Migrasi nenek moyang orang Minangkabau menurut Tambo masih meninggalkan sebuah pertanyaan besar sampai saat ini, yaitu soal pelayaran yang berakhir di puncak Gunung Marapi. Meski secara logika tidak dapat diterima namun banyak juga yang tertarik untuk mengetahui alasan dipilihnya cerita ini oleh pengarang tambo pertama kali sebagai konstitusi untuk menyatukan pandangan keturunannya mengenai sejarah dan asal-usul mereka.

 

Geografi Pulau Sumatera Pada Abad ke-6 Masehi

Tentu kita tidak perlu menanyakan seperti apakah gerangan keadaan Pulau Sumatera pada saat nenek moyang orang Minangkabau yang diceritakan di dalam tambo itu menapaki pulau ini untuk pertama kalinya. Yang pasti tidak akan banyak berubah seperti kondisi sekarang ini. Memang ada temuan arkeologi dalam penelitian tentang Kerajaan Sriwijaya yang mengatakan Kota Palembang pada dahulunya itu terletak di pinggir pantai, begitu pula halnya dengan Muara Tebo di Jambi. Menurut penelitian ini pada kisaran abad keenam dan kesembilan Masehi, rawa-rawa dan lahan gambut yang mendominasi pantai timur Sumatera saat ini belum ada, dan banyak kota-kota di tepi sungai besar seperti Batanghari dan Musi dulunya berada di pinggir pantai atau muara sungai, walaupun saat ini bisa berjarak puluhan kilometer dari muara sungai yang sama.

Namun satu hal yang pasti, tidak akan mungkin gunung-gunung api dan kawasan bukit barisan bertemu dengan lautan, kecuali kaki-kaki bukit barisan di selatan Kota Padang dan seputaran Kota Painan sekarang. Bahkan pada zaman es pun yang terjadi adalah sebaliknya, lautan di Nusantara ini justru lebih rendah permukaannya daripada kondisi saat ini, sehingga Sumatera, Malaya, Jawa dan Kalimantan bersatu dalam daratan Dangkalan Sahul. Bahkan pulau-pulau perisai di barat Sumatera seperti Siberut dan Nias pun menyatu dengan Sumatera pada periode ini. Jadi jelas secara sejarah geologi, cerita dalam tambo ini tertolak.

Namun bagaimana menjelaskan soal lautan ini? Di luar soal pendaratan kapal di puncak Gunung Marapi, masih ada beberapa soal yang menentang kondisi geografis ini, di antaranya:

  • Dipakainya istilah teluk dan tanjung di dataran tinggi Luhak Nan Tigo
  • Dipakainya istilah darek (daratan) untuk merujuk daerag dataran tinggi Luhak Nan Tigo
  • Dipakainya istilah berlayar dalam menjelajahi dan menemukan daerah-daerah baru di sekitar Gunung Marapi, bahkan disebutkan gunung-gunung dan perbukitan lain di sekitar kawasan ini menyembul dari dalam laut. Kisah-kisah ini sangat banyak kita temukan dalam beberapa versi Tambo Alam Minangkabau dan Tambo Alam Kerinci. Selain itu Tombo Lubuk Jambi juga memuat istilah bumi bersentak naik, laut bersentak turun.

Berlayar di Daratan Menurut Tambo

Berikut beberapa kutipan tambo:

Setelah bulat mupakat, mendakilah ninik Sri Maharaja Diraja ke puncak gunung merapi hendak melihat dimana tanah yang baik dan subur akan tempat memindahkan orang orang itu. Setibanya beliau dipuncak gunung merapi, memandanglah beliau kesegala arah. Pandang jauh dilayangkan pandangan dekat di tukikkan. Kelihatan oleh beliau setumpuk tanah tanah gosong yang ditumbuhi rimba di baruh gunung kearah selatan yang kelihatannya tanahnya berpasir. Gosong gosong itu adalah puncak puncak bukit yang tersembur dari permukaan laut waktu itu. Setelah itu beliau kembali turun, dan bersama sama dengan Cateri Bilang Pandai beliau pergi melihat tanah itudengan berlayar. Pelayaran beliau itu hanya menepi gunung merapi saja dan akhirnya beliau sampai ditepi pantai, lalu berlabuh dan langsung memeriksa tanah tadi.(Tambo Alam Minangkabau)

 

Indar Jati,orang pertama turun ke negeri Sumbar dengan menepati kawasan gunung emas atau Gunung berapi, Pariaman Padang Panjang. Ia menikah dengan Indi Jelatang melahirkan keturunan dua orang diantaranya, Datuk perpatih nan Sebatang dan Indarbaya. Indar Jati dengan anaknya, Indarbaya, berlayar pula ke luhak Alam Kerinci. Sedangkan perpatih nan Sebatang. (Tambo Alam Kerinci)

Ternyata dengan melakukan analisa antropologi kita dapat menemukan kunci jawaban dari misteri di atas. Mitos soal Gunung Marapi yang dikelilingi lautan ini dan hanya dapat ditempuh dengan berlayar ini ternyata terkait dengan faktor agama dan kepercayaan yang dianut orang-orang pada masa itu. Kita semua sepakat bahwa agama mereka adalah Hinduisme atau cabangnya, walaupun ada pula beberapa golongan yang telah menganut ajaran Buddhisme.

Ada apa dengan Hinduisme terutama yang berasal dari India Selatan?

Gunung Meru dan Jambhudwipa

Dalam konsep agama mereka, dunia ini adalah sebuah benua besar bernama Jambhudwipa yang dikelilingi oleh tujuh lautan dan ditengahnya terdapat pusat dunia yaitu Gunung Meru. Gunung Meru ini dikisahkan sebagai Gunung Emas tempat tinggal para dewa utamanya Dewa Brahma, sang pencipta alam semesta menurut agama mereka. Gunung Meru ini dikelilingi oleh Kota Suci Brahma. Gunung Meru dalam konsepsi ini juga terletak di antara 6 gunung (3 di utara dan 3 di selatan).

Gunung Marapi di tengah Pulau Sumatera adalah kandidat kuat sebagai Gunung Meru yang baru (bahkan nama Marapi berkemungkinan diturunkan dari kata Meru Vi dalam Bahasa Sansekerta). Karena itulah mereka berbondong-bondong mendekati Gunung Marapi untuk memuja para dewa, dan sangat lazim jika nama nagari yang mereka dirikan adalah Pariangan atau Par Hyangan (tempat dewa-dewa). Beberapa saat kemudian mereka pun mendirikan Kerajaan Jambu Dwipa (Jambu Lipo) untuk memperkuat konsepsi keagamaan tersebut.

Gunung Meru dalam Masyarakat Hindu Nusantara

Mencari pengganti Gunung Meru di India bukan hanya monopoli nenek moyang orang Minangkabau. Beberapa masyarakat lain di Nusantara pun melakukannya:

  • Masyarakat Hindu Melayu memuliakan Gunung Ledang dan Bukit Siguntang
  • Masyarakat Hindu Kerinci yang datang dari India Selatan memuliakan Gunung Kerinci
  • Masyarakat Hindu Jawa memuliakan Gunung Semeru, Gunung Penanggungan dan Gunung Merapi
  • dan lain sebagainya

Kesimpulannya, fenomena mencari Gunung Suci ini tidaklah aneh dalam perspektif ini. Jadi walaupun secara logika mereka sebenarnya menempuh rute sungai-sungai besar di timur Sumatera (Rokan, Siak, Kampar, Inderagiri, Batanghari,Kuantan), dari segi religius mereka akan mengunjungi Gunung Marapi untuk tujuan keagamaan dan kemudian membuat mitos tempat ini sebagai titik nol kilometer bagi anak keturunan mereka (baca : konstitusi dasar). Istilah berlayar juga dipakai karena dalam konsep religius, tanah asal mereka ini dikelilingi oleh tujuh lautan.

Konsep ini pula yang menyebabkan segala aktivitas perluasan daerah di sekeliling Gunung Marapi diistilahkan dengan “berlayar” di dalam tambo. Kerinci dan Marapi adalah 2 gunung yang dianggap suci oleh penganut Hindu pada masanya.

Seri Marapi, Raja Pulau Sumatera

Prasasti di India yang dikenal dengan Piagam Leiden menyebutkan raja Sriwijaya tahun 1006 bernama Sri Marawijayatunggawarman, putra raja Sri Cudamaniwarman keluarga Sailendra.

Dalam kronik Sung-shih (Sejarah Dinasti Sung) nama raja ini juga dicatat dengan nama Se-li-ma-la-pi, raja San-fo-tsi. Adakah hubungannya dengan penguasa Gunung Marapi di tengah Pulau Sumatera? Wallahualam.

Sumber:

http://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Muara_Takus

http://irfananshory.blogspot.com/2007/04/resensi-buku-di-majalah-tempo.html

http://www.khatulistiwa.info/2011/10/swarloka-di-gunung-penanggungan.html

http://id.merbabu.com/gunung/gunung_penanggungan.html

http://www.hawaii.edu/indolang/manuscripts/Kerinci/Tambo/d.html

https://mozaikminang.wordpress.com/2009/10/15/tambo-alam-minangkabau-dt-sangguno-dirajo/

https://mozaikminang.wordpress.com/2009/10/18/rahasia-suku-malayu-di-pariangan/

http://risdalrajoperak.blogspot.com/2009/06/tambo-minangkabau.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Meru

http://www.theosociety.org/pasadena/path/v04n01p13_the-seven-dwipas.htm

http://en.wikipedia.org/wiki/Mount_Meru