Jika kita mendengar istilah Koto-Piliang dan Bodi-Caniago di Minangkabau, maka ada 2 makna yang sekaligus dikandungnya, yaitu:

  • Nama Suku yaitu Suku Koto, Suku Piliang, Suku Bodi dan Suku Caniago
  • Nama Kelarasan yaitu Kelarasan Koto Piliang dan Kelarasan Bodi Caniago

Sebagian orang luar Minang akan sedikit bingung tentang perbedaan dan korelasi kedua konteks dan makna ini.

  • Sebagai suku, keempat suku di atas adalah representasi klan di Minangkabau yang diwariskan secara matrilineal. Suku akan punah jika tidak ada lagi keturunan perempuan dari suku tersebut. Suku pula yang menjadi salah satu syarat pembentukan nagari. Dalam adat disebutkan:

Nagari bakaampek suku

Dalam suku babuah paruik

Kampuang bamamak ba nan tuo

Rumah dibari batungganai

  • Sebagai kelarasan, keempat suku ini mengelompok menjadi dua kelarasan yaitu Kelarasan Koto Piliang dan Kelarasan Bodi Caniago. Posisi keempat suku dalam kelarasannya masing-masing adalah sebagai payung kelarasan.

 

Aliansi Suku-suku Dalam Kelarasan

Suku-suku diluar suku yang empat diatas akan mengelompok kedalam aliansi masing-masing kelarasan ini.

Di bawah Payung Kelarasan Koto-Piliang terdapat suku-suku:

  1. Suku Malayu
  2. Suku Tanjung
  3. Suku Sikumbang
  4. Suku Bendang
  5. Suku Guci
  6. Suku Kampai
  7. Suku Panai

Selain tujuh suku diatas berbagai suku-suku baru hasil pemekaran Koto dan Piliang secara tradisional adalah anggota Kelarasan Koto Piliang. Begitu pula halnya dengan suku-suku hasil pemekaran ketujuh suku lainnya.

Di bawah Payung Kelarasan Bodi-Caniago terdapat suku-suku:

  1. Suku Jambak
  2. Suku Pitopang
  3. Suku Payobada
  4. Suku Panyalai

Suku Bodi dan Caniago tidak banyak melakukan pemekaran suku sebagaimana suku lainnya. Sama seperti di kelarasan Koto-Piliang, secara tradisional suku-suku hasil pemekaran dari enam suku diatas juga menjadi anggota Kelarasan Bodi Caniago. Jadi dalam hal ini tampak jelas bahwa pilihan aliansi politik dimulai oleh para pendiri suku atau kaum yang mula-mula datang dalam berbagai klan tersebut, dan selanjutnya diteruskan oleh anak keturunannya secara genealogis.

Pembentukan Nagari Dalam Kelarasan

Untuk dapat membumikan kekuasaannya secara fisik di Alam Minangkabau, falsafah pemerintahan kedua kelarasan tentu tidak hanya berhenti dalam tataran ide. Ia harus wujud dalam bentuk pemerintahan sebenarnya yaitu Nagari.

Seperti disebut diatas untuk terbentuknya sebuah nagari, maka syaratnya adalah didirikan oleh minimal empat suku, tentu saja pada awal nagari tersebut berdiri suku-suku nya harus dari payung kelarasan yang sama.

Susunan masyarakat dalam Nagari dari kecil ke besar adalah sebagai berikut:

  1. Paruik, yaitu sebuah keluarga besar dari suku yang sama
  2. Jurai, yaitu perkembangan keluarga besar seiring bertambahnya populasi
  3. Suku, perkembangan selanjutnya dari jurai yang dapat tinggal menyebar dalam nagari.
  4. Kampung, yaitu kelompok rumah gadang yang didirikan oleh orang sesuku, misal Kampung Jambak, Kampung Bendang.

Sedangkan dalam hal pembangunan sebuah nagari akan melewati fase taratak, dusun, koto dan kemudian nagari setelah cukup semua alat kelengkapannya (balai, musajik, labuah, tapian dll).

Persebaran Nagari Berdasarkan Kelarasan

Nagari-nagari, meskipun merupakan anggota salah satu kelarasan (kecuali Lareh Nan Panjang), pada kenyataannya tidak lah harus mengelompok dalam satu wilayah geografis tertentu. Mirip dengan area pemilihan dalam Sistem Pemilu Indonesia, dua daerah yang bertetangga bisa saja memiliki afiliasi politik yang berbeda. Persebaran yang heterogen ini terjadi juga di ketiga Luhak yang ada di Minangkabau.

  • Luhak Tanah Datar, yang masuk dalam Kelarasan Bodi Caniago adalah Limo Kaum XII Koto dan Sambilan Koto Didalam, sedangkan wilayah Kelarasan Koto Piliang adalah Sungai Tarab Salapan Batua dan Batipuah Sapuluah Koto.
  • Luhak Agam, yang masuk dalam Kelarasan Bodi Caniago adalah Kurai, Banuhampu, Lasi, Bukit Batabuah, Kubang Putiah, Ujuang Guguak, Canduang, Koto Laweh, Tabek Panjang, Sungai Janiah, Cingkariang, Padang Luar dll. Sedangkan wilayah Kelarasan Koto Piliang adalah Ampek Ampek Angkek (Sianok, Koto Gadang, Guguk, Tabek Sarojo, Sarik, Sungai Puar, Batagak, Batu Palano, Lambah, Panampung, Biaro, Balai Gurah, Kamang Bukit, Salo, Magek)
  • Luhak Limo Puluah Koto, mayoritas nagari adalah anggota Kelarasan Bodi Caniago, kecuali : Koto Nan Gadang, Aia Tabik, Gantiang, Sitanang dan Situjuah, dimana terdapat rajo-rajo pada kelima nagari tersebut.

Sedangkan wilayah yang masuk dalam Lareh Nan Panjang adalah : Guguak Sikaladi, Pariangan, Padang Panjang, Sialahan, Simabua, Galogandang Turawan, Balimbiang.

Di wilayah rantau nagari-nagari umumnya akan mengikuti kelarasan dari nagari-nagari tempat asal pendiri nagari tersebut. Walaupun demikian di kemudian hari pendatang dari suku-suku yang tidak se-kelarasan dapat tinggal dan menetap (malakok) di nagari-nagari yang pada awalnya didirikan oleh kelarasan yang berbeda, tentunya dengan mengikut aturan awal nagari.

Sumber:

http://wawasanislam.wordpress.com/2009/03/06/pemahaman-tentang-nagari/

http://palantaminang.wordpress.com/2011/10/21/suku-suku-di-minangkabau/

http://makmureffendi.wordpress.com/falsafah-adat-minangkabau/

http://marisma.multiply.com/journal/item/48/SEJARAH_RINGKAS_KERAJAAN_PAGARUYUNG_DARUL_QORROR_BHG.1_