You are currently browsing the category archive for the ‘Nagari’ category.

Situs Kerajaan Koto Alang ini telah sangat lama terlupakan. Hanya beberapa Tokoh adat yang tetap menjaganya. Walau dijaga, tetap saja tak lepas dari tangan jahil yang suka memperjual belikan Benda Cagar Budaya (BCB) yang terdapat di lokasi Situs Kerajaan Koto Alang ini. Pemerintah setempat nyaris tidak mengetahui keberadaannya (atau pura-pura tidak tahu). Hati terasa perih ketika Situs Kerajaan Koto Alang terabaikan begitu saja. Maka saya mencoba menelusurinya. Sobat netter mau tau cerita petualangan saya menelusuri Situs Kerajaan Koto Alang ini? Silakan lanjutkan baca cerita selengkapnya.

Penelusuran di Dusun Botuang

Saya menelusurinya bersama seorang teman dari Koran Kampus “Bahana Mahasiswa” Universitas Riau. Dari Pekanbaru menempuh perjalanan darat menuju Kota Taluk Kuantan ibu kota Kabupaten Kuantan Singingi (Kab. Kuansing), pada minggu ketiga dan hari ketiga di bulan Oktober 2008, ujan rintik-rintik menemani perjalanan kami. Tujuannya adalah Kecamatan Kuantan Mudik, disitulah terdapat Dusun Botuang di Desa Sangau.

Untuk mencapai Dusun Botuang ini dibutuhkan waktu sekitar setengah jam dari pusat Kota Taluk Kuantan, Situs Kerajaan Koto Alang itu berada disini, dinamakan Padang Candi karena diduga kuat disitu terdapat sebuah candi yang telah sangat lama tebenam. Untuk sampai kelokasi Padang Candi ini kami melewati sebuah sungai kecil bernama Sungai Salo dan dilintasi dengan jembatan gantung yang terbuat dari kayu, bagi orang yang tidak terbiasa melewatinya akan merasa gamang karena sewaktu dilewati ia bergoyang-goyang.

Kerajaan Koto AlangDusun Botuang ini banyak menyimpan Benda Cagar Budaya (BCB) yang sering ditemukan penduduk setempat secara tak sengaja, sewaktu menggali tanah untuk berkebun dan atau hanya sekedar menata halaman rumah, seperti perhiasan yang terbuat dari emas: cincin, kalung, gelang, juga jarum penjahit dan mata kail. Menurut cerita penduduk setempat, Herlita menceritakan awal temuan ini, ketika salah seorang penduduk bermimpi didatangi orang tak dikenal untuk menggali sebuah guci yang berisikan perhiasan, setelah digali ditempat yang ditunjukkan orang tak dikenal dalam mimpim itu. Namun sayang guci itu kembali membenamkan diri, karena “Sewaktu bermimpi guci itu minta didarahi dengan darah Kambing Hitam, karena sulit didapat diganti dengan darah Anjing Hitam, makanya dia kembali tenggelam kedalam tanah,” terang Herlita.
Read the rest of this entry »

Menurut salah satu cerita lama, penduduk Indrapura, masa dahulunya datang dari berbagai daerah di Minangkabau. Kabarnya dari Pariangan Padang Panjang delapan keluarga (salapan di tangah). Dari Sungai Pagu enam keluarga (anam di hilia) dan dari daerah lain enam keluarga pula (anam di mudik). Duapuluh keluarga nilah yang dianggap sebagai orang asli Indrapura, meskipun pada hakekatanya di Indrapura ada juga yang berasal dari keturunan Malaka, Bugis dan Jawa. Tapi semuanya menginduk kepada yang asli tersebut. Terbang menumpu, hinggap mencengkram.

“Indrapura pernah menjadi daerah penting, sebagai pusat perdaganagan di pesisir barat pantai Sumatera. Raja-raja Indrapura hingga terakhir berjumlah tigapuluh tiga orang. Mereka berasal dari berbagai keturunan, ada dari Pagaruyung, Banten, Bugis, Jawa, Persia dan malah ada yang diyakini dari Portugis,” kata Alamrus, Camat Kecamatan Pancung Soal saat dijumpai beberapa waktu lampau..

Menurutnya, Indrapura pernah menjadi kerajaan besar, yang lebih kurang sama luasnya dengan Kerajaan Pagaruyung. Akan tetapi terakhir Indrapura hanya berupa kerajaan kecil setelah diduduki Belanda.

Pada tahun 1824 keluarga Raja Indrapura, pernah terdesak oleh Belanda, lalau mereka memilih dekat dengan Inggris yang berada di Bengkulu.

Raja-raja yang memerintah di Indrapura turun-temurun seperti adat pengangkatan penghulu di Minangkabau. Seorang Raja yang sudah mangkat akan digantikan oleh sepupunya atau kemanakannya. Raja pengganti ini biasanya diajukan oleh kaum kerabat.

Lihat saja, Raja Marah Yahya yang berkat bantuan Belanda jadi regen di Indrapura. Setelah meninggal, dia digantikan oleh saudara sepupunya bernama Marah Ripin. Marah Ripin kemudian mengundurkan diri karena naik haji ke Mekah dan dia digantikan oleh Marah Baki yang meninggal 1891. Read the rest of this entry »

Talu adalah sebuah Nagari, ibu kota dari Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat. Kecamatan Talamau terdiri dari 3 Kanagarian, setelah dikeluarkan dari Kabupaten Pasaman. Pemekaran Kabupaten Pasaman menjadi dua kabupaten memecah Kecamatan Talamau menjadi 2 Kecamatan yang terpisah. Kanagarian Cubadak dan Simpang Tonang digabung membentuk Kecamatan Duo Koto menjadi bagian Kabupaten Pasaman . Sedangkan kanagarian Talu, Sinuruik dan Kajai tetap sebagai kecamatan Talamau menjadi bagian dari Kabupaten Pasaman Barat. Pasca pemecahan Kabupaten, maka lokasi Kecamatan Talamau yang tadinya terletak di tengah-tengah Kabupaten Pasaman, sekarang terletak dipinggiran kedua kabupaten.

Menurut buku Tambo Minangkabau dan adatnya terbitan Balai Pustaka th 1956, Talu adalah salah satu tepatan dari Pagaruyung disamping tepatan- tepatan lainnya. Sebagaimana ditulis pada Bab I pucuak adat yang ada disebut dunsanak batali darah ka Pagaruyuang. Terbentuknya nagari Talu mengikuti proses nagari nan ampek :

  1. Sri Maharajo dirajo dari Pagaruyung membuat taratak dipertemuan Batang Tolu dengan Batang Poman.
  2. Taratak berkembang menjadi dusun atau kampung.
  3. Dusun/kampung berkembang menjadi Koto disebut Koto Dalam.
  4. Setelah memenuhi syarat baampek suku, bapandan pakuburan , babalai bamusajik, bakorong

bakampuang dan lain- lain berkembang menjadi nagari.

Menurut kata-kata adat :

“Manuruik warih nan bajawek sarato umanah nan ditarimo tantangan nagari Talu. Tatkalo nagari kadiunyi , buek sudah kato lah abih, ukua jo jangko lah salosai adaik lah olah jo ranjinyo, sawah lah sudah jo lantaknyo. Sawah balantak basupadan, ladang baagiah babintalak, padang babari balagundi, rimbo baagiah balinjuang, bukik dibari bakarakatau. Nagari dibari babatasan, ka ilia supadan Sungai Abuak dengan Daulaik Parik Batu, ka mudiak aia Panarahan dengan Tuanku Rajo Sontang, ka baraik babateh jo Kiawai ka timur babateh jo Sundata, ka ateh ka ambun jantan ka bawah ka kasiak bulan didorong dek gurindam kato adaik. Dari mulo Sri Maharaja Diraja mambuek taratak jadi kampuang,kampuang jadi koto sampai jadi nagari iyo balaku titiak dari ateh, lareh Koto Piliang Datuak Katumanggungan.”

Luhak ba pangulu, rantau barajo itu kato pepatah Minang. Pasaman adalah daerah rantau dimana terdapat banyak pucuak adat sebagai rajo, lareh Koto Piliang antara lain:

  • Daulat Parik Batu di Pasaman
  • Tuanku Bosa di Talu
  • Rajo Bosa di Sundatar Lubuk Sikaping
  • Tuanku Rajo Sontang di Cubadak
  • Daulat Yang dipertuan di Kinali
  • Yang Dipertuan Padang Nunang di Rao
  • dan lain- lain

Negeri Talu barajo Tuanku Bosa pucuak adat sebagai rajo. Sistem Datuk Katumanggungan, Lareh Koto Piliang. Wilayah daulat Tuanku Bosa disebut Kabuntaran Tolu yang jauh lebih luas dari wilayah Nagari Talu saat ini. Wilayah Kabuntaran Talu adalah Read the rest of this entry »

Sejarah Nagari Kotogadang

Nagari Kotogadang merupakan salah satu dari 11 nagari yang terletak di Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam. Asal usul Nagari Kotogadang menurut sejarahnya dimulai pada akhir abad ke-17, dimana ketika itu sekelompok kaum yang berasal dari Pariangan Padangpanjang mendaki dan menuruni bukit dan lembah, menyeberangi anak sungai, untuk mencari tanah yang elok untuk dipeladangi dan dijadikan sawah serta untuk tempat pemukiman.

Setelah lama berjalan, sampailah di sebuah bukit yang bernama Bukit Kepanasan. Disitulah mereka bermufakat akan membuat teratak, menaruko sawah, dan berladang yang kemudian berkembang menjadi dusun. Lama kelamaan, dikarenakan anak kemenakan bertambah banyak, tanah untuk bersawah dan berladang tidak lagi mencukupi untuk dikerjakan maka dibuatlah empat buah koto. Bercerailah kaum-kaum yang ada di bukit tersebut. Dimana 2 penghulu pergi ke Sianok, 12 penghulu dan 4 orang tua pergi ke Guguk, 6 penghulu pergi ke Tabeksarojo, dan 24 penghulu menetap di Bukit Kepanasan. Karena penghulu yang terbanyak tinggal di koto tersebut maka tempat itu dinamakan Kotogadang. Itulah nagari – nagari awal yang membentuk daerah IV Koto.

Kaum – kaum yang datang bersama ini kemudian membangun pemukiman dan bernagari dengan tidak melepaskan adat kebiasaan mereka. Dengan bergotong royong mereka membangun rumah-rumah gadang, sehingga sebelum tahun 1879 banyaklah rumah gadang yang bagus berikut dengan lumbungnya. Pada tahun 1879 dan 1880 terjadilah kebakaran besar sehingga memusnahkan perumahan-perumahan tersebut.

Penghidupan orang Kotogadang sebelum Alam Minangkabau berada dibawah pemerintah Hindia Belanda  iyalah bersawah, berladang, berternak, bertukang kayu dan bertukang emas. Dimana pekerjaan bertukang emas anak negeri sangat terkenal di seluruh minangkabau. Dikarenakan perkembangnya penduduk sehingga hasil yang diperoleh dari persawahan tidaklah mencukupi lagi, mulailah orang Kotogadang pergi merantau ke negeri lain seperti Bengkulu,  Medan dan lain-lain. Read the rest of this entry »

1. Kelarasan Koto Piliang (yang menjalankan pemerintahan)  dipimpin oleh Datuk Bandaro Putiah Pamuncak Koto Piliang berkedudukan di Sungai Tarab. Hirarki dalam kelarasan Koto Piliang mempunyai susunan  yang disebut bajanjang naiak batanggo turun, dengan prinsip pengangkatan penghulu-penghulunya patah tumbuah.

2. Kelarasan Bodi Caniago (yang menjalankan persidangan) dipimpin oleh Datuk Bandaro Kuniang, Gajah Gadang Patah Gadiang berkedudukan di Limo Kaum.

Hirarki dalam kelarasan Bodi Caniago mempunyai susunan yang disebut duduak samo randah tagak samo tinggi.

Kedudukan raja terhadap kedua Kelarasan

Kedudukan raja berada di atas dua kelarasan; Koto Piliang dan Bodi Caniago. Bagi kelarasan Koto Piliang, kedudukan raja di atas segalanya. Sedangkan bagi Kelarasan Bodi Caniago kedudukan raja adalah symbolik sebagai pemersatu.

Tempat Persidangan

1. Balai Panjang.

Tempat persidangan untuk semua lembaga ( Raja, Koto Piliang, Bodi Caniago, Rajo-rajo di rantau) berada di Balai Panjang, Tabek Sawah Tangah.

2. Balairuang

Tempat persidangan raja dengan basa-basa disebut Balairung

3. Medan Nan Bapaneh

Tempat persidangan kelarasan Koto Piliang disebut Medan Nan Bapaneh dipimpin Pamuncak Koto Piliang,  Datuk Bandaro Putiah

4. Medan Nan Balinduang

Tempat persidangan kelarasan Bodi Caniago disebut Medan Nan Balinduang dipimpin oleh Pucuak Bulek Bodi Caniago, Datuk Bandaro Kuniang.

5. Balai Nan Saruang

Tempat persidangan Datuk Bandaro Kayo di Pariangan disebut Balai Nan Saruang

Lareh Nan Duo

Lareh atau sistem, di dalam adat dikenal dengan dua;  Lareh Nan Bunta dan Lareh nan Panjang. Lareh nan Bunta lazim juga disebut Lareh Nan Duo, yang dimaksudkan adalah Kelarasan Koto Piliang yang disusun oleh Datuk Ketumanggungan dan Kelarasan Bodi Caniago oleh Datuk Perpatih Nan Sabatang.

Sedangkan Lareh nan Panjang di sebut Bodi Caniago inyo bukan, Koto Piliang inyo antah disusun oleh Datuk Suri Nan Banego-nego (disebut juga Datuk Sikalab Dunia Nan Banego-nego) Namun yang lazim dikenal hanyalah dua saja, Koto Piliang dan Bodi Caniago.

Kedua sistem (kelarasan) Koto Piliang dan Bodi Caniago adalah dua sistem yang saling melengkapi dan memperkuat. Hal ini sesuai dengan sejarah berdirinya kedua kelarasan itu. Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sabatang kakak adik lain ayah, sedangkan Datuk Suri Nan Banego-nego adalah adik dari Datuk Perpatih Nan Sabatang. Read the rest of this entry »

Nama Talu mungkin sudah tak asing lagi bagi warga Sumatra Barat, terutama karena ada nyanyiannya ‘Rang Talu’, atau legenda ‘Kuburan Duo’. Sebenarnya ada hal-hal menarik lain dari nagari yang termasuk Kenagarian Talu, Kecamatan Tala’mau, Kabupaten Pasaman Barat ini. Misalnya view Gunung Tala’mau, arus deras di Batang Talu dan Batang Sinuruik, permandian air panas, air terjun dan sebagainya.

Dr Fadlan Maalip SKm, Tuanku Bosa XIV, intelektual sekaligus Ketua KAN dan Pucuak Adaik Nagari Talu bahkan mengatakan dia sudah mendokumentasikan 9 obyek wisata menarik di Talu dan Sinuruik ke dalam sebuah lempeng compact disc (CD). CD tersebut kelak akan diperbanyak dan disebarluaskan ke relasi Rang Talu yang ternyata banyak juga di Malaysia.

“Jumlah sekitar 800 KK, terutama di Johor dan sekitarnya,” kata Tuanku Bosa XIV dalam perbincangan dengan padangmedia.com di gedung KAN Talu, yang sekaligus menjadi kantornya.

Sayang padangmedia.com takbisa mengunjungi satupun , karena jadwal di Talu cuma sehari, itupun lebih untuk tujuan lain, yang tak ada hubungannya dengan rekreasi.

Dengan mobil, Talu bisa dicapai dalam waktu sekitar 4 jam. Berangkat pukul 07.30 WIB, sampai pukul 11.30 WIB. Kondisi jalan cukup bagus, meski di Bawan, Kinali, sampai Simpang Ampek jalan berlubang di sana-sini. Ruas jalan dari Simpang Gudang, Manggopoh, Kabupaten Agam ke Simpang Ampek, Kabupaten Pasaman ini memang sudah agak lama rusak dan belum ada tanda-tanda akan diperbaiki.

Namun semua itu tidak mengurangi rasa kenikmatan perjalanan, apalagi perut sudah terisi nasi panas dan gulai ikan segar dari RM Buyung di Tiku. Rasanya pantat yang lenyai karena terbanting-banting oleh kondisi jalan yang buruk tersebut sudah terlupakan saja.

Pertama masuk Nagari Talu, kesan rapi, damai dan tentramnya sudah terasa. Masyarakatnya juga sangat ramah, kecuali tukang ojek yang menawarkan ojek sambil memelototkan mata, entah belajar manajemen pemasaran di mana dia? Selebihnya hanya keramahan yang terasa, meski masyarakat tampaknya sudah terpecah-pecah ke berbagai bendera, spanduk, papan nama dan baliho partai-partai politik dan caleg yang diusung partai-partai tersebut. Mereka menyimpannya dalam keramahan yang santun dan hangat.

Kesan rapi itu ternyata tak sembarangan. Sejak awal abad ke-20, Talu ternyata sudah sangat maju, melebihi Lubuak Sikapiang, ibukota Kabupaten Pasaman, yang dulu menjadi induk bagi kawasan Talu, Sinuruik, Kajai dan Kabupaten Pasaman Barat sendiri. Seperti diungkapkan Tuanku Bosa XIV. “Sejak tahun 1920 Talu sudah punya jaringan air minum, rumah sakit, lembaga pemasyarakatan sendiri, bahkan Kantor Polres baru pindah ke Lubuak Sikapiang tahun 1980,” kata dr Fadlan.

Ny Hj. Nurmal Maalip, mantan anggota DPRD tiga periode (1984-1999) dan tokoh Bundo Kanduang serta aktivis Aisyiah Kabupaten Pasaman, tempat padangmedia.com menginap mengatakan hal senada. “Talu memang sudah lebih dulu maju dari induknya, saya juga tidak tahu kenapa,” kata ibu yang ramah yang sekarang berusia 75 tahun tapi masih sangat segar secara fisik dan pemikirannya itu.

Sarat Fenomena Sejarah
Dari perspektif pariwisata, kalau kita hanya nongkrong di Talu saja memang tak ada yang menonjol. Fasilitas tempat hiburan tak tersedia, poenginapan juga seadanya, hanya sebuah wisma dekat kantor camat Tala’mau, yang kata Wali Nagari Sinuruik, Masrivelli SSos, kurang diminati pengunjung.

“Mungkin karena Simpang Ampek dekat, pengunjung Talu dan Sinuruik lebih banyak menginap di Simpang Ampek,” kata alumnus jurusan Antropologi Fisip Universitas Andalas ini menjelaskan. Jarak dari Talu ke Simpang Ampek memang hanya sekitar 30 kilometer, tapi ongkos angdes (angkutan pedesaannya) Rp10.000 lho.

Di luar itu, sebenarnya banyak hal menarik di Talu, misalnya fakta sejarah bahwa rumah Hj Nurmal pernah dijadikan markas Pembela Natsir, tokoh Masyumi, mantan Perdana Menteri era rezim Sorkarno, yang baru saja diakui negara sebagi Pahlawan Nasional dari Sumatra Barat. Di rumah yang berlokasi di kawasan Bangkok, Kenagarian Sinuruik ini, ini Presiden PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) Syafruddin Prawiranegara pernah menyelenggarakan rapat-rapat penting bersama tokoh-tokoh politik lainnya. Read the rest of this entry »

Rajo Tigo Selo merupakan sebuah institusi tertinggi dalam kerajaan Pagaruyung yang dalam tambo adat disebut Limbago Rajo. Tiga orang raja masing-masing terdiri dari Raja Alam, Raja Adat dan Raja Ibadat yang berasal dari satu keturunan. Ketiga raja dalam berbagai tulisan tentang kerajaan Melayu Minangkabau ditafsirkan sebagai satu orang raja. Itulah sebabnya sejarah mencatat bahwa raja Melayu sewaktu didatangi Mahisa Anabrang dari Singosari yang memimpin ekspesidi Pamalayu bernama Tribuana Raja Mauli Warmadewa. Arti kata tersebut adalah tiga raja penguasa bumi yang berasal dari keluarga Mauli Warmadewa.

Antara anggota Raja Tigo Selo selalu berusaha menjaga hubungan kekerabatan yang sangat dekat dengan cara saling mengawini dengan tujuan untuk memurnikan darah kebangsawanan di antara mereka, juga untuk menjaga struktur tiga serangkai kekuasaan agar tidak mudah terpecah belah.

Raja Alam merupakan yang tertinggi dari kedua raja; Raja Adat dan Raja Ibadat. Raja Alam memutuskan hal-hal mengenai kepemerintahan secara keseluruhan. Raja Adat mempunyai tugas untuk memutuskan hal-hal berkaitan dengan masalah peradatan, dan Raja Ibadat untuk memutuskan hal-hal yang menyangkut keagamaan, Dalam kaba Cindua Mato kedudukan dan fungsi dari raja-raja ini dijelaskan dalam suatu jalinan peristiwa. Menurut A.A.Navis dalam Alam Terkembang jadi Guru (PT Pustaka Grafitipers 1984, Jakarta) kaba Cindua Mato sebenarnya adalah Tambo Pagaruyung yang diolah jadi kaba. Dalam konteks ini, informasi dari kaba Cindua Mato tentang tugas raja-raja tersebut merupakan sesuatu yang dapat juga dijadikan rujukan. Sedangkan institusi untuk Raja Adat dan Raja Ibadat disebut sebagai Rajo Duo Selo.

1. RAJO ALAM
Pucuk pemerintahan kerajaan Minangkabau yang berpusat di Pagaruyung mempunyai struktur tersendiri. Kekuasaan pemerintahan dipegang oleh tiga orang raja; Raja Alam, Raja Adat dan Raja Ibadat. Masing-masing raja mempunyai tugas, kewenangan dan mempunyai daerah kedudukan tersendiri. Raja Alam membawahi Raja Adat dan Raja Ibadat. Raja Alam berkedudukan di Pagaruyung. Semua penjelasan mengenai kedudukan dan kekuasaan raja-raja tersebut pada dasarnya bertolak dari uraian yang ada di dalam tambo dan pada kaba Cindua Mato, karena kaba Cindua Mato dianggap sebagai tambo Pagaruyung yang dikabakan. Read the rest of this entry »

Tidak ada sejarah yang pasti tentang kapan tenun songket mulai dikembangkan di Minangkabau atau di Pandai Sikek. Akan tetapi kepandaian menenun tetuntulah sudah dibawa oleh nenek moyang kita bangsa Austronesia atau yang disebut juga Malayo-Polynesia, dari Tanah Asal, ketika terjadi migrasi besar-besaran penduduk dari daratan Asia ke arah selatan dan tumur beberapa ribu tahun yang lalu, bersamaan dengan segala kepandaian yang esensial untuk kehidupan, seperti kepandaian becocok tanam, kepandaian membuat dan menggunakan alat-alat pertanian dan pertukangan dan senjata, dan sebagainya. Sesuai dengan fitrah manusia, kepandaian dasar pertukangan tentu mengalami pengkayaan estetika sehingga menjadi apa yang sekarang dikenal dengan istilah kerajinan, dan kemudian menjadi seni. Hal ini sejalan dengan perkembangan di bidang ekpresi lainnya seperti seni gerak, seni suara dan seni pementasan. Sebagai warisan demikian, tenun bisa dikatakan sama umurnya dengan stelsel matrilinial orang Minang, terukaan sawah di Luhak nan Tigo, dan budaya lisan Kato Pusako pepatah petitih.

Di sini juga kita menemukan kesamaan rumpun Austronesia pada kain tenun Sumatra pada umumnya dengan seluruh kain tenun Nusantara hingga ke Sumba dan Timor, juga dengan tenunan La Na di Thailand utara dan Laos. Rumpun ini akan memecah nanti di lihat dari segi kahalusan motif setelah masuknya kebudayaan India dan Cina dari utara. Akan tetapi kesamaannya beretahan di segi peralatan tenun dan teknik bertenun.

Beberapa ratus tahun yang lalu, di hulu sungai Batanghari, yang disebut Sungai Dareh, berkembang suatu pemukiman dan pusat perdagangan yang makmur. Penduduk dari daerah yang sekarang disebut Alam Surambi Sungai Pagu, dan dari daerah-daerah yang lebih ke utara lagi, datang ke tempat ini untuk menjual hasil-hasil alam berupa rempah-rempah dan emas. Daerah ini dikunjungi pula oleh pedagang-pedagang yang datang dari seberang laut, dari India dan Cina. Kaum wanita di daerah ini memakai pakaian yang lebih cantik bagi ukuran masa itu, istilah sekarang: lebih fashionable.

Daerah ini kemudian terkenal dengan nama kerajaan Darmasyraya. Inilah cikal-bakal kebudayaan Melayu. Bertahun-tahun daerah ini menjadi titik pertemuan ekonomi dan budaya antara kebudayaan-kebudayan yang sudah lebih kaya dan maju di utara, Cina, Mongol dan India, dengan budaya lokal. Dalam kurun beberapa puluh tahun itu, atau mungkin sampai dua ratus tahun, setalah mengalami pergantian raja-raja dan penguasa, penduduknya menyerap banyak ilmu dan teknologi dari bangsa asing, Read the rest of this entry »

Wilayah kebudayaan Minangkabau adalah wilayah tempat hidup, tumbuh, dan berkembangnya kebudayaan Minangkabau. Dalam tambo alam Minangkabau dikatakan wilayah Minangkabau adalah sebagai berikut:

Nan salilik gunuang Marapi : Daerah luhak nan tigo
Saedaran gunuang Pasaman : Daerah di sekeliling gunung Pasaman
Sajajaran Sago jo Singgalang : Daerah sekitar gunung Sago dan gunung Singgalang
Saputaran Talang jo Kurinci : Daerah sekitar gunung Talang dan gunung Kerinci

Dari Sirangkak nan badangkang : Daerah Pariangan Padang Panjang dan sekitarnya
Hinggo buayo putiah daguak : Daerah di Pesisir Selatan hingga Muko-Muko
Sampai ka pintu rajo hilia : Daerah Jambi sebelah barat
Hinggo durian ditakuak rajo : Daerah yang berbatasan dengan Jambi

Sipisak pisau hanyuik : Daerah sekitar Indragiri Hulu hingga gunung Sailan
Sialang balantak basi : Daerah sekitar gunung Sailan dan Singingi
Hinggo aia babaliak mudiak : Daerah hingga ke rantau pesisir sebelah timur

Sailiran batang Bangkaweh : Daerah sekitar danau Singkarak dan batang Ombilin
Sampai ka ombak nan badabua : Daerah hingga Samudra Indonesia
Sailiran batang Sikilang : Daerah sepanjang pinggiran batang Sikilang
Hinggo lauik nan sadidieh : Daerah yang berbatasan dengan Samudra Indonesia
Ka timua Ranah Aia Bangih : Daerah sebelah timur Air Bangis
Rao jo Mapat Tunggua : Daerah di kawasan Rao dan Mapat Tunggua
Gunuang Mahalintang : Daerah perbatasan dengan Tapanuli selatan

Pasisia banda sapuluah : Daerah sepanjang pantai barat Sumatra
Taratak aia itam : Daerah sekitar Silauik dan Lunang
Sampai ka Tanjuang Simalidu
Pucuak Jambi Sambilan Lurah : Daerah hingga Tanjung Simalidu

Batas wilayah Minangkabau menurut Tambo:
Utara : Sikilang Aia Bangih
Timur : Durian ditakuak rajo, buayo putiah daguak, sialang balantak basi
Selatan : Taratak aia itam, Muko-Muko
Barat : Ombak nan badabua

Wilayah Minangkabau dibagi tiga, yaitu daerah darek, daerah rantau, dan daerah pasisia. Read the rest of this entry »

Perahu yang mengantarkan rombongan Sultan Suri Maharajo Dirajo, akhirnya mendarat di pulau Perca, tepatnya di puncak Gunung Merapi. Kapal ini bermuatan enam belas lelaki dan perempuan, ditambah empat orang lainnya yang masing-masing bernama Kho Cin (Kucing Siam), Can Pa (Harimau Campo), Khan Bin (Kambing Hutan), dan Ahan Jin (Anjing Mualim). Kemudian Sri Maharajo Dirajo dan rombongan turun ke darat. Sementara itu air lautpun beranjak surut.

Selang berapa lama kemudian rombongan Maharajo Dirajo turun ke sebuah tempat yang disebut Labuhan si Tambago, sekitar dua kilo meter dari Nagari Pariangan ke arah puncak Merapi. Di tempat inilah untuk pertama kalinya rombongan itu meneruka sawah yang disebut sawah satampang baniah. Padi inilah yang kemudian menyebar ke seluruh Minangkabau.

Seperti disebutkan Soeardi Idris dalam buku Nagari Sungai Tarab – Salapan Batua, di perkampungan Labuhan si Tambago itu tumbuh pula sepohon galundi. Uratnya tidak mencekam tanah, melainkan memeluk sebuah batu besar seakan-akan orang bersila. Gelundi itulah yang kemudian disebut Galundi Nan Baselo.

Lambat laun penduduk makin bertambah juga, maka sebagian di antaranya pindah membuat perkampungan di daerah baru yang bernama Guguak Ampang. Perkembangan selanjutnya mereka memperluas daerah permukiman.
Tambo alam Minangkabau kembali mengisyaratkan cerita. Suatu ketika, dari Guguak Ampang berbondong-bondonglah orang mengejar seekor rusa bertanduk emas. Orang-orang susah sekali menangkap rusa bertuah itu. Akhirnya mereka memeberitahu Suri Maharajo Dirajo tentang keberadaan seekor rusa tadi. Kemudian Maharajo Dirajo, menyarankan supaya rusa itu tak perlu dikejar, tetapi buatkan saja perangkap atau pasang saja jerat dimana ia sering lewat mencari makan.
Akhirnya, rusa itupun terjerat di sebuah kampung. Kabar pun tersiar ke seluruh pelosok, maka ramai-ramailah orang bauruang atau berkumpul ke tempat baru itu. Dinamailah tempat itu paurungan. Suasana riang gembira meliputi wajah masyarakat. Kemudian disepakatilah mengubah nama Pauruangan menjadi pariangan atau tempat orang beriang hati.
Abdul Hamid menjelaskan, bahwa makna yang tersirat dalam bahasa Tambo yang menyebut rusa bertanduk emas itu, artinya adalah seorang laki-laki Bangsawan dari daerah lain, mencoba memasuki Nagari Pariangan yang baru saja dibuat. Kedatangan bangsawan ini diterima sebagai salah seorang sumando oleh Sultan Suri Maharajo Dirajao, setelah mengwainkannya dengan salah seorang perempuan Nagari Pariangan.

Tujuh Suku dalam Nagari Pariangan

Sampai kini Nagari Pariangan dianggap sebagai nagari pertama orang Minangkabau. Terletak dipinggir jalan antara Padangpanjang dan Batusangkar. Sejak dibuat menjadi sebuah nagari, Pariangan mempunyai tujuh suku, yaitu; Koto, Piliang, Pisang, Malayu, Dalimo Panjang, Dalimo Singkek Piliang Laweh dan Sikumbang.
Akan tetapi khusus pesukuan Sikumbang, hanya tinggal tapak perumahannya saja di Pariangan hingga sekarang ini. Sebab, ketika Datuk Pamuncak Alam Sati diutus oleh Bandaro Kayo menjadi Tuan Gadang di Batipuah, seluruh kaum pesukuan Sikumbang yang ada di Pariangan turut serta mengikuti penghulu pucuk mereka. Read the rest of this entry »

Translate to

Masukkan email anda dan klik Berlangganan.
Anda akan dikirimi email untuk setiap artikel yang tayang.

Join 94 other followers

Categories

Visitor Location

Marawa

Blog Stats

  • 420,753 hits
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 94 other followers

%d bloggers like this: