Jauh hari sebelum saya memulai dengan serius proyek Paco Paco ini, telah ada beberapa embrio dari tulisan-tulisan saya yang sempat saya posting di milis Rantau Net. Dari tulisan-tulisan hipotetik yang kadang hanya dilandasi kekritisan semata ini akhirnya saya memutuskan sebuah konsep yang jelas tentang proyek Paco Paco ini.

Sesuai namanya Paco Paco mengacu kepada mozaik. Tulisan-tulisan di situs ini yang sebagian besarnya saya sadur dari tulisan-tulisan para penulis sebelumnya saya rangkai dalam bentuk mozaik kronologis dan mozaik geografis. Filosofi ini juga yang saya tuangkan dalam design header blog ini, yang kurang lebih bermakna Ranah Minang yang dinamis dan desentralistis.

Tidak ada pusat dan pinggir di Ranah Minang yang selalu berubah ini. Masing-masing wilayah adalah entitas yang setara dan menorehkan sejarah pada zamannya masing-masing. Kita mengenal sekurang-kurangnya 3 istilah “Alam” di wilayah ini, yakni Alam Minangkabau yang identik dengan Luhak Nan Tigo, Alam Surambi Sungai Pagu yang berlokasi di selatan Alam Minangkabau (membentang dari Inderagiri sampai Inderapura) serta Alam Kerinci yang letaknya di selatan Alam Surambi Sungai Pagu.

Wilayah Minangkabau Selatan pernah jaya pada zaman emas dan lada, disana kita menemukan jejak sejarah Mande Rubiah dan Raja Nan Barampek. Minangkabau Timur (Batanghari) jaya di zaman emas juga sebagai pewaris Kerajaan Melayu Dharmasraya, disana kita menemukan epik Gajah Tongga Koto Piliang, sang penjaga pintu sebelah timur. Minangkabau Pusat (Luhak Nan Tigo) sangat kita kenal dalam Tambo dengan sentral Gunung Marapi nya, duo Datuk Katumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sabatang mengukir sejarah disini. Minangkabau Timur Laut meninggalkan bukti sejarah berupa hamparan Menhir di Mahat, Limapuluh Kota. Minangkabau Barat (Pariaman dan Padang) pernah menjadi jendela Minangkabau ke dunia luar. Pelabuhan-pelabuhan internasional pernah ada disini. Minangkabau Utara pernah menggetarkan seluruh Alam Minangkabau dengan revolusi keagamaannya. Tuanku Imam Bondjol pernah menorehkan sejarah dari sini. Minangkabau Barat Laut bertetangga dengan Kota Barus yang merupakan kota internasional di zaman lampau.

Semua wilayah pernah mengukir sejarah, semua wilayah sampai ke rantau-rantau timur pernah memberikan kontribusi. Itulah Minangkabau, sebuah wilayah kebudayaan yang dinamis, desentralistis dan terbuka.

Sayang sekali masih ada beberapa rahasia yang belum terungkap.  Salah satunya adalah Tambo Alam Minangkabau. Banyak pihak yang telah mengulas dan membahasnya, namun sayang seringkali terlalu dini untuk menghakiminya. Bagi saya ini adalah kekalahan intelektual terhadap subjektivitas pemikiran sempit. Banyak kalangan intelektual yang malu untuk membahas Tambo karena takut ditertawakan karena mengagung agungkan mitologi aneh tak berdasar. Sebagian dari mereka apakah itu kaum cendikiawan, pemuda, ulama bahkan pemangku adat sekalipun terpaku akan subjektivitas penafsiran yang terlalu dini.

Saya menawarkan sudut pandang yang berbeda dengan meramu catatan sejarah, ilmu antropologi, etnologi dan bahasa untuk melakukan Reinterpretasi terhadap Tambo Alam Minangkabau. Bagi saya Tambo tidaklah sakral karena saya juga tidak bertujuan membangun pembenaran terhadap teks Tambo, namun diluar itu semua, terlalu banyak potongan-potongan puzle di dalam Tambo yang terlalu sayang untuk tidak diteliti.

Akhirul kalam,

Selamat menikmati hipotesa dan kompilasi yang disajikan di sini.