You are currently browsing the category archive for the ‘Hipotesa’ category.

Setelah sebelumnya menemukan kemiripan antara motif ukiran Minangkabau dengan motif ukiran kuno Gandhara dan ukiran Yunani kuno, saya melanjutkan penelusuran ke Negeri Champa. Dan persis seperti dugaan saya, dari peninggalan-peninggalan sejarah Bangsa Champa saya lagi-lagi menemukan keterkaitan dengan Minangkabau yaitu dalam bentuk kemiripan ukiran yang dipahat di dinding candi-candi di Champa terutama di komplek percandian My Son, dengan ukiran yang bisa kita temukan di dinding Rumah Gadang. Cara mereka mengukir pun sama dengan yang dilakukan seniman ukir Minangkabau, yaitu dengan memotong ukiran-ukiran tersebut dalam bentuk batu bata yang terpisah untuk kemudian disatukan. Persis seperti sambungan papan-papan ukiran di Rumah Gadang. Uniknya lagi, ukiran-ukiran atau pahatan-pahatan yang ditemukan pada peninggalan Bangsa Champa ini juga merupakan bentuk turunan dari ukiran Yunani Kuno dan Gandhara. Dari sini kita bisa melihat perjalanan sejarah ukiran tersebut, mulai dari Yunani kemudian ke Gandhara, berlanjut ke Negeri Champa dan pada akhirnya ditemukan di Minangkabau, di pedalaman Sumatera.

Pahatan di Candi Myson

Jadi sampai saat ini saya sudah menginventarisir 4 keterkaitan antara Negeri Champa dengan Minangkabau, yaitu:

  • Sistem Konfederasi Kota yang mirip dengan Nagari di Minangkabau atau Mini Republik di Yunani Kuno dan Gandhara.
  • Sistem Matrilineal yang masih diamalkan oleh masyarakat Minangkabau sampai saat ini.
  • Simbol Harimau Campa yang juga menjadi simbol budaya pada masyarakat Champa
  • Motif Ukiran dan Pahatan yang mirip dengan Ukiran Minangkabau.

Belum termasuk soal Hikayat Suku Jambak yang memang belum jelas sumbernya dan kesamaan nama Kerajaan Inderapura dengan nama ibukota Champa di puncak kejayaannya.

Motif Kuciang Lalok jo Saik Galamai

Jika kita membuang unsur siku-siku saik galamai dalam motif ukiran di bawah, maka akan ditemukan kemiripan unsur dengan pahatan pada candi myson yang ada di Champa. Unsur bunga segi empat ini disebut bungo cino dalam ukiran Minangkabau.

Potongan Ukiran di Myson

Motif Kuciang Lalok jo Saik Galamai

Saik Galamai

Ukia ragam kuciang lalok

Salo manyalo saik galamai

Latak di pucuak dindiang hari

Disingok di ujuang paran

Parannyo ulua mangulampai

Asanyo di Gudam Balai janggo

Di dalam Koto Pagaruyuang

Ukiran Rajo Tigo Selo

Read the rest of this entry »

Asal Muasal Suku Menurut Tambo

Menurut pendapat yang paling umum dan bersumberkan kepada Tambo, pada awalnya di Minangkabau hanya ada empat suku saja yaitu Koto, Piliang, Bodi dan Caniago. Keempat suku mengelompok menjadi dua kelarasan yaitu Lareh Koto Piliang yang dipimpin Datuak Katumanggungan dan Lareh Bodi Caniago yang dipimpin oleh Datuak Perpatiah Nan Sabatang. Selanjutnya suku-suku asal ini membelah berulang kali hingga mencapai jumlah ratusan suku yang ada sekarang ini. Dapat ditebak, suku yang empat ini adalah penghuni kawasan lereng Gunung Marapi atau Nagari Pariangan. Konsep ini sesuai dengan tujuan penulisan tambo yaitu untuk menyatukan pandangan orang Minang tentang asal-usulnya.

Namun informasi dari tambo ini tidak menyebutkan:

  • Darimana asal usul suku yang empat ini
  • Darimana asal usul 4 suku lain yang ada di Nagari Pariangan (Pisang, Malayu, Dalimo Panjang dan Dalimo Singkek)
  • Jika Nagari Pariangan adalah nagari pertama, mengapa tidak ada Suku Bodi dan Suku Caniago di dalamnya. Apakah suku yang berdua ini datang belakangan? Tentu ini akan menabrak konsepsi awal bahwa Bodi dan Caniago termasuk empat suku pertama.
  • Asal muasal suku besar lain seperti Jambak, Tanjuang, Sikumbang dan Mandahiliang. Karena mereka bukanlah pecahan dari Koto, Piliang, Bodi atau Caniago.
  • Suku-suku apa saja yang menjadi warga nagari-nagari yang menganut Lareh Nan Panjang.

Sebuah sumber memiliki pendapat yang berbeda dari keterangan di atas. Menurut Buku Sejarah Kebudayaan Minangkabau, suku asal Minangkabau adalah Suku Malayu, yang terpecah menjadi 4 kelompok dan masing-masingnya mengalami pemekaran, yaitu:

  • Malayu IV Paruik (Malayu, Kampai, Bendang, Salayan)
  • Malayu V Kampuang (Kutianyia, Pitopang, Jambak, Salo, Banuampu)
  • Malayu VI Niniak (Bodi, Caniago, Sumpadang, Mandailiang, Sungai Napa dan Sumagek)
  • Malayu IX Induak (Koto, Piliang, Guci, Payobada, Tanjung, Sikumbang, Simabua, Sipisang, Pagacancang)

Suku Malayu juga ditemukan sebagai suku para raja yang berkuasa di Pagaruyung, Ampek Angkek, Alam Surambi Sungai Pagu, Air Bangis dan Inderapura.

Suku Sebagai Representasi Klan Pendatang

Pada hakikatnya suku pada masa awal terbentuknya adalah representasi dari klan-klan yang membentuk masyarakat Minangkabau. Sebagaimana yang kita ketahui, Minangkabau pada masa awal pembentukan masyarakatnya adalah wilayah yang terbuka untuk didiami pelbagai bangsa sebagai konsekuensi letaknya yang dekat dengan jalur perdagangan internasional. Pantai Barat Sumatera (Barus), Selat Malaka dan daerah aliran sungai-sungai besar seperti Rokan, Siak, Kampar, Inderagiri dan Batanghari adalah pintu masuk utama berbagai bangsa pendatang sejak zaman megalitikum sampai periode berkembangnya kerajaan-kerajaan di Pesisir Timur Sumatera. Kaum pendatang ini segera menghuni kawasan Luhak Nan Tigo yang dalam Tambo disebut sebagai wilayah inti Minangkabau.

Persebaran Kaum Non-Pariangan di Luhak Nan Tigo

Meskipun tambo-tambo yang beredar dalam berbagai versi itu sepakat bahwa daerah pertama yang dihuni nenek moyang orang Minangkabau adalah Nagari Pariangan yang terletak di lereng sebelah selatan Gunung Marapi, namun ada informasi yang luput dari “teorema penyatuan silsilah” yaitu soal penduduk yang telah terlebih dahulu menghuni Luhak Agam dan Luhak Limopuluah Koto. Read the rest of this entry »

Harimau Campa Dalam Tambo

Harimau Campa adalah nama seorang tokoh yang disebut-sebut di dalam Tambo Alam Minangkabau. Bersama-sama Kucing Siam, Kambing Hutan dan Anjing Mualim, mereka berempat adalah para pengiring Ninik Sri Maharaja Diraja dan rombongan. Mereka semua adalah para pendekar yang di kemudian hari menjadi orang-orang pertama pendiri cikal bakal Silek Minang. Mereka juga dipercaya sebagai leluhur orang-orang di Luhak Nan Tigo.

Harimau Campa menjadi leluhur orang Luhak Agam, Kucing Siam menjadi leluhur orang Canduang Lasi Tuo, Kambing Hutan menjadi leluhur orang luhak Limopuluah sedangkan Anjing Mualim berkelana di sepanjang Bukit Barisan. Luhak Tanah Datar sendiri dipenuhi oleh anak keturunan Ninik Sri Maharaja Diraja. Setidaknya begitulah menurut Tambo Alam Minangkabau. Soal keturunan ini kemudian diabadikan dalam warna bendera Luhak Nan Tigo yang kemudian kita kenal sebagai marawa.

Kalau kita perhatikan nama-nama tokoh diatas, ada hal menarik yang tersirat darinya, khususnya Harimau Campa. Bernama Harimau Campa, tentulah berasal dari Negeri Champa. Logikanya tentu negeri ini telah ada dan masyhur sebelum nenek moyang orang Minangkabau mendarat di Sumatera.

Sekilas Negeri Champa

Dari catatan sejarah Cina, Kerajaan Champa berdiri pada tahun 192 M yang pada masa itu disebut Lin Yi. Pada tahun 543 Champa menyerang Dai Viet (Bangsa Vietnam) di Utara, namun gagal. Kerajaan Champa mencapai puncak kegemilangannya pada abad ketujuh hingga abad kesepuluh Masehi, untuk kemudian menurun karena perpecahan dalam negeri dan serangan-serangan yang agresif dari Bangsa Khmer, Bangsa Vietnam dan Bangsa Cina.

Jika saja Harimau Campa dalam tambo ini hidup pada masa awal kejayaan Kerajaan Champa tentulah kita bisa berasumsi bahwa kedatangan nenek moyang orang Minangkabau haruslah setelah tahun 192 M, atau diperkirakan sekitar tahun 400-500 M.

Kucing Siam Dalam Tambo

Namun ada hal yang mengganggu jika logika yang sama diterapkan pada tokoh Kucing Siam yang berasal dari Siam. Istilah Siam sendiri baru populer setelah berdirinya Kerajaan Sukhothai (1238 M) dan Kerajaan Ayutthaya (1351 M) sebagai cikal bakal Kerajaan Siam. Episode sejarah ini tentu paralel dengan periode Dharmasraya dan Malayapura di Sumatera. Pada saat ini tentu Champa sudah mulai menurun pengaruhnya walaupun masih bisa disebut jaya, karena pada tahun 1471 M, Bangsa Vietnam memulai invasinya terhadap Champa. Jadi kalau ditarik sebuah kompromi maka tahun kedatangan nenek moyang orang Minangkabau haruslah setelah 1238 M. Kecuali kita menemukan data bahwa istilah Siam sudah populer pada abad ketujuh Masehi, pada saat awal kejayaan Kerajaan Champa.

Tafsiran Lain Mengenai Harimau Campa

Akan tetapi sesuai hakikat Tambo, bahwa tujuan penulisannya adalah untuk menyatukan pandangan orang Minangkabau mengenai sejarah dan asal-usul mereka, maka bisa saja pengarang Tambo memasukkan nama kedua tokoh ini (dan tokoh-tokoh lain) untuk mewakili kelompok-kelompok masyarakat yang membentuk Minangkabau yang terdiri dari bermacam-macam daerah asal. Dari Hikayat Suku Jambak kita juga menemukan cerita ini, dimana Suku Jambak mengaku sebagai suku yang datang kemudian, seketurunan dengan Suku Sikumbang. Read the rest of this entry »

Migrasi nenek moyang orang Minangkabau menurut Tambo masih meninggalkan sebuah pertanyaan besar sampai saat ini, yaitu soal pelayaran yang berakhir di puncak Gunung Marapi. Meski secara logika tidak dapat diterima namun banyak juga yang tertarik untuk mengetahui alasan dipilihnya cerita ini oleh pengarang tambo pertama kali sebagai konstitusi untuk menyatukan pandangan keturunannya mengenai sejarah dan asal-usul mereka.

 

Geografi Pulau Sumatera Pada Abad ke-6 Masehi

Tentu kita tidak perlu menanyakan seperti apakah gerangan keadaan Pulau Sumatera pada saat nenek moyang orang Minangkabau yang diceritakan di dalam tambo itu menapaki pulau ini untuk pertama kalinya. Yang pasti tidak akan banyak berubah seperti kondisi sekarang ini. Memang ada temuan arkeologi dalam penelitian tentang Kerajaan Sriwijaya yang mengatakan Kota Palembang pada dahulunya itu terletak di pinggir pantai, begitu pula halnya dengan Muara Tebo di Jambi. Menurut penelitian ini pada kisaran abad keenam dan kesembilan Masehi, rawa-rawa dan lahan gambut yang mendominasi pantai timur Sumatera saat ini belum ada, dan banyak kota-kota di tepi sungai besar seperti Batanghari dan Musi dulunya berada di pinggir pantai atau muara sungai, walaupun saat ini bisa berjarak puluhan kilometer dari muara sungai yang sama.

Namun satu hal yang pasti, tidak akan mungkin gunung-gunung api dan kawasan bukit barisan bertemu dengan lautan, kecuali kaki-kaki bukit barisan di selatan Kota Padang dan seputaran Kota Painan sekarang. Bahkan pada zaman es pun yang terjadi adalah sebaliknya, lautan di Nusantara ini justru lebih rendah permukaannya daripada kondisi saat ini, sehingga Sumatera, Malaya, Jawa dan Kalimantan bersatu dalam daratan Dangkalan Sahul. Bahkan pulau-pulau perisai di barat Sumatera seperti Siberut dan Nias pun menyatu dengan Sumatera pada periode ini. Jadi jelas secara sejarah geologi, cerita dalam tambo ini tertolak.

Namun bagaimana menjelaskan soal lautan ini? Di luar soal pendaratan kapal di puncak Gunung Marapi, masih ada beberapa soal yang menentang kondisi geografis ini, di antaranya:

  • Dipakainya istilah teluk dan tanjung di dataran tinggi Luhak Nan Tigo
  • Dipakainya istilah darek (daratan) untuk merujuk daerag dataran tinggi Luhak Nan Tigo
  • Dipakainya istilah berlayar dalam menjelajahi dan menemukan daerah-daerah baru di sekitar Gunung Marapi, bahkan disebutkan gunung-gunung dan perbukitan lain di sekitar kawasan ini menyembul dari dalam laut. Kisah-kisah ini sangat banyak kita temukan dalam beberapa versi Tambo Alam Minangkabau dan Tambo Alam Kerinci. Selain itu Tombo Lubuk Jambi juga memuat istilah bumi bersentak naik, laut bersentak turun.

Berlayar di Daratan Menurut Tambo

Berikut beberapa kutipan tambo:

Setelah bulat mupakat, mendakilah ninik Sri Maharaja Diraja ke puncak gunung merapi hendak melihat dimana tanah yang baik dan subur akan tempat memindahkan orang orang itu. Setibanya beliau dipuncak gunung merapi, memandanglah beliau kesegala arah. Pandang jauh dilayangkan pandangan dekat di tukikkan. Kelihatan oleh beliau setumpuk tanah tanah gosong yang ditumbuhi rimba di baruh gunung kearah selatan yang kelihatannya tanahnya berpasir. Gosong gosong itu adalah puncak puncak bukit yang tersembur dari permukaan laut waktu itu. Setelah itu beliau kembali turun, dan bersama sama dengan Cateri Bilang Pandai beliau pergi melihat tanah itudengan berlayar. Pelayaran beliau itu hanya menepi gunung merapi saja dan akhirnya beliau sampai ditepi pantai, lalu berlabuh dan langsung memeriksa tanah tadi.(Tambo Alam Minangkabau)

  Read the rest of this entry »

Asal Usul Manusia Minangkabau
Kata Minangkabau mengandung banyak pengertian. Minangkabau dipahamkan sebagai sebuah kawasan budaya, di mana penduduk dan masyarakatnya menganut budaya Minangkabau. Kawasan budaya Minangkabau mempunyai daerah yang luas. Batasan untuk kawasan budaya tidak dibatasi oleh batasan sebuah propinsi. Berarti kawasan budaya Minangkabau berbeda dengan kawasan administratif Sumatera Barat. Minangkabau dipahamkan pula sebagai sebuah nama dari sebuah suku bangsa, suku Minangkabau. Mempunyai daerah sendiri, bahasa sendiri dan penduduk sendiri.

Minangkabau dipahamkan juga sebagai sebuah nama kerajaan masa lalu, Kerajaan Minangkabau yang berpusat di Pagaruyung. Sering disebut juga kerajaan Pagaruyung, yang mempunyai masa pemerintahan yang cukup lama, dan bahkan telah mengirim utusan-utusannya sampai ke negeri Cina. Banyaknya pengertian yang dikandung kata Minangkabau, maka tidak mungkin melihat Minangkabau dari satu pemahaman saja.

Membicarakan Minangkabau secara umum mendalami sebuah suku bangsa dengan latar belakang sejarah, adat, budaya, agama, dan segala aspek kehidupan masyarakatnya. Mengingat hal seperti itu, ada dua sumber yang dapat dijadikan rujukan dalam mengkaji Minangkabau, yaitu sumber dari sejarah dan sumber dari tambo. Kedua sumber ini sama penting, walaupun di sana sini, pada keduanya ditemui kelebihan dan kekurangan, namun dapat pula saling melengkapi.

Menelusuri sejarah tentang Minangkabau, sebagai satu cabang dari ilmu pengetahuan, maka mesti didasarkan bukti-bukti yang jelas dan otentik. Dapat berupa peninggalan-peninggalan masa lalu, prasasti-prasasti, batu tagak (menhir), batu bersurat, naskah-naskah dan catatan tertulis lainnya. Dalam hal ini, ternyata bukti sejarah lokal Minangkabau termasuk sedikit.

Banyak catatan dibuat oleh pemerintahan Hindia Belanda (Nederlandsche Indie), tentang Minaangkabau atau Sumatera West Kunde, yang amat memerlukan kejelian di dalam meneliti. Hal ini disebabkan, catatan-catatan dimaksud dibuat untuk kepentingan pemerintahan Belanda, atau keperluan dagang oleh Maatschappij Koningkliyke VOC.

Tambo atau uraian mengenai asal usul orang Minangkabau dan menerakan hukum-hukum adatnya, termasuk sumber yang mulai langka di wilayah Minangkabau sekarang. Sungguhpun, penelusuran tambo sulit untuk dicarikan rujukan seperti sejarah, namun Read the rest of this entry »

Tambo dalam arti yang sebenarnya adalah cerita sejarah negeri Minangkabau. Tambo-tambo lama Minangkabau didapati hampir di tiap-tiap nagari di Minangkabau yang ditulis dengan tangan dan memakai aksara Arab. Tambo-tambo tersebut sangat dimuliakan orang, bahkan adakalanya dipandang sebagai pusaka keramat. Sehingga yang memegangnya adalah kepala suku atau orang yang akan mengantikan kepala suku itu. Tidak sembarang orang yang boleh membaca, bahkan untuk membacanya harus didahului upacara khusus.

  Lukisan Marapi dilihat dari Danau Singkarak

Beberapa Saduran Naskah Tambo

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dr. Edwar Djamaris, tambo-tambo yang banyak itu ditulis dalam bahasa Melayu berbentuk prosa. Naskah Tambo Minangkabau ini sebagian besar ditulis dengan huruf Arab-Melayu, dan sebagian kecil ditulis dengan huruf latin. Naskah Tambo Minangkabau yang berhasil diketemukan sebanyak 47 naskah, masing-masing tersimpan di museum Nasional Jakarta sebanyak 10 naskah, di perpustakaan Universitas Leiden sebanyak 31 naskah, di perpustakaan KITLV Leiden Belanda sebanyak 3 naskah, di perpustakaan SOAS Universitas London 1 naskah, dan di perpustakaan RAS London 2 naskah.

Ada delapan saduran cerita Tambo Minangkabau yaitu:

Tujuan Penulisan Tambo

Secara umum dapat dikemukakan bahwa fungsi utama cerita Tambo Minangkabau adalah untuk menyatukan pandangan orang Minangkabau terhadap asal usul nenek moyang, adat, dan negeri Minangkabau. Hal ini dimaksudkan untuk mempersatukan masyarakat Minangkabau dalam satu kesatuan. Mereka merasa bersatu karena seketurununan, seadat dan senegeri.

A.A Navis seorang Budayawan Minang mengatakan Kisah tambo yang dipusakai turun-menurun secara lisan oleh orang Minangkabau hanya mengisahkan waktu dan peristiwa secara samar-samar, campur baur, bahkan ditambahi dengan bumbu yang kedongeng-dongengan. Adalah wajar bila kisah tambo itu mengandung berbagai versi karena tambo itu yang diceritakan oleh pencerita sesuai dengan keperluan atau kehendak pendengarnya.

Subjektivitas dan Falsafah Minang Dalam Penulisan Tambo

Terlepas dari kesamaran objektivitas historis dari Tambo tersebut namun Tambo berisikan pandangan orang Minang terhadap dirinya sendiri. Sebagaimana dikatakan oleh Navis, peristiwa sejarah yang berabad-abad lamanya dialami suku bangsa Minangkabau dengan getir tampaknya tidaklah melenyapkan falsafah kebudayaan mereka. Mungkin kegetiran itu yang menjadikan mereka sebagai suku bangsa yang ulet serta berwatak khas. Mungkin kegetiran itu yang menjadi motivasi mereka untuk menghapus sejarah masa silam dengan menciptakan tambo yang kedongeng-dongengan, disamping alasan kehendak falsafah mereka sendiri yang tidak sesuai dengan dengan falsafah kerajaan yang menguasainya. Mungkin kegetiran hidup dibawah raja-raja asing yang saling berebut tahta dengan cara yang onar itu telah lebih memperkuat keyakinan suku bangsa itu akan rasa persamaan dan kebersamaan sesamanya dengan memperkukuh sikap untuk mempertahankan ajaran falsafah mereka yang kemudian mereka namakan adat. Read the rest of this entry »

Salah satu periode kegelapan dalam Lintasan Sejarah Sumatera adalah masa antara abad pertama sampai abad kelima Masehi. Catatan sejarah dari Cina pertama kali muncul pada tahun 645 M dimana Kerajaan Malayu (Minanga) mengirim utusan ke Cina (catatan Wang Pu). Pada rentang tahun 1 M – 644 M praktis tidak ada catatan Cina yang menyebut daerah sekitar Sumatera.

Meskipun demikian ada catatan-catatan tentang daerah di laut selatan (Kepulauan Nusantara) yang mengirim utusannya ke Cina pada rentang 441 M – 563 M. Daerah yang disebut itu adalah Kerajaan Koying dan Kerajaan Kantoli.

Diluar catatan sejarah ada pula dua kerajaan yang disebut-sebut pernah ada di Sumatera sebelum tahun 500 M yaitu Kerajaan Kandis yang beribukota di Istana Dhamna dan Kerajaan Koto Alang. Sumber cerita tentang kedua kerajaan itu adalah Tombo Lubuk Jambi. Untuk sementara kita tinggalkan pembahasan yang sifatnya ahistoris dan legendaris dan fokus pada dua kerajaan pertama yaitu Kerajaan Koying dan Kerajaan Kantoli.

Kerajaan Koying

Keberadaan Kerajaan Koying diidentifikasi berdasarkan catatan yang dibuat oleh K’ang-tai dan Wan-chen dari Dinasti Wu (229-280) tentang adanya negeri Koying. Tentang negeri ini juga dimuat dalam Ensiklopedia T’ung-tien yang ditulis oleh Tu-yu (375-412) dan disalin oleh Ma-tu-an-lin dalam ensiklopedia Wen-hsien-t’ung-k’ao (Wolters 1967: 51).

Diterangkan bahwa di Kerajaan Koying terdapat gunung api da kedudukannya 5.000 li di timur Chu-po (Jambi ?). Di utara Koying ada gunung api dan di sebelah selatannya ada sebuah teluk bernama Wen. Dalam teluk itu ada pulau bernama P’u-lei atau Pulau. Penduduk yang mendiami pulau itu semuanya telanjang bulat, lelaki maupun perempuan, dengan kulit berwarna hitam kelam, giginya putih-putih dan matanya merah. Mereka melakukan dagang tukar menukar barang atau barter dengan para penumpang kapal yang mau berlabuh di Koying seperti ayam dan babi serta buah-buahan yang mereka tukarkan dengan berbagai benda logam. Melihat warna kulitnya kemungkinan besar penduduk P’u-lei itu termasuk dalam rumpun Proto-Negrito atau Melayu Tua yang sebelumnya menghuni daratan Sumatera. Read the rest of this entry »

Gelapnya tabir sejarah Minangkabau pra Adityawarman barangkali dapat diungkap sedikit dengan melakukan uji radio karbon pada situs bersejarah yang diklaim dibuat pada masa-masa awal berdirinya masyarakat Minangkabau.

Setelah berakhirnya perang dunia kedua, profesor Willard Libby pakar kimia dari Universitas Chicago, AS mengembangkan pengukuran umur menggunakan unsur radiokarbon. Tahun 1960, penemuan Libby untuk menetapkan umur benda temuan arkeologi dengan pengukuran unsur radiokarbon, mendapat penghargaan Nobel untuk bidang kimia. Pada prinsipnya Libby mengamati sifat dasar alam, yakni semua tanaman dan binatang di muka Bumi pada prinsipnya tersusun dari unsur karbon. Selama masahidupnya, tanaman menyerap karbondioksida melalui proses fotosintesa. Binatang dan manusia memakan tanaman, ataupun binatang lainnya. Terjadilah rantai makanan, yang merupakan sistem transfer unsur karbon. Dalam kadar amat kecil, sebagian unsur karbon di Bumi bersifat radioaktif atau disebut radiokarbon. Struktur atom pada radiokarbon atau disebut Karbon 14 tidak stabil. Seperti pada unsur radioaktif lainnya, Karbon 14 ini juga meluruh. Pada tahun 1940-an para pakar ilmu pengetahuan berhasil mengetahui waktu paruh radiokarbon tsb, yakni 5.568 tahun. Dengan begitu, semua benda organik yang mengandung unsur radiokarbon dapat dilacak umurnya, asalkan tidak lebih tua dari 70.000 tahun. Sebab pada umur 70.000 tahun, seluruh unsur radiokarbonnya sudah habis meluruh.

Batu Batikam, sebuah monumen batu yang terpajang kokoh di Jorong Dusun Tuo, Nagari Lima Kaum, Kabupaten Tanah Datar. Batu Batikam termasuk salah satu lokasi cagar budaya yang berada dalam pengawasan Kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sumbar, Riau dan Jambi yang ber­kantor di Pagaruyung . Secara lahiriah benda cagar budaya ini merupakan sebuah bungkahan batuan (andesit), berbentuk hampir segi tiga berukuran 55 x 20 x 45 sen­timeter.

Komplek Batu Batikam menurut tambo adat menye­butkan, bahwa di sanalah nagari pertama terbentuk sesudah Pariangan sebagai Nagari Tuo, dibangun oleh Cati Bilang Pandai dengan anaknya Datuak Parpatiaah nan Sa­batang, berikut dengan empat Koto lainnya yaitu Balai Labuah, Balai Batu, Kubu Rajo dan Kampai Piliang, kelima Koto ini hingga se­karang disebut sebagai Lima Kaum.

Batu Batikam ini berlobang akibat ditikam oleh Datuak Parpatiah nan Sabatang sebagai pertanda Sumpah Satiah (setia) pengukuhan perdamaian, untuk mengakhiri perselisihan paham dalam hal pemakaian sistim pemerintahan adat Koto Pi­liang yang dicetuskan oleh Datuak Katumanggungan dengan sistim pemerintahan Budi Caniago yang dipimpin oleh Datuak Parpatiah nan Sabatang.

Juga dituturkan, Datuak Katumanggungan juga meni­kam sebuah batu dengan keris­nya, ditempatkan di Sungai Tarab VIII Batu (Bungo Sa­tangkai-Bulakan Sungai Kayu Batarok) sebagai pusat pe­me­rin­tahan Koto Piliang dengan pucuk adatnya Datuak Bandaro Putiah.

Selain Batu Batikam masih ada situs “purba” seperti Balai Nan Saruang dan Balai Nan Panjang. Lebih luas lagi Uji Radio Karbon C-14 tentu bisa diterapkan juga pada bangunan-bangunan di Nagari Pariangan dan Nagari Sungai Tarab yang di dalam tambo disebutkan sebagai nagari-nagari tertua.

Jika kita merujuk pada tambo, Datuak Katumanggungan disebut sebagai anak atau cucu dari Ninik Sri Maharajo Dirajo. Maka dengan ditemukannya umur Batu Batikam yang merupakan karya cipta dari kedua datuak, maka dapat diperkirakan dengan eksak kapan sebenarnya cerita pendaratan di puncak Gunung Marapi itu terjadi.  Paling lama adalah sekitar 200 tahun sebelumnya.

Jika pengujian ini benar-benar ada yang mau melakukannya (dan sudah tentu akan banyak yang menentang dengan alasan kesakralan) dan jika ditemukan angka sekitar tahun 500 M sebagai saat batu tersebut ditikam. Maka ada sedikit fakta menarik yang datang 200 tahun sebelumnya, yaitu pada tahun 345 M.

Dalam prasasti Allahabad (345 M) India, “Kerajaan Samudragupta telah mengalahkan Raja Hastiwarman dari keluarga Calakayana dan mengalahkan Raja Wisnugopa dari keluarga Pallawa”.  Pada tahun 270 saka (348 Masehi) seorang Maharsi dari keluarga Calakayana hijrah ke pulau-pulau sebelah selatan India bersama para pengikutnya yang terdiri dari penggiring, tentara, dan penduduknya melarikan diri dari musuhnya Samudragupta.

Mungkinkah Raja Hastiwarman ini adalah Ninik Sri Maharaja Diraja? Bisa saja. Tapi jangan pula buru-buru tertawa dengan cerita mendarat di Gunung Marapi ini. Kita semua tentu faham bahwa faktanya Gunung Marapi ini tidak pernah ada di tepi laut, hanya Gunung Krakatau saja di barat Nusantara ini yang muncul dari dalam laut. Bahkan justru pada masa dahulu itu, laut lebih rendah dari masa sekarang (terutama pada zaman es dimana Sumatera, Jawa dan Kalimantan bersatu dalam Anak Benua Dangkalan Sunda).

Kaum yang datang dari India tersebut adalah penganut Hindu. Dalam konsepsi Hindu ada yang dinamakan Gunung Meru tempat tinggal para dewa (hyang). Gunung Meru ini terletak di tengah 7 lautan di benua Jambu Dwipa. Ketika mereka eksodus dari India, mereka akan merekonstruksi kembali tempat-tempat tersebut untuk tujuan keagamaan. Gunung Meru dalam konsepsi ini juga terletak di antara 6 gunung (3 di utara dan 3 di selatan).

Gunung Marapi di tengah Pulau Sumatera adalah kandidat kuat sebagai Gunung Meru yang baru (bahkan nama Marapi berkemungkinan diturunkan dari kata Meru dalam Bahasa Sansekerta). Karena itulah mereka berbondong-bondong mendekati Gunung Marapi untuk memuja para dewa, dan sangat lazim jika nama nagari yang mereka dirikan adalah Pariangan atau Par Hyangan (tempat dewa-dewa). Beberapa saat kemudian mereka pun mendirikan Kerajaan Jambu Dwipa (Jambu Lipo) untuk memperkuat konsepsi keagamaan tersebut.

Jadi tantangan kita selanjutnya adalah menginventarisasi nama-nama tempat atau gelar yang ada di Minangkabau yang diturunkan dari Bahasa Sansekerta. Dari sini kita baru bisa mencari-cari berita dari India atau tempat lain yang kira-kira memberi petunjuk selanjutnya.

Sumber:

http://www.minangforum.com/Thread-BATU-BATIKAM-TETAP-DIMINATI

http://www.kelas-mikrokontrol.com/jurnal/iptek/bagian-2/metode-pelacak-umur-radiokarbon.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Meru

Dalam tulisan sebelumnya yang berjudul Warisan Ukiran dari Gandhara, saya telah menyajikan sebuah hipotesa tentang keterkaitan antara kebudayaan hellenisme yang berkembang di Gandhara pada sekitar awal abad Masehi dengan kebudayaan yang berkembang di Minangkabau. Objek yang menjadi aspek penelitian saya diantaranya adalah kesamaan antara motif ukiran Minangkabau dengan motif ukiran bergaya hellas yang berkembang di Gandhara. Selain itu sistem pemerintahan yang berlaku di Minangkabau juga memiliki kemiripan dengan sistem ketatanegaraan Yunani kuno, yaitu berbentuk konfederasi nagari yang mirip dengan polis-polis.

Penemuan-penemuan tersebut membawa saya lebih lanjut untuk menelusuri kemiripan-kemiripan ini, utamanya tentang motif ukiran Minangkabau. Saya menelusuri informasi tentang motif-motif ukiran Yunani kuno dan menemukan satu jenis motif dengan kemiripan hampir 80% dengan motif Siriah Gadang yang ada dalam khazanah motif ukiran Minangkabau. Berikut adalah perbandingan kedua motif ukiran:

ancient-greek-architectur-7(a) Ancient Greek Carving (Honeysuckle Carving)

Siriah Gadang(b) Motif ukiran Minangkabau : Siriah Gadang

Siriah gadang siriah balingka
Kuniang sacoreng diatehnyo
Baaleh batadah tampan
Hulu adat kapalo baso
Pangka kato hulu bicaro
Panyingkok peti bunian
Pambukak biliak nan dalam

Susunan dari Pariangan
Buatan Parpatiah Nan Sabatang

Tidan nan turun dari ateh
Balingka jo mufakat balingka jo limbago
Jadi pusako alam nangko Read the rest of this entry »

Kepercayaan tentang asal usul yang berakar jauh dari Pulau Sumatera ternyata tidak hanya di dominasi oleh masyarakat Minangkabau.  Setidaknya ada 6 suku bangsa lain yang mengaku berasal dari daerah yang jauh di luar Pulau Sumatera, yaitu masyarakat Kuantan di Inderagiri Riau, masyarakat Kerinci, etnis Karo (khususnya Marga Sembiring), masyarakat Barus di pantai barat Sumatera Utara, etnis Pakpak dan etnis Mandailing di Sumatera Utara.

Masyarakat Kuantan Lubuk Jambi

Masyarakat Kuantan dan masyarakat Kerinci bahkan mewarisi mitos yang sama atau mirip dengan masyarakat Minangkabau, yang diturunkan masing-masing dalam Tambo Lubuk Jambi dan Tambo Alam Kerinci. Kedua tambo mempertautkan asal-usul masyarakatnya dengan kebesaran nama Iskandar Zulkarnain, sama seperti yang tercantum dalam Tambo Alam Minangkabau. Yang berbeda adalah pada fasal siapa pendiri kebudayaan dan pencipta aturan adat untuk masing-masing masyarakat.

Masyarakat Kuantan percaya bahwa putra Iskandar Zulkarnain yaitu Maharaja Diraja sesampainya di Pulau Emas Sumatera,  mendarat di Bukit Bakar di hulu Inderagiri yaitu di pinggir Batang Kuantan lalu mendirikan Kerajaan Kandis dengan istana bernama Istana Dhamna. Menurut orang Lubuk Kuantan, tokoh legendaris masyarakat Minangkabau yaitu Datuk Perpatih Nan Sabatang dan Datuk Katumanggungan hanyalah patih dan pangeran tumenggung dari Kerajaan Koto Alang, sebuah kerajaan sempalan di bagian hulu Batang Kuantan yang akhirnya diserang oleh Kerajaan Kandis yang lebih besar. Patih dan Tumenggung ini lari ke Gunung Marapi sedangkan rajanya lari ke Jambi yaitu ke muara Batanghari.

Dalam versi masyarakat Minangkabau, Maharaja Diraja mendarat langsung di puncak Gunung Marapi setelah mengarungi lautan cukup lama. Maharaja Diraja kemudian mendirikan nagari tertua di Minangkabau yaitu nagari Pariangan di lereng sebelah selatan Gunung Marapi.

Masyarakat Kerinci

Setali tiga uang, masyarakat Kerinci juga mengaku bertautan kepada Maharaja Diraja, bedanya mereka sepakat dengan cerita soal “turun dari puncak gunung Marapi”. Masyarakat Kerinci hanya membuat cabang cerita sendiri dengan menyebutkan bahwa nenek moyangnya yaitu Indarbayang, berlayar langsung dari Gunung Marapi ke Gunung Kerinci, namun karena medan yang berat kapal yang membawanya akhirnya berlabuh di Gunung Jelatang. Tokoh Datuk Perpatih Nan Sebatang juga dikenal dalam Tambo Alam Kerinci. Sebagai catatan, sebenarnya wilayah Kerinci ini sudah memiliki peradaban yang sangat tua yang dikembangkan oleh masyarakat Proto Melayu dengan kebudayaan megalitikumnya. Kerinci merupakan salah satu dari empat daerah di Sumatera yang telah mengenal aksara. Aksara yang berkembang di Kerinci dinamakan Aksara Incung. Tiga wilayah lain yang memiliki aksara di Sumatera adalah Batak, Rejang dan Lampung.

Imigran Imigran dari India

Hasil penelitian saya yang saya tuangkan dalam sebuah hipotesa menemukan bahwa Kebudayaan Minangkabau memiliki pertalian dengan Kebudayaan Hellenisme yang berkembang di India setelah penaklukan daerah lembah Sungai Indus oleh Alexander Agung. Salah satu jejak yang menguatkan pendapat saya itu adalah ditemukannya kemiripan nyaris 90% dari salah satu motif ukiran Minangkabau dengan salah satu motif ukiran yang berkembang di wilayah Gandhara. Motif berbentuk gulungan daun anggur ini merupakan motif yang sudah ada sejak zaman Yunani kuno. Selain itu nama-nama nenek moyang orang Minangkabau dalam Tambo juga identik dengan nama-nama khas India. Contohnya adalah Maharaja Diraja, Indra Jelita dan Cateri Bilang Pandai. Read the rest of this entry »

Translate to

Masukkan email anda dan klik Berlangganan.
Anda akan dikirimi email untuk setiap artikel yang tayang.

Join 84 other followers

Categories

Visitor Location

Marawa

Blog Stats

  • 349,337 hits
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 84 other followers

%d bloggers like this: