Kepercayaan tentang asal usul yang berakar jauh dari Pulau Sumatera ternyata tidak hanya di dominasi oleh masyarakat Minangkabau.  Setidaknya ada 6 suku bangsa lain yang mengaku berasal dari daerah yang jauh di luar Pulau Sumatera, yaitu masyarakat Kuantan di Inderagiri Riau, masyarakat Kerinci, etnis Karo (khususnya Marga Sembiring), masyarakat Barus di pantai barat Sumatera Utara, etnis Pakpak dan etnis Mandailing di Sumatera Utara.

Masyarakat Kuantan Lubuk Jambi

Masyarakat Kuantan dan masyarakat Kerinci bahkan mewarisi mitos yang sama atau mirip dengan masyarakat Minangkabau, yang diturunkan masing-masing dalam Tambo Lubuk Jambi dan Tambo Alam Kerinci. Kedua tambo mempertautkan asal-usul masyarakatnya dengan kebesaran nama Iskandar Zulkarnain, sama seperti yang tercantum dalam Tambo Alam Minangkabau. Yang berbeda adalah pada fasal siapa pendiri kebudayaan dan pencipta aturan adat untuk masing-masing masyarakat.

Masyarakat Kuantan percaya bahwa putra Iskandar Zulkarnain yaitu Maharaja Diraja sesampainya di Pulau Emas Sumatera,  mendarat di Bukit Bakar di hulu Inderagiri yaitu di pinggir Batang Kuantan lalu mendirikan Kerajaan Kandis dengan istana bernama Istana Dhamna. Menurut orang Lubuk Kuantan, tokoh legendaris masyarakat Minangkabau yaitu Datuk Perpatih Nan Sabatang dan Datuk Katumanggungan hanyalah patih dan pangeran tumenggung dari Kerajaan Koto Alang, sebuah kerajaan sempalan di bagian hulu Batang Kuantan yang akhirnya diserang oleh Kerajaan Kandis yang lebih besar. Patih dan Tumenggung ini lari ke Gunung Marapi sedangkan rajanya lari ke Jambi yaitu ke muara Batanghari.

Dalam versi masyarakat Minangkabau, Maharaja Diraja mendarat langsung di puncak Gunung Marapi setelah mengarungi lautan cukup lama. Maharaja Diraja kemudian mendirikan nagari tertua di Minangkabau yaitu nagari Pariangan di lereng sebelah selatan Gunung Marapi.

Masyarakat Kerinci

Setali tiga uang, masyarakat Kerinci juga mengaku bertautan kepada Maharaja Diraja, bedanya mereka sepakat dengan cerita soal “turun dari puncak gunung Marapi”. Masyarakat Kerinci hanya membuat cabang cerita sendiri dengan menyebutkan bahwa nenek moyangnya yaitu Indarbayang, berlayar langsung dari Gunung Marapi ke Gunung Kerinci, namun karena medan yang berat kapal yang membawanya akhirnya berlabuh di Gunung Jelatang. Tokoh Datuk Perpatih Nan Sebatang juga dikenal dalam Tambo Alam Kerinci. Sebagai catatan, sebenarnya wilayah Kerinci ini sudah memiliki peradaban yang sangat tua yang dikembangkan oleh masyarakat Proto Melayu dengan kebudayaan megalitikumnya. Kerinci merupakan salah satu dari empat daerah di Sumatera yang telah mengenal aksara. Aksara yang berkembang di Kerinci dinamakan Aksara Incung. Tiga wilayah lain yang memiliki aksara di Sumatera adalah Batak, Rejang dan Lampung.

Imigran Imigran dari India

Hasil penelitian saya yang saya tuangkan dalam sebuah hipotesa menemukan bahwa Kebudayaan Minangkabau memiliki pertalian dengan Kebudayaan Hellenisme yang berkembang di India setelah penaklukan daerah lembah Sungai Indus oleh Alexander Agung. Salah satu jejak yang menguatkan pendapat saya itu adalah ditemukannya kemiripan nyaris 90% dari salah satu motif ukiran Minangkabau dengan salah satu motif ukiran yang berkembang di wilayah Gandhara. Motif berbentuk gulungan daun anggur ini merupakan motif yang sudah ada sejak zaman Yunani kuno. Selain itu nama-nama nenek moyang orang Minangkabau dalam Tambo juga identik dengan nama-nama khas India. Contohnya adalah Maharaja Diraja, Indra Jelita dan Cateri Bilang Pandai.

Etnik Karo Marga Sembiring

Akar budaya dari India ini juga ditemukan pada etnik Karo, Pakpak dan Mandailing. Etnik Karo khususnya Marga Sembiring dipercaya berasal dari Cheti dan Tamil, India. Dalam kitab konstitusi Dinasti Pardosi, penguasa negeri Barus, disebutkan bahwa sumber dari segala sumber hukum di kerajaan tersebut berasal dari adat Batak, Bugis, Cheti, Islam dan lain-lain. Di Barus sendiri kita dengan mudah dapat menemukan jejak-jejak kebudayaan Tamil, misalnya dalam bentuk kosa-kata seperti marapulai, pualam, cemeti, jodoh, gundu, badai, kolam, belenggu, dahaga, kanji dan mahligai (ingat makam mahligai di Barus). Marga Sembiring sendiri memiliki sub marga dengan nama-nama khas Tamil seperti Brahmana, Pelawi, Depari, Maha, Pandia, Meliala dan Cholia. Sembiring sendiri dalam Bahasa Karo asli berarti si hitam (si mbiring) yang merujuk pada ciri-ciri fisik etnis Tamil asal India Selatan.

Etnik Pakpak

Di kawasan barat laut Propinsi Sumatera Utara, berdiam pula etnis Pakpak. Diceritakan dalam Sejarah Pakpak bahwa asal mereka adalah dari India Selatan yaitu dari Indika Tondal ke Muara Tapus dekat Barus lalu berkembang di Tanah Pakpak dan menjadi Suku Pakpak. Pada dasarnya mereka sudah mempunyai marga sejak dari negeri asal namun kemudian membentuk marga baru yang tidak jauh berbeda dengan marga aslinya.

Diceritakan bahwa Nenek Moyang awal Pakpak adalah Kada dan Lona yang pergi meninggalkan kampungnya di India lalu terdampar di Pantai Barus dan terus masuk hingga ke Tanah Dairi,dari pernikahan mereka mempunyai anak yang diberi nama Hyang. Hyang adalah nama yang dikeramatkan di Pakpak.

Peranan Kota Barus

Kedua etnis diatas yaitu Karo Marga Sembiring dan Pakpak sangat terkait dengan peranan Kota Barus di pesisir barat Sumatera Utara dekat Sibolga sekarang. Barus adalah kota perdagangan internasional di dunia timur yang sudah dikenal di sepanjang jalur perdagangan Cina, Champa, India, Persia, Arabia sampai terus ke Asia Kecil (Turki), Mesir dan Romawi. Kota Barus ini segera membawa ingatan kita pada kapur barus (kamfer dalam bahasa Belandanya, mungkin dari kata kapur yang diucapkan kofur oleh bangsa Arab). Begitu pula kemenyan (beruoe dalam bahasa Belanda) mungkin dari kata Arab (lu) ban-jawi atau kemenyan Sumatera.

Kapur barus dan kemenyan tersebut sudah lama sekali diekspor dari Barus disamping hasil-hasil lainnya seperti emas, gading dan culabadak. Tetapi kapur barus yang paling penting, sebab komoditi inilah yang membuat Kota Barus begitu terkenal di dunia waktu itu. Kapur barus asal kota barus inilah yang paling banyak dicari karena kualitasnya yang terbaik, paling laku dan harganya kurang lebih 8 kali lebih mahal daripada kapur-kapur barus asal tempat lain. (Marco Polo pernah menyebut, harga kapur barus seperti emas dengan berat yang sama!). Bayangkan bagaimana majunya sebuah daerah yang memegang monopoli suatu komoditas (kapur barus dan kemenyan) yang sangat dicari “dunia maju” tempo dulu baik di Asia maupun Afrika bagian utara dan mungkin di Yunani.

Seorang Belanda pernah menulis bahwa kemenyan dari Barus, telah dipakai sebagai salah satu bahan mengawetkan (membalsem) mayat raja-raja di Mesir sebelum Masehi. Karena begitu pentingnya kota Barus ini, maka sejak zaman dulu dalam dunia dagang telah dikenal nama-nama baros, balus, pansur, fansur, pansuri (dari Desa Pansur sedikit di utara Barus), kalasaputra (dari kata Kalasan, daerah penghasil kapur barus antara Kota Barus dan Sungai Chenendang), karpura-dwipa, barusai (oleh Ptolomeus dari Alexandria sekitar awal tahun Masehi), waru-saka dan lain-lain.

Etnik Mandailing

Kita beralih ke etnik Mandailing yang mendiami bagian selatan dari Propinsi Sumatera Utara. Mandailing diriwayatkan berasal dari Munda yaitu sebuah daerah di India Tengah. Mereka telah berpindah-pindah pada abad-ke 6, karena terpukul dengan serangan bangsa Arayan dari Irak yang meluaskan pengaruh mereka. Setelah melintasi Gunung Himalaya mereka menetap sebentar di Mandalay, yaitu ibu negara Burma purba. Besar kemungkinan nama Mandalay itu sendiri datangnya dari perkataan Mandailing yang mengikuti logat Burma.

Sekali lagi mereka terpaksa bepindah karena pergolakan suku kaum di Burma yang sering berperang. Pada waktu itu mereka melintasi Selat Malaka , yang pada masa itu bukan merupakan suatu lautan yang besar, sangat dimaklumi bahwa pada masa itu dibagian tertentu Semenanjung Tanah Melayu dan Sumatera hanya di pisahkan oleh selat kecil saja.

Kaum Munda telah berjaya menyeberangi laut kecil tersebut dan mendirikan sebuah kerajaan di Batang Pane, Portibi, diduga peristiwa ini terjadi di akhir abad ke – 6. Kerajaan Munda Holing di Portibi ini telah menjadi mashur dan meluaskan wilayah taklukannya hingga kesebahagian besar pantai Sumatera dan Tanah Melayu. Keadaan ini menimbulkan kemarahan kepada Maharaja Rajenderacola lalu beliau menyerang kerajaan Munda Holing dan negara pantai lainnyadi abad ke-9. Tenteara kerajaan Munda Holing yang di pimpin oleh Raja Odap-Odap telah ditewaskan oleh Rajenderacola dan berkuasa di seluruh daerah Batang Pane. Tunangannya Borudeakparujar telah melintasi Dolok Maela (sempena Himalaya yang didaki oleh nenek moyangnya) dengan menggenggam segumpal tanah di Portibi untuk menempah satu kerajaan baru (Menempah banua).

Kerajaan Mandala Holing dan Penyerangan Majapahit

Kerajaan kedua di Sumatera di didirikan di Pidoli Dolok di kenali sebagai kerajaan Mandala Holing artinya kawasan orang-orang Keling. Pada masa itu mereka masih beragama Hindu memuja Dewa Siva. Di abad ke 13, Kerajaan Majapahit telah menyerang ke Lamuri dan Mandailing. Sekali lagi kerajaan Mandala Holing ini telah di bumi hangus dan hancur. Penduduk yang tidak dapat di tawan telah lari kehutan dan bercampur-gaul dengan penduduk asli. Lalu terbentuklah Marga Pulungan artinya yang di kutip-kutip. Di abad ke-14 dan ke 15, Marga Pulungan telah mendirikan tiga buah Bagas Godang di atas tiga puncak Bukit namun kerajaan tersebut bukan lagi sebuah kerajaan yang besar, hanya merupakan kerajaan kampung.

Hubungan dengan Kerajaan Pagaruyung

Di pertengah abad ke-14, terdapat legenda tiga anak Yang Dipertuan Pagar Ruyung yang bernama Betara Sinomba, Putri Langgoni dan yang bungsunya Betara Gorga Pinanyungan yang mendirikan dua buah kerajaan baru.Betara Sinomba telah di usir oleh Yang Dipertuan dari Pagar Ruyung karena kesalahan bermula dengan adiknya Putri Langgoni. Kedua beradik tersebut berserta pengikutnya telah merantau dan mendirikan kerajaan di Kota Pinang. Yang di Pertuan Kota Pinang inilah yang menurunkan raja-raja ke Kota Raja, Bilah, Kampung Raja dan Jambi. Adiknya Betara Gorga Pinanyungan di dapati bersalah belaku adil dengan sepupu sebelah ibunya yaitu Putri Rumandang Bulan. Oleh kerana tidak ada lagi pewaris takhta makanya putri tersebut ditunangkan dengan Raja Gayo.

Begitulah sejarah masyarakat yang menghuni Pulau Sumatera. Dimulai dengan masyarakat Proto Melayu yang datang dari Hindia Belakang pada kurun 4000 SM dan lebih menyukai tinggal di pegunungan. Dilanjutkan oleh penerusnya yaitu masyarakat Deutro Melayu yang bermigrasi sejak 500 SM sampai awal abad Masehi, kemudian diikuti secara sporadis oleh imigran-imigran dari berbagai daerah di India seperti Gandhara, Chetiya, Munda, Indika Tondal dan terakhir Tamil. Bahkan masyarakat Aceh merupakan suatu masyarakat yang paling banyak keturunan Tamil-nya (diluar Champa dan Arab). Masyarakat Proto Melayu meninggalkan jejak-jejak peradaban yang tinggi untuk ukuran zaman batu seperti puluhan Menhir yang ada di Mahat, Limapuluh Kota, Sumatera Barat dan prasasti-prasasti yang tersebar di Desa Muak, Kerinci, Jambi.

Sekarang pendatang-pendatang yang tidak sezaman itu telah bercampur baur dan menghasilkan silang budaya yang pada akhirnya membeentuk puluhan ragam kebudayaan di Pulau Sumatera.

Sumber:

Kompilasi berbagai sumber yang artikel utamanya bisa dilihat pada bagian index.

Advertisements