini ayah kandung Dewang Sari Megowano. Baginda menolak kerjasama dengan orang Rupik. Oleh karenanya orang Rupik semakin mengganas di Pesisir.

Kisah Putri Aceh dan Rumah Gadang Yang Hilang

Adalah Baginda Dewang Sari Deowano yang mempunyai permaisuri Tuan Puti Rani Dewi (ibu kandung Dewang Sari Megowano) mengambil putri dari Aceh sebagai istrinya yang kedua. Baginda ini dalam pesta pernikahan di Aceh, banyak memberi hadiah kepada pembesar dan masyarakat di Aceh. Karena harta benda yang dibawa sudah habis, dipinjamlah mas kawin yang sudah diserahkan kepada sang istri yakni Putri Kemala (Tuan Puti Gumalo). Karena emas kawin itu sudah diserahkan kepada Baitul Mal Kesultanan Aceh, maka kepada Baitul Mal itulah dilakukan peminjaman. Raja berjanji akan membayar begitu sampai di Pagaruyung. Tetapi apa, dan bagaimana pelaksanaannya ?

Baginda mungkin karena lupa, tak kunjung membayarnya. Ketika Putri Kumalo (Guma lo) menyerahkan surat tagihannya dari Baitul Mal, raja merasa tersinggung. Terjadi perteng karan, yang mengakibatkan diceraikannya Putri Keumala oleh Baginda. Sang Putri meninggal kan istana dan pergi ke Luak Agam. Di Koto Gadang (Luak Agam) Sang Putri tinggal dengan be berapa orang pengiringnya dan mengajar wanita-wanita disini menyulam menerawang. Sultan Aceh amat marah. Lantas utusan di kirim menjeput Putri Keumala. Setelah putri itu sampai di ibu kota Kerajaan Aceh, pasukan Aceh pun bergerak dan menguasai Bandar Muar dan Pariaman. Di Bandar Muar ditempatkan seorang “Teuku” sebagai Khalifah Sulthan, atau pengganti atau wakil Sultan. Sejak waktu itu Bandar Muar dikenal dengan nama Bandar Kha lifah. Namun lebih populer dengan nama “Kampuang Teuku” dan bagi penduduk disebut “kam puang Tiku”. Itulah asal-usul nama “Tiku”.

Dari sini dikerahkan pasukan untuk merebut ibu kota Pagaruyung. Namun cepat dicegah oleh Pamuncak Alam Kerajaan Minangkabau Dewang Ranggowano (anak dari Raja Dewang Ramowano dengan Puti Reno Salendang Cayo). Dewang Ranggowano juga menjadi Raja Sungai Tarab dengan gelar Datuak Bandaharo Putieh yang sekaligus juga menjadi Pucuek Bulek Urek Tunggang Kelarasan Koto Piliang. Read the rest of this entry »

Advertisements

Menurut Tambo Alam Sungai Pagu, yang dimaksud dengan negeri Alam Surambi Sungai Pagu adalah Dua Rantau-nya. Pertama, Rantau Si Kija Batang Gumanti Sungai Abu Batang Hari, merupakan cancang latiah Niniak Nan Kurang Aso Anam Puluah (59). Kedua, Banda Nan Sapuluah cancang latiah niniak nan kurang aso anam puluah, turun dari Sungai Pagu terus jalan dari Kambang,  wilayah ninik nan kurang aso anam puluah, kalang hulunya Salido, tumpuannyo Air Haji. Maksudnya batasnya dari Salido sebelah utara dan sampai Air Haji yang berbatasan dengan Indrapura di Selatan.

 Secara Adat daerah ini merupakan cancang latiah ninik nan kurang aso anam puluah, dimana penduduknya adalah anak kemenakan sapiah balahan : jajak nan tatukiak, unjut nan tabantang,  sarawan tali pukek,  jauah ka tangah manjadi wilayah ninik nan kurang aso anam puluah. Dipakai gelar pusako di Sungai Pagu oleh segala sapiah balahan di Bandar Nan Sapuluah itu. Dengan demikian apabila hendak mengetahui siapa sapiah balahannya, sepanjang adat maka ketahui sajalah gelar pusako adat yang dipakainya.

Tetapi jauh sebelumnya, menurut tutur orang tua tua tidaklah demikian. Karena sejak ber mukimnya Urang Darek di Pesisir sampai permulaan abad ke 16 M daerah yang dikenal sekarang sebagai bagian dari Kabupaten Pesisir Selatan, adalah sebuah jajaran kawasan yang sama yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Orang-tua tua dari darek Minangkabau menyebut penduduk kawasan itu sebagai Urang Baruah. Kosakata baruah  artinya hilir, ke hilir berarti ke baruah. Negeri-negeri sepanjang jalur Pesisir Selatan mulai dari batas kota Padang, yakni dari Sibingkeh Tarusan, Bayang, Salido, Painan, Batang Kapeh, Surantih, Kambang, Amping Parak, Balai Selasa, Air Haji, Indrapura, Tapan, Lunang, Silaut dan Muko-Muko disebut baruah. Pai ka Baruah, berarti pergi ke Rantau Hilir yang sekarang bernama Pesisir Selatan. Urang Baruah berarti orang / penduduk asli  Pesisir Selatan sekarang.

Tetapi dalam sejarah tradisi (historiografi tradisional), arti baruah juga  merujuk kepada kawasan yang disebut sebagai Nagari-nagari Sahiliran Batang Barus, (nama asli Batang Air Tarusan adalah Batang Barus) yakni nagari-nagari Koto Sabaleh Tarusan sekarang. Dari Teluk Kabung sampai ke batas Indrapura (sampai Muko-Muko) disebut “Koto Sabaleh – Banda Sapuluah”. “Koto Sabaleh Tarusan”, merupakan wilayah Rantau Kubuang Tigo Baleh (Guguak) , dan “Banda Sapuluah” merupakan wilayah Rantau Sungai Pagu. Antara Koto Sabaleh dengan Banda Sapuluah sebenarnya ada kawasan yang berdiri sendiri yang disebut “Bayang Nan Tujuah Koto Salapan”, juga merupakan wilayah Rantau Kubung Tigo Baleh, yakni dari Koto Nan Tigo : Kinari, Koto Anau, dan Muaro Paneh.

Dalam perjalanan sejarahnya kemudian sebagian nagari Bayang dilepaskan menjadi nagari penyangga, yakni Salido yang dahulunya bernama Kualo Bungo Pasang, merupakan pertemuan dua rantau, yaitu Rantau Kubuang Tigo Baleh dengan Rantau Sungai Pagu. Raja pertama Salido adalah dari Sungai Pagu. Atas kesepakatan bersama antara Raja /Sultan Indrapura, Raja / Penghulu-Penghulu Bayang dan Raja Tarusan, sesuai dengan situasi dan kondisi politik masa itu, Salido diserahkan kepada Kompeni Belanda sementara rajanya tetap dari Sungai Pagu. Sejak itu Salido disebut “Selidah Persuarangan”

 Jauh sebelum itu, ada delapan bandar dari Banda Sapuluah merupakan wilayah dua raja, masing-masing Raja Taluak Sinyalai Tambang Papan dengan kedudukan raja di Kualo Sungai Nyalo. Ditambah satu perkampungan di  hulu sungai, yakni Galanggang Kasai. Hingga menjadi sebelas. Sedangkan yang sepuluh berada di tepi pantai. Kesepuluh bandar di pelabuhan itu dari selatan ke utara adalah :

1.      Kualo Bungo Pasang,

2.      Taluak Tampuruang Pinang Balirik,

3.      Taluak Sinyalai Tambang Papan,

4.      Kualo Sungai Nyalo,

5.      Taluak Maracu Indo,

6.      Kualo Indocito,

7.      Kualo Banda Nyiua Condong,

8.      Pulau Mayang Manggi,

9.      Taluak Jambu Aia, dan

10.  Labuahan Cino.

Keseluruhannya terbentang dari Salido sampai Teluk Kabung sekarang. Dua Bandar masing-masing Kualo Bungo Pasang dan Taluak Tampuruang Pinang Balirik merupakan kera jaan tersendiri. Dan kesepuluhnya merupakan “koto” menjadi sebelas dengan Galanggang Kasai yang terletak di bagian hulu Sungai Batang Barus.

Galanggang Kasai merupakan kedudukan kedua dari Rajo Mudo, satu dari tiga raja yang bersemayam di Rawang Hitam pinggang Gunung Selasih (gunung Talang) kira-kira permulaan abad ke 12 M. Kesepuluh Bandar bersama Galanggang Kasai merupakan Koto Sabaleh yang utuh.  Tetapi itu hanya dulu,  sampai pada abad ke 16 M Koto Sebelas merupakan kawasan yang sama (tidak termasuk Kualo Bungo Pasang dan Pinang Balirik) terdiri dari :

1.      Taratak

2.      Sungai Lundang

3.      Siguntur

4.      Barung Barung Balantai

5.      Koto Pulai

6.      Dusun jo Duku

7.      Nanggalo

8.      Batuhampar

9.      Kapuah Sungai Talang

10.  Sungai Sungai Pinang.

Perubahan ini terjadi lagi pada tahun 1854. Dalam perjalanan sejarah pembentukan nagari di Tarusan, kemudian pada tahun 1915 muncul kenagarian, yakni :

1.      Siguntur

2.      Barung-barung Balantai

3.      Duku termasuk Dusun

4.      Batuhampar

5.      Nanggalo

6.      Kapuah Sungai Talang

7.      Ampang Pulai dan

8.      Sungai Pinang.

Banda Sapuluah Rantau Sungai Pagu 

Urang Darek yang datang dari Sungai Pagu mendirikan sepuluh bandar pula di tepi pantai. Ketika Banda Sapuluah di utara tenggelam, maka sepuluh bandar di selatan inilah yang masyhur dengan nama Banda Sapuluah. Jajaran Banda Sapuluah inilah kemudian merupakan kawasan Rantau Sungai Pagu, bahkan Read the rest of this entry »

Translate to

Masukkan email anda dan klik Berlangganan.
Anda akan dikirimi email untuk setiap artikel yang tayang.

Join 141 other followers

Categories

Visitor Location

Marawa

Blog Stats

  • 732,406 hits
%d bloggers like this: