Sepintas berada di desa Kudangan Kecamatan Delang, Kabupaten Kotawaringin Barat, Provinsi Kalimantan Tengah di tengah hutan belantara yang persis berada sekitar perbatasan Kalbar-Kalteng tentunya tidak akan merasakan berada di daerah yang asing.

Tidak berbeda dengan desa-desa lainnya di Kalimantan, desa Kudangan juga terletak di tepi sungai Delang dengan rumah-rumah penduduk berderet pada satu jalan desa.

Namun, kalau kita teliti dari adat istiadat, maupun bentuk rumah khas yang terdapat di desa itu termasuk bahasa sehari-harinya dan lingkungan alam di sekitarnya akan mengingatkan kita berada di suatu daerah di Sumatera Barat.

Betapa tidak, desa Kudangan yang dihuni suku Dayak Delang punya bentuk rumah mirip rumah gadang dengan atap melengkung sebagai tanduk kerbau. Bahasa sehari-hari yang dipergunakan adalah bahasa suku Dayak Delang, namun dialek dan sebutan kata-katanya banyak kesamaan dengan bahasa daerah Minangkabau, yang selalu berakhir dengan huruf O dan IK. Seperti contohnya antara lain duo = dua, sanjo = senja/sore, kepalo = Kepala, takajuik = terkejut dan lain sebagainya.

Ada lagi suatu kebisaan dari kaum laki-laki di Kudangan adalah makan sirih yang menurut mereka, jika gigi menjadi hitam melambangkan kejantanan seorang laki-laki. Sebaliknya wanita banyak yang mengisap rokok kelintingan buatan sendiri.

Kepala Adat Samuel Sandang mengungkapkan kepada wartawan dari Pontianak yang berkunjung ke desa itu menyertai peninjauan Gubernur Kalimantan Barat Pardjoko S. baru-baru ini, penduduk Kudangan yang merupakan desa yang terisolasi di daerah Kalimantan Tengah, berasal dari keturunan kerajaan Pagarruyung di Sumatera Barat sejak abad ke 14. Menurut cerita yang berhasil dihimpun wartawan Nearaca pada waktu itu seorang Datuk dari Pagarruyung bernama Malikur Besar Gelar Patih Sebatang Balai Seruang berlayar ke Kalimantan.

Memasuki suatu alur sungai, Datuk Malikur Besar itu tertarik dengan suatu daerah dan mendirikan kerajaan kecil yang diberi nama “Kudangan”. Rombongan Datuk Malikur Besar ini berbaur dengan penduduk asli setempat.

Bukti kerajaan Kudangan keturunan Pagarruyung itu, yang sekarang menjadi kecamatan Delang adalah adanya sejumlah peninggalan bersejarah antara lain suatu bendera berukuran 3 kali 1,5 meter dan hingga kini disimpan dengan baik di rumah adat Kudangan.

Kepala Adat Samuel Sandang secara berhati-hati membuka lipatan bendera, setelah dilakukan suatu upacara adat yang disaksikan Gubernur Pardjoko S. dan rombongan.

Bendera yang nampaknya sudah sangat rapuh, warna dasarnya putih yang kini sudah nampak buram. Pada bagian atas dan bawah terdatpat garis memanjang dengan lebar 20 cm warna merah.

Di tengahnya terdapat gambar Bintang delapan dalam suatu lingkaran warna hijau. Di tengah bintang delapan yang menunjukkan Mata Angin terdapat pula sekuntum bunga yang yang sedang mekar dengan delapan kelopak bunga. Sejajar dengan lingkaran bintang delapan terdapat gambar pedang bersilang yang ujungnya bengkok ke atas.

Sejauh itu belum diketahui secara jelas apakah lambang Kerajaan Kudangan ada hubungannya dengan lambang kerajaan Pagarruyung di Sumatera Barat.

Camat Delang Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalteng Drs. Ropak J. Tanjung menjelaskan kepada NERACA hubungan antara Kudangan dengan Kearajaan Pagarruyung di Sumatera Barat kini sedang diteliti dan penghimpunan datanya.

Di desa itu terdapat pula salah satu rumah adat yang mereka sebutkan rumah Gadang milik Mas Kaya Patinggi Agung Mangku Atu Duo yang berumur sekitar 300 tahun.

Walau sudah dalam usia yang panjang, rumah adat yang berbentuk rumah Gadang masih berdiri megah. Tiang-tiang penyanggah yang tinggi dari kayu besi (kayu belian menurut istilah orang Kalimantan) berdiameter sekitar 30 sampai 40 cm. Rumah adat yang punya konsruksi atap melengkung tanduk kerbau itu, sudah dimodifikasi dengan seni bangunan rumah panjang / rumah bentang suku Dayak Kalimantan.

Penduduknya sekitar 6201 jiwa itu terdi dari 95 % suku Dayak dan 5 % penduduk suku pendatang. Agama yang dianut 65 % agama Kristen Protestan, 30 % menganut kepercayaan yang disebutkan Kaharingan dan 5 % lainnya agama Islam.

Kegiatan perekonomian sehari-hari jelas terlihat lebih berorientasi ke daerah Kalimantan Barat, yaitu ke Nanga Tayap, Kabupaten Ketapang.

Hasil hutan yang banyak dijual dari daerah Judangan ini antara lain rotan, damar, dan kayu gaharu, sedangkan bahan keperluan sehari-hari mereka beli di Nanga Tayap yang jaraknya sekitar 80 km melalui jalan HPH yang dibangun PT Alas Kesuma, dengan menumpang kendaraan / truk milik perusahaan itu yang hilir mudik sehingga jarak antara kedua daerah itu sudah semakin ramai.

Sedangkan untuk ke daerah lainnya di Kalimantan Tengah, misalnya Pangkalan Bun tidak ada jalan darat. Terkecuali melalui sungai yang dapat ditempuh sekitar tiga hari.

Berapa kalangan yang dihubungi NERACA, baik di Ketapang, maupun Pontianak, mengatakan perlu dilakukan penyelidikan terhadap Kudangan yang bagaikan mirip dengan desa maupun darah Minangkabau. Misalnya diusahakan mendapatkan keterangan atas barang peninggalan sejarah, baik dalam bentuk tertulis maupun yang dapat dilihat dari barang-barang peninggalan lainnya.

Sumber:

Harian Neraca (Pontianak)  tanggal 13 Februari 1988

http://mobile.minangforum.com/showthread.php?p=25470#post25470

About these ads