You are currently browsing the category archive for the ‘Tambo’ category.

Asal Usul Manusia Minangkabau
Kata Minangkabau mengandung banyak pengertian. Minangkabau dipahamkan sebagai sebuah kawasan budaya, di mana penduduk dan masyarakatnya menganut budaya Minangkabau. Kawasan budaya Minangkabau mempunyai daerah yang luas. Batasan untuk kawasan budaya tidak dibatasi oleh batasan sebuah propinsi. Berarti kawasan budaya Minangkabau berbeda dengan kawasan administratif Sumatera Barat. Minangkabau dipahamkan pula sebagai sebuah nama dari sebuah suku bangsa, suku Minangkabau. Mempunyai daerah sendiri, bahasa sendiri dan penduduk sendiri.

Minangkabau dipahamkan juga sebagai sebuah nama kerajaan masa lalu, Kerajaan Minangkabau yang berpusat di Pagaruyung. Sering disebut juga kerajaan Pagaruyung, yang mempunyai masa pemerintahan yang cukup lama, dan bahkan telah mengirim utusan-utusannya sampai ke negeri Cina. Banyaknya pengertian yang dikandung kata Minangkabau, maka tidak mungkin melihat Minangkabau dari satu pemahaman saja.

Membicarakan Minangkabau secara umum mendalami sebuah suku bangsa dengan latar belakang sejarah, adat, budaya, agama, dan segala aspek kehidupan masyarakatnya. Mengingat hal seperti itu, ada dua sumber yang dapat dijadikan rujukan dalam mengkaji Minangkabau, yaitu sumber dari sejarah dan sumber dari tambo. Kedua sumber ini sama penting, walaupun di sana sini, pada keduanya ditemui kelebihan dan kekurangan, namun dapat pula saling melengkapi.

Menelusuri sejarah tentang Minangkabau, sebagai satu cabang dari ilmu pengetahuan, maka mesti didasarkan bukti-bukti yang jelas dan otentik. Dapat berupa peninggalan-peninggalan masa lalu, prasasti-prasasti, batu tagak (menhir), batu bersurat, naskah-naskah dan catatan tertulis lainnya. Dalam hal ini, ternyata bukti sejarah lokal Minangkabau termasuk sedikit.

Banyak catatan dibuat oleh pemerintahan Hindia Belanda (Nederlandsche Indie), tentang Minaangkabau atau Sumatera West Kunde, yang amat memerlukan kejelian di dalam meneliti. Hal ini disebabkan, catatan-catatan dimaksud dibuat untuk kepentingan pemerintahan Belanda, atau keperluan dagang oleh Maatschappij Koningkliyke VOC.

Tambo atau uraian mengenai asal usul orang Minangkabau dan menerakan hukum-hukum adatnya, termasuk sumber yang mulai langka di wilayah Minangkabau sekarang. Sungguhpun, penelusuran tambo sulit untuk dicarikan rujukan seperti sejarah, namun Read the rest of this entry »

Data Buku

  • Judul Buku     : Tambo Alam Minangkabau
  • Pengarang     : H Datoek Toeh ( Koto Gadang, Payakumbuh)
  • Editor           : A Damhoeri
  • Penerbit        : Pustaka Indonesia, Bukittinggi
  • Tahun Terbit  : 1930-an (?), Telah dicetak 13 kali

Ringkasan Isi Tambo

Iskandar Zulkarnain  (1) dari  nagari Ruhum  mewasiatkan kepada tiga putranya untuk  berangkat menuju ke Timur. Setelah IZ wafat ketiga putra tsb  :

  • Sultan Maharaja Alif
  • Sultan Maharaja Depang
  • Sultan Maharaja Diraja

Berangkat menuju pulau Langkapuri. Dekat pulau Sailan timbul niat jahat dari  SM Alif dan SM Depang, keduanya memaksa untuk memiliki Mahkota Sanggahana (2),  ketika berebut , mahkota jatuh kelaut.  Seekor naga membelit / menjaga mahkota tsb. Cateri Bilang Pandai (3) menciptakan duplikat mahkota dengan meneropong  dan menggunakan cermin untuk melihatnya. Mahkota jadi, persis seperti aslinya. Mahkota  sudah tukang dibunuh  (4) sehingga tak bisa ditiru lagi. SM Depang terus kebenua Cina, SM Alif kembali kenegeri Rum.

SM Diraja terus ke Tenggara  menuju pulau Jawa Alkibri. Diantara pengiringnya terdapat seekor anjing Muklim, kucing Siam, kambing hutan, harimau. Kapal diutujukan ke puncak Merapi.  Ketika mendarat dipuncak gunung itu, kapal kandas.

Raja  memerintahkan perbaikan dengan sayembara : Barang siapa yang sanggup memperbaiki, akan dikawinkan dengan anaknya nanti. Kebetulan pengiring dengan nama-nama binatang itulah yang sanggup memperbaikinya. Baginda beroleh lima puteri, setelah dewasa empat diantaranya dikawinkan dengan empat ahli yang sudah memperbaiki kapal.

Dalam pada itu laut sudah menyentak surut, terjadilah daratan yang luas di kaki  gng Merapi. Dengan  kekuasaan Tuhan datanglah awan putih empat jurai. Sejurai merunduk ke luhak Agam, sejurai ke luhak Tanah Datar, sejurai keluhak Lima Puluh Kota, sejurai  ke Candung Lasi. Yang turun ke Tanah Datar ialah putera Yang  Dipertuan Sendiri. Daulat   yang pertama ialah daulat kepada Lakandibida. Itulah kemudian yang ditempati oleh Ninik mamak yang berdua Ketemanggungan dan Perpatih Nan Sebatang.

Sebelum  Dtk Ketemanggungan (DK) dan Dtk Perpatih (DP) lahir, negeri-negeri  dikuasai Dt Marajo Basa di Padang Panjang, Dt Bandaro Kayo di Pariangan Padang Panjang. Yang Dipertuan (YD) (6) memerintahkan Cateri Bilang Pandai (CBP) (7) untuk mendirikan balai rapat  ” Balai Balerong Panjang “.  YD  juga menyuruh CBP  untuk mencari tanah-tanah baru untuk kediaman rakyat.

Lalu raja itu turun ke Bumi Setangkai dengan tujuh perempuan dan kemudian delapn permpuan bersama sekelompok laki-laki.. Mereka mendiami bumi yang bernama Bunga Setangkai.  YD kembali ke Periangan Pd Panjang. YD kawin dengan Puteri Indah Jelita (PIJ), memperoleh anak laki-laki : anak tertua ini bergelar Dtk Ketemanggungan atau Sutan Maharaja Besar. Read the rest of this entry »

Salah satu versi Tambo yang cukup populer namun belum diketahui siapa pengarangnya menggabungkan 4 unsur dalam alur ceritanya, yaitu:

  • Naskah asli Tambo Alam Minangkabau
  • Hikayat Sang Sapurba dari Melayu dan Sejarah Kerajaan Sriwijaya
  • Tokoh Adityawarman yang muncul dalam Prasasti Padang Roco dan beberapa Batu Basurek, serta
  • Kaba Cindua Mato (Cindua Mato dan Bundo Kanduang)

Saking ambisiusnya upaya ini, sebuah silsilah telah dipublikasikan pula berdasarkan konsep penggabungan 4 sentral cerita ini. Silsilah ini bisa diitemukan pada buku Manyigi Tambo Alam Minangkabau oleh Drs. Mid Jamal. Mari kita perhatikan isi tambo ini.

Sri Maharaja Diraja

Sri Maharaja Diraja turun sedikit ke bawah dari puncak Gunung Marapi membuat tempat di Galundi Nan Baselo. Sri Maharaja Diraja merupakan salah satu putera dari Raja Iskandar Zulkarnain, dua lainnya adalah Sri Maharaja Alif dan Sri Maharaja Dipang.

Mula-mula dibuatlah beberapa buah taratak. Taratak-taratak itu makin lama makin ramai, lalu tumbuh menjadi dusun, dan Galundi Nan Baselo menjadi ramai. Beratus-ratus tahun kemudian setelah Sri Maharaja Diraja wafat, bertebaranlah anak cucunya kemana-mana, berombongan mencari tanah-tanah baru untuk dibuka, karena air telah menyusut pula. Dalam tambo dikatakan Tatkalo bumi barambuang naiak, aia basintak turun. Terbentuk Luhak Nan Tigo, oleh keturunan Maharaja Diraja ; si Harimau Campa, Kambing Hutan, Kucing Siam dan Anjing Mualim.

Sang Sapurba

Lalu muncul tokoh, seorang raja bernama Sang Sapurba ; ia datang dari tanah Hindu; Ia mendarat di Bukit Siguntang Maha Meru dekat Palembang. Sang Sapurba adalah seorang Hindu yang beragama Hindu. Dia menyembah berhala. Lalu diadakan tempat beribadat di suatu tempat. Tempat ini sampai sekarang masih bernama Pariangan (per-Hiyang-an = tempat menyembah Hiyang / Dewa).

Pariangan semakin ramai, Sang Sapurba pindah ke tanah baru ; Batu Gedang dari tanah baru ini akhirnya lahir negeri Padang Panjang. Untuk kelancaran pemerintahan perlu diangkat orang-orang yang akan memerintah dibawah raja. Lalu bermufakatlah raja dengan orang-orang cerdik pandai, ditetapkan lah Dt. Bandaro Kayo dan Dt. Seri Maharajo di Pariangan ; Dt. Maharajo Basa dan Dt. Sutan Maharajo Basa di Padang Panjang. Dibuat Balai Adat. Itulah balai pertama yang asal sebelum bernama Minangkabau di Pariangan. Read the rest of this entry »

Sebagian isi dari tulisan ini dikutip dari buku Tambo dan Silsilah Adat Alam Minangkabau yang ditulis oleh B. Datuak Nagari Basa (1962) beserta kutipan dari tulisan-tulisan dan cerita para orang tua

Tambo Minang yang asli, pada zaman kolonial Belanda, dipinjam dan tidak dikembalikan kepada pemilik asli (para Tuan Laras). Menurut tambo yang asli, tanah air kita ini dulunya semua kepulauan di Nusantara tidak terpisah-pisah seperti sekarang ini, melainkan menyatu dengan semananjung Malaysia hingga benua Asia. Terpisahnya menjadi kepulauan Nusantara seperti sekarang ini diakibatkan oleh banjir besar Nabi Nuh, AS. Tanah yang hancur itu dihanyutkan oleh air yang surut dan terjadilah selat-selat dan laut-laut yang tidak begitu dalam.

Marapi dan Sagadang Talua Itiak

Menurut para orang tua yang disampaikan secara turun-temurun, menyebutkan bahwa nenek moyang orang Minangkabau ini berasal dari Persia (kawasan di Timur Tengah). Penduduk Minangkabau pada dahulunya disebut sebagai bangsa Melayu Minangkabau, bahasa yang dipakai serupa dengan bahasa yang dipakai Melayu Riau dan bangsa-bangsa Melayu lainnya, hanya dialeknya yang berubah. Suku Melayu pada awalnya tidak mempunyai huruf sebagai penyampai informasi sampai masuknya agama Islam. Segala sesuatu yang berupa sejarah, undang-undang, silsilah adat dan yang lainnya disampaikan dalam bentuk menceritakan kepada anak dan kemenakan. Kewajiban bagi seorang ninik mamak (saudara laki-laki dari orang tua perempuan ataupun dari nenek), adalah menceritakan kepada kepada anak kemenakan. Bagi kemenakan, adalah suatu kewajiban pula untuk menerima dan mendengarkan cerita dari ninik mamak tersebut. Sesuai dengan pepatah: “manjawek warih, mandanga tutua” atau menerima warisan, mendengarkan tutur atau ucapan kata.

Penemuan lokasi tinggal yang baru

Banjir besar Nabi Nuh, AS yang baru surut setelah ratusan hingga ribuan tahun mengakibatkan terpusatnya kelompok-kelompok peradaban umat di beberapa tempat di belahan bumi ini. Sementara masih banyak belahan bumi yang belum dihuni oleh umat manusia. Umat manusia yang masih hidup ini adalah pengikut-pengikut setia Nabi Nuh AS beserta ajarannya. Beberapa diantaranya mencoba mencari lokasi tempat tinggal baru yang akan secara turun temurun akan didiami oleh keturunannya hingga saat sekarang ini. Sementara, kepercayaan yang dianut semakin jauh menyimpang dari ajaran asli para Nabi, karena semakin banyaknya dan jauhnya penyebaran umat di beberapa pelosok bumi. Read the rest of this entry »

Tambo dalam arti yang sebenarnya adalah cerita sejarah negeri Minangkabau. Tambo-tambo lama Minangkabau didapati hampir di tiap-tiap nagari di Minangkabau yang ditulis dengan tangan dan memakai aksara Arab. Tambo-tambo tersebut sangat dimuliakan orang, bahkan adakalanya dipandang sebagai pusaka keramat. Sehingga yang memegangnya adalah kepala suku atau orang yang akan mengantikan kepala suku itu. Tidak sembarang orang yang boleh membaca, bahkan untuk membacanya harus didahului upacara khusus.

  Lukisan Marapi dilihat dari Danau Singkarak

Beberapa Saduran Naskah Tambo

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dr. Edwar Djamaris, tambo-tambo yang banyak itu ditulis dalam bahasa Melayu berbentuk prosa. Naskah Tambo Minangkabau ini sebagian besar ditulis dengan huruf Arab-Melayu, dan sebagian kecil ditulis dengan huruf latin. Naskah Tambo Minangkabau yang berhasil diketemukan sebanyak 47 naskah, masing-masing tersimpan di museum Nasional Jakarta sebanyak 10 naskah, di perpustakaan Universitas Leiden sebanyak 31 naskah, di perpustakaan KITLV Leiden Belanda sebanyak 3 naskah, di perpustakaan SOAS Universitas London 1 naskah, dan di perpustakaan RAS London 2 naskah.

Ada delapan saduran cerita Tambo Minangkabau yaitu:

Tujuan Penulisan Tambo

Secara umum dapat dikemukakan bahwa fungsi utama cerita Tambo Minangkabau adalah untuk menyatukan pandangan orang Minangkabau terhadap asal usul nenek moyang, adat, dan negeri Minangkabau. Hal ini dimaksudkan untuk mempersatukan masyarakat Minangkabau dalam satu kesatuan. Mereka merasa bersatu karena seketurununan, seadat dan senegeri.

A.A Navis seorang Budayawan Minang mengatakan Kisah tambo yang dipusakai turun-menurun secara lisan oleh orang Minangkabau hanya mengisahkan waktu dan peristiwa secara samar-samar, campur baur, bahkan ditambahi dengan bumbu yang kedongeng-dongengan. Adalah wajar bila kisah tambo itu mengandung berbagai versi karena tambo itu yang diceritakan oleh pencerita sesuai dengan keperluan atau kehendak pendengarnya.

Subjektivitas dan Falsafah Minang Dalam Penulisan Tambo

Terlepas dari kesamaran objektivitas historis dari Tambo tersebut namun Tambo berisikan pandangan orang Minang terhadap dirinya sendiri. Sebagaimana dikatakan oleh Navis, peristiwa sejarah yang berabad-abad lamanya dialami suku bangsa Minangkabau dengan getir tampaknya tidaklah melenyapkan falsafah kebudayaan mereka. Mungkin kegetiran itu yang menjadikan mereka sebagai suku bangsa yang ulet serta berwatak khas. Mungkin kegetiran itu yang menjadi motivasi mereka untuk menghapus sejarah masa silam dengan menciptakan tambo yang kedongeng-dongengan, disamping alasan kehendak falsafah mereka sendiri yang tidak sesuai dengan dengan falsafah kerajaan yang menguasainya. Mungkin kegetiran hidup dibawah raja-raja asing yang saling berebut tahta dengan cara yang onar itu telah lebih memperkuat keyakinan suku bangsa itu akan rasa persamaan dan kebersamaan sesamanya dengan memperkukuh sikap untuk mempertahankan ajaran falsafah mereka yang kemudian mereka namakan adat. Read the rest of this entry »

Nagari Padang adalah salah satu Nagari  di Alam Minangkabau  yang sudah ada sejak tahun 1662 ketika Penghulu – Penghulu Suku Nan Salapan  bersumpah sakti kepada Yang Dipertuan  Rajo Pagaruyung. Bahwa Padang adalah Nagari di Alam Minangkabau.

Tercatat antara tahun 1450 s.d 1556 Yang pertama sekali datang kedaerah Padang adalah Datuak Sangguno Dirajo  suku Tanjung. Yang kedua adalah :  Datuak Patah Karsani Suku Malayu  Ketiga adalah   Datuak Maharajo Basa  suku Caniago  Keempat : Datuak Panduko Magek Suku Jambak . Semua beliau-beliau tersebut berasal dari  darek Minangkabau.

Monopoli Kerajaan Aceh.

Tahun 1500 Terjadi perkawinan Putera  Minangkabau dengan Putri Aceh . (perkawinan memburuk sehingga Aceh  kecewa  dan menyerang Minangkabau  selain itu juga untuk  menguasai sumber komidi perdagangan tetapi yang dapat dikuasai hanya pantai barat )

Tahun 1539  Pesisir Barat sumatera mulai dari Natal , Barus , Air bangis Pasaman , Tiku , Padang sampai ke Indropuro (Ketaun ) Pesisir Selatan diduduki oleh Aceh dibawah pemerintahan raja Aceh Sultan Alauddin Riyatsyah al Qahar

Tahun 1607  Kekuasaan aceh memuncak di pesisir  barat semasa  itu  Raja Aceh  adalah Sultan Iskandar Muda. Dalam mempertahankan kekuasaannya Aceh  tidak hanya bertindak sebagai pemonopoli perdagangan tetapi ikut campur  mengatur dalam hal Adat dan kebudayaan dengan mengeluarkan peraturan :

  1. Aceh memisahkan pesisir  Barat dari Kerajaan Pagarruyung dan kebudayaan  Luhak nan tigo
  2. Rumah Gadang  tidak boleh meniru Rumah gadang di Darek  tetapi paduan  aceh dengan Minangkabau
  3. Cara berpakaiaan.
  4. Tidak boleh memekai gelar  adat  baik yang berasal dari mamak maupun gelar  Adat Datuak untuk penghulu.

Sumpah Sati dengan Raja Pagaruyung

Tindakan Aceh ini sangat tidak disukai oleh Masyarakat Pesisir Barat , sehingga terjadi solidaritas  masyarakat  yang secara diam-diam selalu menerapkan Adat Istiadat Minangkabau.

Tanggal 4 Juni 1636 , Utusan Rantau Pesisir Barat  yang yang lebih dikenal dengan Sutan nan salapan berikut para Rajo, panghulu, manti, dubalang dan malin serta rakyat dari luhak nan tigo  ( Karena masih dekatnya pertalian darah / dekat nya sako dan pusako )   menghadap yang dipertuan  Pagaruyung dan diadakan pertemu di gudam balai janggo untuk berikrar  kepada yang dipertuan  Pagaruyung bahwa rantau pesisir Barat  tetap mengakui dibawah daulat yang dipertuan  Pagaruyung  walaupun  tanah rantau  Pesisir  dikuasai oleh Aceh  . Sutan nan salapan  mengangkat sumpah  setia  kepada  yang berdaulat  yang dikenal dengan ” Sumpah Sati “

Isi Sumpah Sati  :

  • Nan salamo salamonyo indak maubah- ubah buek, salamo aia hilia, salamo gagak hitam, salamo gunuang marapi tatagak dari awa sampai akia
  • Titah daulat Yang Dipertuan kepada Sutan Nan Salapan  adalah  : “Jikok ado urang dari Luhak Nan Tigo nan diparintahi Sutan Nan Salapan baiak laki-laki atau  padusi . Mako :  kalau rajo sadaulat, pangulu saandiko, urang tuo sa undang-undang, hulubalang samo  samalu, urang banyak sama  sakato.
  • Jikok   dimungkia awak dimakan biso kawi, kaateh indak bapucuak, kabawah indak baurek, ditangah-tangah di makan kumbang “.

Pada tahun 1636 itu juga setelah sampai di  didaerah masing-masing   karena  Aceh melarang  adanya gelar mamak gelar adat, masing-masing yang bersumpah satie  mengambil kebijaksanaan  sebagai  tanda orang Minangkabau di rantau, di Padang   setiap laki – laki diberi gelar sutan dan  perempuan diberi gelar  puti  di depan nama .dalam perkembangannya  masyarakat yang datang ke Padang  setelah tahun- tahun  tersebut tidak lagi mendapat gelar Sutan dan puti, (kecuali yang datang dari Indropuro  bila terjadi perkawinan  dengan orang  Padang kebanyakan maka anak yang lahir juga diberi gelar sutan dan puti, sedangkan gelar marah dan siti diberikan kepada  anak yang lahir dari perkawinan  sutan/puti dengan  orang  Padang kebanyakan. Read the rest of this entry »

Alahan Panjang (c) botsosani.wordpress.com

Daerah Solok dalam Tambo Minangkabau dikenal dengan nama Kubuang Tigo Baleh yang merupakan bagian dari Luhak Tanah Datar. Daerah ini tidak berstatus “Rantau” (daerah yang membayar upeti), bahkan ada yang menyebut daerah ini adalah Luhak yang termuda.

Daerah Rantaunya adalah Padang Luar Kota dan sebagian daerah Pesisir Selatan (Bayang dan Tarusan)

Dalam pepatah adat disebut, Aso Solok duo Salayo, ba-Padang ba-Aia Haji, Pauah Limo Pauah Sambilan, Lubuak Bagaluang Nan Duo Puluah.

Dari naskah Tjuraian Asal Mula Negeri Solok dan Salajo, diperoleh keterangan bahwa nama Kubuang Tigo Baleh berasal dari datangnya 73 orang dari daerah Kubuang Agam ke daerah yang sekarang disebut Kabupaten dan Kota Solok.

Tiga belas orang di antaranya tinggal di Solok dan Selayo serta mendirikan Nagari – nagari  di sekitarnya, sedangkan 60 orang lainnya meneruskan perjalanan ke daerah Lembah Gumanti, Surian, dan Muara Labuh.

Ketiga belas orang ini menjadi asal nama Kubuang Tigo Baleh. Mereka pula yang mendirikan Nagari-nagari di sekeliling Nagari Solok dan Selayo. Kedua nagari ini disebut “Payung Sekaki” bagi nagari-nagari di sekitarnya.

Tiga Belas Nagari yang menjadi inti daerah Kubuang Tigo Baleh. Nagari-nagari itu adalah Solok, Selayo, Gantungciri, Panyakalan, Cupak, Muaropaneh, Talang, Saok Laweh, Guguak, Koto Anau, Bukiksileh, Dilam, dan Taruangtaruang.

Beberapa nagari lainnya yang merupakan pemekaran dari ketiga belas nagari yang disebut di atas adalah Tanjuangbingkuang, Kotobaru, Kotohilalang, Gauang, Bukiktandang, Kinari, Parambahan, Sungaijaniah, Limaulunggo, Batubajanjang, Kotolaweh (Kec. Lembangjaya), Batubanyak, Kampuang Batu Dalam, Pianggu, Indudur, Sungai Durian, Sungai Jambua, Guguak Sarai, Siaro-aro, Kotolaweh (Kec. IX Koto Sungai Lasi), dan Bukit Bais. Read the rest of this entry »

Gelapnya tabir sejarah Minangkabau pra Adityawarman barangkali dapat diungkap sedikit dengan melakukan uji radio karbon pada situs bersejarah yang diklaim dibuat pada masa-masa awal berdirinya masyarakat Minangkabau.

Setelah berakhirnya perang dunia kedua, profesor Willard Libby pakar kimia dari Universitas Chicago, AS mengembangkan pengukuran umur menggunakan unsur radiokarbon. Tahun 1960, penemuan Libby untuk menetapkan umur benda temuan arkeologi dengan pengukuran unsur radiokarbon, mendapat penghargaan Nobel untuk bidang kimia. Pada prinsipnya Libby mengamati sifat dasar alam, yakni semua tanaman dan binatang di muka Bumi pada prinsipnya tersusun dari unsur karbon. Selama masahidupnya, tanaman menyerap karbondioksida melalui proses fotosintesa. Binatang dan manusia memakan tanaman, ataupun binatang lainnya. Terjadilah rantai makanan, yang merupakan sistem transfer unsur karbon. Dalam kadar amat kecil, sebagian unsur karbon di Bumi bersifat radioaktif atau disebut radiokarbon. Struktur atom pada radiokarbon atau disebut Karbon 14 tidak stabil. Seperti pada unsur radioaktif lainnya, Karbon 14 ini juga meluruh. Pada tahun 1940-an para pakar ilmu pengetahuan berhasil mengetahui waktu paruh radiokarbon tsb, yakni 5.568 tahun. Dengan begitu, semua benda organik yang mengandung unsur radiokarbon dapat dilacak umurnya, asalkan tidak lebih tua dari 70.000 tahun. Sebab pada umur 70.000 tahun, seluruh unsur radiokarbonnya sudah habis meluruh.

Batu Batikam, sebuah monumen batu yang terpajang kokoh di Jorong Dusun Tuo, Nagari Lima Kaum, Kabupaten Tanah Datar. Batu Batikam termasuk salah satu lokasi cagar budaya yang berada dalam pengawasan Kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sumbar, Riau dan Jambi yang ber­kantor di Pagaruyung . Secara lahiriah benda cagar budaya ini merupakan sebuah bungkahan batuan (andesit), berbentuk hampir segi tiga berukuran 55 x 20 x 45 sen­timeter.

Komplek Batu Batikam menurut tambo adat menye­butkan, bahwa di sanalah nagari pertama terbentuk sesudah Pariangan sebagai Nagari Tuo, dibangun oleh Cati Bilang Pandai dengan anaknya Datuak Parpatiaah nan Sa­batang, berikut dengan empat Koto lainnya yaitu Balai Labuah, Balai Batu, Kubu Rajo dan Kampai Piliang, kelima Koto ini hingga se­karang disebut sebagai Lima Kaum.

Batu Batikam ini berlobang akibat ditikam oleh Datuak Parpatiah nan Sabatang sebagai pertanda Sumpah Satiah (setia) pengukuhan perdamaian, untuk mengakhiri perselisihan paham dalam hal pemakaian sistim pemerintahan adat Koto Pi­liang yang dicetuskan oleh Datuak Katumanggungan dengan sistim pemerintahan Budi Caniago yang dipimpin oleh Datuak Parpatiah nan Sabatang.

Juga dituturkan, Datuak Katumanggungan juga meni­kam sebuah batu dengan keris­nya, ditempatkan di Sungai Tarab VIII Batu (Bungo Sa­tangkai-Bulakan Sungai Kayu Batarok) sebagai pusat pe­me­rin­tahan Koto Piliang dengan pucuk adatnya Datuak Bandaro Putiah.

Selain Batu Batikam masih ada situs “purba” seperti Balai Nan Saruang dan Balai Nan Panjang. Lebih luas lagi Uji Radio Karbon C-14 tentu bisa diterapkan juga pada bangunan-bangunan di Nagari Pariangan dan Nagari Sungai Tarab yang di dalam tambo disebutkan sebagai nagari-nagari tertua.

Jika kita merujuk pada tambo, Datuak Katumanggungan disebut sebagai anak atau cucu dari Ninik Sri Maharajo Dirajo. Maka dengan ditemukannya umur Batu Batikam yang merupakan karya cipta dari kedua datuak, maka dapat diperkirakan dengan eksak kapan sebenarnya cerita pendaratan di puncak Gunung Marapi itu terjadi.  Paling lama adalah sekitar 200 tahun sebelumnya.

Jika pengujian ini benar-benar ada yang mau melakukannya (dan sudah tentu akan banyak yang menentang dengan alasan kesakralan) dan jika ditemukan angka sekitar tahun 500 M sebagai saat batu tersebut ditikam. Maka ada sedikit fakta menarik yang datang 200 tahun sebelumnya, yaitu pada tahun 345 M.

Dalam prasasti Allahabad (345 M) India, “Kerajaan Samudragupta telah mengalahkan Raja Hastiwarman dari keluarga Calakayana dan mengalahkan Raja Wisnugopa dari keluarga Pallawa”.  Pada tahun 270 saka (348 Masehi) seorang Maharsi dari keluarga Calakayana hijrah ke pulau-pulau sebelah selatan India bersama para pengikutnya yang terdiri dari penggiring, tentara, dan penduduknya melarikan diri dari musuhnya Samudragupta.

Mungkinkah Raja Hastiwarman ini adalah Ninik Sri Maharaja Diraja? Bisa saja. Tapi jangan pula buru-buru tertawa dengan cerita mendarat di Gunung Marapi ini. Kita semua tentu faham bahwa faktanya Gunung Marapi ini tidak pernah ada di tepi laut, hanya Gunung Krakatau saja di barat Nusantara ini yang muncul dari dalam laut. Bahkan justru pada masa dahulu itu, laut lebih rendah dari masa sekarang (terutama pada zaman es dimana Sumatera, Jawa dan Kalimantan bersatu dalam Anak Benua Dangkalan Sunda).

Kaum yang datang dari India tersebut adalah penganut Hindu. Dalam konsepsi Hindu ada yang dinamakan Gunung Meru tempat tinggal para dewa (hyang). Gunung Meru ini terletak di tengah 7 lautan di benua Jambu Dwipa. Ketika mereka eksodus dari India, mereka akan merekonstruksi kembali tempat-tempat tersebut untuk tujuan keagamaan. Gunung Meru dalam konsepsi ini juga terletak di antara 6 gunung (3 di utara dan 3 di selatan).

Gunung Marapi di tengah Pulau Sumatera adalah kandidat kuat sebagai Gunung Meru yang baru (bahkan nama Marapi berkemungkinan diturunkan dari kata Meru dalam Bahasa Sansekerta). Karena itulah mereka berbondong-bondong mendekati Gunung Marapi untuk memuja para dewa, dan sangat lazim jika nama nagari yang mereka dirikan adalah Pariangan atau Par Hyangan (tempat dewa-dewa). Beberapa saat kemudian mereka pun mendirikan Kerajaan Jambu Dwipa (Jambu Lipo) untuk memperkuat konsepsi keagamaan tersebut.

Jadi tantangan kita selanjutnya adalah menginventarisasi nama-nama tempat atau gelar yang ada di Minangkabau yang diturunkan dari Bahasa Sansekerta. Dari sini kita baru bisa mencari-cari berita dari India atau tempat lain yang kira-kira memberi petunjuk selanjutnya.

Sumber:

http://www.minangforum.com/Thread-BATU-BATIKAM-TETAP-DIMINATI

http://www.kelas-mikrokontrol.com/jurnal/iptek/bagian-2/metode-pelacak-umur-radiokarbon.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Meru

Sumber dalam Istana Pagaruyung (Tambo Pagaruyung) memiliki sebuah keyakinan bahwa asal muasal Kerajaan Pagaruyung adalah berbentuk penggabungan atau fusi dari 3 keturunan (3 kerajaan) yang sudah ada sebelumnya. Ketiga kerajaan itu adalah:

  • Dinasti Kerajaan Gunung Marapi (Keturunan Ninik Sri Maharaja Diraja)
  • Dinasti Kerajaan Dharmasraya (Wangsa Mauli) di hulu Batanghari
  • Dinasti Kerajaan Sriwijaya (Wangsa Syailendra) yang menyingkir setelah ditaklukkan raja Rajendra dari Chola Mandala

Ketiga asal keturunan itu direpresentasikan dalam pemerintahan Rajo Tigo Selo:

  • Rajo Adat dipegang oleh Dinasti Gunung Marapi, berkedudukan di Buo, bersemayam di Istana Ateh Ujuang di Balai Janggo
  • Rajo Ibadat dipegang oleh Dinasti Sriwijaya, berkedudukan di Swarnapura (Sumpur Kudus), bersemayam di Istana Ikua Rumpuik di Kampuang Tangah
  • Rajo Alam dipegang oleh Dinasti Dharmasraya, berkedudukan di Pagaruyung, bersemayam Istana Balai Rabaa di Gudam

Ketiga raja memelihara persatuan dengan saling mengawinkan keturunannya satu sama lain. Rajo Tigo Selo merupakan sebuah institusi tertinggi yang disebut Limbago Rajo. Di bawahnya terdapat dewan menteri yang disebut Basa Ampek Balai.

Tentang ketiga dinasti diatas marilah kita ringkaskan sedikit:

Dinasti Gunung Marapi

Dinasti Gunung Marapi adalah keturunan yang paling gamblang diceritakan dalam Tambo Alam Minangkabau. Dinasti ini diawali dengan berlabuhnya rombongan Ninik Sri Maharaja Diraja di puncak Gunung Marapi. Rombongan terdiri dari:

  • Sri Maharaja Diraja, Datuk Suri Diraja (sepupu Sri Maharaja Diraja), Indra Jelita (istri Sri Maharaja Diraja), Indra Jati bergelar Cati Bilang Pandai (cendikiawan)
  • Para pengawal/pendekar yaitu Harimau Champa, Kucing Siam, Kambing Hutan dan Anjing Mualim
  • 16 pasang suami istri (diantaranya adalah tukang yang memperbaiki perahu)

Menurut tambo, rombongan ini berlabuh di sebuah tempat bernama Labuhan Sitambago (Sirangkak dan Badangkang) yaitu masih kawasan puncak Gunung Marapi yang gersang. Mereka kemudian turun sedikit ke pinggang gunung dimana mereka menemukan sebuah pohon besar yang akarnya mencengkram batu besar, sehingga berbentuk seperti orang yang bersila. Tempat ini dinamakan Galundi Nan Baselo, Read the rest of this entry »

Pada tahun 1050 H (1680 M) Kerajaan Pagaruyung telah mengeluarkan satu keputusan berupa Sunnah 1050 yang berisikan penempatan Raja-Raja di Rantau ( Darat dan Laut ) di mana ada terdapat masyarakat yang berasal dari ketiga Luhak di Minangkabau.

Naskah ini disebut juga Tambo Nan Salapan dengan isi sebagai berikut:

1)  Adapun nan tingga di tanah Aceh ialah nan banamo Sultan Syariat berpangkat Rahim. Anak cucu Daulat yang dipertuan dalam Nagari Pagaruyung, asal mulonyo rajo-rajo di negeri Aceh, malimpah ka Patahan Batu, lalu ka tanah labuah kaliliang, lalu ke Deli. Adapun Deli taklukka Aceh. Itulah kebesaran Rajo Aceh nan turun tamurun, lalu sakarang kini, nan tiada marubah rubah, waris nan manjawek dek Rajo Aceh, nan di tarimo dari Niniak kito. Wallahualam.

2)  Adapun nan tingga di dalam nagari Banten, malimpah lalu ka Batawi, Sultan Nan Banamo: Marhabat Maruhum Alam, anak cucu yang dipertuan di dalam nagari Pagaruyung, tatkala asa mulonyo Raja di tanah Jawa, lalu ke Johor ka Manggali, kaliliang Banten Batawi, semuanya tanah Banten ialah kebesaran Raja Banten, beroleh khalifah dari yang dipertuan nan sati, memberi ijin mutlak serato sumpah sati, kalalamullah di dalam Koto Pagaruyung, Darussalam.

3)  Adapun nan tinggal turun temurun di dalam nagari Jambi Sultan Bagindo Tuan Rabbi, anak cucu Daulat yang di pertuan dalam nagari Pagaruyung, tatkala asa yang dipertuan dalam nagari Pagaruyung, tatkala asa mulonyo jadi rajo dalam nagari Jambi, lalu melimpah ka Batang Hari sampai ka hulu Batang Sangie, tatkala asa mulonyo jadi Rajo di dalam nagari Jambi 12 Koto Sungai Babi, tatkala masa dahulunyo, itulah kabasaran dan mukjizat, Sultan Bagindo Rabbi, nan dijawek turun tamurun, beroleh derajat nan tinggi di bari Allah Subhanahuwataala, amin ya rabbal alamin.

4)  Adapun yang turun tamurun ka Palembang katurunan di tanah Jawa asal mulonyo jadi Raja ialah, nan banamo Sultan Bagindo Ibnu Rahim, anak cucu Daulat yang dipertuan di dalam nagari Pagaruyung, Tinggal di dalam Nagari Palembang, malimpah lalu ka Musi, sampai turun ka Bugis Makasar, di dalam laut kaliliang tanah Bugis, ialah darajat dan mukjizat Sultan Bagindo Ibnu Rahim, Khalifatullah Muhammad Rasulullah. Amin

5)  Adapun nan turun tamurun ka nagari Pariaman tatkala, akan badiri, belum banamo Tiku Pariaman, hanyo banamo Sungai Salak, nan tingga didalam nagari Pariaman, ialah nan banamo Sultan Maharajo Dewa, anak cucu Daulat yang dipertuan Nan Sati di dalam Koto Pagaruyung, tatkala asa mulonyo manjadi Rajo di Pariaman, malimpah lalu ka Natal sakuliliangnyo, kurnia Allah subhanahuwataala, baroleh Khalifah dari pado bapaknyo, karena mukjizat Tuanku Nan Sati, dalam Nagari Pagaruyung, Nan Khalifah datang dari dalam syurga jannatun naim. Rahman Muhammad Rasulullah.

6)  Adapun nan turun tamurun dalam nagari Indrapura, tatkala asa mulonyo jadi Raja Indrapura, nan banamo Sultan Muhammad Syah, anak cucu daulat nan dipertuan nan Sati, didalam nagari Pagaruyung, itulah yang mulo-mulo jadi Rajo di Indrapura, balahan tingga di dalam nagari Muko-Muko, Partamuan Rajo Rajo dahulunyo, balun banamo Muko Muko, sakalian hamba rakyat mangko turun ka tanah Padang, hinggo Lawik Nan Sadidiah, lalu ka pulau kaliliangnyo, kapado Rajo Indrapura Kaliling itu, itulah kabasaran Sultan Muhammad Syah Indrapura, nan oleh Khalifah di bari Allah, katurunan Daulat nan dipertuan Sati, Khalillullah di Pagaruyung.

7)  Adapun nan turun tamurun ka dalam nagari Sungai Pagu, iolah nan banamo Sultan Besar, Barambuik Putieh, Bajangguik Merah, anak cucu daulat dipertuan nan Sati, dalam koto Pagaruyung, asa mulonyo jadi Rajo dalam Alam Sungai Pagu, malimpah lalu kabandar Nan Sapuluah, di situlah Rajo nan Barampek, keliliang Alam Sungai Pagu. Semuanya itu beroleh Khalifah, dari pado Tuhan yang banamo Rahman, tatkala manjunjung mangkuto alam nan mamilih Tanah Nan Sakapa di dalam alam nangko, berwasiat Sungai Pagu yang terjadi di dalamnyo.

8)  Adapun nan turun tamurun ka nagari Indragiri, Sultan Kadhi Indra Sakti, anak cucu daulat nan dipertuan di dalam nagari Pagaruyung, asa mulonyo manjadi Rajo di nagari Indragiri lalu ka Kuantan sampai ka Riau, kaliling Indragiri Riau, adapun Riau takluk pado Indragiri, Riau baroleh Khalifah dari Indragiri, katurunan daulat nan Sati dari nagari Pagaruyung, itulah daulat na baroleh mukjizat, nan di bari Allah swt Alaihissalam, katurunan Adam di dalam syurga jannatun nain, amin ya rabbalalamin Tuhan Yang Maha Esa.

Bamulo Sultan Nan Salapan Rajo ialah nan banamo Sultan Rajo Siak anak cucu nan dipertuan dalam nagari Pagaruyung jua adonyo, ialah nan Kerajaannya di nagari Siak Malimpah lalu ka Kualo Kampar.

Tambo ini ganti baganti, salin basalin, turun tamurun kapado urang tuo kito, datang datang sakarang kini, barubahpun tiak barang sadikit syak dan mungkir akan tambo ini, dimakan kutuk daulat yang dipertuan, dimakan biso kawi dinagari, karena itulah Read the rest of this entry »

Translate to

Masukkan email anda dan klik Berlangganan.
Anda akan dikirimi email untuk setiap artikel yang tayang.

Join 94 other followers

Categories

Visitor Location

Marawa

Blog Stats

  • 421,092 hits
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 94 other followers

%d bloggers like this: