Salah satu versi Tambo yang cukup populer namun belum diketahui siapa pengarangnya menggabungkan 4 unsur dalam alur ceritanya, yaitu:

  • Naskah asli Tambo Alam Minangkabau
  • Hikayat Sang Sapurba dari Melayu dan Sejarah Kerajaan Sriwijaya
  • Tokoh Adityawarman yang muncul dalam Prasasti Padang Roco dan beberapa Batu Basurek, serta
  • Kaba Cindua Mato (Cindua Mato dan Bundo Kanduang)

Saking ambisiusnya upaya ini, sebuah silsilah telah dipublikasikan pula berdasarkan konsep penggabungan 4 sentral cerita ini. Silsilah ini bisa diitemukan pada buku Manyigi Tambo Alam Minangkabau oleh Drs. Mid Jamal. Mari kita perhatikan isi tambo ini.

Sri Maharaja Diraja

Sri Maharaja Diraja turun sedikit ke bawah dari puncak Gunung Marapi membuat tempat di Galundi Nan Baselo. Sri Maharaja Diraja merupakan salah satu putera dari Raja Iskandar Zulkarnain, dua lainnya adalah Sri Maharaja Alif dan Sri Maharaja Dipang.

Mula-mula dibuatlah beberapa buah taratak. Taratak-taratak itu makin lama makin ramai, lalu tumbuh menjadi dusun, dan Galundi Nan Baselo menjadi ramai. Beratus-ratus tahun kemudian setelah Sri Maharaja Diraja wafat, bertebaranlah anak cucunya kemana-mana, berombongan mencari tanah-tanah baru untuk dibuka, karena air telah menyusut pula. Dalam tambo dikatakan Tatkalo bumi barambuang naiak, aia basintak turun. Terbentuk Luhak Nan Tigo, oleh keturunan Maharaja Diraja ; si Harimau Campa, Kambing Hutan, Kucing Siam dan Anjing Mualim.

Sang Sapurba

Lalu muncul tokoh, seorang raja bernama Sang Sapurba ; ia datang dari tanah Hindu; Ia mendarat di Bukit Siguntang Maha Meru dekat Palembang. Sang Sapurba adalah seorang Hindu yang beragama Hindu. Dia menyembah berhala. Lalu diadakan tempat beribadat di suatu tempat. Tempat ini sampai sekarang masih bernama Pariangan (per-Hiyang-an = tempat menyembah Hiyang / Dewa).

Pariangan semakin ramai, Sang Sapurba pindah ke tanah baru ; Batu Gedang dari tanah baru ini akhirnya lahir negeri Padang Panjang. Untuk kelancaran pemerintahan perlu diangkat orang-orang yang akan memerintah dibawah raja. Lalu bermufakatlah raja dengan orang-orang cerdik pandai, ditetapkan lah Dt. Bandaro Kayo dan Dt. Seri Maharajo di Pariangan ; Dt. Maharajo Basa dan Dt. Sutan Maharajo Basa di Padang Panjang. Dibuat Balai Adat. Itulah balai pertama yang asal sebelum bernama Minangkabau di Pariangan.

Keempat penghulu dari Pariangan-padang Panjang diutus Suri Drajo menghadap Sang Sapurba di Batu Gedang tentang kekacauan yang ditimbulkan oleh Sikati Muno. Sikati Mudo adalah cerita dari rakyat di nagari tsb, ia bertubuh besar bagai raksasa, keluar dari kawah gunung Marapi; membuat onar di nagari Pariangan-Padang Panjang

Sang Sapurba lalu pergi memerangi Sikati Muno. Pertarungan hebat pun terjadi berhari-hari lamanya. Akhirnya naga Sikati Muno itu mati dibunuh oleh Sang Sapurba dengan sebilah keris. Keris tersebut dinamakan Keris Sikati Muno, amanlah negeri Pariangan-Padang Panjang, dan semakin lama semakin bertambah ramai.

Sang Sapurba mencari daerah baru, hingga ia menemukan suatu daerah subur yang kelak bernama Sungai Tarab. Lalu lahir negeri Bungo Satangkai, negeri yang kedua sesudah Pariangan-Padang Panjang. Pariangan Padang Panjang disebut sebagai awal masa kerajaan Minangkabau Baru. Sejak inilah diciptakan dan dikukuhkan aturan adat Minangkabau.

Lalu menikahlah Sultan Sri Maharaja Diraja dengan puti Indo Jelita, yakni adik kandung dari Datuk Suru Dirajo. Tak kunjung memperoleh keturunan, Sultan Sri Maharaja Diraja menikah lagi dengan Puti Cinto Dunia ; hasilnya sama. Sultan menikah lagi dengan Puti Sedayu, lahirlah Sultan Paduko Basa dari permaisuri Puti Indo Jelito, yang kemudian diangkat sebagai Raja Minangkabau, bergelar Datuk Ketemanggungan.

Agar tidak salah kaprah, Sang Sapurba dirajakan dengan memangku gelar Sri Maharaja Diraja juga Gelar yang sama dengan anak Iskandar Zulkarnain – nenek moyang orang Minang.

Datuak Katumanggungan dan Datuak Parpatiah Nan Sabatang

Lahir lah Warmadewa dari Puti Cinto Dunia, yang kemudian bergelar Datuk Bandaharo Kayo dan lahir pula Reno Shida dari Puti Sedayu, yang kemudian bergelar Datuk Maharajo Basa. 3 putera dari 3 ibu ; penerus kerajaan Minangkabau, namun ketika Maharaja Diraja wafat, putera tertua baru berumur 2 tahun.

Atas sepakat dewan kerajaan, Ibu Suri Puti Indo Jelito, memegang tampuk kerajaan Minangkabau ; menunggu Sutan Paduko Basa menjadi dewasa. Tugas harian dilaksanakan oleh tiga pendamping raja yakni Datuk Suri Dirajo, Cetri Bilang Pandai dan Tantejo Gurano. Lalu dinikahkan lah Cetri Bilang Pandai. Dari perkawinannya itu melahirkan 5 orang anak ; salah satunya adalah Jatang Sutan Balun bergelar Datuk Perpatih Nan Sabatang.

Adityawarman

Singkat kata cicit dari Puti Jamilan, bernama Putri Dara Jingga yang pemangku Putri Mahkota, dinikahkan dengan Mahisa Anabrang, Panglima kerajaan Singhasari, keluarga dari Raja Kartanegara. Puti Jamilan adalah salah dua anak dari Cati Bilang Pandai.

Tak lama setelah Majapahit yang mengambil alih kerajaan Singhasari, lahirlah anak dari Puti Dara Jingga yang diberi nama Adityawarman. Lalu Puti Dara Petak, dinikahi oleh Raja Majapahit (Raden Wijaya) ; Puti Dara Petak berubah nama menjadi Diyan Sri Tribuaneswari ; ia adalah adik seayah dari Puti Dara Jingga. Walaupun telah menjadi istri Raja Majapahit, Puti Dara Petak tetap mengasuh Adityawarman di kerajaan Majapahit.

Bundo Kanduang dan Cindua Mato

Datuk Ketumanggungan telah sangat tua, maka Puti Dara Jingga dipanggil pulang ke Minangkabau untuk menjadi Raja di Minangkabau dengan panggilan Bundo Kanduang. Adityawarman tetap tinggal dikerajaan Majapahit, karena Puti Dara Petak tidak mau melepasnya pulang, ingin terus mengasuh anak kakaknya selagi Bundo Kanduang menjadi ‘Raja Minangkabau’, Datuk Ketumanggungan mangkat dalam usia 149 tahun disusul oleh meninggalnya Datuk Perparih Nan Sebatang dalam usia 146 tahun.

Si Kambang Bendahari (dayang-dayang utama dari Bundo Kanduang) dinikahkan dengan Selamat Panjang Gombak, yakni seorang diplomat utusan dari kerajaan Mongol (Kubilai Khan). Perkawinan itu melahirkan seorang anak bernama Cindua Mato. Cindua Mato diasuh ilmu perang oleh Mahisa Anabrang yang yang teringat akan anak kandungnya Adityawarman jauh di Majapahit.

Cindua Mato dididik ilmu silat pula oleh ayah kandungnya, Selamat Panjang Gombak. Maka menjadilah Cindua Mato seorang pendekar yang tangguh dan panglima kerajaan Minangkabau yang tiada tandingan di zamannya.

Adityawarman sendiri yang Putra Mahkota Kerajaan Minangkabau, dididik ilmu perang dan ilmu kerjaan oleh Majapahit. Adityawarman pernah menjadi Werdamantri yang merupakan predikat setaraf dengan Mpu Nala dan Maha Patih. Jadilah, Adityawarman salah seorang Tri Tunggal Kerajaan Majapahit.

Pengislaman Adityawarman

Beranjak dewasa pulanglah Adityawarman menemui Bundo Kandung dan kawin dengan Puti Bungsu (anak mamaknya Rajo Mudo) dari Ranah Sikalawi-Taluk Kuantan, sebelum menikah Adityawarman yang menganut Budha, terlebih dahulu di-Islamkan. Singkat cerita, Adityawarman dinobatkan menjadi Raja Minangkabau bergelar Dang Tuanku (Sutan Rumandung). Pernikahan Adityawarman dengan Puti Bungsu melahirkan anak yang bernama Ananggawarman.

Serangan Majapahit

Gajah Mada marah kepada Adityawarman karena tidak mau takluk kepada Majapahit. Tapi Adityawarman tidak segan kepada Gajah Mada, karena mereka sependidikan. Gajah Mada mencoba menyerang Minangkabau, tapi gagal, malah Adityawarman pernah membantu Majapahit menaklukkan Bali.

Kemudian dibawah pimpinan Ananggawarman ,Minangkabau memiliki pertahanan kerajaan yang telah sangat kuat. Patih Wikrawardhana di kerajaan Majapahit, masih mencoba menyerang kerajaan Minangkabau, tapi tetap tidak berhasil. Itu merupakan serangan yang terakhir terhadap Minangkabau.

Sesudah Ananggawarman tidak terdengar lagi kegiatan Raja Minangkabau.

Sumber:

http://htriwibowo.wordpress.com/2011/02/05/tambo-minangkabau/

http://www.scribd.com/doc/63994644/RanjiTamboMinangkabau