You are currently browsing the monthly archive for November 2011.

Secara geneologis, penduduk yang sekarang ini mendiami Nagari Punggasan khususnya dan daerah Kab. Pesisir Selatan bagian selatan kecuali Indopuro umumnya berasal dari Alam Surambi Sungai Pagu di Kab. Solok. Arus perpindahan penduduk tersebut dilakukan menembus bukit barisan dan menurun di hamparan dataran luas yang berbatas dengan pantai barat Sumatera Barat bagian selatan yang dulunya dikenal dengan sebutan Pasisia Banda Sapuluah.

Menurut cerita yang berkembang ditengah-tengah masyarakat, bahwa yang menemukan dan mempelopori perpindahan penduduk dari Alam Surambi sungai Pagu ke Nagari Punggasan adalah “Inyiak Dubalang Pak Labah”. Beliau adalah seorang Dubalang / Keamanan dalam salah satu suku di Alam Surambi Sungai Pagu yang suka berpetualang mencari daerah-daerah baru.

Berdasarkan kesepakatan rapat Ninik Mamak Alam Surambi Sungai Pagu, dikirimlah rombongan untuk meninjau wilayah temuan Dubalang Pak Labah. Sesampai di bukit Sikai perjalanan tim peninjau diteruskan kearah hilir melalui bukit Kayu Arang, tempat yang ditandai oleh Dubalang Pak Labah dengan membakar sebatang kayu. Ketika malam datang, rombongan beristirahat di bawah sebatang kayu lagan kecil dan daerah tempat beristirahat tersebut kemudian diberi nama “Lagan Ketek” . Kesokan harinya perjalanan dilanjutkan dan bertemu dengan sebatang kayu lagan yang besar. Daerah tersebut kemudian dinamakan “Lagan Gadang”. Rombongan meneruskan perjalanan sampai kesebuah padang yang banyak ditumbuhi oleh kayu dikek. Dari situ mereka melihat juga sebatang pohon embacang, sehingga kedua tempat tersebut dinamai “Kampung Padang Dikek” dan “Kampung Ambacang”. Perpindahan penduduk dari Alam Surambi Sungai Pagu, terbagi atas dua rombongan besar, dimana rombongan pertama berangkat lebih dulu. Read the rest of this entry »

Advertisements

Suku yang pertama menempati Cupak adalah Suku Malayu dan Suku Sikumbang yang datang dari Luhak Tanah Datar. Awalnya mereka bermukim di Sawah XIV, di selatan nagari Koto Baru sekarang. Dari Sawah XIV mereka terus menyebar ke Sawah Laweh dan Air Angek Gadang. Terus berlanjut hingga Tanjung Limau Purut. Disinilah akhirnya mereka mendirikan kerajaan Tanjung Limau Purut. Raja mereka bergelar Tuanku Rajo Disambah, kalau tidak salah gelar ini sama dengan gelar raja di Sungai Pagu.

Kerajaan ini sezaman dengan kerajaan Pariangan, di Padang Panjang. Yang diangkat sebagai raja adalah dari suku Malayu. Mungkin karena mereka mayoritas diantara suku-suku yang ada.

Seorang raja didampingi oleh pembesar yang jumlahnya empat orang yang disebut sebagai Gadang nan Barampek (pembesar yang berempat) yaitu :

  1. Rajo Tuo (Malayu)
  2. Rajo Bandaro
  3. Rajo Bagindo (Malayu)
  4. Rajo Padang (Sikumbang).

  Read the rest of this entry »

Kecamatan  Sapuluah Koto Singkarak


Nagari Sumani

Orang  Sumani menceritakan bahwa asal usul nama Sumani adalah dari kata “sumua (si) ani:. Si ani ada salah seorang diantara leluhur mereka. Dalam cerita mereka juga ada kisah pembangkangan 13 orang ninik mamak. Tapi anehnya yang mengusir 13 ninik mamak itu adalah 2 tokoh pendiri Adat Minangkabau sendiri (Datuak Katumanggungan dan Datuak Parpatiah Nan Sabatang). Apa mungkin? Tidak disebutkan kapan pengusiran itu terjadi. Suku2 yang mendiami Sumani: Koto, Malayu, Guci, Mandaliko, Sumagek dan Balai Mansiang.

Nagari Saniang Baka

Ada leluhur namanya si saniang. Setelah penatakan si saniang melakukan pembakaran kayu2 yang telah mengering. Asapnya mengepul ke angkasa dan terlihat oleh orang di daerah perbukitan spt paninjauan. Maka dikatakan orang bhw si saniang sudah membakar. Maka akrablah terdengar si saniang mambaka disingkat menjadi saniang baka. Penatakan dalam rangka membentuk taratak. 8 orang tokoh yang turun ke negeri ini berasal dari pariangan padang panjang. Suku yang mendiami : Koto, Piliang, Sikumbang, Sumpadang (Supadang?), Balai Mansiang, Dan Sumagek.

 

Nagari Singkarak

Menurut cerita dulu Singkarak mempunyai seorang raja yang dijuluki sebagai Raja Singkarak. Sebagian mengatakan bhw nama singkarak berasal dari baban jawi nan baserak dikarenakan gerobaknya rusak. Tapi menurut saya ini sangat jauh panggang dari api. 3 orang leluhur mereka datang dari Nagari Aripan, 3 orang lagi dari Cinangkik dan Sumpur (keduanya mungkin di Tanah Datar). Kemudian datang 7 orang lagi. Awalnya 13 leluhur dan kaumnya itu menetap di Koto Tuo. Kemudian turun ke singkarak. Singkarak terdiri dari 5 dusun : Gajah, Dalimo, Lapau Pulau, Tampunik, Lembang, Alam Indah dan Alam Permai.

Suku yang mendiami : Piliang (Sani, Batu Karang, Guguak), Tanjuang, Tanjuang Sumpadang (Jadi Sumpadang malakok ke Suku Tanjuang), Tanjuang Batingkah (ada2 saja?).

Nagari Tanjuang Alai

Menurut cerita Tanjuang Alai artinya tanjuang aa-lai (tanjuang apa lagi) setelah banyak tanjuang sebelumnya ampalu, bingkuang, balik, dan sibarundu. Daerah yang mula2 didiami adalah Kapalo Koto—daerah pesantren Habibi.

  Read the rest of this entry »

Pendahuluan

Tulisan ini merupakan Tambo perbilangan uraian adat monografi Nagari Bayang yang diuraikan dalam Kerapatan Adat Bayang Nan Tujuah Koto dan Kerapatan Adat Koto Nan Salapan

Nagari Bayang Nan Tujuah Koto dan Nagari Koto Nan Salapan

Pada tanggal 18 sampai 25 Mei 1915 telah bersidang kerapatan adat Nagari Bayang Nan Tujuh Koto dan Nagari Koto Nan Salapan, yang dipimpin oleh Pucuk Bulek Urek Tunggang nagari itu. Kedua kerapatan ini adalah atas perintah kepala pemerintah di painan, Asisten Residen Kepala Demang Painan, Si Musa Ibrahim yang disampaikan pada Asisten Demang Bayang, Sutan Tahar Baharuddin dan Kepala Tarumun, Gulai Datuk Maharajo Sutan, bekas guru pensiunan yang berasal dari Kinari dan diterima oleh pimpinan kerapatan adat Bayang Nan Tujuh Koto, Datuk Setia, penghulu pucuk bulek urek tunggang Bayang Nan Tujuh Koto dan kepala pimpinan kerapatan adat Koto Nan Salapan, Datuk Bagindo Sutan Basa, ganti penghulu Pucuk Bulek Urek Tunggang atau rajo di pulut-pulut dan kedua kerapatan ini dihadiri oleh anggota-anggota kerapatan dan orang tua-tua serta penghulu-penghulu yang tertua dan orang yang punya pangkat sepanjang adat, turunannya orang empat jenis dalam Nagari Bayang Nan Tujuh Koto dan Koto Nan Salapan. Turut hadir Demang Painan dan Asisten Demang Bayang dan guru-guru tarumun Datuk Maharajo Sutan.

Kedua kerapatan ini dimulai pada jam yang telah ditentukan untuk membicarakan kabarnya perintah :

  1. Sidang pertama diadakan pada tanggal 18 sampai 20 mei 1915 di balai panjang Koto Berapak di bawah beringin nan tigo batang. Sidang ini dihadiri oleh anggota kerapatan adat bayang nan tujuh koto sampai ke kapak rembai dan kandungannya, sampai ke amban (ambun) puruik yang dipimpin oleh datuk setia. Membicarakan tentang adapt monografi Bayang Nan Tujuah Koto sampai ke kapak rembai dan kandungannya
  2. Sidang kedua diadakan pada tanggal 20 sampai 22 mei 1915 di Pulut-pulut bertempat di persinggahan, di pulut-pulut sampai ke taratak nan tigo dan koto nan tigo, dipimpin oleh datuk bagindo sutan basa, rajo di Pulut-pulut.

Sesudah kerapatan ini dibicarakan lebih lanjut dan menyelidiki serta meneliti secara mendalam dan menelusuri lebih jauh maka kedua persidangan ini (menghasilkan) keputusan dengan pendapat bersama sebagai berikut :

Keterangan

Sebagaimana keterangan yang diperdapat yang dikumpulkan dalam kedua persidangan ini menurut sepanjang waris yang dijawat, pusaka nan ditolong dari ninik mereka yang terdahulu dari penduduknya dan orang yang berpangkat sepanjang adapt, berasal dari nagari Kubuang Tigo Baleh atau koto nan tigo di darek yaitu :

  1. Kinari
  2. Muaro Paneh
  3. Koto Anau

Mula Ninik Turun ke Bayang

Menurut sepanjang waris nan dijawat pusaka yang ditolong, dari ninik mereka yang terdahulu atau kata yang diterima dari orang tua dan penghulu-penghulu yang tertua di nagari Bayang Nan Tujuah Koto ini, sejarahnya adalah sebagai berikut : Read the rest of this entry »

Nama Mande Rubiah dan Bundo kanduang menjadi panutan bagi sebagian besar masyarakat Minang, mande Rubiah atau Bundo Kanduang menjadi teladan dalam bersikap dan bertingkah laku dalam kehidupan sehari-hari. Istilah mande berasal dari sebuah profil seorang ibu yang ramah, pengasih, penyayang (sifat rabb yang menjadi rububiyah).

Bundo Kanduang dalam Kaba Cindua Mato

Mande Rubiah dan Bundo Kanduang sebenarnya adalah dua nama untuk satu orang. Bundo Kanduang adalah nama ketika berada di Pagaruyung, sedangkan Mande Rubiah merupakan nama setelah kembali kekampung asal, yaitu Lunang (hulu Indopuro). Maka perlu kita meninjau kembali kutipan dari Teks Hikayat Tuanku Nan Muda Pagaruyung, yang dikenal dengan kaba Cindua Mato, sebuah cerita klasik bernuansa sejarah kerajaan Pagaruyung di dalam Alam Minangkabau beberapa abad yang lalu.

Ketika sutan Rumandung yang bergelar Dang Tuangku, masih berumur 5 tahun dan Cindua Mato berumur 4 tahun 2 bulan, Basa Ampek Balai mengadakan pertemuan besar dibukit gombak, pada pertemuan ini, secara bulat dimufakati untuk mengangkat Romandung sebagai pemimpin Anjung Rajo Alam. Karena Romandung masih kecil maka dimufakati pula untuk mengangkat Kambang Daro Marani sebagai pelaksana tugas sehari-hari dari pimpinan Anjung Rajo Alam dengan gelar penghormatan Bundo Kanduang.

Masa ini pula dikenal dengan masa kejayaan kerajaan Pagaruyung, karena masyarakatnya hidup dengan makmur dan damai. Islampun telah menjadi panutan bagi masyarakat kalangan dalam istana.

Suatu hari di istana Pagaruyung, Setelah Dang Tuangku menginjak usia dewasa, Bundo Kandung memberi petuah tentang seluk-beluk pemerintahan, hukum, undang-undang, adat istiadat, serta pandangan hidup sebagai orang Minangkabau kepada Dang Tuanku, putra tunggalnya. Saat ini pula Dang Tuangku diangkat sepenuh untuk duduk di singasana menjadi pimpinan Anjung Rajo Alam yang bergelar Tuangku Syah Alam. Oleh Bundo Kandung, Dang Tuanku kemudian diperintahkan menghadiri gelanggang yang diadakan oleh Datuk Bandaro di Sungai Tarab dengan membawa serta Cindua Mato, anak Kambang Bandoari, untuk ditunangkan dengan Puti Lenggo Geni, putri Datuk Bandaro. Read the rest of this entry »

Pendahuluan

Di dalam makalahnya Periodisasi Sejarah Minangkabau yang disampaikan pada Seminar Sejarah dan Kebudayaan Minangkabau pada bulan Agustus 1970, Amrin Imran mengemukakan bahwa keadaan sesungguhnya mengenai Kerajaan Minangkabau atau Pagaruyung masih tetap merupakan tabir yang tak dapat ditembus. Hal ini, menurut Imran, disebabkan bahan-bahan mengenai sejarah Minangkabau masih jauh dari lengkap.

Pada tahun 2002, makalah Amrin tersebut, bersama sebelas kertas kerja lainnya untuk seminar yang sama, dengan diberi kata pengantar oleh H. Kamardi Rais Dt. P. Simulie dan catatan pengantar oleh Dr. Mestika Zed, M.A., kemudian diterbitkan dalam bentuk bunga rampai dengan judul Menelusuri Sejarah Minangkabau oleh Yayasan Citra Budaya Indonesia dan LKAAM Sumatra Barat.

Berhubungan erat dengan bahan (sumber) tentang sejarah Minangkabau sebagai yang dimaksudkan oleh Amrin Imran, agaknya catatan pengantar Mestika Zed untuk buku itu patut disimak. Dalam catatan tersebut, Mestika Zed bahkan mengemukakan sejak kapan orang Minangkabau menulis sejarah mereka, tidak tersedia jawaban. Salah satu alasan, seperti yang juga sering dikemukakan oleh banyak orang, tulis Mestika, orang Minangkabau tidak mempunyai aksara tersendiri. Baru setelah Islam masuk ke Minangkabau pada abad ke-16 lah orang Minangkabau menuliskan kabar dalam aksara Jawi, atau aksara Arab Melayu, yaitu aksara asal Persia yang digunakan untuk menuliskan bahasa Melayu dan atau bahasa Minangkabau.

Tentang masa mulainya aksara Jawi digunakan orang di Minangkabau ini pun tampaknya masih dapat diperdebatkan. Sebab, sejauh yang dapat diketahui, naskah-naskah kuno (manuskrip) Minangkabau tertua, belum ada yang lebih awal dari awal abad ke-19 (Yusuf, 1994), yaitu setelah kertas Eropa, Belanda khususnya, digunakan orang di Minangkabau.

Tidak adanya sumber tertulis yang dibuat oleh orang Minangkabau, bukan berarti bahwa orang Minangkabau tidak merekam sejarah mereka. Sebab, seperti yang juga ditulis oleh Yusuf (1994), dan Mestika Zed (2002), teks-teks kuno yang hingga saat ini masih dapat ditemukan di dalam masyarakat Minangkabau, terutamanya adalah teks lisan, yaitu teks yang aslinya misalnya masih ada pada Tukang Kaba, Tukang Selawat, Tukang Hikayat, Tukang Dendang, dan para pemangku adat dalam bentuk ingatan. Read the rest of this entry »

Asal Usul Manusia Minangkabau
Kata Minangkabau mengandung banyak pengertian. Minangkabau dipahamkan sebagai sebuah kawasan budaya, di mana penduduk dan masyarakatnya menganut budaya Minangkabau. Kawasan budaya Minangkabau mempunyai daerah yang luas. Batasan untuk kawasan budaya tidak dibatasi oleh batasan sebuah propinsi. Berarti kawasan budaya Minangkabau berbeda dengan kawasan administratif Sumatera Barat. Minangkabau dipahamkan pula sebagai sebuah nama dari sebuah suku bangsa, suku Minangkabau. Mempunyai daerah sendiri, bahasa sendiri dan penduduk sendiri.

Minangkabau dipahamkan juga sebagai sebuah nama kerajaan masa lalu, Kerajaan Minangkabau yang berpusat di Pagaruyung. Sering disebut juga kerajaan Pagaruyung, yang mempunyai masa pemerintahan yang cukup lama, dan bahkan telah mengirim utusan-utusannya sampai ke negeri Cina. Banyaknya pengertian yang dikandung kata Minangkabau, maka tidak mungkin melihat Minangkabau dari satu pemahaman saja.

Membicarakan Minangkabau secara umum mendalami sebuah suku bangsa dengan latar belakang sejarah, adat, budaya, agama, dan segala aspek kehidupan masyarakatnya. Mengingat hal seperti itu, ada dua sumber yang dapat dijadikan rujukan dalam mengkaji Minangkabau, yaitu sumber dari sejarah dan sumber dari tambo. Kedua sumber ini sama penting, walaupun di sana sini, pada keduanya ditemui kelebihan dan kekurangan, namun dapat pula saling melengkapi.

Menelusuri sejarah tentang Minangkabau, sebagai satu cabang dari ilmu pengetahuan, maka mesti didasarkan bukti-bukti yang jelas dan otentik. Dapat berupa peninggalan-peninggalan masa lalu, prasasti-prasasti, batu tagak (menhir), batu bersurat, naskah-naskah dan catatan tertulis lainnya. Dalam hal ini, ternyata bukti sejarah lokal Minangkabau termasuk sedikit.

Banyak catatan dibuat oleh pemerintahan Hindia Belanda (Nederlandsche Indie), tentang Minaangkabau atau Sumatera West Kunde, yang amat memerlukan kejelian di dalam meneliti. Hal ini disebabkan, catatan-catatan dimaksud dibuat untuk kepentingan pemerintahan Belanda, atau keperluan dagang oleh Maatschappij Koningkliyke VOC.

Tambo atau uraian mengenai asal usul orang Minangkabau dan menerakan hukum-hukum adatnya, termasuk sumber yang mulai langka di wilayah Minangkabau sekarang. Sungguhpun, penelusuran tambo sulit untuk dicarikan rujukan seperti sejarah, namun Read the rest of this entry »

Data Buku

  • Judul Buku     : Tambo Alam Minangkabau
  • Pengarang     : H Datoek Toeh ( Koto Gadang, Payakumbuh)
  • Editor           : A Damhoeri
  • Penerbit        : Pustaka Indonesia, Bukittinggi
  • Tahun Terbit  : 1930-an (?), Telah dicetak 13 kali

Ringkasan Isi Tambo

Iskandar Zulkarnain  (1) dari  nagari Ruhum  mewasiatkan kepada tiga putranya untuk  berangkat menuju ke Timur. Setelah IZ wafat ketiga putra tsb  :

  • Sultan Maharaja Alif
  • Sultan Maharaja Depang
  • Sultan Maharaja Diraja

Berangkat menuju pulau Langkapuri. Dekat pulau Sailan timbul niat jahat dari  SM Alif dan SM Depang, keduanya memaksa untuk memiliki Mahkota Sanggahana (2),  ketika berebut , mahkota jatuh kelaut.  Seekor naga membelit / menjaga mahkota tsb. Cateri Bilang Pandai (3) menciptakan duplikat mahkota dengan meneropong  dan menggunakan cermin untuk melihatnya. Mahkota jadi, persis seperti aslinya. Mahkota  sudah tukang dibunuh  (4) sehingga tak bisa ditiru lagi. SM Depang terus kebenua Cina, SM Alif kembali kenegeri Rum.

SM Diraja terus ke Tenggara  menuju pulau Jawa Alkibri. Diantara pengiringnya terdapat seekor anjing Muklim, kucing Siam, kambing hutan, harimau. Kapal diutujukan ke puncak Merapi.  Ketika mendarat dipuncak gunung itu, kapal kandas.

Raja  memerintahkan perbaikan dengan sayembara : Barang siapa yang sanggup memperbaiki, akan dikawinkan dengan anaknya nanti. Kebetulan pengiring dengan nama-nama binatang itulah yang sanggup memperbaikinya. Baginda beroleh lima puteri, setelah dewasa empat diantaranya dikawinkan dengan empat ahli yang sudah memperbaiki kapal.

Dalam pada itu laut sudah menyentak surut, terjadilah daratan yang luas di kaki  gng Merapi. Dengan  kekuasaan Tuhan datanglah awan putih empat jurai. Sejurai merunduk ke luhak Agam, sejurai ke luhak Tanah Datar, sejurai keluhak Lima Puluh Kota, sejurai  ke Candung Lasi. Yang turun ke Tanah Datar ialah putera Yang  Dipertuan Sendiri. Daulat   yang pertama ialah daulat kepada Lakandibida. Itulah kemudian yang ditempati oleh Ninik mamak yang berdua Ketemanggungan dan Perpatih Nan Sebatang.

Sebelum  Dtk Ketemanggungan (DK) dan Dtk Perpatih (DP) lahir, negeri-negeri  dikuasai Dt Marajo Basa di Padang Panjang, Dt Bandaro Kayo di Pariangan Padang Panjang. Yang Dipertuan (YD) (6) memerintahkan Cateri Bilang Pandai (CBP) (7) untuk mendirikan balai rapat  ” Balai Balerong Panjang “.  YD  juga menyuruh CBP  untuk mencari tanah-tanah baru untuk kediaman rakyat.

Lalu raja itu turun ke Bumi Setangkai dengan tujuh perempuan dan kemudian delapn permpuan bersama sekelompok laki-laki.. Mereka mendiami bumi yang bernama Bunga Setangkai.  YD kembali ke Periangan Pd Panjang. YD kawin dengan Puteri Indah Jelita (PIJ), memperoleh anak laki-laki : anak tertua ini bergelar Dtk Ketemanggungan atau Sutan Maharaja Besar. Read the rest of this entry »

Rupanya tim perumus pengusulan Sultan Alam Bagagarsyah (SAB) menjadi pahlawan nasional telah membentuk tim kecil untuk penyusunan “narasi buku tentang Sultan Alam Bagagarsyah” (Padang Ekspres, 22-4-2008). Agar tidak terjadi pengulangan-pengulangan, tentu ada baiknya tim merujuk tulisan-tulisan yang ditulis orang mengenai SAB, misalnya tulisan Jafri Datuak Bandaro Lubuak Sati terbitan Sanggar Budaya Minangkabau-Negeri Sembilan, Padang (2002), artikel Sultan Serdang, Tuanku Luckman Sinar Basarshah-II, “Sejarah Sultan Alam Bagagar Shah dalam Kemelut Perang Paderi” (Waspada, 6-4-2008).

Dengan demikian tim dapat lebih berkonsentrasi kepada pencarian kepustakaan, terutama sumber pertama tentang SAB. Misalnya, apakah nama akhir SAB ditulis “Bagagarsyah” (satu kata) atau “Bagagar Shah”(seperti ditulis Tuanku Luckman Sinar). Apakah ada sketsa dirinya dibuat pelukis Belanda atau ada keterangan naratif mengenai fisiknya yang memungkinkan kita membuat sketsa wajahnya (supaya jangan sampai salah seperti yang pernah terjadi pada Pahlawan Nasional Raja Ali Haji dari Riau [Aswandi Syahri, Batam Pos, November 2004]).

Pengusulan SAB menjadi pahlawan nasional patut disambut positif. Jika Pemerintah nanti menyetujuinya, itu mungkin dapat jadi paubek hati orang Minangkabau. Gelar itu tentu dapat dijadikan semacam simbol abadi pemersatu kembali Minangkabau yang pernah tercabik Perang Paderi sekaligus siratan kepada generasi Minangkabau kini dan akan datang untuk tidak lagi mencari (-cari) ketidakcocokan antara adat Minangkabau dan Islam.

Namun, dalam mewujudkan cita-cita pengangkatan SAB menjadi pahlawan nasional, kita tentu harus cermat dan tetap berpegang pada prinsip ingek sabalun kanai, kulimek sabalun abih. Artinya, harus dikumpulkan bukti sebanyak mungkin mengenai riwayat hidup, kepribadian, dan perjuangan SAB serta posisi sosial-politiknya selama Perang Paderi sampai dibuang ke Batavia dan wafat di sana pada 1849. Agar di belakang hari tidak muncul kritikan negatif mengenai status kepahlawanan SAB, seperti yang baru-baru ini ditujukan kepada Tuanku Imam Bonjol. Read the rest of this entry »

Salah satu versi Tambo yang cukup populer namun belum diketahui siapa pengarangnya menggabungkan 4 unsur dalam alur ceritanya, yaitu:

  • Naskah asli Tambo Alam Minangkabau
  • Hikayat Sang Sapurba dari Melayu dan Sejarah Kerajaan Sriwijaya
  • Tokoh Adityawarman yang muncul dalam Prasasti Padang Roco dan beberapa Batu Basurek, serta
  • Kaba Cindua Mato (Cindua Mato dan Bundo Kanduang)

Saking ambisiusnya upaya ini, sebuah silsilah telah dipublikasikan pula berdasarkan konsep penggabungan 4 sentral cerita ini. Silsilah ini bisa diitemukan pada buku Manyigi Tambo Alam Minangkabau oleh Drs. Mid Jamal. Mari kita perhatikan isi tambo ini.

Sri Maharaja Diraja

Sri Maharaja Diraja turun sedikit ke bawah dari puncak Gunung Marapi membuat tempat di Galundi Nan Baselo. Sri Maharaja Diraja merupakan salah satu putera dari Raja Iskandar Zulkarnain, dua lainnya adalah Sri Maharaja Alif dan Sri Maharaja Dipang.

Mula-mula dibuatlah beberapa buah taratak. Taratak-taratak itu makin lama makin ramai, lalu tumbuh menjadi dusun, dan Galundi Nan Baselo menjadi ramai. Beratus-ratus tahun kemudian setelah Sri Maharaja Diraja wafat, bertebaranlah anak cucunya kemana-mana, berombongan mencari tanah-tanah baru untuk dibuka, karena air telah menyusut pula. Dalam tambo dikatakan Tatkalo bumi barambuang naiak, aia basintak turun. Terbentuk Luhak Nan Tigo, oleh keturunan Maharaja Diraja ; si Harimau Campa, Kambing Hutan, Kucing Siam dan Anjing Mualim.

Sang Sapurba

Lalu muncul tokoh, seorang raja bernama Sang Sapurba ; ia datang dari tanah Hindu; Ia mendarat di Bukit Siguntang Maha Meru dekat Palembang. Sang Sapurba adalah seorang Hindu yang beragama Hindu. Dia menyembah berhala. Lalu diadakan tempat beribadat di suatu tempat. Tempat ini sampai sekarang masih bernama Pariangan (per-Hiyang-an = tempat menyembah Hiyang / Dewa).

Pariangan semakin ramai, Sang Sapurba pindah ke tanah baru ; Batu Gedang dari tanah baru ini akhirnya lahir negeri Padang Panjang. Untuk kelancaran pemerintahan perlu diangkat orang-orang yang akan memerintah dibawah raja. Lalu bermufakatlah raja dengan orang-orang cerdik pandai, ditetapkan lah Dt. Bandaro Kayo dan Dt. Seri Maharajo di Pariangan ; Dt. Maharajo Basa dan Dt. Sutan Maharajo Basa di Padang Panjang. Dibuat Balai Adat. Itulah balai pertama yang asal sebelum bernama Minangkabau di Pariangan. Read the rest of this entry »

Translate to

Masukkan email anda dan klik Berlangganan.
Anda akan dikirimi email untuk setiap artikel yang tayang.

Join 141 other followers

Categories

Visitor Location

Marawa

Blog Stats

  • 753,674 hits
%d bloggers like this: