You are currently browsing the category archive for the ‘Silsilah’ category.

Direktori ini berbentuk excel file yang memuat nama-nama raja dari Datuak Sri Maharaja Diraja dan Tuanku Rajo Tianso. Untuk sementara sampai saat ini (240 Nama)  baru di lingkungan keluarga Inti yaitu Raja Alam, Raja Adat dan Raja Ibadat serta perangkat seperti Panitahan Sungai Tarab.

Sara menggunakan cukup mudah, cukup dengan melakukan sort pada :

  • Position : untuk mengetahui urutan yang menjabat jabatan tertentu
  • Grand Father untuk melihat cucu dari seseorang
  • Mom of Mother untuk melihat cucu matrilineal dari seseorang
  • dst

Sehingga tools ini bisa digunakan untuk melacak garis keturunan untuk jalur Patrilineal dan Matrilineal sekaligus. Level digunakakan untuk mengurutkan keturunan, berhubung data tahun belum lengkap.

Sumber data dari geni.com, blog, penuturan langsung dll.

File ini boleh di download dan ditambahkan daftarnya, misalnya untuk kerabat di Kerajaan Sapiah Balahan atau keluarga yg belum tercatat. Usahakan mencari dulu nama-nama yang digunakan sebagai Name, Father, Mother, GF, Uncle dsb di Kolom Name. Jika tidak ada baru masukkan data baru.

Untuk melacak keturunan viewnya adalah sebagai berikut :

Semoga berguna ….

Silahkan di download di sini :

Ranji Alam V4

Cuplikan Data untuk Posisi Raja Alam :

101S Sri Maharaja   Diraja Sang Sapurba   (?) ; Tramberi Tribuana
102K Datuak Katumanggungan Sutan Paduko Basa;   Sultan Al-Malikul Akbar
102S Adityawarman Tuan Saruaso
103K Ananggawarman Raja Baramah
104K Dewang Pandan   Putowano Tuanku Maharajo Sati   I
105K Puti Panjang Rambuik   II Bundo Kanduang
106K Dewang Banang Raiwano Dang Tuanku ; Dewang   Pandak Salasiah Banang Raiwano
107K Dewang Sari Deowano Tuanku Maharajo Sati   II; ada kudeta oleh Dewang Palokamo
108K Dewang Sari Megowano YDP Sri Rajo Maharajo
109K Dewang Pandan Banang   Sutowano
110K Sultan Alif 1 YDP Bagewang I ;   Sultan Bakilap Alam
111K Sultan Syaiful Aladin
111K YDP Rajo Gamuyang I
112K YDP Manguyang
112K Sultan Ahmadsyah Raja Barandangan
113K Sultan Alif 2
114K Rajo Bagagarsyah Alam
114K YDP Rajo Bagewang
115K Sultan Bagagar   Alamsyah Raja Lembang Alam
115K YDP Rajo Gamuyang
116K Sultan Alam   Muningsyah YDP Bawang
116K Rajo Naro I YDP Malenggang Alam
117K YDP Patah Sultan Alam   Muningsyah II
118K Sultan Alam   Bagagarsyah Sultan Tangkal Alam   Bagagarsyah; YDP Hitam

Serangan Hantu Topan Kalahkan Raja Sitambago

Alkisah, lebih kurang tahun 1600 Masehi, ada sebuah kerajaan kecil yang diperintah oleh seorang Raja yang memerintah dengan adil dan bijaksana, rakyatnya hidup rukun dan damai.

Kerajaan kecil tersebut bernama Kerajaan Sitambago, sesuai dengan nama rajanya Sitambago. Daerah kekuasaannya di sebelah utara berbatas dengan nagari Kolok, di sebelah Timur berbatasan dengan Bukit Buar / Koto Tujuh, di sebelah selatan berbatas dengan nagari Pamuatan dan di sebelah barat berbatas dengan nagari Silungkang dan nagari Kubang.

Kerajaan Sitambago mempunyai pasukan tentara yang kuat dan terlatih. Pusat kerajaan Sitambago berada di sebuah lembah yang dilalui oleh sebuah sungai yang mengalir dari Lunto, pusat kerajaan Sitambago tersebut diperkirakan berada di tengah kota Sawahlunto sekarang. Sudah menjadi adat waktu itu, nagari-nagari dan kerajaan-kerajaan berambisi memperluas wilayahnya masing-masing, memperkuat pasukannya dan menyiapkan persenjataan yang cukup seperti tombak, galah, keris, parang, panah baipuh (panah beracun) dan lain-lain, senjata tersebut digunakan untuk menyerang wilayah lain atau untuk mempertahankan diri apabila diserang.

Di Silungkang / Padang Sibusuk, pasukan Gajah Tongga Koto Piliang disamping mempunyai senjata tombak, keris, galah, parang dan panah juga punya senjata yang tidak punyai oleh daerah lain, yaitu senjata api SETENGGA, senjata api standar Angkatan Perang Portugis. Orang Portugis yang ingin membeli emas murni ke Palangki harus melalui Buluah Kasok (Padang Sibusuk sekarang) dan berhadapan dengan Pasukan Gajah Tongga Koto Piliang terlebih dahulu, entah dengan cara apa, senjata api SETENGGA lengkap dengan peluruhnya berpindah tangan ke Pasukan Gajah Tongga Koto Piliang.

Guna memperluas wilayah, diadakanlah perundingan antara Pemuka Nagari Silungkang / Padang Sibusuk dengan pemuka Nagari Kubang untuk menyerang kerajaan Sitambago, maka didapatlah kesepakatan untuk menyerang kerajaan Sitambago tersebut, penyerangan dipimpin oleh Panglima Paligan Alam. Strategi penyerangan diatur dengan sistim atau pola pengepungan, dimana tentara Silungkang / Padang Sibusuk mengepung dari daerah Kubang Sirakuk dan tentara Kubang dari jurusan Batu Tajam dan dataran tinggi Lubuak Simalukuik, dengan sistim atau pola pengepungan tersebut akan membuat tentara Sitambago tidak dapat bergerak dengan leluasa. Read the rest of this entry »

Menurut salah satu cerita lama, penduduk Indrapura, masa dahulunya datang dari berbagai daerah di Minangkabau. Kabarnya dari Pariangan Padang Panjang delapan keluarga (salapan di tangah). Dari Sungai Pagu enam keluarga (anam di hilia) dan dari daerah lain enam keluarga pula (anam di mudik). Duapuluh keluarga nilah yang dianggap sebagai orang asli Indrapura, meskipun pada hakekatanya di Indrapura ada juga yang berasal dari keturunan Malaka, Bugis dan Jawa. Tapi semuanya menginduk kepada yang asli tersebut. Terbang menumpu, hinggap mencengkram.

“Indrapura pernah menjadi daerah penting, sebagai pusat perdaganagan di pesisir barat pantai Sumatera. Raja-raja Indrapura hingga terakhir berjumlah tigapuluh tiga orang. Mereka berasal dari berbagai keturunan, ada dari Pagaruyung, Banten, Bugis, Jawa, Persia dan malah ada yang diyakini dari Portugis,” kata Alamrus, Camat Kecamatan Pancung Soal saat dijumpai beberapa waktu lampau..

Menurutnya, Indrapura pernah menjadi kerajaan besar, yang lebih kurang sama luasnya dengan Kerajaan Pagaruyung. Akan tetapi terakhir Indrapura hanya berupa kerajaan kecil setelah diduduki Belanda.

Pada tahun 1824 keluarga Raja Indrapura, pernah terdesak oleh Belanda, lalau mereka memilih dekat dengan Inggris yang berada di Bengkulu.

Raja-raja yang memerintah di Indrapura turun-temurun seperti adat pengangkatan penghulu di Minangkabau. Seorang Raja yang sudah mangkat akan digantikan oleh sepupunya atau kemanakannya. Raja pengganti ini biasanya diajukan oleh kaum kerabat.

Lihat saja, Raja Marah Yahya yang berkat bantuan Belanda jadi regen di Indrapura. Setelah meninggal, dia digantikan oleh saudara sepupunya bernama Marah Ripin. Marah Ripin kemudian mengundurkan diri karena naik haji ke Mekah dan dia digantikan oleh Marah Baki yang meninggal 1891. Read the rest of this entry »

Talu adalah sebuah Nagari, ibu kota dari Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat. Kecamatan Talamau terdiri dari 3 Kanagarian, setelah dikeluarkan dari Kabupaten Pasaman. Pemekaran Kabupaten Pasaman menjadi dua kabupaten memecah Kecamatan Talamau menjadi 2 Kecamatan yang terpisah. Kanagarian Cubadak dan Simpang Tonang digabung membentuk Kecamatan Duo Koto menjadi bagian Kabupaten Pasaman . Sedangkan kanagarian Talu, Sinuruik dan Kajai tetap sebagai kecamatan Talamau menjadi bagian dari Kabupaten Pasaman Barat. Pasca pemecahan Kabupaten, maka lokasi Kecamatan Talamau yang tadinya terletak di tengah-tengah Kabupaten Pasaman, sekarang terletak dipinggiran kedua kabupaten.

Menurut buku Tambo Minangkabau dan adatnya terbitan Balai Pustaka th 1956, Talu adalah salah satu tepatan dari Pagaruyung disamping tepatan- tepatan lainnya. Sebagaimana ditulis pada Bab I pucuak adat yang ada disebut dunsanak batali darah ka Pagaruyuang. Terbentuknya nagari Talu mengikuti proses nagari nan ampek :

  1. Sri Maharajo dirajo dari Pagaruyung membuat taratak dipertemuan Batang Tolu dengan Batang Poman.
  2. Taratak berkembang menjadi dusun atau kampung.
  3. Dusun/kampung berkembang menjadi Koto disebut Koto Dalam.
  4. Setelah memenuhi syarat baampek suku, bapandan pakuburan , babalai bamusajik, bakorong

bakampuang dan lain- lain berkembang menjadi nagari.

Menurut kata-kata adat :

“Manuruik warih nan bajawek sarato umanah nan ditarimo tantangan nagari Talu. Tatkalo nagari kadiunyi , buek sudah kato lah abih, ukua jo jangko lah salosai adaik lah olah jo ranjinyo, sawah lah sudah jo lantaknyo. Sawah balantak basupadan, ladang baagiah babintalak, padang babari balagundi, rimbo baagiah balinjuang, bukik dibari bakarakatau. Nagari dibari babatasan, ka ilia supadan Sungai Abuak dengan Daulaik Parik Batu, ka mudiak aia Panarahan dengan Tuanku Rajo Sontang, ka baraik babateh jo Kiawai ka timur babateh jo Sundata, ka ateh ka ambun jantan ka bawah ka kasiak bulan didorong dek gurindam kato adaik. Dari mulo Sri Maharaja Diraja mambuek taratak jadi kampuang,kampuang jadi koto sampai jadi nagari iyo balaku titiak dari ateh, lareh Koto Piliang Datuak Katumanggungan.”

Luhak ba pangulu, rantau barajo itu kato pepatah Minang. Pasaman adalah daerah rantau dimana terdapat banyak pucuak adat sebagai rajo, lareh Koto Piliang antara lain:

  • Daulat Parik Batu di Pasaman
  • Tuanku Bosa di Talu
  • Rajo Bosa di Sundatar Lubuk Sikaping
  • Tuanku Rajo Sontang di Cubadak
  • Daulat Yang dipertuan di Kinali
  • Yang Dipertuan Padang Nunang di Rao
  • dan lain- lain

Negeri Talu barajo Tuanku Bosa pucuak adat sebagai rajo. Sistem Datuk Katumanggungan, Lareh Koto Piliang. Wilayah daulat Tuanku Bosa disebut Kabuntaran Tolu yang jauh lebih luas dari wilayah Nagari Talu saat ini. Wilayah Kabuntaran Talu adalah Read the rest of this entry »

Tuanku Raja Muning Alamsyah atau juga yang disebut Yang Dipertuan Sultan Alam Muningsyah adalah raja alam Pagaruyung yang secara luar biasa selamat dari tragedi pembunuhan di Koto Tangah, Tanah Datar pada tahun 1809 dalam masa Perang Paderi berkecamuk di Minangkabau. Tahun terjadinya tragedi ini dipertikaikan.

Christine Dobin mencatatkan dalam Kebangkitan Islam Dalam Ekonomi Petani Yang Sedang Berubah, (Inis, Jakarta 1992) tragedi tersebut terjadi pada tahun 1815, sebagaimana yang juga ditulis Rusli Amran dalam Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang, (Sinar Harapan, Jakarta 1981).

Menurut A.A.Navis dalam Alam Terkembang Jadi Guru (Penerbit PT Pustaka Grafiti pers, Jakarta 1984 cetakan pertama) tragedi tersebut bermula dari pertengkaran antara kaum Paderi dengan kaum adat yang diwakili oleh raja beserta pembesar kerajaan lainnya. Menurut MD Mansur dkk.dalam Sejarah Minangkabau (Penerbit Bharata, Jakarta, 1970) perundingan tersebut diadakan pada tahun 1809. Padamulanya dilakukan dengan iktikad baik oleh Tuanku Lintau, telah beralih menjadi sebuah pertengkaran. Menurut Muhamad Radjab dalam bukunya Perang Paderi, (Penerbit Balai Pustaka, Jakarta, 1964 cetakan kedua) hal itu terjadi juga pada tahun 1809.

Karena ikut campurnya Tuanku Lelo, salah seorang tokoh Paderi yang ambisius dari Tapanuli Selatan. Beberapa orang dari keluarga raja seperti Tuanku Rajo Naro, Tuanku di Talang dan seorang putra raja lainnya dituduh tidak menjalankan aqidah Islam secara benar, oleh karena itu mereka anggap kapir dan harus dibunuh. Perundingan berubah menjadi pertengkaran dan berlanjut menjadi pembunuhan. Semua rombongan raja beserta Basa Ampek Balai dan para penghulu lainnya terbunuh. Daulat Yang Dipertuan Muningsyah dapat menyelamatkan dengan cara yang ajaib sekali. Baginda bersama cucu perempuannya Puti Reno Sori menghindar ke Lubuk Jambi Kuantan. Read the rest of this entry »

Berdasarkan Silsilah Ahli Waris Daulat yang Dipertuan Raja Alam Pagaruyung, Daulat Yang Dipertuan Sultan Tangkal Alam Bagagar Syah yang dikenal juga dengan panggilan Yang Dipertuan Hitam mempunyai empat orang saudara; Puti Reno Sori, Tuan Gadih Tembong, Tuan Bujang Nan Bakundi dan Yang Dipertuan Batuhampar, hasil perkawinan dari Daulat yang Dipertuan Sultan Alam Muningsyah (II) yang juga dikenal dengan kebesarannya Sultan Abdul Fatah Sultan Abdul Jalil (I) dengan Puti Reno Janji Tuan Gadih Pagaruyung XI.

Daulat Yang Dipertuan Sultan Tangkal Alam Bagagar Syah menikah pertama kali dengan Siti Badi’ah dari Padang mempunyai empat orang putera yaitu: Sutan Mangun Tuah, Puti Siti Hella Perhimpunan, Sutan Oyong (Sutan Bagalib Alam) dan Puti Sari Gumilan.

Dengan isteri keduanya Puti Lenggogeni (kemenakan Tuan Panitahan Sungai Tarab) mempunyai satu orang putera yaitu Sutan Mangun (yang kemudian menjadi Tuan Panitahan SungaiTarab salah seorang dari Basa Ampek Balai dari Kerajaan Pagaruyung).Sutan Mangun menikah dengan Puti Reno Sumpu Tuan Gadih Pagaruyung ke XIII (anak Puti Reno Sori Tuan Gadih Pagaruyung XII dan kemenakan kandung dari Sultan Alam Bagagarsyah).

Dengan isteri ketiganya Tuan Gadih Saruaso (kemenakan Indomo Saruaso, salah seorang Basa Ampek Balai Kerajaan Pagaruyung) mempunyai putera satu orang: Sutan Simawang Saruaso (yang kemudian menjadi Indomo Saruaso).

Dengan isteri keempatnya Tuan Gadih Gapuak (kemenakan Tuan Makhudum Sumanik) mempunyai putera dua orang yaitu Sutan Abdul Hadis (yang kemudian menjadi Tuan Makhudum Sumanik salah seorang Basa Ampek Balai dari Kerajaan Pagaruyung) dan Puti Mariam. Sutan Abdul Hadis mempunyai delapan orang putera yaitu: Sutan Badrunsyah, Puti Lumuik, Puti Cayo Lauik, Sutan Palangai, Sutan Buyung Hitam, Sutan Karadesa, Sutan M.Suid dan Sutan Abdulah. Puti Mariam mempunyai dua orang putera : Sutan Muhammad Yakub dan Sutan Muhammad Yafas (kemudian menjadi Tuan Makhudum Sumanik)

Adik perempuan dari Daulat Sultan Alam Bagagarsyah yaitu Puti Reno Sori yang kemudian dinobatkan menjadi Tuan Gadih Pagaruyung XII menikah dengan saudara sepupunya Daulat Yang Dipertuan Sultan Abdul Jalil Yamtuan Garang Yang Dipertuan Sembahyang II Raja Adat Pagaruyung, mempunyai seorang puteri yaitu Puti Reno Sumpu Tuan Gadih Pagaruyung XIII. Read the rest of this entry »

Translate to

Masukkan email anda dan klik Berlangganan.
Anda akan dikirimi email untuk setiap artikel yang tayang.

Join 90 other followers

Categories

Visitor Location

Marawa

Blog Stats

  • 379,978 hits
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 90 other followers

%d bloggers like this: