Dimano asa titiak palito

Dibaliak telong nan batali

Dari mano asa niniak kito

Dari ateh gunuang marapi

Sebait pantun diatas lama kita kenal sebagai konstitusi dasar warga masyarakat yang mengaku orang Minang yang mendiami wilayah Minangkabau. Sejak dari buku-buku tambo sampai pemutakhiran metode lewat buku pelajaran Budaya Alam Minangkabau di sekolah-sekolah negeri, ajaran resmi ini telah disebarluaskan. Kita sebagai orang Minang akan sangat dengan mudahnya tersinggung jikalau ada yang latah mengungkit-ngungkit soal nenek moyang kita yang tidak jelas, apalagi kalau ada yang “kurang ajar” menggugat kesakralan mitos sebagai keturunan asli dari Maharaja Iskandar Zulkarnain (Alexander Agung).

Namun pada kenyataannya kaum pendukung (walaupun banyak yang irrasional), kaum penentang (yg banyak emosional) serta kaum moderat (yang tidak punya pendirian) sama-sama pula banyaknya. Gerakan neo revivalis tampak diusung saudara Es Ito dalam novel anyarnya yang berjudul Negara Kelima. Sadar akan kondisi itu saya tergelitik untuk menulis tulisan ini. Bukan untuk tujuan apa-apa dan bukan untuk mempengaruhi siapa-siapa, namun untuk memperkenalkan suatu metode yang saya sebut metode puzzle. Perlu dicatat, mungkin bukan hanya saya saja yang pernah berpikir seperti ini. Dan lebih perlu dicatat lagi, saya bukanlah ahli sejarah. Kalau anda mencari ahli sejarah, bak kata Fauzi Bowo, “serahkanlah kepada ahlinya” yaitu bapak Professor TaufikAbdullah.

OK, dalam metode ini atau katakanlah metodologi, saya banyak bersinggungan dengan serpihan fakta-fakta antropologi, yang akan saya sajikan berikut :

  1. Kalau Anda cermat memperhatikan, orang Minang itu sangat beragam ciri fisiknya, namun secara umum, rata-rata bercirikan Asia Selatan (Orang Pesisiran Pariaman, Padang, Pasaman Barat, Ranah Pasisia), Asia Timur (Orang Luhak Nan Tigo, Pasaman, Solok, Alam Surambi Sungai Pagu, Kurinci) dan Asia Tenggara/Melayu (Orang Rantau Timur, Riau, Sawahlunto, Sijunjuang). Kalau Anda pernah berkunjung ke Srilanka, Tamil Nadu, Madras dan wilayah Benggala, Anda akan merasa mudah bersua dengan wajah-wajah yang akrab dengan Anda di wilayah Pariaman atau Padang. Kalau Anda sering bertandang ke Filipina atau Thailand, mungkin pula Anda akan menyangka bertemu salah-satu kenalan Anda yang asal Bukittinggi. Begitu pula jika Anda pernah berkunjung ke Semenanjung atau Sarawak.
  2. Pada masa penjajahan Kerajaan Pagaruyung Hindu (1347-1450) rata-rata prasasti ditulis dalam dua bahasa, yang terlihat dari dua jenis aksara yang dipakai. Yaitu aksara pallawa berbahasa sansekerta (bahasa resmi Kerajaan Singasari/Majapahit) dan satunya lagi aksara India Selatan yang sering ditemui dalam prasasti-prasasti terkait penyebaran agama Buddha. Adakah perlu dibuat prasasti dalam suatu bahasa (India Selatan) jika tidak ada pembacanya?
  3. Sebagaimana kita ketahui, gelar-gelar para nenek moyang itu seperti Maharaja Diraja, Cati Bilang Pandai, Harimau Campa dan lain-lain sangat beraroma daerah asalnya yaitu India Selatan, Siam dan Tiongkok.
  4. Layak juga Anda ketahui, ekspedisi penaklukan Kerajaan Macedonia ke dunia timur berakhir dengan keputusan tidak bulat pada tahun 327 SM di tepian sungai Hypasin (sungai Indus). Sungai ini sekarang berada didekat perbatasan Pakistan-India. Tentara Macedonia yang dalam perjalanannya berubah menjadi laskar multirasial (tidak semuanya orang Macedonia/Yunani asli) tidak semuanya mengikut perintah Iskandar Zulkarnain untuk menghentikan ekspedisi penaklukan ke timur. Beberapa faksi dengan tetap membawa panji-panji kehormatan Iskandar Zulkarnain meneruskan perjalanan menyusuri pesisiran pantai Malabar India, sampai India Selatan dan Srilanka, bahkan ada pula yang menyeberangi laut ke selatan sehingga sampai di Sumatra, seperti wilayah Pantai Barat dan Aceh. Jamak diketahui, penduduk Aceh sejatinya adalah pendatang dari India Selatan juga (kebanyakan dari Madras).
  5. Pada masa permulaan abad masehi (tahun 1) sampai beberapa abad kemudian, di India Selatan berkuasa kerajaan Cola Mandala yang pengaruhnya sampai ke Srilanka, Siam (Thailand), Myanmar dan tentu saja Sumatra. Pada saat bersamaan, kerajaan-kerajaan besar di Indonesia seperti Sriwijaya baru saja tumbuh. Imigran India Selatan banyak yang menyebar sampai Sumatra, terutama Aceh dan Pantai Barat. Pantai Barat adalah wilayah internasional yang ramai (untuk ukuran masa itu).
  6. Kalau dikait-kaitkan antara fakta sejarah Kerajaan Pagaruyung Hindu (masa Adytiawarman yang dikenal sebagai Dang Tuanku) dengan tokoh-tokoh dalam tambo, dengan asumsi tambo benar, maka selisih waktu antara Adityawarman dan Para niniak yang turun dari Gunung Marapi tidak akan lebih dari seribu tahun. Sehingga dengan asumsi itu, bisa diramal tahun turunnya niniak kita itu sekitar tahun 300-400 M.
  7. Suku Chaniago ada yang mengatakan berasal dari kata Cino Niago, atau orang Cino yang pandai berniaga. Sedangkan suku Bodi, tentu sangat erat dengan kata Boddhi (Bodhisatwa) yang lekat dengan ajaran Buddha dari India.
  8. Tahun 1550-an (berdasarkan buku Plakat Panjang), seorang utusan Portugis yang bertualang ke pedalaman Minangkabau, kaget melihat kemajuan pertanian dan tata kelola sistem pertanian di daerah pedalaman Sumatra, yang menurutnya sangat maju, mirip dengan yang dilakukan orang-orang berperadaban tinggi.
  9. Di Pariaman, sampai saat ini masih berlaku adat Uang Jemputan yang ternyata ditemukan pula di beberapa negara bagian di India.
  10. Di daerah Kerala, Tamil Nadu, India. Ditemukan komunitas yang menganut matrilineal sekaligus mengaku keturunan Iskandar Zulkarnain juga.

OK, setelah memaparkan 10 serpihan fakta ini, menurut saya pembaca sudah dapat mengira-ngira kemana arah kesimpulan akan saya bawa. Namun, disini saya tidak akan latah mengambil kesimpulan. Alih-alih saya akan menyajikan hipotesa.

Hipotesa Saya

Nenek Moyang orang Minangkabau adalah, imigran dari India Selatan (yang sebagiannya merupakan sisa-sisa laskar Macedonia yang mengembara ke timur), China Selatan, Siam dan Melayu yang kemudian bersepakat bersinergi dan mensintesis kebudayaannya secara demokratis yang akhirnya melahirkan satu kebudayaan baru (dengan sejarah baru yang disepakati).

Kebudayaan Minangkabau sejatinya juga merupakan salah satu kebudayaaan Hellenisme (Kebudayaan Hasil Sintesa Barat dan Timur). Sempat terjadi gangguan terhadap kestabilan kebudayaan mereka oleh invasi Singasari/Majapahit pada era kerajaan Pagaruyung Hindu, namun mereka berhasil menghapus dari sejarah, fakta politik zaman mereka dijajah itu.

Mereka sengaja menurunkan sejarah yang disepakati dengan tradisi Lisan, dan memusnahkan semua bukti-bukti sejarah invasi Singasari/Majapahit lewat kerajaan Pagaruyung Hindu. Mereka pada akhirnya setelah Peperangan Saruaso, mengembalikan sistem politik federalnya dengan melucuti kekuasaan penerus Pagaruyung Hindu sampai tingkat simbolis saja.

Karena itu, sekarang ini sangat mudah kita temui Orang Minang yang dengan gampangnya kawin mawin dengan suku bangsa lain serta hobi merantau. Itu semua karena darah kosmopolitan yang mereka warisi sejak berabad-abad silam, sehingga mereka tidak akan takut dengan globalisasiyang menjadi hantu bagi komunitas lain.