Dalam mencermati tambo, hal yang perlu sekali kita perhatikan adalah karakter dari bahasa tambo itu dan karakter bangsa penulisnya sendiri.Ini mirip metodologinya dengan belajar bahasa Arab untuk memahami alquran dan hadist. Untuk tambo versi bahasa indonesia bisa dibaca di link ini.

OK, sekarang kita mulai. Orang Minang dari dahulu sampai sekarang terbiasa menggunakan kiasan, perumpamaan dan analogi. Ini telah saya ulas pada frase bugih lamo = kain lama = bekas istri = janda. Selain itu kalau anda perhatikan di tambo, ada gelar-gelar seperti Kucing Hitam, Harimau Campo, Kambing Hutan dan Anjing Mualim yang sebenarnya manusia juga.

Untuk menterjemahkan kiasan, salah satu metode yang dipakai adalah mencari frase yang menggunkan kosakata yang sama dengan kalimat yang akan ditafsirkan. Kemungkinan perbedaan tafsiran pasti ada, namun tidaklah akan terlalu besar penyimpangan artinya. OK, sekarang saya cuplikkan dua buah kasus.

1. “Sajak gunuang marapi sagadang talua itiak” (Sejak gunung marapi sebesar telur itik). Ini maksudnya adalah gunung marapi yang terlihat masih jauh dari tengah laut
(dari atas kapal), yang dilihat oleh para imigran pertama nenek moyang orang Minang yang diperkirakan datang dari sekitar India Selatan dan Langgapuri (Ceylon/Srilanka).

2. “Bundo Kanduang, Dang Tuanku dan Putri Bungsu mangorok kelangit” (Bundo Kanduang, Dang Tuanku dan Putri Bungsu menghilang/terbang/moksa kelangit). Kalimat ini ditemukan dalam Kaba Cindua Mato. Bisa dibaca dahulu di link ini. Pertama sekali lihat konteks cerita. Pada saat itu Ranah Pagaruyung akan ditaklukkan oleh Tiang Bungkuak (Raja Sungai Ngiang) di rantau timur (perkiraan saya Jambi/Hilir sungai Batang Hari/Kerajaan Melayu Kuno). Pagaruyung cuma tinggal menunggu kalah saja karena tidak punya tentara. Bahkan sebelum negeri ditaklukkan Dang Tuanku telah menceritakan mimpinya bahwa dia sekeluarga tidak akan lama lagi ada didunia.

<kutipan>
“Pada suatu malam, saat menunggu serangan Tiang Bungkuak, Dang Tuanku bermimpi bertemu seorang malaikat dari langit yang berkata dia, Bundo Kanduang dan Puti Bungsu sudah waktunya meninggalkan dunia yang penuh dosa ini. Pagi harinya Dang Tuanku mengisahkan mimpinya pada Bundo Kanduang dan Basa Ampek Balai. Mengetahui waktu mereka sudah dekat, mereka mengangkat Cindua Mato sebagai Raja Muda.”

</kutipan>

Kedua kita analisa juga konteks bahasa

<kutipan>
Cindua Mato menunggu Tiang Bungkuak di luar Pagaruyung, namun dalam duel yang
berlangsung dia tak mampu membunuh Tiang Bungkuak. Cindua Mato lalu menyerah pada kesatria tua itu, dan mengikutinya ke Sungai Ngiang sebagai budak. Pada saat yang sama sebuah kapal terlihat melayang di udara membawa Dang Tuanku dan anggota keluarga kerajaan lainnya ke langit.

</kutipan>

Bundo Kanduang sekeluarga moksa kelangit. Ini adalah kiasan dari meninggal dunia dalam konteks Buddha. Ingat, agama saat itu adalah Buddha.

Jadi terjemahannya, Keluarga Kerajaan Pagaruyung Tewas dalam penaklukan oleh Kerajaan Sungai Ngiang yang dipimpin Tiang Bungkuak.