Etnis Minangkabau dikenal memiliki dua kelompok suku yang besar yaitu Bodi Chaniago dan Koto Piliang. Masing-masing suku besar tersebut menjalankan adatnya sendiri-sendiri sesuai dengan tradisi yang turun terumurun seperti pepatah adat mengatakan:

Dari berek turun ka samak

Dari samak turun ka padi

Dari nenek turun ka mamak

Dari mamak turun ka kami

Sesuai dengan perkembangan kehidupan masyarakat, suku besar tersebut kemudian terbagi lagi menjadi beberapa anak suku. uku Jambak merupakan salah satu anak suku yang mendiami Jorong Tanjung Alam disamping suku lainnya seperti: Koto, Pili, Melayu, Tanjung, Selayan di Tanjung Bungo. Saat ini di Tanjung Alam terdapat 2 kawasan yang didiami oleh penduduk suku Jambak karena adanya migrasi dari anggota suku Jambak dari jorong lain pada masa lalu yang kemudian tinggal di daerah Munggu.

Menurut wawancara mengenai silsilah Suku Jambak Tanjung Alam dengan Haji Khalidi Ali salah seorang ninik mamak Suku Jambak yang juga menjadi Angku Qadhi di Tanjung Alam tanggal 13 Juni 1992 menyatakan bahwa asal usul penduduk suku Tanjung Alam adalah berasal dari Biaro dan juga memiliki “belahan” di Koto Gadang. Pengertian belahan di sini yaitu suatu kelompok yang pada mulanya bersatu tapi kemudian sama-sama berpindah ke daerah yang berlainan untuk membuka daerah baru. Ninik moyang dari penduduk suku Jambak, Tanjung Alam yang masih dapat ditelusuri adalah bermula dari seorang datuk yang bernama Datuk Rajobasa. Dari silsilah Datuk Rajobasa inilah yang kemudian berkembang menjadi keturunan penduduk suku Jambak. Sesuai dengan budaya masyarakat yang masih belum terbiasa dengan tulis-baca sehingga tidak dapat ditemui bukti tertulis dan otentik kapan Datuk Rajobasa mulai mendiami Tanjung Alam.

Datuk Rajobasa memiliki tiga orang keponakan yaitu Inyiak Bantiang (A), Cino Urai (B) dan Ganti Amah (C). Keturunan Inyiak Bantiang atau keponakan perempuan tertua ini melahirkan sebanyak lima orang anak perempuan masing-masing bernama: Sarijah (A.1.), Kamidah (A.2), Boneh (A.3), Baniah (A.4) dan Niah (A.5).

Keturunan dari Sarijah saat ini sudah dianggap punah karena tidak memiliki keturunan perempuan yang langgeng. Sarijah hanya mempuyai dua orang anak perempuan yang bernama Rangkayo Sulan (A.1.1) dan Cego (A.1.2).

Sedangkan Kamidah memiliki dua orang anak laki-laki dan dua orang anak perempuan masing-masing bernama: Abdullah Sutan Pamenan (A.2.1), Silisiah (A.2.2), Gadi (A.2.3) dan Buyung Bagindo Sutan (A.2.4). Silisiah memiliki dua orang anak yaitu Daruman Sutan Pamenan (A.2.2.1) dan Sapiah (A.2.2.2). Pada waktu masa kanak-kanak sebelum memasuki sekolah, saya masih sempat bertemu dengan Nenek Sapiah yang biasa kami panggil dengan “Nek Tapi” karena pada masa tinggal di rumah gadang, beliau menempati bilik paling ujung. Nek Tapi juga dikenal pandai berpantun sehingga setiap anak-anak bertemu dengan beliau selalu diminta berpantun atau mengajari cara-cara berpantun sebagai alat pergaulan dalam masyarakat khususnya kalangan muda-mudi. Nek Tapi mempunyai anak perempuan satu-satunya yaitu Ajisam (A.2.2.2.1).

Adik perempuan Abdullah Sutan Pamenan yang bernama Gadi memiliki 3 orang anak yang terdiri dari satu anak laki-laki sulung bernama Arih Bagindo Sutan (A.2.3.1) dan 2 anak perempuan yaitu Dailan (A.2.3.2) dan Salian (A.2.3.3). Anak bungsu Gadi yang bernama Salian meninggal lebih dahulu daripada kakaknya Dailan sehingga anak Salian yang bernama Sawajir (A.2.3.3.1) dan seorang laki-laki yang biasa kami panggil “Mak Idin” (A.2.3.3.2) dipelihara oleh Dailan dengan baik. Sedangkan Dailan mempunyai dua orang anak yaitu Dasima (A.2.3.2.1) yang meninggal tahun 2002 dan seorang laki-laki yang kami panggil dengan “Mak Icun” (A.2.3.2.2).

Adik perempuan Kamidah yang bernama Boneh (A.3),  keturunannya saat ini dianggap hampir punah karena tidak memiliki anak perempuan yang banyak. Boneh hanya mempunyai 3 orang anak yaitu 2 anak perempuan dan satu laki-laki yang masing-masing bernama Leka (A.3.1), Buyung Bagindo Basa (A.3.2), dan Supiak (A.3.3). Keturunan dari Leka sudah punah sejak tahun 1979 karena hanya mempunyai 2 orang anak laki-laki yaitu bernama Tarinan (A.3.1.1) dan Adnan Malin Bandaro(A.3.1.2). Anaknya yang bungsu yaitu Adnan Malin Bandaro semasa hidupnya dikenal sebagai “gharin” yaitu menjaga kebersihan Masjid Nurul Huda Tanjung Alam. Walaupun beristerikan seorang perempuan di Batang Buo, namun masa tuanya lebih banyak dihabiskan di rumah sepupu perempuannya yang bernama Syamsani bahkan semasa kami masih tinggal di rumah lama “Uwo Naro”, panggilan yang biasa kami berikan selalu makan siang di rumah. Waktu meninggal dunia, beliau menghembuskan nafas terakhir di rumah Syamsani dan dimakamkan di pandam pekuburan suku Jambak. Semasa muda beliau lebih banyak dikenal sebagai “parewa” dan pernah memperdalam ilmu mistik namun kemudian banyak dibimbing oleh H. Khalidi Ali sampai beliau ditawarkan menjadi penjaga kebersihan masjid.

Anak perempuan bungsu Boneh adalah bernama Supiak (A.3.3) yang mempuyai 2 orang anak yaitu Buyung Sutan Rumah Panjang (A.3.3.1)  dan Syamsani (A.3.3.2). Buyung Sutan Rumah Panjang yang terakhir beristerikan seorang perempuan dari Tanjung Bungo bernama Bainur meninggal dunia di Medan. Meskipun mempunyai beberapa orang anak, namun Syamsani tidak mempuyai anak perempuan sehingga beliau dianggap sebagai keturunan terakhir dari Boneh. Anak-anak Syamsani adalah bernama Sirjon (A.3.3.2.1), Alizar (A.3.3.2.2), Nazwar (A.3.3.2.3), Erman (A.3.3.2.4) dan Syafnil (A.3.3.2.5).

Keturunan Inyiak Bantiang berikutnya adalah Baniah (A.4) yang mempunyai sepasang anak ibarat “anak balam” yaitu bernama Siti Maryam (A.4.1) atau yang biasa dikenal dengan “Siti Tokoh” dan seorang anak laki-laki bernama Malin Daro (A.4.2). Siti Maryam meskipun hidup sangat sederhana namun semasa hidupnya dikenal jujur dalam menjalankan perniagaan yaitu berjual beras di kedainya. Pernah ada cerita bahwa ketika Siti Maryam membawa dagangannya ke pasar biasanya dagangan itu cepat laku dan orang-orang yang mencarinya selalu bertanya dengan sebutan “Amak Baju Cabiak” karena berpakaian sangat sederhana bahkan banyak tambalannya. Sebagaimana dengan ibunya, Siti Maryampun mempunyai “anak balam” karena mempunyai sepasang anak yang bernama Manaji (A.4.1.1) dan Rawana (A.4.1.2) hasil perkawinannya dengan seorang penduduk asal Tanjung Medan yang bernama H. Abdurrahman. Manaji tidak berumur panjang sehingga harapan hidup Siti Maryam satu-satunya hanyalah kepada anak daranya yaitu Rawana.

Karena kemudian dikenal sebagai anak tunggal, Rawana merasa hidup agak “tersisih” dan kesepian karena selain miskin juga tidak memiliki saudara laki-laki yang akan membelanya, begitu pula mamaknya Malin Daro meninggal dunia ketika masih sangat muda. Untunglah Rawana memiliki banyak anak yaitu 7 orang hasil perkawinannya dengan Buyung Sutan Bagindo asal Tanjung Medan yang melahirkan “cahaya mata” yaitu Adillah (A.4.1.2.1), Nura’ini (A.4.1.2.2), Anwar Sutan Bandaro (A.4.1.2.3), Kartini (A.4.1.2.4), Nasrun (A.4.1.2.5), Nasri Sutan Mantari (A.4.1.2.6)  dan Warnis Sutan Basa (A.4.1.2.7).

Keturunan Inyiak Bantiang yang terakhir adalah bernama Niah (A.5) yang mempunyai 2 orang anak perempuan masing-masing Baniah (A.5.1) dan Sisah (A.5.2).

Keturunan Baniah kemudian cukup berkembang meskipun hanya memiliki satu anak perempuan tapi kehidupan ekonominya dinilai relative baik dibandingkan dengan anggota suku Jambak lainnya. Baniah mempunyai 2 orang anak yaitu U. Malin Saidi (A.5.1.1) dan seorang perempuan bernama Badinah (A.5.1.2). Anak-anak Badinah berjumlah 4 orang yaitu 2 orang laki-laki dan 2 orang perempuan masing-masing adalah H. Khalidi Ali (A.5.1.2.1), Karijan (A.5.1.2.2), Fatimah (A.5.1.2.3) dan Syamsul Adias (A.5.1.2.4). Fatimah mempunyai anak kembar perempuan yang bernama Asna (A.5.1.2.3.1) dan Asni (A.5.1.2.3.2), sedangkan Syamsul Adias yang dinikahi oleh seorang warga Tanjung Medan bernama Yassin Yussuf mempunyai 2 anak perempuan dan 2 anak laki-laki yaitu Asmar Yassin (A.5.1.2.4.1), Asral Yassin (A.5.1.2.4.2), Masril Yassin (A.5.1.2.4.3) dan Zulva Yassin (A.5.1.2.4.4).

Saudara perempuan Baniah yaitu Sisah (A.5.2) mempunyai sepasang anak yaitu Z. Kari Sampono (A.5.2.1) dan Syamsidar (A.5.2.2). Pada masa hidupnya Syamsidar bersuamikan seorang warga Tanjung Medan dan mempunyai dua orang anak perempuan yaitu Hilmar (A.5.2.2.1) dan Ermiliza (A.5.2.2.2).

Dari paparan diatas terlihat bahwa keturunan Datuk Rajobasa melalui Inyiak Bantiang (A) merupakan keturunan yang mengalami perkembangan yang sangat pesat namun tidak ditemukan adanya generasi yang bergelar datuk.

Sementara keturunan Datuk Rajobasa melalui Cino Urai (B) relative agak terbatas karena sedikit memiliki keturunan perempuan. Cino Urai mempunyai 3 orang anak yaitu 2 anak laki-laki yaitu Datuk Makodoh (B.1), Bagindo Labiah (B.2) dan seorang anak perempuan bernama Janiah (B.3). Keturunan Janiah juga relative kecil yaitu hanya memiliki seorang anak laki-laki bernama Saliah Sutan Pamuncak (B.3.1) dan seorang anak perempuan bernama Upiak Andah (B.3.2). Keturunan Upiak Andah juga relative terbatas karena hanya memiliki seorang anak perempuan yaitu Rosni dan 2 orang anak laki-laki yang bernama Bahar (B.3.2.1) yaitu kakak dari Rosni (B.3.2.2) dan Nazwar (B.3.2.3), adiknya Rosni. Sementara Rosni yang menikah dengan Azwir Sutan Bagindo seorang mantra kesehatan tentara asal Sikumbang, Tanjung Medan mempunyai cukup banyak anak. Sejak meninggalnya Upiak Andah sekitar tahun 1986, pekuburan bagi generasi sesudah beliau dikebumikan terpisah tidak lagi di Pandam Pekuburan suku Jambak melainkan di kawasan “Ujuang Gurun” termasuk bagi Azwir Sutan Bagindo yang meninggal sesudahnya.

Meskipun keturunan Datuk Rajobasa melalui Cino Urai (B) relative lebih kecil dan terbatas karena sedikitnya memiliki keturunan perempuan, namun pernah ada generasi yang bergelar datuk yaitu Datuk Makodoh, anak sulungnya Cino Urai sendiri.

Keturunan Datuk Rajobasa melalui Ganti Amah (C) memiliki keturunan yang sangat terbatas bahkan dapat dikatakan saat ini sudah punah sejak meninggalnya keturunan terakhir yaitu Kamsiah pada tahun 1984. Ganti Amah mempunyani 3 orang anak yaitu 2 anak laki-laki bernama Bagindo Pakiah (C.1) dan Mantari Ameh (C.2) serta seorang anak perempuan yaitu Cimpua (C.3). Keturunan Cimpua tidak bertahan lama karena hanya mempunyai sepasang anak yaitu Datuk Bandaro (C.3.1) dan Kamsiah (C.3.2). Sementara Kamsiah terbatas hanya mempunyai 3 orang anak yang semuanya laki-laki yaitu Amiruddin (C.3.2.1), Amsir (C.3.2.2) dan Gafar (C.3.2.3) sehingga pada masa hidupnya Kamsiah yang tidak mempunyai anak perempuan lebih memilih tinggal bersama dengan keluarga Upik Undah.

Meskipun keturunan Datuk Rajobasa melalui Ganti Amah memiliki keturunan yang sangat terbatas namun pernah ditemukan adanya generasi yang bergelar datuk yaitu Datuk Bandaro yang merupakan cucu dari Ganti Amah.

Sumber:

http://baikoeni.multiply.com/journal/item/114