Banyak yang menilai kurangnya bukti sejarah dalam bentuk prasasti dan naskah, khususnya yang dibuat sebelum abad ke-19 adalah sebuah permasalahan serius dalam menelusuri sejarah Minangkabau. Namun beberapa bait pantun di bawah ini mungkin bisa menjadi anak kunci yang akan membuka kotak pandora yang bernama Minangkabau tersebut.

Baburu babi ka batu balang

Mandapek buluah jo rotan

Guru mati kitab lah hilang

Sasek ka sia ditanyokan

 

Nan sakapa alah diambiak urang

Nan sapinjik tingga diawak

Walau dibalun sabalun kuku

Jikok dikambang saleba alam

Walau sagadang bijo labu

Bumi jo langik ado didalam

 

Sabarih bapantang lupo

Satitiak bapantang hilang

Sungguahpun habih coreang di batu

Di limbago talukih juo

Latiak-latiak tabang ka pinang

Singgah manyasok bungo rayo

Aia satitiak dalam pinang

Sinan bamain ikan rayo

Warisan Budaya Tak Benda

Dan memang pada kenyataannya, para pemangku dan ahli-ahli adat di Minangkabau tidak merisaukan ketiadaan prasasti dan naskah-naskah ini. Naskah-naskah hanya populer di kalangan agama, tersebar pada surau-surau di pelosok Alam Minangkabau. Kalangan adat sendiri baru mulai akrab dengan naskah dan penulisan pasca masuknya Belanda ke Minangkabau semasa Perang Paderi. Sedikit demi sedikit tambo, pantun dan mamangan adat mulai disalin dalam aksara Arab Melayu, dimana sebelumnya hanya diwariskan dalam tradisi lisan.Tambo Alam Minangkabau yang ditulis oleh Datuak Sangguno Diradjo merupakan salah satu tonggak sejarah dimulainya era tulisan untuk hal-hal yang selama ini menjadi warisan budaya tak benda masyarakat Minangkabau.

Seperti yang tersirat dalam bait-bait pantun di atas. Para penyusun Adat Minangkabau sepertinya memang dengan sengaja mewariskan sejarah, aturan adat, filosofi dan budaya dalam bentuk warisan tak benda. Mayoritas ditransfer dalam bentuk pantun-pantun adat yang sarat dengan kiasan dan simbol dimana untuk benar-benar memahaminya butuh waktu dan perenungan dan juga butuh guru dan latihan.

Selain warisan tak benda yang berupa pantun-pantun yang menyimpan esensi dan kristalisasi adat Minangkabau, ada juga hal yang kasat mata namun tetap menyimpan simbol-simbol yang bagaikan tulisan hieroglyph di dinding piramida. Diantaranya adalah Ukiran Minangkabau dan Carano.

Dalam rangkaian tulisan yang ditulis oleh Emral Djamal Dt. Rajo Mudo, diterangkan bahwa dalam Carano itu tersimpan esensi adat Minangkabau. Ternyata isi carano, seperti sirih pinang, dan lainnya itu mengandung makna simbolik yang harus dipahami secara tasurek, tasirek, tasuruak dalam pengertian mandata, mandaki, manurun, dan malereang.

Dalam  Pidato Pasambahan Rajo- Rajo, persembahan Carano diawali dengan tutur:

Dilegakan Carano Nan Ampek

Nan duo lalu ka ujuang 

Nan ciek latak di tangah

Sabuah tingga di pangka

Itulah nan ka untuak niniak moyang

 

Adopun Carano nantun,

Partamo, Carano Bodi Caniago

Kaduo, Carano Koto Piliang

Katigo, Carano Pariangan, iyolah nan salareh Batang Bangkaweh,

Nan kaampek, Carano dari Si Pangkalan

Dari pantun diatas saja, secara kasat mata tersirat posisi Pariangan dalam sistem kelarasan di Minangkabau. Pariangan menyimbolkan asal muasal, sesuatu yang ada di tengah, tidak terbagi dua, namun merupakan Lareh Nan Panjang. Disebutkan juga sebuah Carano yang diperuntukkan untuk niniak moyang, yaitu Carano Si Pangkalan. Tampak jelas bahwa dalam adat ada empat unsur yang dihormati:

  • Para nenek moyang
  • Para pendiri Nagari Pariangan
  • Para pendiri Kelarasan Koto Piliang dan Bodi Caniago

Dalam Carano pula tersirat evolusi dan genealogis kebudayaan Minangkabau.

 

Tasurek, Tasirek, Tasuruak

Apakah itu anak kunci dalam adat? Dimanakah aluang bunian dalam adat? Meminjam pertanyaan Taufik Abdullah. Bagaimanakah Minangkabau itu dipahami? Dari mana harus mulai? Barangkali,  kita harus dapat kembali memiliki nalar makna budaya dengan kekuatan pembeda antara isi dengan kulit, antara baju dengan sisampiang, antara yang berbuhul mati, dan yang berbuhul sintak ! Mana aturan sapanjang tali iduik, mana pula aturan sapanjang patuik. Mana aturan nan sapanjang jalan. dan mana pula aturan  nan sapanjang panggalan.

Kehati-hatian membaca dan mentransmisikan asesori Budaya Alam Minangkabau memerlukan acuan khusus tentang makna budaya menurut budaya itu sendiri, bukan berdasarkan ratusan teori kebudayaan yang ada di dunia. Makna Budaya Alam Minangkabau harus dijelaskan dengan teori-teori dan sistematika Budaya Alam Minangkabau itu sendiri, untuk tidak terjebak kepada masalah distorsi budaya yang serius.

Untuk tidak menimbulkan kerancuan. Memaknai adagium adat Minangkabau haruslah utuh dan sempurna. Ada hubungan yang erat antara ungkapan yang satu dengan ungkapan yang lain, tali bertali. Keindahan bahasa, tidak punya arti apa-apa, tanpa beban makna yang dikandungnya.

Esensi, Kristalisasi, Simbolisme, Kodifikasi, Enkripsi, Genetika

Rangkaian kata-kata diatas terlihat asing dalam Bahasa Minang, namun semakin dalam kita menggali Adat Minangkabau dan filosofinya, secara tidak sadar kita akan bersinggungan dengan istilah-istilah saintifik di atas.

Tutur pasambahan adalah sari sejarah dan riwayat negeri asal, beserta falsafah adat yang ditransmisikan kepada pendengarnya. Disampaikan secara  kias dan ibarat-ibarat yang metafor unik. Walau beragam sistem, metoda dalam menempuh jalan hidup dan kehidupan ini,  falsafah manusia dan kemanusiaan dari sejak Socrates, Plato, Freud sampai kepada Dale Carnegi, dari Ibnu Khaldun, Ibnu Rusyd, sampai kepada Ibnu Arabi, Al-Halaj, al-Gazali, Iqbal, bahkan sampai kepada Levi Strauss dan lain-lainnya yang ada di dunia, namun ketangguhan dan ketegaran falsafah tradisi Minangkabau, yang telah merupakan sari pati (esensi) nilai-nilai ajaran mulia, bagi orang-orang Minangkabau, cukup dikiaskan  dengan ungkapan merendah dan manis : banyak bana siriah di balai, hanyo sakitu dalam carano.

Tali bertalinya ungkapan-ungkapan adat kerap disimbolkan dalam Ukiran Minangkabau dengan jalin menjalinnya sulur-sulur tanaman rambat. Sekali lagi mengingatkan kita bahwa untuk memaknai adagium adat Minangkabau haruslah secara utuh dan sempurna.

Aka Barayun

Esensi mempermudah pewarisan dalam hal efisiensi dan efektifitas. Jumlah pantun-pantun adat, mamangan, bidal, pepatah petitih, pasambahan dan berbagai jenis warisan tak benda yang berbentuk prosa dan puisi ini, jika dibukukan tidaklah akan mencapai setebal Al-Qur’an yang terbukti bisa dihafal. Warisan tak benda ini diwariskan dan ditransfer dari para pemangku adat kepada penerusnya dalam bentuk hafalan “warih nan bajawek”.

Sama seperti Al-Qur’an yang bisa dicek hafalannya, adagium-adagium adat ini akan diuji pula kesahihannya dalam acara-acara pasambahan adat, disanalah akan diketahui mana yang telah berubah atau hilang, untuk kemudian diluruskan kembali.

Walaupun demikian, tanpa dekripsi (pemahaman arti), ia tak lebih hanya teks dan hafalan tanpa arti. Ia bermetamorfosa menjadi sebuah pertunjukan, atau paket-paket yang dilombakan, seperti randai, pidato adatpencak silat dan tari-tari tradisional  lainnya. Padahal dekripsi membutuhkan waktu dan perenungan.

Penutup

Itulah sekelumit tentang warisan tak benda yang dimiliki masyarakat Minangkabau. Sebagai warisan ia memiliki kelebihan yaitu tidak bisa dicuri, dirampas dan dihancurkan. Namun karena sifat esensi dan kristalisasinya, butuh ilmu, waktu dan kesungguhan perenungan untuk membuka kembali enkripsinya, membuka kotak pandora Minangkabau. Inilah konsep genetika dalam warisan budaya Minangkabau, hasil dari petualangan intelektual nenek moyang kita.

 

kok dibalun sabalun kuku, jikok dikambang saleba alam

 

Sumber Inspirasi:

Tulisan Emral Djamal Dt. Rajo Mudo

http://kabatareh.blogspot.com/2009/02/menguak-tabir-alam-fikiran-minangkabau.html