Perahu yang mengantarkan rombongan Sultan Suri Maharajo Dirajo, akhirnya mendarat di pulau Perca, tepatnya di puncak Gunung Merapi. Kapal ini bermuatan enam belas lelaki dan perempuan, ditambah empat orang lainnya yang masing-masing bernama Kho Cin (Kucing Siam), Can Pa (Harimau Campo), Khan Bin (Kambing Hutan), dan Ahan Jin (Anjing Mualim). Kemudian Sri Maharajo Dirajo dan rombongan turun ke darat. Sementara itu air lautpun beranjak surut.

Selang berapa lama kemudian rombongan Maharajo Dirajo turun ke sebuah tempat yang disebut Labuhan si Tambago, sekitar dua kilo meter dari Nagari Pariangan ke arah puncak Merapi. Di tempat inilah untuk pertama kalinya rombongan itu meneruka sawah yang disebut sawah satampang baniah. Padi inilah yang kemudian menyebar ke seluruh Minangkabau.

Seperti disebutkan Soeardi Idris dalam buku Nagari Sungai Tarab – Salapan Batua, di perkampungan Labuhan si Tambago itu tumbuh pula sepohon galundi. Uratnya tidak mencekam tanah, melainkan memeluk sebuah batu besar seakan-akan orang bersila. Gelundi itulah yang kemudian disebut Galundi Nan Baselo.

Lambat laun penduduk makin bertambah juga, maka sebagian di antaranya pindah membuat perkampungan di daerah baru yang bernama Guguak Ampang. Perkembangan selanjutnya mereka memperluas daerah permukiman.
Tambo alam Minangkabau kembali mengisyaratkan cerita. Suatu ketika, dari Guguak Ampang berbondong-bondonglah orang mengejar seekor rusa bertanduk emas. Orang-orang susah sekali menangkap rusa bertuah itu. Akhirnya mereka memeberitahu Suri Maharajo Dirajo tentang keberadaan seekor rusa tadi. Kemudian Maharajo Dirajo, menyarankan supaya rusa itu tak perlu dikejar, tetapi buatkan saja perangkap atau pasang saja jerat dimana ia sering lewat mencari makan.
Akhirnya, rusa itupun terjerat di sebuah kampung. Kabar pun tersiar ke seluruh pelosok, maka ramai-ramailah orang bauruang atau berkumpul ke tempat baru itu. Dinamailah tempat itu paurungan. Suasana riang gembira meliputi wajah masyarakat. Kemudian disepakatilah mengubah nama Pauruangan menjadi pariangan atau tempat orang beriang hati.
Abdul Hamid menjelaskan, bahwa makna yang tersirat dalam bahasa Tambo yang menyebut rusa bertanduk emas itu, artinya adalah seorang laki-laki Bangsawan dari daerah lain, mencoba memasuki Nagari Pariangan yang baru saja dibuat. Kedatangan bangsawan ini diterima sebagai salah seorang sumando oleh Sultan Suri Maharajo Dirajao, setelah mengwainkannya dengan salah seorang perempuan Nagari Pariangan.

Tujuh Suku dalam Nagari Pariangan

Sampai kini Nagari Pariangan dianggap sebagai nagari pertama orang Minangkabau. Terletak dipinggir jalan antara Padangpanjang dan Batusangkar. Sejak dibuat menjadi sebuah nagari, Pariangan mempunyai tujuh suku, yaitu; Koto, Piliang, Pisang, Malayu, Dalimo Panjang, Dalimo Singkek Piliang Laweh dan Sikumbang.
Akan tetapi khusus pesukuan Sikumbang, hanya tinggal tapak perumahannya saja di Pariangan hingga sekarang ini. Sebab, ketika Datuk Pamuncak Alam Sati diutus oleh Bandaro Kayo menjadi Tuan Gadang di Batipuah, seluruh kaum pesukuan Sikumbang yang ada di Pariangan turut serta mengikuti penghulu pucuk mereka.

Akan tetapi dalam sebutan sehari-hari di Pariangan pesukuan Sikumbang tetap ada, karena itu bila ada orang bertanya tentang jumlah suku di Pariangan, maka orang Pariangan akan menjawab delapan buah suku. Meskipun sebenarnya yang tertinggal hingga sekarang ini hanya tujuh.

Dalam kerapatan adat di Nagari Pariangan, setiap ada musyawarah ninik mamak, Datuk Pamuncak Alam Sati yang bertugas di Batipuah sebagai Tuan Gadang, tetap dibawa beriya bertida. Hal ini sudah terukir dengan jelas dalam kehidupan masyarakat Nagari Pariangan sejak dahulu kala, ketika peristiwa hijriayahnya pesukuan Melayu ke Batipuh mulai berlangsung.

Di Pariangan pula pertama kali dibangun Rumah Gadang dan Balai Adat. Nagari ini dilengkapi pula dengan gelanggang, labuah nan panjang, sawah dan ladang, pandan pekuburan serta tepian mandi. Pada masa itu pula lahirnya penghulu pertama yang diambak gadang dan dianjung tinggi (diagungkan dan dimuliakan) oleh anak kemenakannya. Penyelenggaraan pemerintahan nagari berpedoman kepada, kemenakan beraja kepada mamak, mamak beraja kepada penghulu, penghulu beraja kepada mufakat, mufakat beraja kepada alur dan patut. Raja yang dimaksudkan di sini adalah buah budi yang dihasilkan oleh mamak, penghulu dan mufakat itu sendiri.

Penulis: Ampera Salim Pati Marajo

Sumber:

http://amperasalim.wordpress.com/2009/03/28/hubungan-pemerintahan-nagari-dengan-adat-minangkabau/

Daftar Pustaka:

Alismarajo dkk, Tantangan Sumatera Barat Mengembalikan Pendidikan Berbudaya Minang, Citra Pendidikan, Jakarta, 2001.

Agustar, Idris, Cindurmato dari Minangkabau, PT.Pertja, Jakarta 1995

Amran, Rusli, Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang, Penerbit Sinar Harapan, Jakarta, 1981.

Anwar,Chairul, Hukum Adat Indonesia (Meninjau Hukum Adat Minangkabau), PT.Rineka Cipta,Jakarta,1997.

Anas, Navis, Nagari-nagari di Minangkabau Tempo Doeloe, Artikel di Harian Singgalang, 2000.

About these ads