Apa yang terlintas di pikiran Anda ketika mendengar nama Bundo Kanduang dalam Kaba Cindua Mato. Wanita antah berantahkah? Mitos yang terlalu konyol dan naif kah? Dara Jingga sang putri kerajaan Dharmasraya kah? Cukup banyak tafsiran dipopulerkan, bahkan pada tahap yang radikal oleh seorang datuak pengisi acara di Minang Maimbau RRI Programa 4 Jakarta, pada sekitar tahun 2004, mengemukakan Bundo Kanduang itu selayaknya diartikan sebagai sikap ideal perempuan Minang secara keseluruhan, bukan sosok fisik.

OK, sebelum meneruskan membaca tulisan ini, ada baiknya anda simak teori saya bahagian pertama yang telah saya posting beberapa waktu yang lalu. Kembali ke soal Bundo Kanduang. Pada bahagian awal kaba ini, dijelaskan soal siapa Bundo Kanduang ini.

Anda bisa menyimak terjemahan Kaba Cindua Mato selengkapnya di link ini. Bahagian yang akan saya cuplik, adalah :

Bundo Kanduang, Pemimpin Kerajaan Minangkabau, Timbalan Raja Rum, Raja Tiongkok dan Raja dari Laut, Adanya (keberadaannya) sama awalnya dengan adanya Alam ini”.

Sepintas kita akan menafsirkan kalimat ini sama dengan kalimat-kalimat mitos lain seperti orang Jepang yang mengaku keturunan Dewa Matahari, Orang Yunani yang keturunan para Titan, Orang Timor yang dibawa buaya atau orang Bugis yang turun dari langit. Beberapa anggota RN menanggapi tulisan saya bahagian pertama ya cuma sebatas itu. Menurut mereka, mitos ya mitos.

Tapi saya tidak puas hanya sekedar berhenti disana. Karena berdasarkan teori bahagian pertama, yang hipotesa pentingnya adalah : “nenek moyang orang Minang adalah imigran dan kebudayaan Minangkabau sendiri adalah Kebudayaan Hellenisme, yang kira-kira berawal pada tahun 300-400 M, jadi sampai saat ini baru berumur sekitar 1700-2000 tahun”.

Kita perhatikan lagi kalimat kaba diatas dan kita urai satu persatu untuk memperkuat hipotesa barusan. Kenapa harus timbalan Raja Rum, Tiongkok dan Raja Laut. Kenapa bukan Persia, Melayu Tua atau bahkan Siam yang sezaman dengan itu.

Mudah dipahami, karena merujuk pada teori bahagian pertama, bahwa imigran yang bersekutu mendirikan kebudayaan baru Minangkabau (yang saat itu belumlah bernama Minangkabau) adalah berasal dari wilayah-wilayah tersebut. Jadi penyebutan ini untuk menegaskan identitas masing-masing. Ini mirip halnya dengan terbentuknya negara Amerika Serikat yang dihuni imigran dari Inggris, Irlandia, Jerman, Italia, Perancis dan Spanyol pada awalnya. Bundo Kanduang adanya sama awalnya dengan adanya Alam ini.

Sebelum anda tergelincir menafsirkan, Anda perlu mempertimbangkan kebiasaan orang Minang yang senang mempergunakan kiasan. Misalnya, bekas istri atau janda disebut sebagai kain lama atau lebih populer bugih lamo.  Namun kata-kata “Alam” disini kebetulan bukanlah kiasan, ia bahkan lebih sederhana dari itu. Anda mungkin mencap saya gila jika setuju bahwa Bundo Kanduang tercipta pada saat Alam Semesta tercipta, lalu Nabi Adam ditempatkan di mana? Anda keliru.

Pertama sekali yang harus anda pikirkan adalah, apa arti “Alam” dalam konsepsi orang Minangkabau. Nah itu dia kuncinya. Alam dalam konsepsi Minangkabau klasik tentulah tidak sama artinya dengan Alam Semesta dan Makrokosmos seperti dalam pengertian Agama, Science atau Kebudayaan lain. Alam (Alam Minangkabau) bagi orang Minang tidak lebih adalah wilayah kekuasaan, atau lebih sederhananya Kerajaan, atau lebih definitifnya wilayah Luhak Nan Tigo. Jadi kalimat diatas sepantasnya dimaknai, Bundo Kanduang itu adanya sama awalnya dengan kerajaan yang dipimpinnya. Atau dengan kata lain adalah beliau (siapapun dirinya) adalah raja pertama/pemimpin pertama/pendiri dari kerajaan yang dipimpinnya (apapun nama kerajaan itu).

Saya yakin, sekarang semuanya sudah lebih masuk akal. Bahagian ketiga tulisan saya akan menguak misteri perangkat-perangkat politik Minangkabau klasik, semacam Basa Ampek Balai, Jabatan-jabatan kehormatan Koto Piliang, Rajo nan Tigo Selo dan sebagainya. Perangkat-perangkat ini sangat modern untuk ukuran wilayah-wilayah lain disekitar Minangkabau atau bahkan di Nusantara pada masa itu. Tidak ada penjelasan lain yang lebih logis daripada, semuanya ini pastilah “diimpor” (termasuk didalamnya arsitektur dan sistem pertanian).