Dharmasraya, titik tengah pulau Sumatera dalam catatan sejarah, adalah peradaban yang dibangun kerajaan-kerajaan kecil sepanjang Batanghari. Peradaban yang juga berhubungan erat dengan peradaban sepanjang aliran Siak, Indragiri, Kampar, di Melayu sana.

Saya melakukan perjalanan menemukan jejak peradaban yang dulu pernah ada sepanjang tepiannya, dan kini mungkin telah tenggelam dalam alir sejarah yang tak bisa ditebak, seperti arus Batanghari yang keruh dari hulu.

Lima jam lebih perjalanan ke Dharmasraya, dalam cuaca Maret yang tak menentu. Mobil berpenumpang tiga orang yang saya tumpangi begitu lincah menikung, menyalip mobil-mobil besar, mengelak lobang-lobang besar, menanjak dan menurun. Saya tinggalkan kota Padang yang tenggelam dalam temaram yang resah mengeja terang.

Setelah saya diturunkan, mobil itu melesat kembali meninggalkan saya yang sendirian. Rumah-rumah kaku dalam cahaya 5 watt. Dalam gelap, aspal jalan menguapkan sisa hujan. Musim hujan memang masih berlangsung dalam bulan itu.

Tak berapa lama kemudian, seorang teman datang dengan sepeda motor menjemput. Saya telah mengirim pesan singkat beberapa saat sebelumnya. Dini hari membuat kami begitu gagap untuk berucap. Saya dibawa untuk beristirahat di rumahnya yang tak jauh dari tempat saya turun.

“Sudah, besok pagi saja. Telah menjelang subuh, istirahatlah dulu. Wajahmu agak pucat!” tutur ibu teman saya yang setengah mengantuk, menyambut saya yang bertamu dini hari.
Setelah istirahat, perjalanan saya lanjutkan. Sepuluh kilo dari Koto Baru, saya melihat sungai lebar yang keruh. Sungai yang memiliki panjang 485 km ini berhulu di pedalaman Minangkabau dan bermuara di pesisir timur. Dalam lintasan sejarah, kiri dan kanan tepiannya pernah menjadi tempat berdiri beberapa kerajaan dalam rentang abad ke-7 sampai ke-15. Kerajaan-kerajaan yang pernah memiliki peran kuat di tanah Andalas yang kini seakan (ter-di)lupakan.

Kerajaan Padang Laweh

Untuk sampai di (sisa) kerajaan ini, saya dan teman saya harus naik playang (perahu menggunakan mesin tempel). Mesin playang berdengung seketika dihidupkan. Playang yang membawa kami melaju, membelah Batanghari, menyisir di antara riak dan gelombang Batanghari yang keruh. “Banyak orang mendulang emas dari hulu, jadi sampai kiamat pun Batang Hari ini tak akan jernih,” kata pemilik playang itu dengan menceracau dan cekikikan.

Setelah beberapa menit penyeberangan, playang perlahan-lahan menepi. “Cuma motor dan barang yang dipungut bayaran, orang-nya gratis,” katanya menolak pemberian teman saya yang dinilai berlebih.

Kami menyusuri jalan penuh batu dan koral membuat laju sepeda motor tak bisa melaju kencang. Kami menuju sebuah pedusunan, pedusunan yang seperti keluar dari sebuah buku sejarah: rumah-rumah bergonjong berwarna coklat, dan orang-orang yang tersenyum ramah.
Beberapa rumah-rumah panggung, lengkap dengan rangkiang (lumbung padi yang terletak di halaman rumah), tampak berderet di pedusunan itu. Tanpa bertanya-tanya, kami langsung menuju sebuah rumah panggung, rumah gadang. Di depannya tertera plat “Kerajaan Padang Lawas” yang sudah mulai menguning. Palang plat itu dibuat ketika Soeharto masih memerintah di negeri ini. Wajar saja ada peng-Indonesia-an bahasa, hingga kata’laweh’ dalam bahasa Minang di-Indonesia-kan menjadi ‘lawas’ dalam bahasa Indonesia. Padahal artinya tidaklah sama. Laweh dalam bahasa Indonesia berarti lebar, bukan lawas.

Setelah bertemu dengan pemilik rumah, kami mengutarakan maksud kedatangan untuk berkunjung dan melihat peninggalan kerajaan Padang Laweh.

Ia dengan bangga mengeluarkan beberapa peninggalan kerajaan seperti kain Cindai yang telah lapuk, dan beberapa galah. Menurut pengakuan, kerajaan ini tidak memiliki tentara, tidak memiliki sistem militer.

Tetapi kenapa ada galah? Galah hanya lambang kebesaran belaka, begitu pengakuan pemilik rumah, pewaris kerajaan itu. Ia juga menyuguhi pada kami Tambo nan Salapan yang berbahasa Arab-Melayu. Tambo nan Salapan yang berisi silsilah kerajan dan aturan-aturan adat dan hukum. Kerajaan ini dianggap berdiri setelah masuknya Islam ke tanah Andalas.
Malam datang begitu cepat.

Kampung-kampung seakan luluh dalam gelap. Kami memutuskan kembali ke Koto Baru yang sedikit lebih ramai. Menyewa playang kembali untuk bisa sampai ke seberang.

Penulis : Fatris Mohammad Faiz

Sumber:

http://fatrismohammadfaiz.multiply.com/photos/album/5/MENJENGUK_MASA_LALU_DHARMASRAYA