Sumber dalam Istana Pagaruyung (Tambo Pagaruyung) memiliki sebuah keyakinan bahwa asal muasal Kerajaan Pagaruyung adalah berbentuk penggabungan atau fusi dari 3 keturunan (3 kerajaan) yang sudah ada sebelumnya. Ketiga kerajaan itu adalah:
- Dinasti Kerajaan Gunung Marapi (Keturunan Ninik Sri Maharaja Diraja)
- Dinasti Kerajaan Dharmasraya (Wangsa Mauli) di hulu Batanghari
- Dinasti Kerajaan Sriwijaya (Wangsa Syailendra) yang menyingkir setelah ditaklukkan raja Rajendra dari Chola Mandala
Ketiga asal keturunan itu direpresentasikan dalam pemerintahan Rajo Tigo Selo:
- Rajo Adat dipegang oleh Dinasti Gunung Marapi, berkedudukan di Buo, bersemayam di Istana Ateh Ujuang di Balai Janggo
- Rajo Ibadat dipegang oleh Dinasti Sriwijaya, berkedudukan di Swarnapura (Sumpur Kudus), bersemayam di Istana Ikua Rumpuik di Kampuang Tangah
- Rajo Alam dipegang oleh Dinasti Dharmasraya, berkedudukan di Pagaruyung, bersemayam Istana Balai Rabaa di Gudam
Ketiga raja memelihara persatuan dengan saling mengawinkan keturunannya satu sama lain. Rajo Tigo Selo merupakan sebuah institusi tertinggi yang disebut Limbago Rajo. Di bawahnya terdapat dewan menteri yang disebut Basa Ampek Balai.
Tentang ketiga dinasti diatas marilah kita ringkaskan sedikit:
Dinasti Gunung Marapi
Dinasti Gunung Marapi adalah keturunan yang paling gamblang diceritakan dalam Tambo Alam Minangkabau. Dinasti ini diawali dengan berlabuhnya rombongan Ninik Sri Maharaja Diraja di puncak Gunung Marapi. Rombongan terdiri dari:
- Sri Maharaja Diraja, Datuk Suri Diraja (sepupu Sri Maharaja Diraja), Indra Jelita (istri Sri Maharaja Diraja), Indra Jati bergelar Cati Bilang Pandai (cendikiawan)
- Para pengawal/pendekar yaitu Harimau Champa, Kucing Siam, Kambing Hutan dan Anjing Mualim
- 16 pasang suami istri (diantaranya adalah tukang yang memperbaiki perahu)
Menurut tambo, rombongan ini berlabuh di sebuah tempat bernama Labuhan Sitambago (Sirangkak dan Badangkang) yaitu masih kawasan puncak Gunung Marapi yang gersang. Mereka kemudian turun sedikit ke pinggang gunung dimana mereka menemukan sebuah pohon besar yang akarnya mencengkram batu besar, sehingga berbentuk seperti orang yang bersila. Tempat ini dinamakan Galundi Nan Baselo, mereka tinggal beberapa waktu di sini. Selanjutnya mereka meneruskan mencari tanah yang lebih baik ketika melihat daratan bertambah luas, tempat baru ini dinamakan Guguak Ampang, dan rombongan ini pun pindah kesana. Seiring bertambahnya penduduk, pemukiman ini diperluas dan berdirilah Nagari Pariangan yang kemudian bertambah lagi dengan Nagari Padang Panjang.
Dinasti ini melanjutkan ekspansinya dengan menjelajahi wilayah di sekeliling Gunung Marapi, maka berdirilah nagari baru yang dinamakan Nagari Sungai Tarab. Nagari inilah yang kemudian menjadi cikal bakal Kerajaan Bunga Setangkai yang dipimpin oleh Datuak Katumanggungan. Dari Bunga Setangkai kerajaan kemudian di pindah ke Pagaruyung, kemudian terakhir ke Bukit Batu Patah.
Pada episode ini, di waktu yang bersamaan berdiri pula Kerajaan Dusun Tuo di Nagari Limo Kaum XII Koto dan IX Koto di Dalam dengan pimpinan Datuak Parpatiah Nan Sabatang.
Dinasti Sriwijaya
Menurut Tambo Alam Minangkabau, semasa pemerintahan Datuk Suri Diraja di Nagari Pariangan, datanglah Rusa Emas dari Lautan, rusa itu kemudian dapat dijerat oleh datuk. Cerita ini adalah kiasan dari datangnya seorang raja bermahkota dari Wangsa Syailendra, penguasa Sriwijaya yang menyingkir ke Gunung Marapi karena kerajaannya telah ditaklukkan raja Rajendra dari Chola Mandala, India Selatan. Raja ini asalnya bergelar Sang Sapurba, gelar turun temurun bangsawan Sriwijaya.
Di Pariangan sang bangsawan ini dikawinkan dengan adik Datuk Suri Diraja dan kemudian dirajakan pula dengan gelar Sri Maharaja Diraja dengan wilayah kekuasaan Pariangan dan Padang Panjang, atau disebut Kerajaan Pasumayan Koto Batu dalam Tambo Alam Kerinci. Walaupun demikian yang memegang kendali kuasa pemerintahan tetap Datuk Suri Diraja.
Dinasti Dharmasraya
Dinasti ini tak lain adalah Adityawarman sendiri, cucu dari Tribuana Mauliwarma Dewa, raja Kerajaan Dharmasraya di hulu Batanghari. Ibunya adalah Dara Jingga yang kawin dengan seorang petinggi Majapahit yaitu Adwayawarman. Adityawarman memindahkan pusat kerajaan ke Pagaruyung setelah menyatakan merdeka dari Majapahit dan berkuasa atas Pulau Andalas.
Di Pagaruyung Adityawarman berkuasa dengan beberapa gelar:
- Sri Udayadityawarman Pratapa Parakrama Rajendra Mauli Warmadewa
- Sri Maharaja Diraja dengan jabatan “Kenaka Medinindra” (Indra dari Kenaka Medini, Raja dari Swarnabhumi, Raja Tanah Emas/Raja Pulau Emas)
- Dewang Palokamo Rajo Indo Deowano (Dewa Hyang Parakrama Rajendra Dewana)
Dengan melihat gelar yang disandang Adityawarman, terlihat dia menggabungan beberapa nama yang pernah dikenal sebelumnya, Mauli merujuk garis keturunannya kepada Wangsa Mauli penguasa Dharmasraya dan gelar Sri Udayadityavarman pernah disandang salah seorang raja Sriwijaya serta menambahkah Rajendra nama penakluk penguasa Sriwijaya, raja Chola dari Koromandel. Hal ini tentu sengaja dilakukan untuk mempersatukan seluruh keluarga penguasa di Swarnnabhumi.
Sumber:
http://marisma.multiply.com/journal/item/48/SEJARAH_RINGKAS_KERAJAAN_PAGARUYUNG_DARUL_QORROR_BHG.1_










2 comments
Comments feed for this article
November 14, 2011 at 9:19 pm
armenzulkarnain
Saya terkekeh geli membaca tulisan ini, seperti sebuah ‘foolitic’ atau pembodohan yang terus saja dibangun oleh klan pagaruyung atas nama nagari-nagari di minangkabau.
Dari ketiga ‘fusi’ hanya 1 yang masuk diakal, yaitu Rajo Alam dipegang oleh Dinasti Dharmasraya, berkedudukan di Pagaruyung, bersemayam Istana Balai Rabaa di Gudam.
Dari seluruh keluarga Rajo Nan Tigo Selo memakai sistem patrilineal yang tidak ada hubungannya dengan adat minangkabau yang matrilineal.
Kalau saja penulis mau melakukan observasi, bisa saya antarkan ke Kanagarian Sumpur Kudus untuk bertemu pemerintahan nagari & Kerapatan Adat Nagari Sumpur Kudus, sebab Rajo Ibadat pun bukanlah anak nagari Sumpur Kudus.
November 14, 2011 at 9:33 pm
Fadli
Halo pak Armen Zulkarnain, senang sekali atas tanggapannya. Memang banyak cacat yang terdapat dalam teori fusi ini. Sekarang ini banyak sekali teori-teori fusi lain yang intinya adalah mencampurkan Tambo, Prasasti dan Kitab-kitab Kerajaan Lain.
Sang Sapurba, Adityawarman, Tribuana Mauliwarmadewa dan Maharaja Srimat Trailokyaraja Maulibhusana Warmadewa adalah tokoh-tokoh yang asing bagi kita. Namun ada pula kelompok yang senang mengkait-kaitkan diri dengan kebesaran orang lain dengan jalan pintas (tanpa penelitian).
Saya hanya menyajikan dan menambahkan sedikit analisis disini. Saya sendiri lebih fokus pada penelusuran “Prasasti Tak Tertulis” yang penelitiannya masih saya lakukan sampai sekarang.
Tambo saya terima sebagai bahan pendukung konteks, sedangkan bahan pendukung fakta tentulah hal-hal yang jelas terlihat.
Setelah menemukan kesamaan pada Ukiran Minangkabau dengan Seni Buddha Yunani dan menganalisis sistem pemerintahan polis dan konfederasi di Minangkabau, saat ini saya sedang tertarik mempelajari nama-nama daerah yang diturunkan dari Bahasa Sansekerta (ini agak sulit).
Contohnya :
Sungai Hyang (Sungayang)
Sri Sruwarsa (Saruaso)
Par Hyangan (Pariangan)
Swarna Pura (Sumpur)
Sanggha Hyang (Sangkayan)
Meru (Marapi)
Jambhu Dwipa (Jambu Lipo)
Banyak nama-nama asal daerah yang diganti semasa penulisan Tambo setelah Perang Paderi. Dasar mereka melakukan itu antara lain untuk menghapus jejak Hinduisme dari Minangkabau, namun tindakan ini juga dengan sendirinya memiliki andil besar dalam pengaburang sejarah.
Contoh pengaburan itu:
Pariangan : tempat orang beriang-riang
Jambu Lipo : jan bu lupa (jangan ibu lupa)
Sangkayan : sangkak ayam