Nagari Padang adalah salah satu Nagari  di Alam Minangkabau  yang sudah ada sejak tahun 1662 ketika Penghulu – Penghulu Suku Nan Salapan  bersumpah sakti kepada Yang Dipertuan  Rajo Pagaruyung. Bahwa Padang adalah Nagari di Alam Minangkabau.

Tercatat antara tahun 1450 s.d 1556 Yang pertama sekali datang kedaerah Padang adalah Datuak Sangguno Dirajo  suku Tanjung. Yang kedua adalah :  Datuak Patah Karsani Suku Malayu  Ketiga adalah   Datuak Maharajo Basa  suku Caniago  Keempat : Datuak Panduko Magek Suku Jambak . Semua beliau-beliau tersebut berasal dari  darek Minangkabau.

Monopoli Kerajaan Aceh.

Tahun 1500 Terjadi perkawinan Putera  Minangkabau dengan Putri Aceh . (perkawinan memburuk sehingga Aceh  kecewa  dan menyerang Minangkabau  selain itu juga untuk  menguasai sumber komidi perdagangan tetapi yang dapat dikuasai hanya pantai barat )

Tahun 1539  Pesisir Barat sumatera mulai dari Natal , Barus , Air bangis Pasaman , Tiku , Padang sampai ke Indropuro (Ketaun ) Pesisir Selatan diduduki oleh Aceh dibawah pemerintahan raja Aceh Sultan Alauddin Riyatsyah al Qahar

Tahun 1607  Kekuasaan aceh memuncak di pesisir  barat semasa  itu  Raja Aceh  adalah Sultan Iskandar Muda. Dalam mempertahankan kekuasaannya Aceh  tidak hanya bertindak sebagai pemonopoli perdagangan tetapi ikut campur  mengatur dalam hal Adat dan kebudayaan dengan mengeluarkan peraturan :

  1. Aceh memisahkan pesisir  Barat dari Kerajaan Pagarruyung dan kebudayaan  Luhak nan tigo
  2. Rumah Gadang  tidak boleh meniru Rumah gadang di Darek  tetapi paduan  aceh dengan Minangkabau
  3. Cara berpakaiaan.
  4. Tidak boleh memekai gelar  adat  baik yang berasal dari mamak maupun gelar  Adat Datuak untuk penghulu.

Sumpah Sati dengan Raja Pagaruyung

Tindakan Aceh ini sangat tidak disukai oleh Masyarakat Pesisir Barat , sehingga terjadi solidaritas  masyarakat  yang secara diam-diam selalu menerapkan Adat Istiadat Minangkabau.

Tanggal 4 Juni 1636 , Utusan Rantau Pesisir Barat  yang yang lebih dikenal dengan Sutan nan salapan berikut para Rajo, panghulu, manti, dubalang dan malin serta rakyat dari luhak nan tigo  ( Karena masih dekatnya pertalian darah / dekat nya sako dan pusako )   menghadap yang dipertuan  Pagaruyung dan diadakan pertemu di gudam balai janggo untuk berikrar  kepada yang dipertuan  Pagaruyung bahwa rantau pesisir Barat  tetap mengakui dibawah daulat yang dipertuan  Pagaruyung  walaupun  tanah rantau  Pesisir  dikuasai oleh Aceh  . Sutan nan salapan  mengangkat sumpah  setia  kepada  yang berdaulat  yang dikenal dengan ” Sumpah Sati “

Isi Sumpah Sati  :

  • Nan salamo salamonyo indak maubah- ubah buek, salamo aia hilia, salamo gagak hitam, salamo gunuang marapi tatagak dari awa sampai akia
  • Titah daulat Yang Dipertuan kepada Sutan Nan Salapan  adalah  : “Jikok ado urang dari Luhak Nan Tigo nan diparintahi Sutan Nan Salapan baiak laki-laki atau  padusi . Mako :  kalau rajo sadaulat, pangulu saandiko, urang tuo sa undang-undang, hulubalang samo  samalu, urang banyak sama  sakato.
  • Jikok   dimungkia awak dimakan biso kawi, kaateh indak bapucuak, kabawah indak baurek, ditangah-tangah di makan kumbang “.

Pada tahun 1636 itu juga setelah sampai di  didaerah masing-masing   karena  Aceh melarang  adanya gelar mamak gelar adat, masing-masing yang bersumpah satie  mengambil kebijaksanaan  sebagai  tanda orang Minangkabau di rantau, di Padang   setiap laki – laki diberi gelar sutan dan  perempuan diberi gelar  puti  di depan nama .dalam perkembangannya  masyarakat yang datang ke Padang  setelah tahun- tahun  tersebut tidak lagi mendapat gelar Sutan dan puti, (kecuali yang datang dari Indropuro  bila terjadi perkawinan  dengan orang  Padang kebanyakan maka anak yang lahir juga diberi gelar sutan dan puti, sedangkan gelar marah dan siti diberikan kepada  anak yang lahir dari perkawinan  sutan/puti dengan  orang  Padang kebanyakan.

Zaman  VOC

VOC (  Verinigde Oost-Indische compagnie ) didirikan pada tanggal 20 Maret 1602 .pada tahun 1659 Ratu Nurul Alam Afiat Uddin isteri dari Aceh  berkirim surat ke  Gubernur  Jenderal Belanda  di Batavia  untuk berdamai, Belanda menunjuk  Yan van Groenewegen untuk berdialog  ke Aceh dan membuat perjanjian dengan pihak Aceh di Bandar Aceh dar-Es Salam, Yan van Groenewegen dianugerahi gelar “ Orang Kaya Hulubalang Raja “ oleh kerajaan Aceh .

Isi perjanjian :

1.Belanda diizinkan berdagang di Pesisir Barat.

2.Belanda diizinkan mendirikan Loji di Padang.

3.Inggeris tidak diperbolehkan  berdagang di Pesisir   Barat.

Semua perjanjian  di lapangan dihalangi oleh Panglima Aceh di Padang. , sehingga  Belanda  hanya bisa  memusatkan perdagangannya di pesisir bagian selatan sebelah selatan  , Belanda mendirikan Loji di Salido.

Barulah pada 1660 untuk pertama kalinya VOC menginjakkan kakinya  di Padang,  oleh Aceh  Belanda diizinkan tinggal di Padang  yaitu dengan  Jabatan sebagai Koopman ( Pembeli )  yang bernama Yacob Kouter dengan seorang Asisten dan 4 Orang kelasi.

Pada tahun 1661.Yan van Groenewegen dipindahkan dari Aceh ke Pesisir Barat,di Padang Yan van Groenewegen juga dihubungi oleh Sutan-Sutan , Rajo2 dan Penghulu2 Padang yang dipelopori oleh “ Urang kayo Kaciak “ agar belanda membantu untuk menghilangkan penguasaan  monopoli  dan pembelian harga yang murah  dalam   perdagangan oleh Aceh di bandar Padang.Yan van Groenewegen diberi rumah di seberang Padang.

Pada tahun 1662 karena  mendapat mitra yang kuat yaitu Belanda dengan VOCnya dan Kekuatan Aceh Mulai lemah, Urang Kayo Kaciak  di Padang dengan pengikut-pengikutnya kembali menerapkan secara terbuka Adat dan Budaya Minangkabau,  serta sistim kepemerintahan ala  Minangkabau dengan mendirikan Kerapatan Adat Nagari tetapi untuk membedakan dengan darek sebagai pusat alam Minangkabau  maka di Padang sebagai daerah rantau diterapkan dengan memakai  gelar rajo (  Rajo sesudah Datuak, sesudah Sutan atau Sutan  ditambah Rajo atau hanya Rajo dibelakang nama.) Pada saat ini Padang selain telah ada sutan dan puti (yang mula-mula datang merantau di Padang =  Setelah pengucapan Sumpah Sati  4 Juni  1636  ) juga  telah didiami oleh pendatang dari  darek  (masyarakat luhak nan tigo) baik turun dari daerah Solok maupun dari Agam dan Tiku  maka ditetapkan lah  suku  dan Pengulunya di Padang sbb :

Pelarasan Bodi-Chaniago.

1.Sumagek  di Padang  menjadi Chaniago Sumagek.

2.Mandaliko-Chaniago Mandaliko.

3.Panyalai – Caniago Panyalai

4.Jambak.

Pelarasan Koto-Piliang.

1.Sikumbang – Tanjuang Sikumbang.

2.Balaimansiang – Tanjuang Balai mansiang.

3.Koto – Tanjuang Koto Piliang.

- Tanjuang Koto.

4.Malayu.

Pada tahun inilah awalnya berdiri Kerapat adat Nagari Di Padang  sebagai bentuk kepemerintahan Alam Minangkabau atau yang lebih kita kenal dengan Kerapatan Adat  Niniak Mamak nan 8 Suku ( 1662)

Untuk  menguatkan posisi KAN Padang   dan Nagari-Nagari lainnya  di Pesisir Barat. Pada tanggal 26 Maret 1663. Yan van Groenewegen beserta  Rajo Mansyursyah dari Indropuro, Urang Kayo Kaciak mewakili  Tiku dan Padang, Rajo Lelo karang mewakili  Painan  dan Salido dan Rajo Panjang dari Sungai Pagu berangkat mengahadap gubernur jenderal Belanda  ke Batavia agar Belanda membantu  untuk mengusir Aceh.

Pada tahun 1664 datang angkatan Perang Belanda ke Indropuro lebih kurang 300 orang dengan pimpinan Yacob Cow. terjadi perang dengan  aceh di Padang.

Pada tanggal 6 Juli 1963 ditanda tangani “ Kontrak Painan “ yang berisi untuk melepaskan diri dari monopoli perdagangan dan  penguasaan Aceh serta  Belanda tidak akan mengenakan Pajak/Blasting  kepada Pesisir Barat Sumatera.

Mas Manah

Pada tahun 1665 Urang kayo kaciak dengan  Penghulu2 di Padang sebanyak 8 orang pergi  menghadap yang dipertuan Minangkabau ( Rajo Alif) dengan membawa upeti dan bermohon kiranya Saudagar2 dari darek datang lagi berdagang di Padang karena masalah Aceh tidak ada lagi

(  Selama  Pesisir barat dikuasai oleh aceh  Pedagang –pedagang darek  bergerak kearah timur  sampai ke Negeri Sembilan.)

Pada tahun 1666 penguasaan Aceh  di Pesisir Barat  boleh  dikatakan  tidak ada lagi (dengan demikian pesisir barat Sumatera lamanya dikuasai Aceh  mulai dari tahun 1539 s.d 1666  =  127 Tahun ) .

Belanda mendirikan Loji di seberang Padang ( pada saat itu   muara Padang terletak di kapalo koto Seberang Padang bukan di Muara Sekarang ( Batang Arau).

Tanggal 13 Februari 1667 VOC mengakui kedaulatan  Kerajaan Pagaruyung di Pesisir Barat  Minangkabau.

18 September 1667 diadakan perundingan antara  VOC dengan  Utusan Kerajaan Pagaruyung., Orang Kayo Kaciak diangkat oleh Kerajaan Pagaruyung sebagai  Panglima di Pantai Barat .

1669  Yang Dipertuan  Raja Alam Minangkabau Raja Alif wafat  di Gudam

Jajahan Inggris

Pada tahun 1692 Orang2  Inggeris  mulai masuk ke pesisir barat untuk berdagang ,  mereka  terpaksa diterima oleh VOC dan Penghulu di Padang  ( baca Perkembangan di Eropah  Belanda dikuasai Inggris ).sehingga pada Tanggal 13 Agustus  1781 , Pesisir Barat  dikuasai  oleh Inggeris, kekuasaan Inggeris hanya lebih kurang 3 Tahun sampai  tahun 1784.

Pada 20 Mei 1784 Inggeris menyerahkan kembali Pesisir Barat ke Belanda dan Belanda menetapkan Padang  menjadi   pusat perdagangan di Pesisir Barat ( Bandar Besar ).pada serah terima  tersebut Tercatat populasi penduduk Padang  sbb :

1.Bangsa Eropah                      :                 105.-   Orang.

2.Bangsa Minangkabau :           17.000.-    Orang

( 7.000.-)

3.Bangsa china             :                200.-   Orang.

4.Bangsa Benggali        :                100.-  Orang.

5.Bangsa Arab dan Asia lainnya:           1.000.-    Orang.

6.Bangsa Nias              :           1.500.-    Orang.

Total  Penduduk Padang    :      ( 19905 – 12905 )

Penjajahan Belanda

Pada tahun 1799. Politik perdagangan Belanda yang dikenal dengan VOC diganti dengan bentuk pemerintahan   Belanda di Indonesia ( Penjajahan) yang dikenal dengan Nederland Indies Regeering dibawah bayang2 Inggeris.

Bila sebelumnya   hubungan Belanda  dengan  masyarakat Padang ( Pesisir Barat )  sangat erat tetapi setelah sistim perdagangan dirobah menjadi sistim kepemerintahan ( Penjajahan )  , Belanda mulai menerapkan  kekuasaan penjajah , sebagian  masyarakat Padang menolak dan mulai melawan , Belanda mulai menerapkan  politik  adu domba dengan  mendekati sebahagian masyarakat kota Padang

Pada tahun 1820 untuk melansungkan kekuasaannya Belanda membagi Padang menjadi 8 bagian ( Wijk) , setiap wijk dikepalai oleh  masing- masing suku  yang delapan ,  dan diberi gaji oleh Belanda, kepala wijk  yang Delapan dipimpin  oleh  tuan regent yang ditunjuk oleh Belanda serta ditetapkan juga bendehara voorzitter  yaitu :

Wijk  I. Tanjuang koto Ulak Karang
Wijk II Caniago Panyalai Purus , Damar, Olo , Rimbo Kaluang , Ujung Pandan.
Wijk III Tanjuang Sikumbang Kampung Jao, Sawahan, Balantuang, Tarandam, Jati
Wijk  IV. Tanjuang Balai Mansiang .Alai, Gunung Pangilun.
Wijk  V. Jambak Parak Gadang, Simpang Haru., Andaleh.
Wijk  VI. Malayu Pondok,Kampung Sabalah,Berok, Kampung Cino, Belakang Tangsi.
Wijk VII. Caniago Sumagek Ganting,Ranah,Pasa Gadang, Palinggam
Wijk VIII Caniago Mandaliko. Teluk Bayur, Air Manis, Seberang Padang, Kampung Teleng,kampung Batu dan Subarang Pabayan.

Pada Tanggal 11 Oktober 1833. diadakan Perjanjian Plakat Panjang dan  sistim kepemerintah di Padang dirobah  dari sistim  regent   menjadi Demang dan penghulu Wijk diganti dengan Kepala kampung  ( Kam penghoofd)   , dalam sistim kampung ini Padang dibagi dalam 13 kampung dan bagi  masyarakat kelompok pendatang  selain bernaung dibawah kepala kampung  juga ditentukan tetuanya  :

13 Kampung :

  1. Kampung Alai – Gunung Pangilun.
  2. Kampung Ulak Karang.
  3. Kampung Alang Laweh
  4. Kampuang Pasa Gadang.
  5. Kampuang.Subarang Padang.
  6. Kampuang Taluak Bayua.
  7. Kampung Aia Manih.
  8. Kampung  Jao.
  9. Kampuang Balakang Tangsi.

10.  Kamuang Pondok.

11.  Kampuang Sawahan.

12.  Kampuang Andaleh Marapalam.

13.  Kampuang Parak Gadang.

Catatan : Penduduk nagari yang terdaftar pada tahun

ini lah yang dianggap Anak Nagari Padang

dan turunannya sampai sekarang dan nanti.

Tetua kelompok masyarakat Bangsa pendatang   lainnya diberi jabatan :

  1. Kelompok China Dikepalai oleh  Kapten China ( Kapten der  Chineezen )
  2. Kelompok Nias dikepalai oleh   Kepala  Bangsa Nias.
  3. Kelompok Keling  dikepalai oleh Kepala Kampung Keling ( Leutenant  der Indiers).

Pada tahun 1866 Mesdjid Ganting didirikan  dan dijadikan sebagai mesjid Nagari Padang  sebagai ganti mesjid  Pertama  Nagari Padang  di Kapalo koto Seberang Padang . sekali gus didirikan Balai adat  Nagari Padang  di lokasi Mesjid Ganting .

Tahun 1875.Belanda menghapus hukum adat di Minangkabau membuat eksistensi Pengulu Adat menjadi berkurang terjadi gejolak-gejolak sehingga  tanggal 1 April tahun 1905 Gubernur Jenderal Belanda  menetapkan Batas2  kota Padang dengan Ordonantie ,serta menerapkan rodi  pada awal tahun 1906.  dan Tanggal 1 Maret 1906 oleh Gubernur Jenderal Belanda   Padang ditentukan statusnya sebagai daerah otonom ( Gemeente)

Pada tahun 1907 penghulu adat baik yang  bergelar sutan maupun datuak  mengadakan pertemuan di  Mesjid Ganting  dan pada tahun 1913 dengan staatblad ( Lembaran Negara) No. 321 kota Padang  dipecah dan diperluas dengan harapan Konsentrasi pihak yang anti Belanda terpecah  , Padang ditentukan  sebagai luhak  dengan kepala pemerintahan seorang asisten residen ( tuan Luhak = Tuanku lareh ? ) hal ini kurang diterima oleh sebagian masyarakat karena  tidak mungkin ada luhak yang ke empat   asisten residen juga bertindak sebagai Kepala Kepolisian dan Wali kota (  Burgemeester ) . kota Padang dan mempunyai 8  Distrik yang terdiri dari :

  1. Distrik Tanah Tinggi
  2. Distrik Batang Harau
  3. Distrik Binuang
  4. Distrik Koto Tangah.
  5. Distrik Pauh IX.
  6. Distrik Sungkai.
  7. Distrik Limo Lurah ( Pauh Limo )
  8. Satu distrik lagi adalah Lubuk Begalung tempat kedudukan Kanselir yang menjadi koordinator disterik2  yang terdiri dari :

1        Distrik Tanah Tinggi,

2        Distrik Pauh IX.

3        Distrik Sungkai ,

4        Distrik Limo Lurah ( Pauh Limo )/.

Pada  tahun 1914. sistim Tuanku Lareh  dihapus ( Bulan Mei ). Diganti dengan  Districthoofd yaitu  dengan Districtbestuur  yang jabatannya disatukan dengan kerapatan Adat  , sehingga timbul kembali   tuanku Demang , disini  penghulu kerapatan adat sutan nan salapan merasa mendapat angin  tetapi hak-hak istimewahnya belum juga diberikan kembali oleh Belanda .

Gelar  Penghulu  Suku  di Nagari Padang Salapan Suku

Tanggal 23 April  1922. diadakan rapat di  Mesdjid Ganting yang dihadiri oleh bukan saja dari Ninik Mamak dan Ulama serta Cerdik Pandai se Padang  baik pihak Penghulu sutan  nan salapan  maupun masyarakat lainnya yang tidak bergelar Sutan dan juga dihadiri oleh  utusan Agam dan Padang Panjang berkumpul untuk membentuk  kembali Kerapatan Adat  Nagari Ninik Mamak  nan Salapan suku Padang, dalam  suatu upacara yang besar  tersebut  diputuskan :

Membentuk kembali Pengurus Kerapatan Adat  Nagari Ninik Mamak  nan Salapan suku  Nagari Padang  dengan tidak membeda-bedakan  antara Sutan – Sutan dan Datuak-Datuak dan ditetapkan gelar Pengulu suku  dari masing-masing suku  terdiri dari   :

No. Pelarasan Turunan Suku Penghulu
I Bodi-Chaniago
Sumagek Chaniago Sumagek Dt.Maharajo Basa
Mandaliko Chaniago Mandaliko Dt.Rajo Dihilie
Panyalai Chaniago Panyalai. Dt.Panduko Magek
Jambak Jambak Dt.Rajo Indo Bumi.
II Koto – Piliang
Sikumbang Tanjuang sikumbang Dt.Sangguno Dirajo
Balai Mansiang TanjuangBalai Mansiang Dt.Rajo Gunuang Padang
Koto TanjuangKoto Piliang Dt.Rajo DiPadang.
Tanjuang Koto
Malayu. Malayu Dt.Maharajo Lelo.

Patah tumbuh hilang berganti.

9 September 1925 dan  12 Maret  1926 dibentuk kepengurusan    Kerapatan Adat  Nagari Ninik Mamak  nan 8 Suku   disetujui oleh pemerintah Belanda, tetapi tidak diterima oleh semua  Anak Nagari Padang.

Pada tahun 1928 diadakan .Jabatan Wali Kota ( burgemester ) Pertama Padang  dibentuk oleh Gubernur Jenderal Belanda  dan ditetapkan tanggal 17 Agustus 1928, daerah kekuasaan  Burgemester adalah empat kecamatan  Padang sekarang yaitu , Padang Selatan Padang Barat , Padang Timur dan  Sebahagian Padang Utara.

1932. Kepengurusan Kerapatan Adat  Nagari Ninik Mamak  nan Salapan suku Padang disusun lagi .  keadaan ini  menggenang   disebabkab aktivitas untuk mencapai  kemerdekaan dan masuknya pemerintah Jepang,

Kemudian pada tahun 1956  kepengurusan   Kerapatan Adat Niniak Mamak nan  Salapan Suku Nagari Padang disusun lagi namanya  berobah hanya menjadi : Kerapatan Adat Nagari Padang ( KAN Padang ) , Kepengurusan ini   hampir diterima oleh semua Anak Nagari Padang  Ketuanya adalah   St.Didong glr.R.Nan Gadang. Setia Usahanya M.A.Syahbuddin glr.Dt.B.M.Sutan karena  mendekati hasil pertemuan tanggal 23 April 1922. aktivitasnya sangat disukai masyarakat .

1965.Tanggal 4 Agustus 1965 dibentuk kembali Pengurus Kerapatan Adat  Nagari Ninik Mamak  nan Salapan suku Padang dengan anggota sebanyak 14 Orang

tetapi tidak diterima oleh masyarakat.

1971.Tanggal  26 Maret terbentuk lagi Pengurus Kerapatan Adat  Nagari Ninik Mamak  nan Salapan suku Padang dengan jumlah pengurus sebanyak 9 orang  ketuanya adalah Marah Amiruddin Dt. Basa Maharajo Sutan  suku  yakni Tanjung Koto

Pada tanggal 1 September 1989  diperbaruhi dengan Skep NO.06/Skep/NM-SS/Pdg-IX/1989. Tentang : Susunan Organisasi dan Personalia Pengurus Kerapatan Adat Niniak Mamak  Nan Salapan Suku Nagari Padang periode 1984 – 1994..

28 Februari 2001. disusun lagi  kepengurusan Kerapatan Adat Niniak Mamak  Nan Salapan Suku Nagari Padang dengan  Surat Keputusan  NMN8SNP No. 03/SK /NMN8SNP / Pdg/V/2001 tentang : Susunan Dewan Adat dan  Badan Pelaksana NMN8SNP periode 2001- 2006

Sumber:

http://lubukgambir.wordpress.com/2010/03/27/tambo-kota-padang/

About these ads