Uraian ini diterima dari Syamsuddin Datuk Simarajo, ex. Wali Negari Pagaruyung, Ketua K.A.N. Pagaruyung, Ketua L.K.A.A.M. Kecamatan, Kepala Bidang Negari – Negari di L.K.A.A.M. Tanah Datar dan pimpinan Istano (Istana) Pagaruyung pada tanggal 6 / 11 dan 24 / 12 1984.

Sebelum pemerintahan Minangkabau berkedudukan di Pagaruyung, pusat pemerintahan bertempat di Bungo Setangkai, yang mengendalikan pemerintahan, disamping rajo adalah Langgam Nan 7, waktu itu Basa 4 Balai belumlah ada. Salah satu dari Langgam yang 7 adalah Gajah Tongga Koto Piliang. Yang memegang jabatan itu adalah Datuk Pahlawan Gagah dari Silungkang dan Malintang Lobieh Kasatian dari Padang Sibusuk. Jabatan/pangkat ini adalah jabatan/pangkat untuk Negari, bukan suku. Negarilah yang menentukan siapa yang akan memegang jabatan/pangkat itu.

Gajah Tongga Koto Piliang ini adalah :

  • Orang Gadang bermandat penuh
  • Asisten Pribadi Raja
  • Dewan pertimbangan
  • Penasehat (diminta atau tidak diminta harus memberikan pendapat pada Rajo dan Langgam Nan Tujuah)

2.
Riwayat Negeri Silungkang

Negeri Silungkang ini didiami semenjak abad keenam sebelum masehi yang berarti sampai sekarang telah berumur lebih kurang 2500 tahun. Waktu itu penduduk bermukim belumlah ditempat yang sekarang tetapi adalah diatas bukit-bukit sekitarnya. Nama Silungkang berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya “lowongan batu yang tinggi”. Dari atas bukit-bukit yang tinggi inilah orang meninjau jarak dan bersebarlah sebahagiaannya dan terjadi/berdiri pulalah negeri-negeri disekitarnya. Lunto, Kubang dan Padang Sibusuk waktu itu masih satu dengan Silungkang.

3.
Menurut keterangan yang diterima dari Monti Rukun Padang Sibusuk, niniek orang Silungkang dan Padang Sibusuk turun langsung dari Pariangan Padang Panjang. Tempat yang mula-mula didiami adalah Tak Boncah. Dari Tak Boncah ini dibagilah badan. Serombongan pergi ke Silungkang dan serombongan lagi turun ke Padang Aka Bulu yang kemudian bertukar nama jadi Padang Bulu Kasok dan semenjak pertempuran dengan pasukan Aditiawarman ditukar namanya menjadi Padang Sibusuk.

Adapun rombongan yang turun ke Silungkang dipimpin oleh Monti-monti sedangkan yang turun ke Padang Aka Bulu (Padang Sibusuk) dipimpin oleh Penghulu-Penghulu. Di Silungkang Monti-monti inilah yang dijadikan Penghulu. Waktu hal ini kami tanyakan, dijawab oleh beliau (Sjamsuddin Datuk Simarajo) bahwa keterangan itu tidaklah benar karena :

  1. Alam takambang membuktikan yang Silungkang lebih dahulu adanya dari Padang Sibusuk.
  2. Silungkang telah didiami semenjak abad keenam sebelum Masehi. Waktu itu Kerajaan Minangkabau belum punya susunan seperti sekarang. Belum ada yang empat jinih. Tegasnya belum ber Monti.
  3. Padang Sibusuk bernama Padang Sibusuk adalah semenjak negeri ini didiami dan pada abad ketiga sebelum Masehi bernama Silungkang telah menjadi Gajah Tongga Koto Piliang, sedangkan pertempuran dengan Aditiawarman itu terjadi pada abad ketiga belas.Nama Padang Sibusuk ini diambil dari/karena di Padang banyak tumbuh rumput Sibusuk.Kejadian pertempuran dengan Aditiawarman itu memang benar dan pengaruhnya adalah menambah populernya nama Padang Sibusuk itu. Keterangan ini juga kami terima dari H. Jafri Datuk Bandaro Lubuk Sati dengan keterangan yang sama di Istano Pagaruyung pada tanggal 24 Desember 1984.

    H. Jafri Datuk Bandaro Lubuk Sati ini adalah pegawai kantor Gubernur Sumatera Barat yang ditunjuk untuk mengurus Istano Pagaruyung. Beliau telah mendapat bintang dan gelar Datuk Derjah Setia Negari dari kerajaan negeri Sembilan Malaysia karena masalah Adat.

4.
Istano (Istana) Pagaruyung gonjongannya adalah sebelas buah. Ini melambangkan perangkat pemerintahan Minangkabau di Pagaruyung yang terdiri dari Basa 4 balai dan Langgam yang 7. Karena Silungkang – Padang Sibusuk adalah salah satu dari Langgam yang 7, maka berarti bahwa salah satu dari gonjongnya itu adalah Silungkang – Padang Sibusuk (Gajah Tongga Koto Piliang).

Didalam Istano (Istana) Pagaruyung itu akan diperbuat 11 (sebelas) buah kamar (bilik). Sebuah dari kamar itu nantinya akan diperuntukkan untuk Gajah Tongga Koto Piliang (Silungkang – Padang Sibusuk).

5.
Beliau (Sjamsuddin Datuk Simarajo) berpesan : “Kami dari Istano Pagaruyung mengharapkan agar Gajah Tongga Koto Piliang mulai menyusun badan dari sekarang siapa orangnya yang akan mewakili Gajah Tongga Koto Piliang dalam peresmian Istano itu nantinya, seterusnya yang akan menempati kamar tersebut. Setelah tersusun akan segera kami kokohkan atas nama Kerajaan Pagaruyung”.

6.
Kami dari rombongan yang datang dari Silungkang (yang menerima uraian tersebut) mengusulkan agar : “Supaya pengurus Istano Pagaruyung mengusahakan pula mengadakan pertemuan antara kami Langgam yang Tujuh”. Usul ini beliau terima dan beliau berjanji akan mengusahakannya.

Demikian garis besarnya curaian yang kami terima.

Kami yang menerima curaian tersebut :

  1. H. Kamaruzzaman : Datuk Rajo Intan
  2. Arief Jalil : Datuk Mandaro Khatib
  3. Rasyid Abdullah : Datuk Rangkayo Nan Godang
  4. Izhar Harun : Datuk Rajo Nan Gadang
  5. H. Nurdin Muhammad : Datuk Mangkuto Sati

Naskah ini diambil dari arsip Ketua Kerapatan Adat (KAN) Alm. Datuk Rangkayo Nan Godang

Yang Menyalin : H. Nazar Syamsuddin

Sumber : Bulletin Silungkang, No. 003/BSM/MAR/1999

http://munirtaher.wordpress.com/2007/05/15/gajah-tongga-koto-piliang-silungkang-%E2%80%93-padang-sibusuk/